
Setelah kepergian Raisya, Devan menjadi sosok yang pendiam, dia akan bicara jika ditanya, dan tidak akan mengawali pembicaraan, meskipun berulang kali Alfan mengajaknya berdebat, Devan tak menggubrisnya dan memilih menghabiskan makanan yang ada di depannya.
"Berapa hari kamu nggak makan?" cetus Alfan, ia hanya menjadi penonton Devan yang sudah menghabiskan dua porsi makanan di depannya. Tak peduli dengan sekelilingnya, Devan kembali memakan cemilan yang ada di sana.
"Lupa," jawab Devan singkat. Tiga hari setelah kepergian Raisya membuatnya hilang selera makan. Namun, setelah ayah Randu menceritakan semuanya, Devan baru merasa akan lapar yang luar biasa.
Devan meraih ponsel dan membukanya. Ternyata ada beberapa pesan gambar yang masuk, dan itu semua dari David.
Seperti permintaannya, David mengirimkan foto Raisya yang kini entah ada di mana. Wajah cantiknya yang dibalut dengan senyuman itu tak bisa Devan lupakan, tutur sapa yang lembut pun selalu terngiang-ngiang di telinga Devan sehingga pria itu terkadang tersenyum sendiri.
Nampak dengan jelas gadis itu menatap ke arah kamera, manis hingga membuat Devan kecanduan dengan tampilannya yang memakai hijab berwarna coklat susu.
Saking senangnya, Devan menghubungi David.
Devan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Alfan. Ia tak mau pembicaraannya didengar oleh Alfan yang mempunyai mulut ember.
"Halo kak, apa yang bisa aku bantu lagi?" tanya David menawarkan diri.
"Tidak, Vid. Aku hanya mau mengucapkan terimakasih karena kamu mau membantuku."
"Sama-sama, Kak. Pasti kakak kangen kak Raisya. Tapi untuk saat ini dia masih butuh waktu sendiri."
"Iya juga sih, kamu harus perhatikan makannya juga ya, aku tidak mau dia terlalu larut dengan keadaannya."
"Siiipppp…"
Setelah sambungannya terputus, Devan memasukkan ponselnya ke saku celana lalu tersenyum lebar. Dadanya yang beberapa hari ini sesak, kini sedikit lega dengan kabar yang menyejukkan dari David. Meskipun tidak bisa melihatnya secara langsung, Devan bisa mengurai rindu yang terpendam lewat sebuah foto.
Devan menghampiri Alfan yang masih sibuk dengan laptop di tangannya.
"Aku mau pulang, terima kasih makanannya."
Devan meninggalkan Alfan yang kali ini benar-benar heran dengan pria itu.
"Mana Devan, Mas?" tanya Alisa yang baru saja datang.
Alfan menyungutkan kepalanya ke arah mobil yang baru keluar dari gerbang.
"Kamu bagaimana? Apa perut kamu masih sering sakit?" tanya Alfan sembari mengelus perut rata Alisa yang tertutup dress berwarna pastel.
__ADS_1
"Tidak, tapi kemarin sempat nyeri sebentar, setelah aku ingat-ingat ternyata aku makan pecel dari rumah bunda."
Alfan hanya mengerutkan Alisnya mendengar perkataan Alisa.
"Mas, hari ini mama mau pulang, dia memintaku untuk mengantar ke bandara."
Alfan menepuk jidatnya, padahal itu sudah dikatakan ayah Emir sejak pagi, tapi Alfan lupa gara-gara kedatangan Devan.
"Baiklah, kita ke rumah mama sekarang!" Alfan menutup laptopnya dan bergegas pergi.
Alfan dan Alisa belum berencana mengadakan pesta, selain ayah Emir yang sangat sibuk, Alfan juga ingin Alisa sembuh dulu, ia tidak mau memaksa dengan waktu yang sangat sempit.
Devan pulang ke rumah ayah Mahesa. selain mencari suasana baru, ia pun kembali bekerja di kantor, Devan tak ingin mengecewakan Raisya, dan ia ingin membuat wanita itu bangga padanya.
"Assalamualaikum, Bunda," sapa Devan saat melihat Bunda ada di ruang tengah.
