
'Dijah... Maafin aku'
'Dijah, harusnya kamu jangan kayak gini. Aku udah jelasin. Gak boleh gini Jah...'
'Semua yang aku lakuin itu tulus. Aku tulus Jah, dari awal aku selalu tulus. Meski kita udah kayak gitu. Aku gak ada niat buat jadiin hubungan kita bercandaan.'
'Dijah, kamu udah nyanggupin mau ikut ke rumahku. Kenalan dengan Ayah, Ibu dan Sukma adikku. Aku udah bilang ke mereka aku bakal bawa kamu. Jangan gini Dijah...'
'Dijah... Kamu lagi apa? Dul apa kabar?'
'Gimana? Udah ketemu Mbok Jumnya? Aku bantuin cari ya...?'
'Jah... Aku rindu. Aku dateng ya?'
'Kenapa pesanku cuma dibaca aja?'
'Dijah, aku rindu...'
'Maafin aku Jah, aku beneran sayang. Kamu tega banget'
Selama beberapa hari Bara menghujani Dijah dengan rentetan pesan yang hanya sanggup dibaca olehnya. Setelah tiga hari ke sana kemari mencari Dinas Sosial mana yang dimaksud Bara. Ia tak mengerti alur yang sudah dilewati Mbok Jum setelah terjaring razia itu.
Seminggu tak bertemu dengan Bara dan tak mengunjungi Dul, Dijah memusatkan perhatiannya ke sana kemari mencari Mbok Jum. Ia kembali mendatangi warga di sekitar sana untuk kembali menanyakan soal kejadian penggusuran itu.
Tapi bukannya malah membuahkan hasil, pulangnya tubuh Dijah serasa remuk. Badannya sakit-sakit dan kepalanya terasa berat.
Dijah merasa meriang sejak kemarin sore. Dan pagi itu ia hanya bergulung di ranjang kamarnya. Kepalanya pusing, tenggorokannya terasa sakit seperti terluka. Meski kamarnya terasa panas luar biasa, Dijah merasa kedinginan. Sampai siang ia belum bangkit dari ranjangnya.
Suara para penghuni kos lain sejak tadi sudah terdengar. Mak Robin yang berbicara pada anaknya seolah sedang bertengkar, Tini yang sedang berdebat dengan Boy perkara siapa yang akan membeli baterai mic yang sudah padam, serta suara Asti yang sepertinya sedang bertelepon di bawah jendela kamarnya dengan seseorang yang dipanggilnya Mas.
Dijah meraih ponsel yang terletak di sisi kanannya. Masih dengan memeluk sebuah guling, Dijah menggulir layar ponsel itu dan kembali melihat puluhan pesan Bara. Tak ada orang lain yang menanyakan kabarnya selain pria itu. Pesan dari keluarganya pun selama ini hanya mengabarkan soal beras dan gula yang hampir habis.
Baterai ponselnya hampir habis. Dijah mengabaikannya. Ia bangkit dari ranjang mengambil sebuah gelas dan mengisinya penuh dengan air putih. Tenggorokannya masih terasa sakit, tapi ia harus berdiri mencari makanan untuk mengisi perutnya.
"Aku kira kamu keluar sama mas-mu," tukas Tini saat melihat Dijah keluar kamarnya.
"Enggak..." jawab Dijah yang menenteng handuk ke kamar mandi.
Teman-temannya hanya diam memperhatikan Dijah yang tampak berbeda dan lebih pucat hari itu.
"Tin, temeni aku beli nasi. Aku laper males masak." Dijah kembali keluar kamarnya dan mengunci pintu.
"Kamu sakit? Mas-mu gak dateng?" tanya Tini lagi.
__ADS_1
"Dia lagi sibuk Tin. Mau temeni aku nggak?" ulang Dijah.
"Jangan di warung nasi mantannya Gatot setan ya, warung nasi lain aja." Tini bangkit dari duduk kemudian masuk ke kamar. Tak berapa lama ia muncul di pintu dengan sebuah plastik kresek besar.
"Apa itu?" tanya Dijah.
"Mau nge-laundry sekalian. Bu Miah sakit, ga bisa dateng nyuci," tukas Tini memakai sandal.
"Aku ikut," ujar Asti berdiri dari kursinya.
"Aku juga ikut." Boy bangkit dari duduknya. "Aku juga belum makan siang," ucap Boy.
"Aku nggak ikot, si Robin tidor!" kata Mak Robin masih duduk santai di depan kamarnya.
Empat orang beriringan keluar gang pertama kali menuju ke sebuah laundry yang terletak di seberang gang. Tini yang membawa bungkusan berjalan lebih dulu memasuki laundry itu.
"Tini... Udah banyak ya baju kotor Mas di kamar kamu? Kenapa gak dicuci sendiri sayang?" goda seorang pengemudi ojek di dekat sana.
"Matamu!" sergah Tini pada pengemudi ojek saat mendengar hal itu.
Wajah Dijah yang pucat dan datar membuat tampilannya bak seorang pembunuh berdarah dingin. Pengemudi ojek itu seketika diam saat mendapat tatapan tajam darinya.
