
Setelah keluar dari makam, Devan langsung masuk ke mobil bersama Raisya. Mobil ayah Randu sudah melaju lebih dulu, disusul mobil David di belakangnya.
"Kak, aku duluan, ya," teriak David dari dalam.
"Hati-hati, semoga sukses." Devan mengangkat jempolnya dan tersenyum.
Raisya melambaikan tangannya ke arah Naimah yang duduk di sisi sang adik.
Meskipun keluarganya tidak selengkap Devan, kini ia merasa bahagia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih dari seluruh keluarga.
Kok Bunda dan Ayah nggak ikut?
Tiba-tiba saja Devan merasa gelisah, tidak biasanya orang tuanya itu tak hadir saat ziarah. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri.
Ada apa ini?
Devan semakin cemas, ia menoleh ke arah Raisya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, kita ke rumah bunda?" tawar Devan.
Raisya mengangguk cepat, itu adalah ide yang bagus baginya, untuk menghilangkan rasa bosan yang sering melanda saat di rumah.
Devan melajukan mobilnya dengan pelan, ia tak bisa fokus sepenuhnya dengan jalanan yang pagi itu sangat ramai, apalagi bertepatan dengan jam kerja membuat macet parah hingga pikiran Devan semakin semrawut.
Ada apa dengan bunda?
Pertanyaan itu yang selalu memenuhi dadanya. Entah, Devan merasa ada sesuatu yang terjadi pada Sang bunda saat ini.
"Kakak nggak papa?" Raisya memegang lengan Devan, ia tahu jika suaminya memendam sesuatu yang tak diketahui.
Devan menggeleng, ia tidak ingin cerita apa yang dialaminya, takut prasangkanya itu salah.
Ya Allah, semoga aku salah.
Kemacetan mulai mereda, Devan melajukan mobilnya membelah jalanan yang kini lumayan sepi.
Hampir tiga puluh menit berlalu, akhirnya Devan sudah tiba di depan rumah Bunda.
Suasana rumah seperti biasa, semua pelayan bekerja dengan tugasnya masing-masing.
"Pagi Mas, Non," sapa satpam yang ada di depan gerbang.
"Pagi," jawab Devan singkat sembari membantu Raisya turun.
"Assalamualaikum…" sapa Devan dan Raisya bersamaan.
Semua pembantu menjawab dengan serempak.
Mata Devan mengelilingi setiap sudut ruangan. Tak ada Bunda dan ayah di sana, hanya pembantu yang berlalu lalang.
Si kembar juga tak tampak, begitu juga dengan Asyifa.
"Sayang, kamu duduk saja di sini, aku cari bunda dulu."
Raisya duduk di ruang keluarga, sedangkan Devan langsung berjalan menuju kamar utama.
Beberapa kali Devan mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban apapun hingga Devan memanggil bibi.
__ADS_1
"Bi, bunda dan Ayah ke mana?" tanya Devan serius.
"Dari pagi belum keluar, Den."
Tanpa aba-aba Devan membuka pintu kamar bunda dengan kasar.
Bunda yang sedang berbaring membuka mata. Ayah yang duduk di sampingnya menoleh ke arah sumber suara.
"Devan," cicit Bunda dengan pelan.
Devan berlari menghampiri Bunda dan duduk di tepi ranjang.
"Bunda sakit?" Devan menempelkan punggung tangannya di kening bunda.
Wajahnya tampak pucat serta tubuhnya terasa sangat dingin.
"Nggak, bunda cuma capek." Bibir Bunda bergetar, tangannya mengulur menyentuh pipi kokoh Devan.
"Raisya di mana?" tanya Bunda lirih.
"Ada, di depan."
Bunda tak berdaya, ayah pun terlihat tak bersemangat, pria yang berambut mulai memutih itu terus menunduk dengan tangan yang sibuk mengelus lengan Bunda.
"Apa bunda sudah diperiksa?"
"Bunda kamu ngeyel, dia nggak mau diperiksa," sahut ayah dengan kesal. Pasalnya ia pun sangat khawatir melebihi Devan, tapi apa daya, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan wanita itu.
"Bunda tidak apa-apa, kalian saja yang lebay."
