PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
113. Benar Berubah ?


__ADS_3

Sebelum bertemu dan berbincang dengan Heru, Tini tak pernah memiliki bayangan tentang sosok lelaki ideal. Dengan segala keterbatasannya sebagai pengagum pesona suami orang, Tini membungkus Heru di dalam pikirannya. Kelak, ia berharap akan menemukan sosok Heru pada laki-laki lain. Yang bisa menghargainya, mendengarkan ucapannya, dan membantunya mewujudkan mimpi.


 


Ternyata, hidup itu tak melulu tentang hari ini. Heru membuat Tini untuk kembali mempercayai dirinya sendiri.


 


Sabtu pagi, Tini bangun dengan menghirup udara segar banyak-banyak mengisi paru-parunya. Jiwanya kembali optimis, percaya bahwa hidup yang dinamis tak melulu berisi hal-hal romantis, melankolis dan... erotis.


 


“Hari ini kita akan keliling Lagoi karena besok kita udah kembali ke rumah masing-masing. Kita langsung berangkat sekarang?” tanya Heru saat mereka berkumpul di lobby seusai sarapan.


 


“Siap Mas!” teriak Tini. Semangatnya sedang bergelora sekarang. Heru melirik Tini. Sepertinya memang permulaan yang bagus, pikir Heru.


 


“Oke, berangkat...” Heru mendahului naik ke van yang akan membawa mereka ke Treasure Bay. “Ada yang ketinggalan?” tanya Heru menoleh ke belakang.


 


“Nggak ada Mas! Semua ready!” teriak Tini lagi. Heru meringis. Oke, agak terlalu bersemangat tapi tak apa-apa, batin Heru.


 


Mereka mengunjungi Treasure Bay. Membawa Dul dan Robin kembali bermain di kolam renang air asin terbesar di Asia Tenggara itu. Rombongan mereka terpecah menjadi beberapa bagian.


 


Asti dan Bayu pergi mengunjungi Rumah Imaji Lagoi. Tempat itu menyajikan lukisan tiga dimensi yang apik. Heru yang menyarankan tempat itu pada Bayu yang terlihat bingung harus ke mana lagi. Dengan bekal sebuah kamera profesional, Heru yakin Bayu dapat memukau Asti dengan kemampuan fotografinya. Apalagi mengingat selera gadis seumuran Asti yang harus berfoto di tiap sudut tempat.


 


“Bulan depan aku mudik Jah, pengen ngunjungin keluargaku. Aku udah 4 tahun gak pulang.” Tini merangkul pundak Dijah yang sedang mengawasi Bara dan Dul berenang di tepian kolam.


 


“Balik lagi ke kandang ayam?” tanya Dijah menoleh temannya.


 


“Belum tau.”


 


“Jadi Tin?” tanya Dijah. “Yudi?” Dijah ingin memastikan apakah ia akan bertemu lagi dengan Tini atau tidak.


 


“Kayaknya aku lebih suka bertaruh untuk luka yang baru atau dapat bahagia sekalian. Dibanding harus membenamkan diri dengan kisah yang pernah ada di masa lalu. Hari ini cuma perjalanan dengan isi kemungkinan apa pun. Aku harap hari kemarin hanya cerita yang kalau perlu untuk diceritakan aja. Mas Heru nawarin aku kerjaan di tempat temennya. Tapi aku nggak mau meracuni pikiranku sendiri. Kamu pasti ngerti maksudnya. Memulai hidup baru di tempat yang baru dengan pandangan baru. Aku masih punya modal. Aku gak akan nemuin kamu kalau aku belum jadi Tini yang baru.” Tini kemudian tertawa.


 


“Kamu kok jadi nyeremin Tin?” tanya Dijah dengan wajah was-was.


 


“Aku lagi serius kampret! Kamu denger dulu,” tukas Tini.


 


“Oh iya,” jawab Dijah cepat. “Lanjutin,” ucapnya lagi.


 


“Setiap orang berubah. Dulu mungkin peduli banget, sekarang bisa jadi enggak. Dulu bantu apa pun yang kamu butuh, sekarang udah malas. Kadang yang bikin berubah orang lain bukan mereka sendiri, tapi perlakuanmu kepada apa yang mereka beri.” Tini menarik nafas. “Itu hasil pemikiranku setelah ngobrol panjang lebar dengan mas Heru kemarin malam,” sambung Tini.


 


Dijah bertepuk tangan, berdecak dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Fantastis. Luar biasa. Mas Heru memang luar biasa,” ucap Dijah.


 


Bara yang mendengar tepuk tangan Dijah, seketika menoleh. Dahinya mengernyit karena penasaran dengan pembicaraan dua wanita unik berbeda versi itu.


