Pelangi Senja

Pelangi Senja
Ceroboh


__ADS_3

Raisya menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan lemas tak berdaya. Jangankan untuk turun dari ranjang, menggeser posisinya ke tepi saja tak mampu.


Ya Allah, kenapa malam pertama sesakit ini, padahal kak Devan cuma melakukannya dua kali, bagaimana jika sampai tiga atau empat kali, mungkin aku akan lumpuh di atas ranjang, keluh Raisya dalam hati.


Ternyata satu kali tak cukup membuat Devan puas, dan ia mengulangi aksinya pukul dua pagi. Sedangkan Raisya tak bisa menolak permintaan Devan yang sudah di selimuti dengan gairah, dan yang kedua lah sukses membuat Raisya terkapar.


Raisya menoleh, mengelus rahang kokoh suaminya yang masih terlelap. Ia tak menyangka akan berjodoh dengan Devan,  laki-laki yang dari kecil terus menggodanya dan terus membuatnya menangis.


"Kak," panggil Raisya dengan pelan.


Perlahan Devan membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara, ia menyambut sang istri dengan sebuah kecupan.


"Ambilkan ponselku?" pinta Raisya.


Dengan sigap Devan meraih benda pipih milik Raisya dan melihat jam yang ada di layarnya.


"Kita mandi bersama, waktunya nggak cukup kalau harus satu persatu," ujar Devan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tapi kakak nggak akan melakukannya lagi, kan?"


Devan terbangun dan duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.


"Tergantung, dedenya masih suka berdiri dan dia butuh itu,"  goda Devan seraya cekikikan.


Melihat ketakutan Raisya, Devan pun tertawa lepas.


"Aku cuma bercanda, ini mandi beneran, nggak ada ritual."


Raisya sedikit lega dengan ucapan Devan. Setidaknya ia masih bisa memulihkan tenaga sebelum Devan meminta jatahnya lagi dan lagi.


Sebelum ke kamar mandi, Raisya menghubungi Syakila lewat telepon.


"Assalamualaikum….kak, ada apa pagi-pagi sudah menelponku?" tanya Syakila dari seberang sana.


Raisya menjawab dengan suara lirih dan menahan tawa saat tangan Devan merayap ke arah gunung kembarnya.


"La,  kayaknya hari ini aku tidak bisa ke rumah sakit, tolong katakan pada Dokter Hani untuk jaga di ruanganku ya," ucap Raisya dengan suara lemah.


"Baik, Kak," jawab Syakila singkat.

__ADS_1


"Kenapa suara kak Raisya seperti itu? Apa kak Raisya sakit?" terka Syakila cemas. 


Kali ini Devan tak mau membuat Raisya sakit lagi, ia murni membantu Raisya membersihkan tubuhnya,  meskipun  dirinya ingin lagi dan lagi, Devan harus bisa menahannya sampai keadaan Raisya kembali seperti semula dan siap mencetak gol selanjutnya.


Pagi itu menjadi lembaran baru pasangan pengantin untuk menata hidup, berawal dari sebuah masa lalu orang tua kini menjerat dua insan dalam satu cinta satu asa. Mandi bersama, Sholat berjamaah dan melakukan aktivitas berdua akan menjadi hiasan keseharian mereka.


Devan membantu Raisya melipat mukena setelah itu mengambil sprei dan meletakkannya di keranjang. 


"Sayang, kamu mau sprei gambar apa?" tanya Devan memilih-milih sprei yang bertumpuk rapi di lemari bagian bawah.


"Kalau ada yang motif bunga,  tapi kalau tidak ada, apa saja yang penting warnanya jangan gelap," jawab Raisya, ia berjalan tertatih-tatih menuju ranjang. Masih menahan bagian bawah yang sedikit ngilu.


"Kak, aku lapar," Raisya mengelus perutnya yang semakin keroncongan.


"Aku sudah pesan makanan, mungkin lima menit lagi datang."


Baru saja Devan memasang sprei,  bel berbunyi, terpaksa ia yang keluar untuk membukanya.


"Bunda, Ayah" seru Devan dengan lantang, karena pintu kamar tidak tertutup rapat, Raisya masih bisa mendengar suara suaminya.


"Bunda datang ke sini, untuk apa?" gumam Raisya.


