
“Mas bener nggak apa-apa kalau mereka ikut?” tanya Dijah ketika ia dan Bara jalan bergandengan keluar gang.
“Kalo kamu nggak apa-apa, aku nggak masalah. Belum pernah piknik bareng ya?” tanya Bara. Dijah menggeleng.
Piknik bersama? Bagaimana bisa berpiknik bersama kalau dua tahun ia habiskan di kos-kosan itu hanya untuk tidur dan sebentar bersantai. Memikirkan soal menghabiskan uang untuk sepasang sepatu baru saja, ia terlalu pelit. Lebih baik disimpan untuk sekolah anaknya.
“Ya udah, kita ajak mereka. Nanti aku ngomong ke Mas Heru.”
“Kira-kira dia keberatan nggak?” tanya Dijah.
“Kayaknya sih enggak....” Bara sudah bisa membayangkan Heru yang pasti terbahak-bahak kalau mengetahui Bara akan membawa segerombolan penghuni kos-kosan ke acara seminar itu.
“Ini jalan-jalan pertama kita Jah. Sebagai keluarga. Karena berangkatnya rame-rame, kita namain piknik aja ya... Honeymoon-nya nanti kita pergi lagi.” Bara menarik lengan Dijah agar isterinya itu bersandar padanya. Dengan satu tangan memegang setir, Bara memeluk tubuh isterinya sepanjang perjalanan.
Dijah mengalungkan tangannya mengitari perut Bara. Kenyamanan itu membuat matanya setengah memejam dengan tangan yang terus mengusap perut dan turun sampai ke paha suaminya.
“Ngantuk?” tanya Bara memijat bahu isterinya.
“Dikit,” jawab Dijah.
“Jangan ngantuk dulu. Aku jadi pengen karena kamu ngelus-ngelus paha aku kayak gitu.” Bara ikut mengusap lengan isterinya.
“Berangkatnya kapan?” tanya Dijah.
“Sekitar empat hari lagi. Kalo mereka memang mau ikut, minta siap-siap aja.”
Dijah mengangguk kemudian kembali memejamkan mata dan lanjut membelai dada, perut dan paha suaminya.
Seminggu menjadi pengantin baru, tak membuat Bara lelah dengan aktifitas yang satu itu. Meski ia memaklumi untuk satu trauma isterinya yang belum sembuh, sisi lain dirinya mempertanyakan soal kemampuannya sendiri dalam memberi keturunan.
Mereka tiba di rumah pukul 7 malam dan Dul telah duduk di meja makan menunggu kedua orangtuanya sambil menyusun beberapa balok warna warni di atas meja itu.
“Udah makan?” tanya Bara pada Dul.
“Belum, nunggu ayah sama ibu.” Dul mengangkat kepalanya memandang Bara.
“Udah laper banget atau masih sabar nunggu ayah selesai mandi?” tanya Bara lagi seraya melihat-lihat menu di atas meja.
“Masih sabar kok,” jawab Dul.
“Oke, kalo gitu ayah mandi dulu.” Bara mencubit pelan pipi Dul kemudian berlalu menuju pintu kamarnya.
Seperti kebiasaannya selama ini, Bara langsung menuju ke sebuah dispenser yang terletak di sisi kanan dalam kamar. Ia mengambil sebuah gelas yang ditelungkupkan di atas nampan atas dispenser dan mengisinya penuh dengan air putih. Dalam beberapa detik, Segelas air itu tuntas.
Dijah yang sebegitu tiba tadi langsung mandi, terlihat baru saja keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
“Udah minum?” tanya Dijah yang seminggu ini sudah memahami kebiasaan suaminya.
“Udah, gelasnya baru.” Bara menunjuk ke atas dispenser.
“Iya, aku ganti. Masak minumnya pake gelas kertas terus. Padahal di rumah. Sayang,” ucap Dijah. Prinsip ‘sayang’ itu masih berlaku bagi Dijah yang telah terbiasa hidup hemat.
“Aku mandi dulu Jah, Dul udah nunggu mau makan malem. Minta handuknya,” tukas Bara menarik handuk dari tubuh isterinya.
__ADS_1
“Ada di kamar mand—” Dijah terlambat. Bara telah menelanjanginya kemudian tertawa berlari ke kamar mandi dengan handuk bekas di tangan.
“Doyan pake handuk bekasku,” ujar Dijah.
“Iyaaa...” seru Bara menjawab perkataan Dijah yang ternyata didengarnya.
“Ambil yang baru aja,” tukas Dijah lagi kemudian buru-buru berpakaian untuk segera ke ruang makan.
"Gak mauuu..." sahut Bara dari dalam kamar mandi. Dijah meringis
“Mbok, mungkin empat hari lagi Mas Bara ngajak ke luar kota. Acara kantor sekalian ngajak jalan-jalan. Mbok Jum ikut ya?” ajak Dijah.
“Emoh Jah, capek. Aku di rumah aja. Kamu aja yang pergi bareng suami dan anakmu.”