 


“Liat dia,” kata Tini merangkul bahu Dijah dan mengarahkannya pada Heru yang sedang duduk di bawah payung pantai. “Aku sayang kau tapi kita tak saling jangkau. Aku ingin kau tapi terlalu banyak halang untuk sampai di samping kau. Hatimu mungkin bisa kurebut, tapi gamangmu membuatku takut. Kau akhirnya tetaplah layang-layang yang jauh, indah dipandang tak bisa kusentuh.” Tini menatap Heru dengan sendu.


 


Dijah kembali berdecak mendengar kata-kata Tini, tapi kemudian ia menyambung kalimat itu. “Kau adalah perjalanan yang begitu susah untuk kutempuh. Begitu sulit untuk kujangkau dan begitu mustahil untuk dimiliki.” Dijah kemudian menoleh pada Tini. “Gimana?” tanyanya menaikkan alis.


 


“Cocok mantap!” sahut Tini. Masih dengan menatap Heru kedua wanita itu tertawa terbahak-bahak. Menertawakan ketidakmungkinan yang suatu hari mungkin bisa ditertawakan dengan tulus. Hari ini tawa itu bisa menipu. Tapi setidaknya bisa menghibur hati.


 

__ADS_1


Di kejauhan Bara sudah memperhatikan tingkah isterinya.


 


“Heh! Ngetawain apa?” tanya Bara memandang curiga. Ia melemparkan pandangan pada Heru yang masih bersantai tak tahu telah dijadikan bahan guyonan dua perempuan.


 


“Nggak ada Mas...” sahut Dijah mengatupkan mulut menahan senyumnya.


 


“Mandiin Dul, kita berangkat sebentar lagi. Mau makan di pujasera.” Bara memegang lengan Dul untuk naik ke darat. Dan ia masih akan bangkit ketika Dijah tergopoh-gopoh menghampirinya.


 


“Mas jangan naik dulu. Tunggu aku pergi bareng Tini mandiin Dul.” Wajah Dijah terlihat cemas.


 


“Emang kenapa?” tanya Bara dengan wajah serius.


 


“Itu celana renang Mas ketat banget. Aku pernah bodoh sesaat karena ngeliatin itu. Jadi aku nggak mau Mas dikonsumsi orang. Tini pula,” ujar Dijah melirik temannya yang masih menatap Heru dari kejauhan.


 


“Astaga... Isteriku. Ya udah sana cepet! Bawa Dul dan Tini sekalian.” Meski merasa sedikit aneh, Bara terkekeh geli melihat ekspresi cemas Dijah yang tak dibuat-buat.


 


Selesai dari Treasure Bay, mereka semua makan siang di pujasera Bintan. Terletak di antara jajaran pemukiman karyawan yang bekerja di resort itu, sebenarnya kehadiran pujasera lebih ditujukan bagi penduduk sana. Sebelum menuju pujasera itu, van menjemput Asti dan Bayu yang telah selesai dari Rumah Imaji.


 


Agenda yang tersisa di Lagoi hanya tinggal mengajak anak-anak mengunjungi Safari Lagoi dan Eco Farm. Sebuah tempat yang terdiri dari perkebunan dan melihat koleksi hewan yang ada di sana. Sedangkan perkebunannya, mengusung konsep eco friendly dengan spot-spot foto yang bagus.


 


Sejam kemudian mereka telah berkendara kembali ke Tanjung Pinang. Heru meminta supir langsung menuju ke pasar kawasan Kota Lama.


 


Sotong dan ikan bilis (teri) memang masih menjadi oleh-oleh primadona khas Tanjung Pinang karena rasa khasnya. Ikan-ikan bilis itu berasal dari pulau sekitar sana, Karas, Dabo, Senayan Pancur dan pulau kecil lainnya yang kalau di peta kita hanya melihatnya berupa titik saja.


 


 


“Aku mau,” ujar Tini masih sama bersemangatnya. Wanita itu kemudian ikut turun dari mobil.


 


Heru sumringah. Dia senang Tini tak bersikap beda padanya.


 


“Eh aku juga ikut, untuk oleh-oleh ke kampung.” Boy juga turun dari mobil.


 


“Iya, ayo siapa yang mau turun. Bantu aku ngitung uang.” Heru tersenyum jahil.


 


Tak tanggung-tanggung, Heru membeli dua kardus penuh yang terisi bermacam-macam sotong dan ikan bilis. Dengan bangganya ia mengeluarkan seplastik uang receh yang dikumpulkan penghuni kos untuk membayar semua belanjaan. Heru hanya menutupi sedikit kekurangan dengan uang dari dompetnya.


