
"Ayah kenapa?" tanya Bunda sembari mengelus lengan ayah yang nampak cemas.
Sinar mentari belum menyorot, namun ayah sudah pusing tujuh keliling gara-gara si kembar yang kini menuntut dirinya.
Ayah membaringkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di pangkuan bunda. Menyalurkan rasa gelisah dengan keadaan yang membelitnya saat ini.
"Bunda nggak dengar, minggu depan Daffa minta dinikahin, sedangkan Daffi minta kita melamar Alara ke Turki."
"Dengar, memangnya kenapa?"
Bunda nampak santai menanggapi permintaan kedua putranya yang dilontarkan Daffi setelah subuh.
"Bunda __"
Bunda membungkam bibir Ayah dengan satu jarinya. Mengusap rahang kokoh pria itu, lalu pipinya yang mulai keriput.
"Sekarang biar bunda yang bicara."
Ayah membisu, ia mengunci bibirnya rapat-rapat untuk mendengar tausiyah pagi dari istrinya.
"Mereka sudah dewasa, wajar saja jika ingin menikah, lagi pula kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Jika itu yang terbaik kenapa tidak, seharusnya ayah bangga mereka semua nurut sama kita, tidak pernah mainin perempuan, tidak ada kata mantan dalam hidupnya, tidak pernah membantah."
Ayah memejamkan matanya, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir bunda.
"Sekarang terserah ayah, kalau memang setuju Daffi dan Alara, lamar dia, karena seorang wanita juga butuh kepastian. Tidak bisa hanya menunggu dan menunggu."
Bunda menyunggar rambut ayah yang menutupi keningnya lalu menciumnya dengan lembut.
"Apa ini tidak terlalu cepat, Bund? Apa Camelia dan Emir akan setuju?"
"Kemarin aku sudah telponan dengan mbak Camelia, bukan membahas masalah Daffi dan Alara si, tapi sepertinya mbak Camelia sudah memberi lampu hijau untuk kita, dan dia siap melepas anak perempuannya."
Hening sejenak
"Ada yang bilang jika pernikahan itu harus dilandasi dengan pondasi yang kuat, harus saling mencintai dan percaya, tapi dalam catatan bunda tidak seperti itu. Realitanya, semua tergantung jodoh, sekuat apapun, cinta sampai mati pun kita pada orang itu, jika Allah tidak menghendaki tidak akan bersatu, ada kata melawan dunia, tetap tidak akan bisa karena jodoh sudah ditentukan sebelum kita lahir. Ayah harus percaya itu."
Ayah sangat percaya, karena semua itu terjadi pada ayah.
Ayah bangun dan beralih duduk di sisi bunda. Merengkuh, mencium, memeluk wanita yang sudah menemani hidupnya selama dua puluh tujuh tahun tersebut.
"Anak kita habis dong, tinggal Asyifa." Ayah mengucap dengan lirih, ia masih tak rela anaknya membaur dengan kehidupan barunya.
"Itulah hidup, sekarang kita cukup fokus pada cucu, nanti kalau Raisya sudah melahirkan pasti ramai lagi, mereka bisa tinggal di sini, lagi pula untuk si kembar kan juga belum tahu mau tinggal di mana."
Si kembar berdiri di ujung tangga. Mereka berdua mendengarkan percakapan kedua orang tuanya yang saling mendukung.
"Baiklah, nanti ayah ke Turki."
Daffa dan Daffi yang beberapa waktu lalu dirundung kegundahan kini bahagia kembali.
"Akhirnya kita menikah minggu depan."
__ADS_1
Keduanya turun dan menghampiri ayah bundanya, jika Daffa memeluk sang ayah, Daffi memeluk Bunda.
Ayah menghubungi Devan, sebagai putra pertama ayah selalu diskusi dengan pria itu.
"Langsung ke sini ya, ajak Raisya."
"Siap, Yah."
Devan membantu Raisya beranjak dari duduknya. Seperti biasa, ia pun menemaninya berolahraga pagi. Menikmati udara segar di bawah mentari yang mulai menampakan sinarnya.
"Ada apa, Kak?"
"Ayah nyuruh kita ke rumah, si kembar udah ngebet pengen kawin."
Raisya mengerutkan alisnya, heran dengan kedua pria itu yang selalu konyol dan membuat sensasi.