"Mbak Dijah berantem ya ama mas Bara?" tanya Asti memecah kebisuan mereka menuju rumah makan.
"Mbak Tini juga kayaknya gak berhasil pedekate ama mas Yudi ya? Mukanya cemberut terus." Asti menepuk-nepuk pelan pundak Tini.
"Tapi gak apa-apa. Setidaknya balik modal ya Tin... Dapet beha!" ujar Boy.
"Gak usah diomongi lagi, sebel aku." Tini berkata sambil melirik wajah muram Dijah.
"Minum obat kamu!" ujar Tini.
"Makan nasi dulu, entar aku minum obat." Dijah memilih sebuah warung nasi di sisi kiri gang yang letaknya dekat dengan jalan raya.
Dengan tangan masing-masing menenteng sebuah plastik kresek kecil, empat orang itu beriringan kembali ke gang. Dalam perjalanan Tini yang berjalan di depan tiba-tiba mundur dan berlindung di balik tubuh Dijah.
"Kenapa sih?" tanya Dijah mengedikkan bahunya.
"Kamu jalan kayak biasa aja," ujar Tini.
"Ada siapa emangnya?" Boy celingukan melihat ke sekeliling mereka.
"Ada Om OYO," jawab Tini.
__ADS_1
"Om OYO siapa?" tanya Boy penasaran.
"Itu yang baru keluar dari mini market," jawab Tini tanpa menoleh.
"Ganteng Tin!" ujar Boy. "Namanya emang Om OYO? Ada bininya nggak?" tanya Boy penasaran saat melihat seorang pria setengah baya berpenampilan klimis dengan kumis tebal berkilat.
"Gak tau namanya siapa. Cuma hobinya ngajak ke OYO terus. Aku geli. Duda klimis. Tapi bau minyak angin. Kalo mandangin aku, kayak aku ini lagi telanjang. Padahal aku pake baju lengkap. Ayo lari," ajak Tini menyeret lengan Dijah dan Asti agak cepat melewati Om OYO yang sedang bercermin di spion motor matiknya.
"Capek aku Tin!" Dijah berhenti di mulut gang tersengal-sengal. "Kepalaku masih pusing, kita jalan aja."
"Iya, udah aman. Om OYO gak ngeliat aku."
"Kok nggak mau ama dia? Kan duda Mbak..." ucap Asti.
"Tunggu pasarannya naik. Sapa tau nanti berubah jadi hotel bintang lima," jawab Tini singkat.
Mereka merentangkan nasi bungkus di lantai kamar Dijah dan memakan nasi itu dalam diam. Suasana hati mereka semua sedang tak baik. Dijah yang merasa hatinya begitu hampa karena mengabaikan Bara, Tini yang tak mendapat sambutan dari upaya pendekatannya, Asti yang mendapati pacarnya berselingkuh, serta Boy yang kesal karena tak ada teman berduet selama beberapa hari terakhir.
"Makan yang banyak Jah! Minum obat!" Tini mendekatkan sepotong ayam ke arah Dijah dengan sendoknya. Dijah hanya diam.
Dalam suasana hening itu, dari arahbluar pagar terdengar ribut-ribut. Boy yang pertama kali menyadari hal itu, segera berdiri menjenguk ke luar pintu kamar Dijah.
"Itu kamarnya! Namanya Dijah!" seru seorang wanita yang dikenal Boy sebagai bekas penghuni kamar lantai dua.
"Tin! Mampus! Pacarnya Gatot setan dateng bawa sodaranya!" tukas Boy menoleh pada Tini dan Dijah yang masih duduk di lantai.
"Hei Tini! Mana temen lo yang namanya Dijah?? Yang udah mukulin adek gua! Mana?? Sini duelnya ama gua sekarang! Biar dia tau rasanya dihajar yang sebenarnya!!" Seorang wanita bertubuh tegap masuk ke halaman dan berkacak pinggang menghadap Boy yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Jah!! Modar Jah! Kita dikepung! Kamu lagi sakit! Bisa-bisa kalau kita kalah, kita yang harus keluar dari kos-kosan ini." Tini masih duduk memandang wajah pucat Dijah.
Dijah menoleh ke luar kamar dengan wajah datar. Perlahan ia bangkit dan menggeser tubuh Boy.
"Siapa yang mau duel?" tanya Dijah. Ibarat seekor ular yang mencari pemukul, lawan duel Dijah yang sebenarnya datang.
Dijah yang sedang memerlukan pelampiasan kemarahan di hatinya, tampaknya mendapat jalan keluar sejenak.
To Be Continued.....
Angka popularitas yang tertera pada halaman depan tiap novel adalah akumulasi perpaduan antara like, komentar, rate bintang lima dan vote voucher gratis tiap Senin.
Jadi jangan pernah lupa like karya jus ya... Bantu jus menaikkan angka Pop-nya dengan like dan komentar yang bisa Mbok-Mbok berikan dengan keringanan jemari.
Enjus sayang semua... :*
__ADS_1