
Sepuluh hari terakhir berada di Rumah Aman, Dijah telah memiliki dua pot tanaman yang diletakkannya di depan jendela kamar.
Setiap pagi dan sore ia menyemprot tanaman itu sampai dedaunannya basah seperti memiliki titik embun pagi. Dijah merasa tubuhnya begitu segar dan ingatan masa lalu yang sekarang begitu jelas di kepalanya, tak terasa begitu menakutkan. Hanya saja, masa lalu itu sekarang, menjadi sangat memalukan baginya.
Dijah baru selesai mandi dan berpakaian. Bajunya sudah itu-itu saja. Untungnya, orang yang mengemas pakaiannya itu sangat telaten sampai tak melewatkan hal-hal kecil. Dijah masih bisa memakai pelembab wajah murahnya yang kini sudah dalam posisi ditunggingkan karena isinya nyaris habis.
Dijah melangkahkan kakinya keluar kamar. Bu Widya sepertinya kali ini membawanya ke tempat yang berbeda. Beberapa tahun yang lalu ia tak menginap di sana. Kamar di rumah itu tak banyak, hanya sekitar 6 kamar saja. Tapi sekamar bisa diisi oleh dua orang.
Kesemua penghuninya adalah perempuan. Kemarin Dijah sempat melihat seorang bocah perempuan yang berlarian ke sana kemari. Tapi hari itu, sepertinya bocah itu sudah dibawa pulang oleh keluarganya.
Dijah menuju sebuah taman yang lumayan luas di halaman belakang. Perutnya terasa kenyang dengan segelas susu yang diantarkan ke kamarnya tadi pagi. Jadi ia melewatkan waktu sarapannya dengan duduk di sebuah bangku panjang.
Dijah melemparkan pandangannya pada seekor kupu-kupu kecil yang terbang lincah ke tiap kuntum bunga.
Ingatan Dijah kembali pada malam ia menjadi korban kekerasan Fredy untuk pertama kalinya. Setelah malam pertamanya yang sangat mengenaskan, ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Baru saja diperkosa dalam keadaan kritis.
Hampir lima hari mengambang antara hidup dan mati, ternyata ia masih bisa bangun dari tidurnya. Dijah tak mau pulang ke rumah. Sekali lagi, ia meronta dan memohon agar tidak dikembalikan ke rumah suaminya.
Dahinya mengernyit ketika adegan ia yang berlari keluar dari ruangan dokter setelah mendengar kehamilannya muncul di kepala.
Fredy yang kemudian datang ke rumahnya dan menyeretnya keluar untuk dibawa pulang.
Dijah telah mengingat berkali-kali meminum racun serangga dan menyebabkannya diintubasi untuk menggugurkan kandungannya. Ia tak mau mengandung anak dari pria menjijikkan yang menidurinya tanpa izin di umur yang harusnya dia masih mendapat perlindungan.
Dijah berlarian ke Polsek di dekat rumahnya untuk memenjarakan Fredy berulang-ulang. Polisi di sana saja mungkin sampai muak menerima laporannya.
Ketidakterimaannya pada bayi yang sedang dikandungnya itu membuat Dijah tak menerima dirinya sendiri. Ia melahirkan Dul melalui operasi sesar karena tak sadarkan diri setelah berlari ke jalan raya dan tertabrak sebuah sepeda motor.
Dul lahir membiru, hampir mati. Dijah tak mau menyentuhnya. Pihak tenaga medis dan bu Widya yang menanganinya saat itu tak memberikan Dul kepadanya. Sejak saat itu, Dijah tinggal di pusat rehabilitasi. Bu Widya menjadi temannya. Ia tak mengingat apapun soal penderitaannya selama hamil.
