
Kalau bukan karena mengingat Mbok Jum yang masih terjaga lewat tengah malam itu, mungkin Bara bisa kelepasan menggiring Dijah untuk mencoba per matras ranjang baru.
Syukurnya setelah beberapa saat tenggelam dengan ciuman dan menekan tubuh Dijah agar menempeli tubuhnya sendiri, Bara segera tersadar.
Sudah lewat tengah malam. Matanya juga sudah mengantuk. Tapi Bara tak mungkin untuk tak kembali ke rumah. Ibunya sudah mengetahui soal Dijah. Berlama-lama di luar sebelum menikah pasti akan mengurangi nilai mereka berdua di mata orang tua.
Punggung Bara masih menempel di pintu lemari. Tangannya masih bertautan di belakang pinggang Dijah. Kedua tangan kekasihnya perlahan melonggarkan cengkeraman di kemejanya.
“Aku pulang dulu ya, besok sore aku temenin beresin barang-barang kamu di kos. Jangan pergi sendiri.” Bara membuka ikatan rambut Dijah yang kusut dan menyisir dengan jarinya.
“Tapi pakaianku juga masih ada di Rumah Aman, keluar dari sana juga nggak sembarangan. Ada formulir yang harus ditandatangani. Besok siang aku ke sana. Sekalian aku ada keperluan dengan Bu Widya. Aku ada janji.” Dijah melepaskan cengkeramannya dan merapikan kemeja Bara.
“Bisa berangkat sendiri?” tanya Bara.
“Bisa kok,” jawab Dijah cepat.
“Dul di rumah aja, tinggal sama Mbok Jum. Gak usah masuk sekolah dulu. Nanti SD-nya cari deket sini. Ya ...?” Bara menangkupkan tangannya ke pipi Dijah dan mengguncang lembut wajah kekasihnya.
“Iya, nggak apa-apa. Ya udah pulang.” Meski mengatakan hal itu Dijah tak menggeser letak berdirinya. Ia masih berdiri bagai sebuah pagar di depan Bara.
“Masih kangen aku ya?” tanya Bara setengah tertawa. “Aku peluk lagi sini...” Bara kembali menarik Dijah dalam pelukannya. Tubuh mereka bergoyang karena pelukan erat Bara.
Dijah meletakkan pipinya di dada Bara, kedua tangannya kembali melingkari pinggang pria itu. Sejenak Dijah memejamkan matanya. Rasa nyaman dan kehangatan dari tubuh Bara seolah berpindah ke tubuhnya. Bara datang ke dalam hidupnya bagai sebuah mimpi.
*****
“Om Bara mana Bu?” Pertanyaan Dul pertama kali pagi itu.
“Kerja,” jawab Dijah sambil melipat pakaian Dul dan memasukkannya ke dalam lemari dua pintu berwarna biru di sudut kamar.
Dijah menemukan dua tumpuk pakaian anak laki-laki yang terlihat masih baru di dalam lemari. Ia mengeluarkannya dan melihat-lihat pakaian itu. Apa Bara juga yang mengisi lemari?
“Ini hotel?” tanya Dul lagi. “Ada kolam renangnya juga?” Dul melompat dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
Dijah belum sempat menjawab pertanyaan Dul tapi bocah itu sudah hilang dari pandangan.
Baru pagi itu Dijah melihat kamar yang dibuat Bara untuk Dul. Cat kamarnya perpaduan warna biru dan putih. Sebuah ranjang tiga kaki dengan headboard empuk berbalut kulit berwarna biru langit. Plafon kamar itu ditempeli stiker planet dan bertabur meteor yang akan terlihat menyala kalau ruangan itu gelap. Manis sekali pikir Dijah. Dul yang biasa tidur di atas kasur tipis di depan televisi kini memiliki kamar sendiri.
“Dul, sini! Mbok ada masak nasi goreng!” seru Mbok Jum dari dapur saat melihat Dul berlarian ke sana kemari memegangi dan mengelus seluruh perabot yang masih mengkilap.
“Ada Mbok Jum juga ... Mbok Jum ikut nginep di hotel,” tukas Dul masih dengan pakaian rumahnya yang belum berganti sejak kemarin.
“Ini bukan hotel. Kata om Bara ini rumah ibumu,” sahut Mbok Jum. “Sini, duduk! Biar kayak orang-orang kaya itu.” Mbok Jum terkekeh-kekeh. Ia sangat menikmati peran barunya sekarang.
“Rumah ibu? Rumah om Bara ...” koreksi Dul.
“Om Bara yang bilang ini rumah ibumu,” ucap Mbok Jum lagi.
“Memangnya Bara ngomong gitu Mbok?” tanya Dijah yang baru tiba di ruang makan.