 


“Banyak banget beli ikan terinya.” Tini yang telah kembali ke dalam mobil berkata pada Mak Robin.


 


“Nanti dibagi-bagi ya... Buat yang mau pulang ke kampung halaman, juga bisa dibawa.” Heru memberi instruksi pada supir untuk kembali melaju menuju hotel.


 


“Tapi kebanyakan itu...” ucap Tini.


 


“Bisa Mbak Tini bawa pulang ke kampung, jangan dimakan sendiri. Nanti darah tinggi,” ujar Heru tertawa.


 


“Siap Mas!” jawab Tini lagi masih penuh semangat. Heru tertawa. Dan Bara yang melihat gelagat aneh Tini seharian ini menjadi penasaran soal apa yang terjadi kemarin malam.


 


“Dibagiin Mak, biar gak darah tinggi kalau dimakan sendiri.” Tini terkikik-kikik mencolek paha Mak Robin.

__ADS_1


 


“Gak perlu aku makan ikan asin kalo mau tensiku tinggi. Cakap sama kau 10 menit aja bisa naik darahku soalnya,” sahut Mak Robin.


 


Dijah masih akan menarik nafas untuk tertawa lebar. Tapi tatapan Bara membuatnya kembali bersandar di bahu pria itu.


 


“Entar malem harus jadi ya...” bisik Bara.


 


“Iya... Hari ini Dul udah capek berenang. Pasti tidurnya lebih cepet dan pules,” jawab Dijah.


 


Mobil kemudian memasuki sebuah hotel besar di daerah batu 9. Heru dan Bayu lebih dulu turun untuk mengurus kamar. Sedangkan Bara berdiri mengawasi petugas mengangkuti barang-barang mereka. Satu malam di kota Tanjung Pinang. Esok mereka akan terbang langsung dari bandara Raja Haji Fisabilillah.


 


“Mbak Tini, kamarnya dengan Asti dan Boy lagi ya...” ucap Heru menyerahkan kunci kamar.


 


“Baik Mas...” jawab Tini dengan lembutnya. Hebat sekali pikir Heru. Dalam satu malam, Tini bisa menjadi sosok yang berbeda. Ia kagum akan kemampuannya memotivasi.


 


“Ini kunci kamar kamu Ra.” Heru menyerahkan sebuah kunci kamar pada Bara. Dijah, Tini, Boy dan Asti sudah menyingkir ke sisi kanan lobby hotel. Mereka berempat tampak berkasak-kusuk.


 


Bara menggandeng Dul mendekati keempat manusia yang tak menyadari tempat dan situasi untuk mengomentari orang lain.


 


“Menurut kalian itu siapanya?” tanya Tini meminta pendapat saat melihat seorang pria tampan dengan seorang wanita yang masih sangat muda.


 


“Gak ada bayangan. Tapi kayaknya pacarnya.” Boy memberi pendapat.


 


“Semok Tin perempuannya,” ucap Dijah.


 


“Iya, cantik. Yang laki-laki juga ganteng.” Asti memberi pendapat.


 


“Bokong laki-lakinya ketat banget kayaknya. Aku jadi bayangin ngeliatnya lagi gak pake apa-apa. Pasti enak diremas,” ucap Tini terkikik. Dijah terkikik-kikik geli. Sedangkan Asti hanya menahan tawa dengan menutup mulutnya. Sedangkan Boy menjitak pelan kepala Tini.


 


“Yang mana sih? Aku juga mau tau...” ucap Heru tiba-tiba ikut bergabung menyela mereka.


 


Dijah terperanjat dan menoleh ke belakang. Melihat suaminya sedang menarik nafas dan cemberut.


 


“Iya Mas... Ayo kita tidurkan Dul lebih cepat...” Dijah buru-buru menggandeng tangan Dul dan berjalan mendahului semuanya.


 


Sedangkan Tini tiba-tiba tertarik akan gaya dekorasi lobby hotel itu. Ia menggandeng Boy dan Asti sambil berpura-pura menunjuk lampu, lukisan dinding dan pot bunga besar dan berkomentar tak penting soal itu.


 


Heru kembali tertawa. Ia sudah curiga. Satu malam saja bisa menjadikan Tini sosok yang serius itu adalah hal yang mustahil.


 


Mak Robin mengikuti langkah teman-temannya sambil mengomel.


 


“Udah sering kubilang. Muncung kelen itu kalo cakap tengok-tengok tempat.”


 


To Be Continued.....


Ayo diremas lagi tombol likenya ya...


Kasi semangat untuk Dijah biar jadi adonannya :D

__ADS_1


 


__ADS_2