PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
131. Penantian Panjang


__ADS_3

PS.


Sebaiknya part ini dibaca malam hari. tapi kalau sudah telanjur dibuka, dilike dulu ya...


Hihihihi


*****


“Dibekali obat ‘kan?” tanya Bu Yanti pada Dijah yang masih tinggal di meja makan.


Ketiga orang pria berbeda usia peserta makan siang tadi sudah beranjak pergi. Bara langsung naik ke kamarnya membawa tas pakaian. Sedangkan Pak Wirya dan Dul kembali bersila di lantai ruang keluarga melanjutkan proyek menyusun replika helikopter.


Dijah mengangguk. “Iya Bu, dibekali. Banyak.” Dijah berdiri sambil mengangkat tiga piring yang telah ditumpuknya.


“Nggak usah, itu biar Ami yang beresin.” Bu Yanti menoleh pada asisten rumah tangga yang baru saja datang masuk ke dapur.


“Oh iya—makasih Mbak,” ucap Dijah pada Mbak Ami yang gesit membersihkan meja.


“Iya Mbak Dijah... Sama-sama. Udah hampir 5 bulan kan?”—Mbak Ami melihat Dijah kemudian langsung menoleh pada Bu Yanti—“bener kan Bu? Ibu bilang kemarin hampir 5 bulan?”


“Iya, Bara bilang masuk 19 minggu. Tapi sayang jenis kelaminnya belum keliatan. Saya penasaran,” ucap Bu Yanti mengangkat sepiring lauk dan memasukkannya ke lemari.


Dijah hanya diam mematung. Ia tak tahu harus berbuat apa di ruang makan itu. Ingin ikut merapikan meja, tapi sudah dicegah. Duduk berlama-lama di sana, ia merasa canggung. Kepalanya mulai berat dan sebenarnya ia ingin segera kembali ke kamar untuk berbaring.


“Dulu, waktu hamil Bara, ibu nggak mabuk. Nggak ada mual, nggak ada ngidam yang aneh-aneh itu. Ibu cuma kelaperan. Tapi waktu hamilnya Sukma, ibu persis kayak kamu ini.” Bu Yanti kembali duduk di kursinya.


Dijah memandang wajah ibu mertuanya itu dengan cermat. Jarak mereka tak lebih dari semeter. Dan rasanya memang tak pernah Dijah memandang wajah wanita yang melahirkan suaminya sedekat itu. Bu Yanti memang cantik. Rambutnya ikal sebahu terlihat mengkilap sehat diselingi rambut putih.


“Ibu sampai masuk rumah sakit juga?” tanya Dijah mencoba menemukan persamaan dengan yang dialaminya. Selama ini ia selalu merasa cemas dianggap terlalu berlebihan dengan kondisi mabuk kehamilannya. Dijah khawatir dianggap merepotkan Bara. Mendengar ibu mertuanya pernah merasakan hal yang sama, jelas membawa kelegaan tersendiri di hati Dijah.


“Pernah, tapi cuma sekali. Kayaknya lebih parah kamu. Tapi memang kondisi tiap orang berbeda. Kita nggak bisa menggeneralisasi. Maksudnya—kita nggak bisa menyamaratakan.” Bu Yanti mengoreksi ucapannya agar terdengar lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh menantunya. Ia memang jarang berbicara terlalu akrab dengan menantunya. Tak hanya Dijah, pada suami Sukma pun ia memang jarang berbasa-basi.


Awal masa pernikahan Sukma dan Rico, menantu pertama di keluarga Wirya itu terlihat seperti bermain kucing-kucingan dengan ibu mertuanya. Di mana Bu Yanti sedang berada, Rico pelan-pelan mundur dari ruangan dan menghilang. Alasannya, karena Bu Yanti jarang berbicara dan sekalinya bicara nadanya selalu terdengar serius. Namun lama kelamaan, Rico menjadi terbiasa. Ibu mertuanya memang seperti itu. Jarang berbicara, sekalinya bicara malah mengomel.