“Iya. Waktu aku baru nyampe di sini, aku juga nanya gitu. Ini rumah siapa. Bara bilang, ‘Ini rumah Dijah Mbok. Aku siapin untuk Dijah.’ Yowes Jah, katanya gitu. Ya artinya memang rumahmu. Mau nanya yang lain-lain lagi aku nggak enak. Bara itu kalau lagi diem, suka bikin orang salah tingkah nggak enakan. Padahal dia nggak ngapa-ngapain.” Mbok Jum tertawa.
__ADS_1
Dijah ikut tertawa mendengar perkataan Mbok Jum. Perempuan tua itu tak salah. Terkadang memang Bara tak mengatakan apa-apa. Pria itu cukup hanya diam duduk memperhatikannya, tapi sudah cukup membuat tak nyaman. Pandangan Bara selalu fokus jika memperhatikan sesuatu.
Dijah tak bisa melupakan bagaimana cara Bara memperhatikannya saat pertama kali bertemu. Ketika ia babak belur dipukuli Fredy. Bara yang sedang berada di atas motor menawarkannya tumpangan, tak lepas memandangnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia sangat risih dan mengusir Bara berkali-kali. Jika saja waktu itu Bara menurut untuk langsung menyingkir ketika diusirnya, pasti ia tak akan berada di rumah itu pikir Dijah.
Siang itu Dijah menitipkan Dul pada Mbok Jum. Meski ditinggalkan, bocah itu tak keberatan seperti biasa. Dul sedang berjongkok di tepi kolam ikan kecil di sudut halaman menemani Mbok Jum yang sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu kolam.
Dijah berjalan kira-kira sepuluh menit untuk tiba di tepi jalan raya untuk mencari angkutan menuju Rumah Aman. Ia sudah menelepon Bu Widya untuk mengabarkan kalau ia akan ke sana siang ini.
Sedangkan Bara, pagi ke siang itu sudah tiga kali menelepon Dijah hanya untuk menanyakan sedang apa, lagi di mana, sudah makan, apa Dul suka kamarnya, apa bisa tidur nyenyak, serta bertanya apa bisa pergi ke Rumah Aman sendirian.
Perhatian Bara begitu besar dan teliti pada Dijah. Bara seakan lupa kalau Dijah sebelumnya bekerja di sebuah cafe yang pergi dan pulang larut malam selalu sendirian.
Bara meminta Dijah segera menghubunginya, kalau urusan bersama Bu Widya sudah selesai.
*****
Pagi di hari yang sama, Bara bangun lebih pagi tapi tak turun lebih awal ke ruang makan. Ia sedang melatih ucapan untuk membuka percakapan pada ibunya. Izinnya menikahi Dijah sudah dapat. Tapi kapan? Itu belum jelas. Ia merasa harus berbicara lebih detil.
Pagi adalah hari baru di mana orang-orang masih segar dan belum merasakan emosi berlebihan.
Bara menyibak tirai putih jendela kamarnya untuk menoleh ke pohon mangga yang berjarak setengah meter saja dari balkonnya. Ia sedikit meringis saat mengingat bahwa pohon mangga yang sering digunakan sebagai tangga untuk menyeberang ke balkon dan masuk ke kamar itu sebentar lagi akan ditinggalkannya. Pohon mangga itu sangat berjasa karena berkali-kali menyelamatkannya dari amukan ibu karena pulang larut malam.
Bara kembali mematut dirinya di kaca. Sudah tampan dan gagah, batinnya. Pagi ini ia akan lebih mandiri mengambil sarapannya. Sukma tak ada. Dia akan terbebas dari ejekan adiknya kalau harus memasang wajah memelas.
Merasa optimis akan diberi izin, Bara menyandang ranselnya keluar dari kamar.
“Sarapan apa pagi ini?” sapa Bara dari atas tangga diiringi dengan langkah lincah.
Kenapa harus ada Sukma pagi ini? Apa ia harus menunda pembicaraan ini sampai malam nanti? Padahal ia sudah sangat tak sabar.
Bara menggendong anak Sukma dengan wajah mengambang. Pikirannya tak fokus saat balita itu mengatakan sesuatu padanya.
“Kok tumben pagi udah di sini?” tanya Bara pada adiknya ketika tiba di meja makan.
“Mas Rico ke luar kota. Ngapain aku di rumah, mending aku di sini. Makan-tidur.” Sukma tertawa. Bu Yanti yang sedang menyiapkan roti Pak Wirya mencibir mendengar ucapan putrinya.
“Berapa hari? Biasa gak lama, 'kan?” tanya Bara.
“Ini rumah Ayah-Ibu ya Mas... Masa Mas aja yang bisa di sini. Nyebelin ...” gumam Sukma.
“Cuma nanya doang ...” sinis Bara pada adiknya.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Bu Yanti pada Bara setelah menyodorkan satu lapis roti panggang pada Pak Wirya.