Selama masih bisa mempertahankan tubuhnya dari Fredy, Dijah akan melakukan apa saja. Dia tak ingin hamil lagi. Pria manapun akan meniduri wanita dan meninggalkan benihnya secara sembarangan. Itulah isi pikirannya. Dijah meraung dan memukuli tubuhnya setiap hari. Ia sudah dalam tahap menyakiti dirinya sendiri. Dia dipaksa mengandung anak seorang pria berengsek. Hukum negara tak memperbolehkannya melakukan aborsi waktu itu.
Dijah tak mau hamil lagi. Dengan keadaannya yang masih dalam trauma berat seusai melahirkan seorang anak, tubuh yang kurus kering dan mengkonsumsi anti depresan secara rutin, Bu Widya menyanggupi untuk membawanya ke seorang dokter kandungan untuk menenangkan hati Dijah waktu itu.
Memasangkannya IUD dan mengatakan bahwa ia tak akan hamil lagi selama sepuluh tahun ke depan. Bu Widya menjamin bahwa selanjutnya Dijah berhak atas tubuhnya sendiri. Dijah bebas. Tak akan ada yang akan memaksanya melakukan hubungan suami istri. Setelah berhasil meyakinkan Dijah, bu Widya belum melihat perkembangan kesehatan mentalnya tumbuh dengan baik.
__ADS_1
Tahap pertama meyakinkan Dijah bahwa ia berhak terhadap diri dan kehidupannya, selanjutnya Bu Widya melakukan pendekatan lain.
Bu Widya membawa Dul yang berusia enam bulan. Bayi kurus sakit-sakitan karena dirawat seadanya. Mendapat asupan susu formula murah dan air rebusan beras. Diberi makan pisang sejak usia empat bulan.
Dul bayi yang tenang. Bu Widya membawanya ke dekat Dijah dan menceritakan soal nasib bayi itu. Yang tak disukai ayahnya dan tak diinginkan ibunya. Dul tak ada tempat bersandar.
“Kenapa dia nggak nangis?” tanya Dijah waktu itu.
“Karena dia tau, meski dia nangis, nggak ada yang gendong. Mbah wedoknya sakit-sakitan, Dul cuma diletakkan di depan televisi.”
“Boleh aku gendong?” tanya Dijah.
“Boleh. Dul pasti senang.” Bu Widya mengangsurkan Dul ke dalam pelukan Dijah.
Berhari-hari Bu Widya melakukan hal itu, sampai suatu ketika Dijah menangis tersedu-sedu menggendong Dul.
“Aku harusnya nggak boleh gini ke dia. Dia nggak salah. Kalau aku ngelupain dia, nasibnya juga bakal sama kayak aku. Kasian Dul... Dia kayak aku, nggak ada temen. Aku nggak mau Dul sendirian,” raung Dijah lima tahun yang lalu.
Sejak saat itu, Dijah mengabdikan hidupnya untuk Dul. Tubuhnya tahan banting menghadapi teror Fredy yang masih menghantuinya setiap hari.
Bahkan setelah berhasil mengurus perceraiannya dengan bantuan tenaga relawan, Dijah masih kerap menghadapi percobaan perkosaan Fredy.
Fredy yang setiap mabuk pasti mencarinya. Melontarkan pelecehan verbal maupun tindakan kekerasan fisik jika kemauannya tak dituruti.
Dijah masih duduk di bangku panjang menatap kupu-kupu. Sekarang mengingat hal itu sudah tak begitu menyakitkan.
Bunga tak mekar hanya dalam waktu semalam. Segala bentuk kekerasan yang diperolehnya, membuat fisiknya semakin kebal akan rasa sakit, tapi luka psikisnya kian mendalam.
Dengan munculnya ingatan masa lalunya, kini Dijah menyadari bahwa ia bukan hanya sekedar janda satu anak saja. Ia menyadari kegilaannya. Atmosfer keluarganya yang sejak dulu porak poranda. Figur ayah yang tak bisa diandalkan, serta ibu yang terlalu sibuk mencintai suami sampai lupa memperjuangkan perasaan anaknya.
Dijah malu dan merasa begitu kotor.
