
Masih di rumah Naimah
Daffa dan Daffi mengelus punggungnya yang terasa sakit akibat terhempas kayu sandaran. Mereka berdiri dengan bantuan Nanda dan Bunda, sedangkan ayah Mahesa sudah tak bisa menahan tawa lagi, ia tertawa lepas melihat kedua putranya yang terus meringis. Dokter Agung dan penghulu pun ikut tertawa membuat suasana rumah Naimah semakin ramai.
"Maaf." Naimah menangkupkan kedua tangannya di depan semua tamu. Ia merasa bersalah dengan kejadian tadi.
Ayah Randu ikut berdiri. Ia takut kejadian yang serupa menimpa dirinya mengingat kursi yang ia duduki juga sama.
"Begini saja, bagaimana kalau semua kursi di sini dikeluarkan dan diganti karpet," usul Bunda Sabrina.
"Setuju," jawab si kembar dengan cepat. Mereka kapok dengan kursi yang membawa petaka baginya.
Akhirnya semua bergotong royong mengeluarkan semua kursi itu hingga ruangan depan kosong dan diganti dengan karpet yang dibawa bunda.
"Mas, aku minta maaf," bisik Naimah di telinga David. Sebagai pemilik rumah ia sangat malu karena tak bisa memberi pelayanan yang baik untuk tamunya.
Ckckckck David berdecak
"Jangan minta maaf, aku yakin ini karena ulah si kembar, mereka memang sering membuat gaduh, makanya kursinya patah."
Daffa yang mendengar itu tak terima, ia protes lagi setelah melihat beberapa serangga yang tertinggal.
"Ini murni, Kak. Lihat saja, kaki kursinya dimakan rayap." Daffa menunjuk ke arah lantai.
"Yang ayah duduki juga di makan rayap, tapi buktinya ayah dan ayah Randu nggak jatuh," timpal ayah Mahesa.
Daffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena apa yang dikatakan ayah itu fakta.
"Jangan ribut, ini malam-malam. Nanti warga pada datang karena kalian," tegur bunda dengan lembut.
"Naimah, kamu cepetan ganti baju, biar Daffa dan Daffi ke rumah pak RT untuk lapor."
Si kembar membulatkan matanya, setelah tertimpa musibah kini mereka beralih menjadi sasaran bunda.
"Bunda, aku kan nggak tahu rumah pak RT?"
"Naimah, kasih tahu alamat pak RT," pinta Bunda.
Terpaksa Daffa dan Daffi diam, mereka tak bisa menolak jika urusannya seperti ini.
Naimah memberi arahan jalan rumah pak RT pada Daffa dan Daffi, karena rumahnya sedikit jauh, ia menyarankan untuk naik mobil.
"Siap kak, demi kalian aku rela berkorban," ucap Daffi bersemangat.
"Ingat, jangan culik pak RT, nanti kalian bisa di gebukin warga," pesan ayah, mengingat kedua putranya yang selalu bersikap ceroboh pada orang lain.
Naimah memakai kebaya putih dan hijab yang senada, tak lupa make up yang natural ala bunda Sabrina dan bunda Sesil.
__ADS_1
David memakai kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam serta celana hitam. Mereka seperti pengantin pada umumnya saat menjalankan akad.
Disaat keduanya keluar dari kamar, tiba-tiba saja Susan merengek, terpaksa David masuk kembali menghampirinya.
"Ayah," teriak Susan seraya merentangkan tangannya.
David meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya.
"Susan kangen ayah?" tanya David lantang, dan itu didengar langsung oleh Naimah yang masih ada di ambang pintu.
"Iya, Susan kangen sama ayah. Susan pingin tidur dengan ayah," ucap Susan polos.
"Mulai malam ini Susan akan tidur sama ayah." David mengelus pucuk kepala Susan.
Jalanan kampung sangat gelap, hanya ada beberapa lampu penerang yang menyala.
Daffa menghentikan laju mobilnya mengingat jalan yang ditunjukkan Naimah.
"Fa, katanya kak Naimah tadi belok kiri," ucap Daffi menunjuk jalan yang sedikit sempit dan terjal.