Ayah menyusul dengan membawa beberapa kantong kresek di tangannya.


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tak tahu harus bicara apa, yang pastinya saat ini Raisya memang sakit karena ulahnya. 


"Tidak, Bunda. Raisya hanya lelah saja, dia butuh istirahat, mungkin Syakila salah dengar."


"Tadi ayah sudah bilang seperti itu, tapi bunda kamu tidak percaya dan meminta ayah untuk mengantarnya ke sini." Ayah memberikan buah tangannya pada Devan.


"Ayah dan Bunda memang the best, aku salut sama Ayah yang selalu menemani Bunda."


Devan mengangkat kedua jempolnya. Ibarat kata Bunda dan ayah adalah satu organ tubuh, jika mereka terpisah ayah merasa ada sesuatu yang hilang,  itulah sebab Ayah terus mengikuti kemanapun bunda pergi.


Devan mengikuti langkah bunda menuju meja makan. Pagi-pagi wanita yang ada di depannya itu sudah membuatnya sport jantung dan ketar-ketir. Devan takut kalau bunda dan ayah akan marah jika  tahu keadaan Raisya saat ini karena ulahnya.


"Bunda, ayah," sapa Raisya dari ambang pintu kamar. Devan berlari menghampiri Raisya dan menuntunnya. Meskipun terasa perih, gadis itu berusaha berjalan seperti biasa saat menghampiri kedua mertuanya.


"Kamu sakit apa, Sayang?" Bunda menempelkan punggung tangannya di kening Raisya.

__ADS_1


Raisya menggeleng tanpa suara, tidak mungkin ia mengatakan apa yang sakit, pasti bunda dan ayah akan menertawakannya.


"Mungkin karena terlalu lelah saja, jadi aku izin libur. Bunda dan ayah tidak usah khawatir, besok Aku sudah bisa kerja lagi kok."


Devan menarik kursi dan membantu Raisya duduk.


Ayah Mahesa duduk di kursi paling depan, tepatnya di samping Devan, sedangkan Bunda di samping Raisya. Pria yang sudah berpengalaman dalam menjelajahi rumah tangga itu menatap Devan dan Raisya dengan tatapan curiga.


Aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu, dan sepertinya Raisya menahan sakit, apa mereka semalam berolahraga ranjang.


"Lain kali kamu harus atur waktu, jangan terlalu larut dalam pekerjaan. Ini semua juga tugas kamu, Van."


"Iya bunda, lain kali aku akan lebih memperhatikannya." Devan mencubit pipi Raisya.


"Van, bunda boleh nggak numpang ke kamar mandi sebentar?"


Devan tertawa. "Ini kan rumah Bunda juga, masa ke kamar mandi minta izin."


Bunda  berjalan menuju kamar utama. Setelah menutup pintu, Bunda mengerutkan alisnya saat menatap ranjang yang sangat berantakan.


"Dasar anak jaman sekarang, nggak pernah disiplin, bangun tidur langsung ditinggal," gerutu bunda. 


Terpaksa Bunda merapikan sprei yang masih melenceng dan meletakan bantal yang masih berserakan di sembarang arah. Tak sengaja mata Bunda menangkap sesuatu yang berada di tepi kolong ranjang. 


"Astagfirullah Devan, apa apaan ini, jorok sekali," pekik bunda dengan kesal. 


Bunda mengambil celana segitiga milik Devan, belum sempat meletakkannya, lagi-lagi Bunda dikejutkan dengan sesuatu yang di luar nalar. Wanita itu melihat bercak merah yang mengering di tengah gulungan sprei.


Apa semalam mereka baru melewati malam pertama, Ya Allah semoga ini awal yang baik, aku tidak mau kejadian yang menimpaku terulang lagi.


Baru saja bunda beranjak, Devan membuka pintu kamar.


Bunda menghampiri Devan dan menarik telinga bagian kiri. 


"Ada apa ini, Bunda?" tanya Devan meringis kesakitan.


"Lain kali jangan ceroboh, untung bunda yang masuk, kalau orang lain kamu bisa ditertawakan," tegur Bunda dengan serius. 


Devan hanya cekikikan saat melihat sesuatu yang ada di tangan Bunda. 

__ADS_1


__ADS_2