Pelangi Senja

Pelangi Senja
Goyah


__ADS_3

Beberapa kerabat saling berdatangan. Mereka semua membawa hadiah. Tak ada satupun yang masuk ke rumah itu dengan tangan kosong. Sudah menjadi kebiasaan mereka mengadakan syukuran dan makan malam, bukan menghamburkan uang atau mengulang adat istiadat, bunda dan Ayah berniat sedekah. Jika dulu sering mengundang anak panti ke rumah, untuk saat ini mereka yang berkunjung dikarenakan rumah sudah dipadati keluarga sendiri.


Bukan mengucilkan atau menyepelekan karena tak diundang, saat ini panti asuhan pun menjadi prioritas utama bagi ayah dan bunda, mereka membangun tempat itu melebihi rumahnya sendiri hingga anak-anak di sana merasa nyaman. 


"Wah selamat ya, akhirnya keluarga baru akan hadir empat sekaligus." Bunda Sesil mengangkat keempat jarinya di depan semua orang 


Alfan dan Alisa pun datang, kedua pengantin baru itu nampak berseri-seri. Apalagi Alfan, wajahnya tampak berbinar-binar dengan tangan yang tak melepaskan pinggang Alisa. 


Cih pamer, memangnya cuma dia yang bisa, aku pun lebih hebat.


Devan menatap Alfan sinis.


David datang bersama Airin dan Nanda. Daffa langsung menyambut kedatangan calon istrinya di depan gerbang, meskipun tidak bisa menggandeng tangan gadis itu, setidaknya bisa menemaninya masuk. 


"Kamu mau kasih hadiah apa untuk kak Raisya?" tanya Daffa melihat kotak berukuran sedang yang ada di tangan Airin. 


"Rahasia, kakak nggak boleh tahu."


"Andaikan kita sudah halal, aku cium kamu," gerutu Daffa geram.


Airin berlari menghampiri David dan Nanda yang sudah berada di teras. Ia geli mendengar ucapan Daffa yang terus mesum.


"Wah, Susan cantik sekali," puji David seraya menjewer gaun Susan yang sangat mewah, ia ingat betul baju itu di belikan mama Aya kemarin.


David ke belakang, ia menatap Naimah yang nampak termenung.


"Hei, kamu kenapa?"


Seketika Naimah mengelus dadanya, ia terkejut mendengar suara David, entah kapan datangnya pria itu, Naimah pun tak menyadarinya.


"Nggak papa, Mas," jawab Naimah singkat, tangannya kembali sibuk menuang jus.


Maaf mas, aku tidak bisa cerita ke kamu.


Suasana semakin ramai kala tante Aida dan om Andre serta kedua anaknya datang, disusul bunda Sesil dan dokter Agung.


"Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu hamil juga."


''Makasih, Bunda."


"Bunda punya sesuatu untuk kamu, dipakai ya."


Tak hanya bunda Sesil, semua tamu pun memberi hadiah termasuk kedua adik Raisya, Airin dan Nanda.


Mereka semua orang kaya. Kak Devan dan Kak Raisya sama-sama keturunan orang kaya dan berpendidikan. Alisa dan Alfan juga, bahkan mereka yang belum menikah pun sudah mendapatkan anak orang kaya yang masih gadis,  hanya aku satu-satunya orang yang miskin di sini. Aku bagaikan benalu. Benar apa kata karyawannya mas David, kalau aku ini kampungan dan nggak pantas untuk mas David. 


Hati Naimah pilu, ia terus menatap keluarga yang saling berpelukan itu, lalu matanya beralih menatap David yang menggendong Susan.


Maafkan aku mas, tidak sepantasnya aku hadir di kehidupan kamu dan keluarga ini, aku hanya membuatmu malu. 

__ADS_1


Naimah mengusap air matanya lalu membawa jus itu di depan semua tamu.


"Ini calon istrinya David?" tanya Bunda Sesil sembari menerima jus dari tangan Naimah.


Naimah mengangguk pelan, ia masih malu jika berada di tengah keluarga yang sangat banyak.


"Cantik sekali, kapan kamu dan David menikah?"


"Bulan depan, Bunda," sahut David, dengan percaya dirinya ia sudah menentukan tanggal. 


"Kamu sudah siap bulan depan?" tanya Ayah Randu memastikan.


