
Devan terus mengulas senyum saat menatap wajah ayu Raisya yang kini terlelap di sampingnya. Namun, seketika senyum itu lenyap saat ia teringat pada Afif yang menurutnya berlebihan.
"Aku harus bertemu Afif," gumam Devan. Ia meraih ponsel yang ada di nakas lalu menghubungi pria tersebut.
Devan menarik tangannya dan memindahkan kepala Raisya ke bantal, setelah itu meraih bajunya yang masih tercecer di lantai lalu ke kamar mandi.
Raisya menggeliat menepuk-nepuk tempat di sampingnya yang terasa datar. Tahu akan sesuatu yang hilang, Raisya membuka matanya. Ia menatap pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Suara gemericik air terdengar sangat jelas di telinganya dan ia sudah tahu siapa penghuninya.
Hampir sepuluh menit Raisya hanya berdiam diri meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat pergulatan. Devan keluar hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Dadanya masih dipenuhi dengan buliran air dan perutnya yang berbentuk kotak-kotak itu sangat menjernihkan mata, dan pasti akan membuat siapapun yang melihatnya tergoda.
"Kamu sudah bangun?"
"Hemm..."
Raisya masih sangat malas untuk bicara. la terpesona dengan keunikan ciptaan Tuhan yang hampir mendekati sempurna itu.
"Apa perlu aku siapkan air?"
Devan mematung di samping ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
Tanpa ganti baju, Devan kembali merangkak naik ke ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut.
"Apa kamu mau lagi?" goda Devan yang mana sukses membuat Raisya bersemu dan menutup wajahnya dengan selimut.
"Jangan macam-macam, atau aku nggak mau lagi pakai baju setan itu."
Devan tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana bisa baju yang sangat seksi itu diberi nama baju setan oleh istrinya.
"Maaf, aku cuma mau bilang, kalau aku mau keluar sebentar."
Devan menyibak selimut yang menutupi wajah Raisya untuk bisa melihat wajah cantiknya. Tak lupa memberi ciuman lembut.
"Ke mana?"
"Cafe, mau bertemu orang sebentar. Apa kamu mau ikut?"
Raisya menggeleng pelan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan cepat pulang."
Devan membuka lemari mengambil baju untuk dirinya dan tak lupa menyiapkan juga untuk Raisya.
Di sebuah Cafe
__ADS_1
Sudah hampir setengah jam afif menunggu, namun seseorang yang ditunggu belum ada tanda-tanda datang. Akhirnya ia memesan satu lagi kopi hitam, hingga total tiga cangkir ia habiskan.
Kak Depan ke mana sih?
Lagi-lagi Afif melihat jam yang melingkar di tangannya saat mulai jenuh.
Baru saja menatap pintu depan, Afif menghembuskan napas lega, karena penatiannya terjawab sudah saat melihat calon kakak iparnya berjalan ke arahnya.
"Kamu sudah menunggu lama?"
Afif mengulas senyum menerima uluran tangan Devan.
"Baru menghabiskan tiga cangkir kopi." Menunjuk cangkir kosong di depannya.
"Berarti baru tiba, kan? Kalau lama mungkin kamu sudah menghabiskan puluhan kopi di sini," canda Devan yang membuat Afif terkekeh.
"Ada apa kakak ingin bertemu denganku? Sepertinya surat-surat nikah sudah lengkap," tanya Afif tanpa basa-basi.
Devan meletakkan kedua tangannya yang saling terpaut itu di atas meja lalu menatap lekat pria yang sebentar lagi menjadi adik iparnya.
"Aku cuma mau tanya, sebenarnya apa niat kamu menikahi Syakila?"
Selain menyangkut istrinya, itu juga menyangkut adiknya, dan Devan tidak mau ada niat terselubung di balik pernikahan itu.