Devan mencium kedua pipi bunda lalu beralih memeluk ayahnya dengan erat, kemudian merogoh ponselnya untuk menghubungi Syakila. Namun, seketika dicegah oleh bunda.
"Kenapa? Bunda harus diperiksa. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan, Bunda," ucap Devan meyakinkan.
Bunda Sabrina kekeh dengan pendiriannya. Nyatanya, wanita itu tetap tidak mau periksa, apapun alasannya.
"Kalau kamu panggil Syakila, lebih baik kamu pulang, jangan temui bunda," ancam Bunda memalingkan pandangannya ke arah ayah.
Devan meletakkan ponselnya di nakas dan membaringkan tubuhnya memeluk bunda dari samping.
"Lalu, apa yang bunda inginkan?" tanya Devan.
Ini pertama kalinya Devan melihat bunda runtuh dan itu membuat hatinya tak tenang.
Ayah ikut berbaring di sisi Bunda hingga kedua pria itu mengapit satu wanita yang sama.
"Bunda cuma ingin istirahat, jangan kasih tahu yang lain, biarkan mereka tahu dengan sendirinya."
Pintu kembali terbuka, Raisya lah pelakunya.
Seperti saat Devan datang pertama kali, Raisya pun terkejut dan berlari menghampiri Bunda dan yang lain.
"Bunda kenapa, Yah?" tanya Raisya antusias.
Devan bangun, memberi ruang untuk Raisya duduk, sedangkan ayah masih dengan posisinya merengkuh tubuh bunda dan memamerkan kemesraannya.
"Bunda capek, maaf ya tadi tidak bisa ikut ke makam bunda Arum." Ayah yang menyahut karena bunda merasa semakin lemah, namun masih bisa menyambut kedatangan Raisya dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kesehatan bunda lebih penting, jangan pikirkan apapun."
Bunda kembali tersenyum, tangannya meraba perut rata Raisya.
"Cucu nenek, apa kabar? Apa dia masih rewel?" tanya Bunda mulai aktif.
"Baik, Nek. Tadi habis makan rendang dari karyawannya om David. Rewelnya sudah dibawa angin."
Ayah mengerutkan alisnya, begitu juga dengan Bunda, ucapan Devan mampu menumbuhkan semangat baru bagi bunda yang ingin mendengar penjelasan Devan.
"Maksud kamu apa?" tanya Bunda, kali ini suaranya lebih lantang.
Devan menceritakan pada bunda apa yang terjadi, dan itu membuat senyum bunda semakin mengembang.
"Anak kamu makan hasil malak?"
Bunda tak henti-hentinya mengelus perut menantunya.
"Bukan malak, tadi aku kasih uang, kok. Aku juga nggak mau anakku makan barang haram."
Jebrrraaaakkk
"Astagfirullah…."
Ayah mengelus dadanya saat suara pintu kembali terbuka dengan kerasnya.
"Aku dulu."
"Aku dulu."
"Kapan sih kalian itu alim?" ucap ayah menatap kedua putranya yang saling merebut pintu masuk.
"Ini semua salah Daffi, Yah," kesal Daffa yang masih berada di ambang pintu.
"Bukan ayah, dia kan abang, seharusnya ngalah sama aku," protes Daffi yang tak mau kalah.
"Kalau Kalian nggak ada yang mau mengalah, kapan masuknya?"
Daffa dan Daffi menatap tubuh masing-masing yang memenuhi pintu masuk.
"Kamu yang ngalah," pinta Daffi.
"Kamu, kamu kan adik," bantah Daffa.
"Kalau nggak ada yang mau ngalah, bunda nggak mau ketemu kalian."
Pada akhirnya Daffi mundur, mempersilakan Daffa untuk berjalan lebih dulu.
Setelah Daffa melangkah maju, ia membalikkan tubuhnya. Mengulurkan tangannya ke arah Daffi alih-alih menyambut saudaranya untuk masuk bersama.
"Bunda."
Daffi merentangkan tangannya lalu memeluk Bunda, sedangkan Daffa merentangkan tangannya ke arah Raisya.
"Jangan macam-macam!" Devan menarik kerah baju Daffa dari belakang yang mampu membuat Ayah dan Bunda tertawa menggelitik.
"Itulah kenapa bunda nggak mau periksa, karena kehadiran kalian adalah obat yang paling mujarab untuk bunda."
__ADS_1