“Tetangga kos-ku ikut Mbok. Tini, Asti, Boy, Mak Robin belum tau karena suaminya lagi dapet cuti. Mbok nggak ma—”
“Aku nggak usah. Aku udah tua. Baring di rumah selesai beres-beres aku udah bahagia. Sekarang aku kayak punya sesuatu yang harus kujaga Jah. Sewaktu suamiku sakit, aku jaga dia. Sekarang aku mau jaga kalian, itu bikin aku semangat. Jangan khawatirkan aku, pergi seneng-seneng sana. Moga-moga naik pesawat. Kamu kan belom pernah,” ucap Mbok Jum.
Tak lama Bara masuk ke ruang makan dengan celana selutut dan kaos putih oblong kegemarannya.
“Mas...” panggil Dijah mendongak saat melihat suaminya datang. Ia akan mengadu kalau Mbok Jum menolak ajakannya. Bara membelai pipi isterinya kemudian menarik kursi di sebelah wanita itu.
“Ya... Kenapa? Mbok Jum nggak mau ikut?” tanya Bara memandang Mbok Jum yang tertawa melihat raut manja Dijah.
“Enggak, nggak usah. Aku di rumah aja. Capek Nak Bara, aku udah tua. Mulung yang cuma mungutin barang nunduk-nunduk sebentar Aku udah pegel. Kalian aja.”
“Mbok nyamannya gitu?” tanya Bara lagi. Mbok Jum mengangguk.
“Dul mau ikut kan?” tanya Bara pada bocah yang sedang menghadapi sepiring nasi yang telah diisi lauk-pauk.
“Mau, ke mana aja sama Ayah-Ibu, aku mau.” Dul berbicara sambil menyendok nasi ke mulutnya.
“Oke, keren. Nanti Ayah bawa jalan-jalan ke tempat favorit ayah di sana.”
“Mas udah pernah ke sana?” tanya Dijah menyendok sayur ke dalam piring suaminya.
“Udah, tiga kali. Ikut seminar tahunan gini juga. Diwajibkan ama Mas Heru. Dia tuh emang gitu. Kalo pergi, jarang mau sendirian. Sukanya bawa temen. Buat temen ngobrol katanya. Kebiasaannya kebalikan aku banget. Kalo aku gak bisa tidur kalo berisik. Nah dia, suka tidur di tengah-tengah berisiknya acara apapun. Kalo sepi katanya malah gak bisa nyenyak. Aneh emang,” tutur Bara sambil memandang piring yang telah terisi disodorkan padanya.
“Makan,” ucap Dijah. Bara langsung meraih sendok dan memulai makan malamnya.
“Nanti aku tanya lagi ke mereka. Serius atau enggak mau ikutan.” Dijah menuangkan air putih ke gelas suaminya. Bara mengangguk-angguk.
“Siapa yang masak?” tanya Bara.
“Aku,” sahut Dijah mulai mengisi piringnya. “Mbok makan,” pinta Dijah pada Mbok Jum yang masih sibuk merapikan bak cuci piring.
“Iya—iya, kalian makan duluan. Aku nyusul. Masih nanggung,” sahut Mbok Jum. Bertahun-tahun memasak di atas kompor gas satu tungku yang sudah dibongkar pasang dan dirakit ulang membuat Mbok Jum seperti menemukan sebuah istana.
Dapur itu selalu licin mengkilap. Setiap paginya Mbok Jum meracik sayur dan lauk yang bakal dimasak oleh Dijah untuk keluarganya. Tanpa mereka sadari, mereka membagi pekerjaan rumah dan melaksanakannya sebagai tugas masing-masing.
Dua hari setelah menikah, Dijah sedang memisahkan pakaian kotor di kamar mandi paling belakang yang bersebelahan dengan ruang cuci saat Bara datang membawa seorang wanita berusia 30-an.
Bara menyampaikan bahwa wanita itu dimintanya untuk membersihkan rumah dan mengurusi soal pakaian penghuni rumah. Dijah hanya perlu memasak saja. Rumah mereka hanya satu lantai. Meski cukup luas, Bara mengatakan bahwa wanita itu takkan terlalu lelah karena tak harus naik turun.
__ADS_1
“Enak,” ucap Bara setelah menyuapkan sendok terakhir makanan ke mulutnya. “Ibunya Dul jago masak,” sambung Bara lagi.
Di usia semuda itu, keahlian memasak yang dimiliki Dijah memang sudah mencapai tahap mahir.
Dan bagaimana tak mahir? Sejak SD ia sudah sering berada di dapur membantu ibunya. Semua kakaknya sibuk dengan kegiatan mencari tambahan nafkah juga bermain. Dijah yang kasian melihat ibunya terus-terusan berada di dapur memasak berbagai macam kue untuk dititipkan ke warung-warung, menerima ilmu memasak itu dengan paripurna.
Bara telah selesai makan. Mbok Jum telah mengangkat piring kosongnya dari atas meja. Pria itu sekarang sedang menumpukan kedua sikunya di atas meja untuk mengamati Dijah yang sedang menumpuk piring dan mengelap meja dengan sebuah serbet.