Bunda menjawab salam disusul dengan sebuah senyuman. Setelah beberapa hari mengurung diri, akhirnya Devan kini kembali seperti semula, hanya saja masih enggan bercanda dengan saudara-saudaranya yang melebihi batas normal.
"Dari mana?" tanya Bunda.
Devan ikut duduk di bawah, lalu menyandarkan kepala di pundak Bunda.
"Dari restoran Alfan, tadinya aku mau cerita, tapi nggak jadi."
"Aku mau curhat dengan bunda saja," ucap Devan dengan suara pelan.
"Silakan! Bunda siap mendengar curhatan kamu."
Daffa dan Daffi hanya bisa menopang dagu melihat kakaknya yang saat ini bersama bunda. Mereka duduk di atas tangga sambil bergulat dengan pikiran masing-masing, ingin mencari jalan keluar. Namun, otaknya masih terasa buntu gara-gara memikirkan Airin dan Alara yang saat ini akan meninggalkan Indo.
Devan meluapkan semua uneg-uneg yang memenuhi dadanya. ia menceritakan kisah pernikahannya dengan Raisya dari awal. Mengungkap kesabaran wanita itu hingga ke akar yang membuat bunda menitihkan air mata.
"Semua ini bukan salah kamu, tapi salah bunda dan ayah yang sudah memaksamu menerima perjodohan ini."
Devan mengangkat kepalanya dan beralih duduk di depan bunda hingga keduanya bersihadap
"Bukan salah bunda dan ayah, tapi salahku, karena aku yang sudah menyia-nyiakan dia. Sekarang aku sadar bagaimana rasanya ditinggalkan, dan itu pun pasti dirasakan Raisya saat aku pergi ke Turki."
Devan menjeda ucapannya sejenak dan mengusap air mata yang membasahi pipi bundanya.
__ADS_1
"Bunda, sampai kapanpun aku akan menunggu Raisya. Dia adalah hidupku, tanpa dia, dunia ini hampa dan gelap. Terima kasih karena bunda sudah memberikan pelangi untukku."
"Yang sabar, suatu saat kamu dan Raisya pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya."
Syakila yang dari tadi mematung di belakang pintu bisa mendengarkan percakapan bunda dan Devan. Ia pun merasa bersalah atas kepergian Raisya.
"Kakak, aku minta maaf," sahut Syakila yang sudah berjalan menuju ruang keluarga.
Devan dan Bunda menatap ke arah sumber suara lalu tersenyum melihat kedatangan ibu hamil itu.
"Maaf untuk apa?" Devan menggeser duduknya memberi tempat pada Afif dan Syakila.
"Kalau saja aku tidak egois, kecelakaan itu tidak akan terjadi, dan kak Raisya tidak mungkin pergi meninggalkan kakak," ucap Syakila dengan bibir cemberut.
"Tidak ada yang salah, semua itu sudah terlanjur dan tidak akan bisa kembali, doain saja kak Raisya cepat sembuh dan kembali kepada kita."
"Iya, lagi pula Raisya sudah memaafkan kita, kan?"
Suara dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin dekat, Devan menatap si kembar yang berlari ke arahnya.
"Kalian kenapa?" tanya Devan antusias.
"Hari ini Alara mau pulang, aku mau mengantarnya ke Bandara," ucap Daffi.
"Kalau aku mau jemput Airin, dia sudah waktunya pulang sekolah," imbuh Daffa.
Bunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.
"Memangnya mereka punya hubungan yang serius?" tanya Devan pada Syakila dan Bunda.
"Kayaknya, tapi kemarin ayah sudah bilang pada mereka, pokoknya harus lulus kuliah dulu, setelah itu baru menikah. Bunda juga nggak tahu mereka itu mewarisi sifat siapa, yang pastinya bukan dari ayah dan bunda."
"Memangnya waktu hamil mereka, bunda ngidam apa?" tanya Devan semakin menyelidik.
Bunda mengingat-ingat semuanya.
"Bunda lupa, apa ya?"
"Apa jangan-jangan bunda ngidam pingin bersama ayah Agung, jadi mereka mirip," timpal Devan yang membuat Afif tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Seketika bunda melayangkan pukulan di lengan Devan.
Alhamdulillah, akhirnya Devan bisa tersenyum kembali.