“Tapi saya udah mendingan Bu... Muntahnya sudah berkurang. Makanan masuk ke perut juga lumayan porsinya.”


“Iya, mudah-mudahan cepat hilang mabuknya. Kasian juga kalau bayi di perut kekurangan nutrisi karena ibunya nggak makan-makan.”

__ADS_1


Siapa yang tak mau makan banyak ketika hamil? Dia juga mau. Dia juga mau calon bayi dari laki-laki yang dicintainya lahir sehat dan bertubuh gempal. Dijah meratap di dalam hati.


“Iya, semoga mabuknya cep—”


“Nah ini kenapa? Mondar-mandir dari tadi...” Bu Yanti membuat perkataan Dijah terhenti karena menyapa anak laki-lakinya.


“Siapa yang mondar-mandir? Aku cuma bawa pakaian kotor untuk titip di sini,” sahut Bara mengangkat sebungkus pakaian kotor yang dibawanya dari rumah sakit dan meletakkannya ke ruang cuci. Tak lama kemudian ia kembali muncul di ruang makan.


“Ibu liat dari tadi kamu naik-turun-naik-turun tangga.” Bu Yanti menatap sebal pada anaknya. Ia hanya ingin mengobrol sebentar dengan Dijah, tapi Bara sejak makan siang tadi terlihat seperti cacing kepanasan. Dari dulu, selalu tidak sabaran. Bu Yanti melirik Bara yang telah berdiri di belakang kursi istrinya.


“Lagi ngobrolin apa?” tanya Bara pada ibunya.


“Sekarang jam berapa sih?” Bu Yanti menoleh ke arah jam dinding besar di atas gawang pemisah ruang makan dan ruang keluarga. “Jam 3 sore—” gumam Bu Yanti.


“Mau lanjut ngobrol?” tanya Bara memandang wajah ibunya.


“Enggak—enggak usah. Ya udah, ibu ke depan dulu. Udah jam 3 sore. Ayah pasti lupa kalau anak-anak itu perlu jam tidur lebih panjang. Diladeni main terus.” Bu Yanti pergi meninggalkan Bara dan Dijah di ruang makan. “Obatnya diminum...” seru Bu Yanti seraya berlalu.


PLAKK!


“Kayak nggak ada tempat lain aja. Megang-megang... jam makan siang.” Dijah melotot.


“Cuma ngetes aja tadi,” jawab Bara melingkari leher Dijah dari belakang kursi dan menunduk mencium pipi istrinya bertubi-tubi.


“Aku mau tidur, kepalaku udah mulai pusing lagi.” Dijah menggeser kursinya dan bangkit.


“Hah? Pusing? Obatnya diminum kata ibu. Minum ya—biar sehat. Semoga cepet fit. Ayo ke kamar, Mas pijet-pijet.” Bulu mata Bara mengepak dan alisnya terangkat.


Dijah mencibir. Ia sudah tahu apa maksud suaminya yang sejak tadi gelisah.


“Dul mana Mas?” tanya Dijah.


“Masih merakit helikopternya ditemani Ayah. Kayaknya jaman dulu belum ada mainan kayak gitu.” Bara menoleh ke arah lantai di depan televisi. Bu Yanti yang tadi mau mengomeli suaminya kini kembali duduk bersimpuh meletakkan keping-keping balok kecil yang rumit demi membentuk sebuah replika helikopter.


“Ayo, Mas gantiin bajunya.” Bara menarik tangan istrinya menuju tangga.


“Aku bisa ganti baju sendiri,” sahut Dijah.

__ADS_1


Mereka telah tiba di kamar Bara. Seprai baru dan aroma pewangi pakaian memenuhi kamar yang dihembus angin tipis dari AC yang menyala. Bara ternyata memang telah melakukan persiapan tingkat tinggi sore itu.