“Mas sarapan roti juga Bu,” jawab Bara. Bu Yanti yang sedang menunduk menatap lembaran roti di depannya seketika mendongak menatap Bara. Pak Wirya yang sedang mengarahkan roti untuk masuk ke mulutnya langsung berhenti. Dan Sukma yang sedang mengomeli anaknya yang makan belepotan langsung terdiam. Semua menatap Bara.
“Kenapa? Kok semua pada ngeliatin?” tanya Bara menatap semua anggota keluarganya satu persatu.
“Pasti ada maunya,” bisik Bu Yanti.
“Biasanya gitu,” sahut Pak Wirya.
__ADS_1
“Pasti ...” sambung Sukma menatap Mas-nya curiga.
“Apa sih ....” Bara cemberut. “Biasa aja,” jawab Bara.
“Emang nggak ada maunya?” tanya Bu Yanti menatap Bara.
“Ada sih ...” sahut Bara kemudian mengatupkan mulutnya. Pak Wirya yang sepertinya sudah mengetahui hal yang ingin disampaikan anaknya, lanjut melahap roti sambil menunggu perkataan Bara.
“Bu, Mas pengen cepet nikahin Dijah ...” ucap Bara menatap lurus Bu Yanti.
“Apa nggak terlalu buru-buru? Bapaknya baru meninggal kemarin, 'kan?” tanya Bu Yanti. Bara mengangguk.
“Kan nggak apa-apa Bu. Bapaknya Dijah udah meninggal, tapi anaknya 'kan tetap harus melanjutkan hidup.” Bara mengamati ibunya yang sedang mengoleskan selai kacang di selembar roti.
“Tapi bukannya status kalian masih ada urusan di pengadilan Mas ... Urusan dengan suaminya kan belum selesai.” Bu Yanti menjawab anaknya dengan tenang.
“Sudah mau sidang putusan kok Bu. Mas dan Dijah statusnya cuma saksi. Nggak harus berurusan ke pengadilan langsung. Ada pengacara yang ngurusin.”
“Tapi--"
“Bu ... Kalo ibu malu bikin resepsi pernikahan Mas, Mas gak apa-apa. Mas nikah aja sama Dijah. Mas juga minta izin, setelah menikah keluar dari rumah. Mas pengen mandiri, bawa Dijah tinggal di rumah yang Eyang kasi. Gimana Bu? Nikah aja Bu, nggak usah resepsi.” Bara memegang lengan Bu Yanti dan sedikit menggoyangkannya. Ia memang sedikit memaksa.
Pak Wirya dan Sukma yang mendengar perkataan Bara hanya terdiam memperhatikan wajah Bu Yanti yang meletakkan roti dan pisau selai untuk menatap Bara.
“Mas ... Kok jadi jahat sama ibu? Mas kok mikirnya ibu bakal malu. Memangnya ibu ada ngomong apa? Jangan buat ibu kedengeran jahat gitu Mas ... Mas Bara juga anak ibu. Masak ibu malu ....” Bu Yanti mulai kembali berkaca-kaca.
“Tapi aku beneran gak apa-apa Bu ... Dijah juga pasti nggak apa-apa. Siapa tau ibu gak enak ngomongnya ke aku. Beneran aku gak apa-apa. Yang penting ibu nyaman.” Bara mengusap lengan ibunya.
“Ibu cuma mikir apa nggak aneh baru berduka terus ada pesta. Mas juga masih bolak-balik ngurus kasus itu.”
“Nikah dulu Bu—nikah dulu. Mas mau nikah dulu ...” potong Bara cepat.
“Ya Gusti ... Yaaahh ....” panggil Bu Yanti pada suaminya. Pak Wirya terkekeh-kekeh melihat wajah istrinya yang merana. “Nggak ada sabarnya ... Kalau udah ada maunya nggak sabaran banget,” decak Bu Yanti.
“Jadi boleh ya Bu? Nikah aja yang penting Bu—”
“Kebelet kawin ya?” ejek Sukma terbahak-bahak.
Bu Yanti menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Ibu udah nggak tau lagi mau ngomong apa ke Mas ...” ucap Bu Yanti.
“Ngomong 'Boleh Mas’ gimana?”
Bu Yanti hanya memandang lekat pada Bara yang terlihat kegirangan. Putra sulungnya itu langsung mengambil roti yang sudah selesai diolesi selai kemudian melahapnya sambil menepis jari Sukma yang sedang mencolek lengannya berkali-kali.
To Be Continued.....
Maafkan atas update yang terlambat. Siang ke sore ini njuss sedang membaktikan waktu pada orangtua.
Jangan lupa likenya ya sayang2 njusss..
__ADS_1
Nikahan Bara nanti warna seragamnya biru ya... XD