"Tapi ada belok kanannya juga, entah yang ke berapa aku lupa," timpal Daffa.
Akhirnya keduanya menghubungi David untuk mencari tahu jalan yang benar dari pada harus drama nyasar.
"Belok kiri dulu." Daffa melempar ponselnya ke pangkuan Daffi dan kembali melajukan mobilnya dengan pelan.
Daffi mendesis, baru kali ini ia naik mobil tapi rasanya persis naik andong.
"Aku juga, tapi gimana lagi jalannya memang jelek," sergah Daffa.
Hampir satu kilo memasuki perumahan, Daffa menghentikan mobilnya saat ada wanita yang memakai baju seksi itu melambaikan tangan ke arah mobilnya.
"Fa, jangan-jangan kunti," tebak Daffi yang mulai merinding, bahkan keringatnya mulai bercucuran saat melihat rambut wanita itu yang sangat panjang.
"Ah, jangan ngomongin kunti di sini, dia manusia biasa," ucap Daffa saat melihat kaki wanita itu yang menapaki tanah.
Daffa membuka kaca dan menatap wanita itu dari dalam.
"Kenapa senyum-senyum, Mbak? Kami lucu ya?"
Gadis itu tersenyum lagi lalu mengacak rambutnya bagian atas.
"Mas ganteng mau ke mana?" tanya wanita itu menggoda.
Daffa bergidik ngeri melihat penampilannya. Bagaimana tidak, rok sepaha, kakinya tidak terlalu putih, dengan baju yang tak berlengan, make up nya tebal kayak nyai ronggeng.
"Kami mau ke rumah pak RT," jawab Daffa ketus.
__ADS_1
"Oh, kirain cari Mumun." Gadis itu nampak kesal melihat ekspresi Daffa yang jutek.
"Mbak tahu rumah Pak RT?"
"Tahu dong, tapi harus ada upahnya."
Gila duit
Daffa membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Nih untuk kamu, beli baju yang bener. Sekarang kasih tahu, di mana rumah pak RT."
Mata Mumun membulat sempurna melihat uang yang kini ada di tangannya, namun ia tetap mendengar ucapan Daffa yang meminta bantuannya.
"Ini rumah pak RT." Menunjuk rumah yang berdiri tepat di belakangnya.
Padahal ada tulisan RT yang sangat besar, tapi keduanya tidak melihatnya, malah fokus pada Mumun, akhirnya Daffa dan Daffi menepuk jidatnya lalu turun.
Kebetulan di teras rumah itu ada seorang pria yang berkepala botak sedang duduk menikmati pisang goreng. Setelah mengucap salam, Daffa dan Daffi langsung mengatakan tujuannya.
Wajah pria itu nampak mendung saat Daffa menjelaskan semuanya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Daffi menepuk lengan pak RT.
"Tidak, tadinya aku mau menikahinya, menjadikan istri kedua, tapi ternyata sudah ada yang mau meminangnya."
"Bapak mau kawin lagi?" tanya Daffa memastikan.
Seketika pintu terbuka lebar dengan suara yang keras.
Daffa dan Daffi melompat dari duduknya saat melihat seorang wanita yang sedang membawa panci, wajahnya pias dengan rambut acak-acakan.
"Siapa yang mau kawin lagi?"
Daffa dan Daffi menunjuk pak RT yang nampak ketakutan.
"Tapi nggak jadi, Bu. Naimah sudah ada yang punya." Pak RT mengatakannya dengan wajah memelas lalu meraih peci nya.
"Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak pak RT pada Daffa dan Daffi.
Pak RT mendekati istrinya dan mencium keningnya.
"Ibu tetap satu-satunya di hati bapak, kita satu selamanya, aku mencintaimu," ucap pak RT pada istrinya dengan mesra.
Gombal, buaya darat, di depan istri bilang begitu, tapi kalau ada yang bening sedikit mau dikawin.
Jangan begitu, ayah juga pernah poligami.
__ADS_1
Ayah kan terpaksa, karena waktu itu tante Camelia berbohong.
Daffa dan Daffi hanya bicara lewat bahasa kalbu.