“Minum obatnya...” Bara menyodorkan segelas air putih yang baru diambilnya dari dispenser kamar. Tangan Dijah sudah memegang beberapa butir obat yang kemudian diletakkannya sekaligus ke dalam mulut.


Bara berdiri dengan sangat manis. Menunggui istrinya meneguk air putih sampai tuntas dan mengambil gelas kosong dari tangan Dijah secepat mungkin. Di tangannya sudah tergenggam sebotol baby oil.


“Bajunya mana? Katanya nyuruh ganti baju. Biasa udah diambilin,” sindir Dijah.


“Kemarin aku di kantor nonton video memijat ibu hamil. Aku mau praktekin,” ucap Bara dengan senyum mengembang. “Ganti bajunya nanti aja. Ayo, sini baring.” Bara memegang lengan Dijah kemudian membawanya ke tepi ranjang.


Dengan senyum lebar Bara menepuk-nepuk ranjang meminta istrinya duduk.


Pijatan yang dijanjikan Bara memang terjadi. Tapi tak lama. Setelah membaluri telapak kaki Dijah dan memijat lembut betis sang istri, pijatan itu mulai melenceng.


Mata Dijah setengah terpejam menikmati usapan telapak tangan suaminya yang hangat. Meski pijatan itu masih di bagian kaki, Bara bersikukuh bahwa Dijah perlu melepaskan seluruh pakaiannya berganti dengan selembar sarung.


Alasan Bara, “Kan biar ibu hamilnya nyaman. Sesak kalau pakaian dalam terlalu ketat. Apalagi ukurannya udah nambah gitu. Perutnya gak terlalu gede, tapi itunya—”


Setelah penantian panjang berhari-hari, Bara tak sabar menunggu sampai malam. Kondisi istrinya sudah lebih baik dan ia tak mungkin melewatkan kesempatan itu. Selang beberapa detik setelah pijatan betis yang naik ke paha, tangannya sudah naik ke dada Dijah.


Tonjolan indah dari balik selembar kain sarung tipis tak bisa diabaikan. Bara menarik turun penutup itu dan ikut berbaring di sebelah istrinya.


Dijah membuka mata dan melihat puncak kepala Bara yang sedang menunduk menekuni dadanya. Ia kembali memejamkan mata. Bara berbaring di sebelah kanannya dan tangan kirinya kini ikut mengacak-acak rambut laki-laki itu.


“Dari dulu pacaran ternyata hobinya sama. Nggak pulang-pulang,” bisik Dijah.


Bara mengangkat wajahnya memandang Dijah. Satu tangannya masih tinggal di salah satu dada dan tak henti meremas lembut. “’Kan, pasti dibahas... Entar aja ah. Mas pengen dimanjain.” Bara bangkit melepaskan pakaiannya.


Di balik kesempurnaan sosok suami atau seorang pria yang sering dirata-ratakan pada Bara di mata teman-teman Dijah, Pria itu tetaplah manusia biasa dengan denyut jantung dan napas. Anak laki-laki cengeng dan manja dari seorang ibu, anak laki-laki pemberani dan bertanggungjawab dari seorang ayah, sosok tak sabaran, gampang diprovokasi serta juga seorang pria seksi dengan hasrat yang sering tak tertahankan.


Baru menyatukan tubuh mereka. Menarik Dijah lebih dekat dan lebih dekat lagi. Hingga suara erangan parau terlontar dari mulut mereka. Dijah kembali mencapai sensasi yang menjadi tujuannya. Mereka melepaskannya bersama-sama.


Bara terengah-engah. Merasa lelah dan lemah tapi masih jauh dari puas. Ia meletakkan keningnya di bahu Dijah, kulit istrinya terasa licin oleh keringat yang tipis namun lembut bagai beludru.


“Mas masih belum selesai dengan kamu,” ujar Bara kepada Dijah sambil menyusuri jari-jarinya di pinggul wanita itu.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2