"Jadi kapan mereka menikah?"
"Minggu depan, nanti kayaknya aku mau menemani ayah ke Turki."
Mendengar tempat itu, Raisya memanyunkan bibirnya.
"Kapan kita berdua ke sana."
Devan mengelus pucuk kepala Raisya yang dibalut hijab warna hijau.
"Nanti setelah bayi kita lahir, atau kamu ingin melahirkan di sana?"
Devan mengangguk, "Tapi tidak tahu dengan bunda, sepertinya beliau akan melarangnya."
Beberapa kali bunda mengatakan ingin selalu berad di sisi Raisya saat melahirkan, dan tidak memperbolehkan wanita itu pergi jauh.
"Nggak papa, aku melahirkan di sini saja."
***********
Setibanya di rumah besar, Devan bersama ayah dan si kembar duduk di sofa ruang keluarga. Mereka sangat serius membahas rencana selanjutnya.
Setelan melamar, Ayah berencana ingin membawa Alara sakalian ke Indo, dan mereka akan mengadakan acara pesta di indo juga, mengingat keduanya adalah saudara kembar, jadi harus akad secara bersamaan dan duduk di pelaminan yang sama.
Devan mengangguk setuju.
"Sekarang bagaimana? apa kalian lega?" tanya Devan pada Daffa dan Daffi yang duduk saling berhadapan.
"Lega, terima kasih karena kakak mau membantu aku dan Daffi."
Devan meninju perut saudaranya secara bergantian hingga membuat sang empu meringis.
"Sakit, Kak," keluh Daffa.
Devan mendekatkan bibirnya di telinga Daffa.
__ADS_1
"Itu tak seberapa, akan lebih sakit jika nanti Airin mencakar punggungmu di malam pertama, rasanya kayak cakaran macan," bisik nya.
Daffa membelalakan matanya, jiwa mesumnya kembali membuncah mengingat wajah cantik Airin.
"Kak, apa malam pertama perlu minum obat perangsang?"
Kenapa dia bilang seperti itu, memangnya burungnya nggak hidup apa?
"Nggak usah, nanti minta jamu sama Mama Aya, dijamin ketagihan."
"Jamu apa, Van?" tanya Ayah yang masih bisa mendengarkan ucapan Devan.
"Nggak papa, Yah."
Ayah Mahesa kembali sibuk dengan ponselnya menghubungi ayah Randu.
"Ndu, kamu tidak usah siapkan apa-apa, nanti acara pernikahannya di lakukan di sini saja," ucap Ayah ke poin utama.
Bunda pun ikut menghubungi Camelia dan mengatakan rencana suaminya yang akan datang ke Turki bersama putranya.
"Bunda boleh ikut nggak, Yah?" ucap Bunda menghampiri ayah.
Hati Ayah tertegun, selama menikah sampai mempunyai enam anak, Ayah melupakan Bunda yang jarang sekali ke luar negeri, bahkan seingat ayah hanya tiga kali ia mengajak jalan-jalan sang istri, itu pun dengan waktu yang sangat singkat karena urusan pekerjaan.
"Boleh," ucap Ayah dengan cepat.
"Beneran?" tanya Bunda memastikan.
"Iya, bunda boleh ikut, nanti ayah ajak ke Cappadocia."
Bunda bertepuk tangan dan kembali ke belakang, namun rasa bahagia itu berangsur menghilang saat melihat Raisya yang ada di ruang makan.
Bunda kembali ke depan menghampiri yang lain.
"Nggak jadi Yah, kapan-kapan saja," ucap Bunda, bukan hanya mengingat Raisya yang hamil besar, tapi juga Syakila yang kini punya bayi.
Devan memeluk ibunya dengan erat.
"Nanti semua keluarga akan berlibur ke sana, tidak ada yang ketinggalan satu pun termasuk semua pembantu."
Bunda meraup rahang kokoh Devan. "Bunda akan sabar menunggu waktu itu. Kita semua akan berlibur ke sana."
Ayah janji, setelah urusan ini selesai, ayah akan ajak bunda jalan-jalan.
"Iya Bunda, nanti aku dan Daffi akan mengajak ke manapun yang bunda mau."
Devan
Raisya
__ADS_1