"Kalau di bilang cinta, mungkin itu baru mulai tumbuh. Kalau dibilang nyaman, belum juga, karena aku jarang dekat dengannya. Syakila gadis yang baik, aku menikahinya dengan niat sunnah Rasul, ingin beribadah dengan mengikatnya sebagai istri. Aku tidak mau menjalani hubungan tanpa ikatan lama-lama, pasti kakak sudah tahu hubunganku dengan Raisya dulu. Dan itu membuatku sangat trauma, tapi aku sadar jodoh di tangan Allah yang artinya kakak lah yang terbaik untuk dia."
Afif menjeda ucapannya sejenak untuk menarik nafas.
"Entah kakak menilaiku seperti apa, yang pastinya aku tidak ada niat apapun selain membahagiakan Syakila."
"Tapi kenapa tadi kamu memberikan baju untuk Raisya?"
Itu pertanyaan yang Afif tunggu.
Afif meraih paper bag yang ada di kursi lalu mendorongnya tepat di depan Devan.
"Sebenarnya bukan cuma ke Raisya, tapi Syakila juga. Tadi Syakila bilang suka sama baju ini, dan dia ingin membelikan Raisya, tapi karena Syakila tahu kalau Raisya nggak mungkin mau, dia yang menyuruhku memberikannya."
Devan tak menyentuh benda yang ada di depannya.
"Lebih baik kakak yang berikan. Dari dulu Raisya masih gak berubah juga, dia masih suka menolak pemberian orang meskipun sebenarnya suka."
Pasti Afif sudah tahu banyak tentang Raisya, mereka kan lima tahun bersama.
"Nanti akan kuberikan," ujar Devan singkat.
__ADS_1
Ponsel Devan berdering, dan itu bersamaan dengan ponsel Afif.
"Siapa?" tanya Devan saat Afif melihat layar benda pipihnya, sedangkan ia masih berusaha merogoh ponselnya yang ada di saku celana.
"Syakila, dia cuma kirim pesan. Dia tanya, bajunya sudah diberikan apa belum?"
"Jawab saja kalau kamu sudah memberikannya padaku."
Devan melihat nama yang berkelip di layar, ternyata itu adalah istrinya.
"Assalamualaikum…." sapa suara lembut dari seberang sana.
Devan menjawab diiringi dengan senyuman. Suara yang sangat manja itu kini selalu ia rindukan, dan Devan tak sanggup jika harus berpisah lama-lama dengannya.
"Malam ini kita belum punya makanan, kakak maunya masak atau beli?" tanya Raisya yang masih bisa didengar Afif dengan jelas.
"Kamu kan masih capek, istirahat saja, biar aku yang beli. Kamu mau makan apa?" tanya Devan mengabaikan Afif yang ada di depannya.
Devan meraih buku dan pulpen yang ada di depannya, ia tahu pesanan istrinya pasti lebih dari satu dan terkadang membuatnya pusing jika tak dicatat.
"Udang gandum, empal goreng, ikan masak kuning, omurice, teriyaki salmon, oseng mercon, lobster saus tiram."
Afif mengerutkan alisnya, heran.
"Sudah?" tanya Devan memastikan kalau tak ada yang ketinggalan.
Afif menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pesanan dari Raisya.
"Sudah kak, nanti bantuin aku habisin ya!"
"Iya, setelah itu baru aku habisin kamu," timpal Devan dengan senonoh.
Afif hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendengar percakapan kedua orang lewat sambungan telepon itu. Aneh, tapi bikin iri hati.
"Cepat pulang ya, aku merindukanmu."
"Iya, aku akan segera pulang dengan makanan yang kamu minta."
Setelah memutus sambungannya, Devan beranjak dari duduknya.
"Fif, kayaknya aku harus pergi, takutnya nanti Raisya kelaparan."
"Iya kak, aku juga minta maaf sudah membuat kakak curiga."
Setelah bersalaman, Devan meninggalkan tempat itu lebih dulu, sedangkan Afif kembali duduk dan menatap punggung Devan berlalu.
__ADS_1
Sekarang aku yakin kalau Raisya sudah bahagia bersama kak Devan, semoga aku dan Syakila juga bisa meraih kebahagian seperti mereka.