"Dijah..." panggil bu Widya. Dijah menoleh ke kiri. Bu Widya muncul di pintu belakang rumah melambaikan tangannya.
"Hari ini ada seseorang mau bertemu. Kamu bisa menemuinya?" tanya bu Widya dengan wajah riang.
__ADS_1
"Saya belum mau ketemu orang lain," sahut Dijah cepat.
Bu Widya berjalan mendekati Dijah masih dengan senyum riang di wajahnya.
"Ada seorang bapak tua yang mau ketemu. Katanya dia seorang ayah yang ingin minta bantuan kamu. Cuma kamu yang bisa nolong dia. Kasihan sebenarnya kalau kamu menolak, tapi kalau kamu nggak mau, saya nggak paksa. Saya minta bapak itu untuk datang lain kali saja." Bu Widya menepuk pelan bahu Dijah kemudian melangkah pergi.
"Bu! Memangnya bapak itu kenapa? Kalau memang saya bisa bantu masalahnya, saya mau ketemu." Dijah yang merasa berarti ketika dibutuhkan seseorang merasa harus bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongannya.
"Ahh... Baik! Saya panggil bapak itu ya.. Kamu di sini aja. Mungkin bapak itu hanya ingin ngobrol mencari pencerahan." Bu Widya tersenyum dan meninggalkan Dijah.
Tak berapa lama kemudian pak Wirya masuk ke halaman belakang dan melihat-lihat tanaman di sana. Langkahnya begitu luwes berpindah memegang dedaunan dan sesekali ia menunduk untuk menghirup kuncup bunga yang sedang mekar.
"Asri banget ya... Adem," ujar Pak Wirya tersenyum kepada Dijah yang sedang menatapnya heran. Penampilan bapak yang sedang mendatanginya itu tak terlihat seperti sosok orang yang memiliki masalah.
Pak Wirya menghempaskan dirinya di sebelah Dijah. Di tangannya tergenggam sebuah amplop coklat. Pandangan pria tua itu masih mengarah ke pintu. Dijah yang penasaran dengan hal yang sedang dipandang pak Wirya ikut menoleh.
Sejurus kemudian, pandangannya bertemu sosok Bara yang sedang berdiri di ambang pintu. Dijah segera menoleh kembali pada pak Wirya.
"Kenal?" tanya pak Wirya. Dijah hanya diam. Dadanya terasa bergemuruh. Dan rautnya seketika berubah muram dengan tatapannya yang sedih.
Dijah belum menjawab pak Wirya, ia kembali menoleh ke arah pintu belakang yang berada di sisi kirinya. Jarak tempatnya duduk hanya sekitar 15 meter ke pintu belakang itu. Ia bisa melihat Bara yang berdiri dengan kedua tangannya berada di saku dan bersandar di gawang pintu.
Pandangan Bara tak lepas dari mata Dijah. Pak Wirya sedang menatap anaknya yang sedang melepas pesonanya sampai ke titik maksimal untuk mengembalikan ingatan indah yang tak boleh dilupakan oleh Dijah.
Beberapa menit bertatapan, Bara melepaskan senyumnya pada Dijah. Dijah buru-buru kembali menoleh memandang pak Wirya. Dengan sedikit anggukan, pak Wirya meminta Bara pergi dari ambang pintu itu.
"Ganteng ya laki-laki tadi. Dari wajahnya keliatan baik. Kamu kenal?" tanya pak Wirya sambil berdecak memandang ambang pintu yang baru ditinggalkan Bara.
Mendengar hal yang baru saja dikatakan pak Wirya, Dijah melemparkan pandangannya menatap jajaran bunga anggrek. Dijah tersenyum. Pak Wirya memperhatikan raut Dijah dengan teliti.
"Kamu bisa panggil saya Pak Darma," tukas pak Wirya Satyadarma seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Dijah Pak," sahut Dijah menyambut uluran tangan pria tua itu.
To Be Continued.....
__ADS_1