Sebenarnya Ayah pun ingin secepatnya menikahkan David dan Naimah, hanya saja menunggu keduanya yakin dan siap merajut rumah tangga.


David menatap Naimah yang dari tadi menunduk ke arah gelas-gelas yang ada di depannya.


"Nanti kita bicarakan lagi saja, Yah. Sekarang fokus ke kak Raisya dulu."


Setelah menyelesaikan tugasnya, Naimah kembali ke belakang bersama bunda dan mama Aya.


Mereka sangat baik, aku tidak boleh mencoreng nama baik keluarga ini.


"Naimah, mulai besok kamu nggak usah kerja lagi, karena mulai malam ini ada Bibi yang akan bekerja di rumah ini, jangan membantah lagi," tegas Bunda Sabrina. 


"Nanti kalau kamu dan David sudah menikah, kalian bisa langsung tinggal di rumah sendiri, karena David sudah membeli rumah atas nama kamu," imbuh mama Aya.


Acara makan malam itu berjalan dengan lancar, canda tawa menghiasi seluruh keluarga yang hadir, setelah semua pulang, kini hanya tinggal se isi rumah yang memenuhi ruang tengah. Susan dan Raisya sibuk membuka kado, sedangkan Devan sibuk dengan laptopnya karena tadi belum sempat menyelesaikan kerjaannya, Bibi membereskan peralatan dapur. 


"Kak, aku ke kamar dulu ya," pamit Naimah.


"Kamu tidur saja, nanti biar Susan tidur sama aku dan kak Devan."


Naimah langsung berlalu ke kamar, ia menutup pintu dan duduk di tepi ranjang.


Kebingungan melanda, di satu sisi ia berhutang budi pada keluarga Raisya dan Devan, mereka sangat baik padanya dan Susan. Di sisi lain, Naimah merasa dirinya adalah parasit yang menurunkan derajat David dan yang lain.


"Aku harus pergi dari sini, aku  tidak layak menjadi istri mas David."


Hati Naimah seketika goyah mengingat perbedaan antara dia dan David.


Naimah mengambil bajunya dan baju Susan  yang pertama kali dipakai lalu meletakkannyannya di sofa.


Tak lupa ia mengambil sebuah kertas dan pulpen lalu melepas cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.


Hoaaammm


Akhirnya setelah beberapa jam berlalu Susan menguap. Bocah itu tak sanggup menyangga kepalanya dan menyandarkan di paha Devan.


"Susan ngantuk? Susan mau tidur sama siapa?" tanya Devan yang masih sibuk dengan sebuah dokumen.

__ADS_1


"Aku mau tidur sama ibu," jawab Susan dengan suara pelan.


"Mau tante anterin?"


Susan menggeleng lalu beranjak. Seperti yang dilakukan tiap malam, bocah itu mencium pipi Devan dan Raisya secara bergantian sebelum tidur.


"Da… daa cantik, mimpi yang indah ya," pesan Raisya  sambil melambaikan tangannya.


Setibanya di kamar, Susan langsung menghampiri Naimah yang duduk di sofa dengan mata yang menatap ke depan, satu tangannya memegang pulpen, sedangkan yang lain meremas baju.


Matanya berkaca hingga membuat Susan bertanya.


"Ibu kenapa?" tanya Susan.


Naimah meletakkan bajunya dan memangku Susan.


"Susan sayang kan, sama ibu?" tanya Naimah.


Susan mengangguk dan melingkarkan tangannya di punggung ibunya.


"Kalau begitu Susan harus nurut sama ibu, Susan harus patuh dan mendengarkan apa yang ibu katakan."


"Apa yang mau ibu katakan?" tanya Susan polos.


"Kita pulang ke rumah kita sendiri, ini bukan rumah kita, Susan mau kan ikut ibu?"


Susan diam, otaknya masih memikirkan keputusan yang akan ambil.


Akhirnya Susan mengangguk tanpa suara.


*****


Rekomendasi bacaan yang snagt bagus


Judul: Malena


Karya oleh :Khodijah Rahman


MALENA


Blurb


"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!


Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya beru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.


Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan pindah dari Napoli ke Firenze.


Akankah Malena sembuh total dari traumanya? Akankah Malena bertemu dengan laki-laki yang mampu menghilangkan traumanya?

__ADS_1


__ADS_2