Bara mengamati bulu mata Dijah yang beberapa kali mengerjap seolah risih dengan pandangannya.
“Ngeliatin apa sih?” Dijah cemberut.
“Gemes. Tidur yuk...” ajak Bara. Dijah langsung menoleh Mbok Jum yang sedang mencuci piring. “Dul udah masuk ke kamarnya,” ucap Bara seperti menjawab pertanyaan dalam kepala Dijah.
“Biar bisa lama, mulai lebih awal.” Bara mengatupkan mulutnya sambil mencubit pipi Dijah dengan ekspresi gemas.
“Sekolah Dul nanti nggak jauh dari sini. Kamu bisa jalan kaki nganter atau jemput dia. Gimana? Gak apa-apa?” tanya Bara yang sedang menelungkup di atas ranjang membuka-buka notifikasi di ponselnya.
“Ya nggak apa-apa. Udah lebih dari cukup. Sekolahnya mahal. Mas baik banget,” ucap Dijah menoleh pada suaminya. Ia baru selesai menotolkan pelembab wajah yang diborongnya dari sebuah counter kosmetik di mall. Suatu siang beberapa hari yang lalu, Bara memaksanya membeli seperangkat perawatan wajah seperti yang digemari para wanita.
“Baik apa sih Dijah... Kamu itu isteriku, tanggungjawabku. Dul tanggungjawab kamu yang sekarang berpindah ke aku.” Bara memindahkan pandangan dari ponsel ke wajah isterinya.
Dijah berjalan ke arah meja nakas dan memindahkan cahaya lampu ke setelan berwarna kuning redup. Bara tersenyum. Itu seperti kode dari Dijah yang tak suka cahaya terang ketika bercinta.
“Tapi Mas memang baik,” ulang Dijah ikut merebahkan dirinya di sebelah Bara.
“Kata ayahku, ayah kita, jadi orang baik itu mudah. Yang susah itu jadi orang adil dan bijaksana. Semoga aku bisa gitu ya... Semoga aku bisa adil saat aku punya anak dari kamu. Aku bisa bersikap bijaksana dan adil sama semua anak-anakku. Dampingi aku ya sayang...” lirih Bara mengecup leher isterinya.
“Hmmm—” Hanya gumaman yang sempat dikeluarkan oleh Dijah. Kecupan-kecupan Bara meluncur di sekeliling lehernya.
Bara berguling ke atas tubuh isterinya. Ia sudah menunjukkan berkali-kali pada Dijah bahwa ia sangat mencintai wanita itu. Dan kini, Bara semakin tahu dan mengerti tempat-tempat mana yang harus ditujunya lebih dulu.
Sekejab saja, pakaian mereka telah berhamburan. Helaan nafas kasar dan desahan sudah keluar tak beraturan dari mulut Dijah. Matanya memejam dan mulutnya setengah terbuka karena rintihan. Bara menciumi bertubi-tubi di bawah sana. Tangannya sejak tadi sudah terbenam mengacak dan mengaduk-aduk rambut ikal suaminya.
“Mas...” rintih Dijah yang merasa tak sanggup lagi menerima sesapan penuh gairah itu.
Bara meraup tubuhnya dan berguling ke sebelah. Ia meminta Dijah agar menindihnya. Membuat gerakan, gesekan, lembut namun memabukkan. Tubuh Bara sudah bergetar menahan sejak tadi. Ia membelai dada isterinya, mengulum puncaknya, sementara wanita itu mendongak ingin melengkungkan tubuh karena tak tahan akan getaran bagian tubuh mereka yang telah bersentuhan sejak tadi.
Dengan sedikit gerakan dan dorongan, Bara memasuki kelembutan yang menantinya. Dijah mengerang dan membenamkan kuku di dada suaminya.
Dijah seakan tidak bisa bernafas. Tubuhnya melengkung ke belakang seperti sebuah busur yang ditarik. Limbung, merasa kurang dan kurang. Ia mengayun perlahan di atas tubuh suaminya. Tangannya terangkat dan mengusap dadanya sendiri. Lalu naik dan mengangkat sebagian rambutnya ke atas.
Bara belum pernah menyaksikan apapun yang lebih indah, lebih menggairahkan dan lebih mendebarkan daripada Dijah yang hanyut dalam kenikmatan. Iya menikmati momen itu. Ia bergeming, membiarkan Dijah menyerap semua sensasi yang timbul dari bagian tubuh yang sedang menghujam di bawah sana.
Tuntutan ritmis itu mendorong Bara agar menandinginya lebih cepat. Dan ketika ia melihat Dijah memekik dan mengejang di atas tubuhnya, ia merasa bahwa gilirannya sudah tiba.
Bara semakin berbangga diri. Pengendalian dirinya sudah mulai ke tahap mahir sekarang.
To Be Continued.....
Wah... Maaf keterlambatannya. Hari ini seharian di luar terus. Huhuhu...
Jangan lupa likenya ya :*
__ADS_1