PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
51. Prospek Pasar


__ADS_3

Saat baru saja tiba di tempat mbok Jum, Dijah merasa ponsel di tasnya bergetar. Mbok Jum yang sedang duduk di depan pondoknya sudah melihat kedatangan Dijah. Seraya berjalan, Dijah merogoh tasnya. Ia melihat nama Tini tertera di layar ponsel.


"Mau apa si Suketi ini?" gumam Dijah menggulir layar ponselnya.


"Halo Tin?" sahut Dijah saat menghempaskan tubuhnya di sebelah Mbok Jum.


"Kamu di mana?" tanya Tini.


"Baru sampe di tempat Mbok Jum. Kenapa?"


"Jangan lama-lama Jah, aku mau minta temenin ke pasar nemuin Yudi. Asti juga ikut. Mak Robin nggak bisa. Aku mau ngomong tadi, tapi mas-mu bawaannya curiga aja sama aku," ujar Tini.


"Aku baru nyampe," tukas Dijah. "Sebentar lagi ya... Masih sabar kamu?" tanya Dijah.


"Sabar... Kurang penyabar apa lagi aku Jah? Aku mantan pacar Gatot setan. Kamu lupa? Ya udah cepet ya, aku tunggu pokoknya."


"Iya--iya," sahut Dijah mengakhiri pembicaraannya.


"Siapa Jah?" tanya Mbok Jum.


"Tini Mbok. Minta temenin ke pasar. Masih inget Tini kan? Tetangga kos-ku itu?"


"Oh, yang kemari warna rambutnya kuning kayak jagung itu?" tanya Mbok Jum.


"Setelah kuning, warna rambutnya merah Mbok. Sekarang udah item lagi."


"Sekarang misinya apa kok sampe ngitemin rambut?" tanya Mbok Jum terkekeh. Ia langsung mengingat soal Tini yang sempat duduk di depan pondoknya dan menceritakan soal pria-prianya.


"Misinya mau jadi ibu sambung," sahut Dijah ikut tertawa. "Gemblung emang dia," ucap Dijah.


"Nggak apa-apa Jah, orang gemblung masih lebih tinggi derajatnya di mata Tuhan dibanding orang waras tapi suka nyakitin sesama."


Dijah tersenyum dan mengangguk. "Setuju Mbok," sahut Dijah sambil memijat lembut pundak Mbok Jum.


"Mau makan sekarang? Biar aku bukain kotak nasinya," ujar Dijah.


"Gak usah, aku masih kenyang. Tadi pagi aku sarapan roti yang kamu bawain kemarin. Enak banget rotinya Jah, pasti mahal. Kalau nunggu beli pakai uang sendiri, mungkin kita harus jual sepuluh kardus bagus." Mbok Jum meraih tangan Dijah dan gantian memijat tangan wanita itu.


"Makasi ya Jah, aku udah kecipratan rejeki dari pacarmu. Aku doakan, kamu bisa bahagia secepatnya. Cita-cita kamu belum berubah 'kan Jah?" tanya Mbok Jum.


Dijah tersenyum tipis memandang Mbok Jum seraya menggeleng.


"Kepinginmu cuma jadi ibu rumah tangga yang ngurus suami dan anak-anak di rumah?" tanya Mbok Jum.


Dijah mengangguk dan melemparkan pandangannya ke arah gunungan sampah.


"Itu juga bagus Jah. Sama hebatnya dengan perempuan yang bekerja apa aja. Ibu rumah tangga itu memang terkesan kayak gak kerja. Orang nganggapnya itu hal yang lumrah. Padahal ibu rumah tangga itu peranannya penting banget. Kunci kebahagiaan di rumah."


Dijah hanya diam mendengar perkataan Mbok Jum. Cita-citanya sangat sederhana sekali. Mungkin di telinga awam itu bukan cita-cita. Bahkan sebagian besar orang menganggap itu hanya sebuah nasib dan keharusan.


Tapi bagi Dijah, cita-cita itu sangat mahal harganya. Dengan bermodal ijazah SMA hasil mengulang ujian dan seorang anak laki-laki hasil pernikahan singkatnya, orang tua mana yang mau menerimanya sebagai menantu.


Ditambah lagi dengan cerita hidupnya yang semrawut. Jangankan orang lain, ia saja muak mendengarnya.


"Kalau Mbok udah gak ada keperluan lagi, aku mau pamit dulu. Tini katanya mau ngajak aku ke suatu tempat."

__ADS_1


"Ya udah sana, aku gak apa-apa. Aku mau nyari barang bekas deket-deket sini aja. Itung-itung olahraga Jah, udah biasa bergerak."


"Aku pamit dulu ya," ujar Dijah bangkit dari duduknya.


Memikirkan perkataan Mbok Jum tadi bukannya malah membuat Dijah senang. Hatinya malah seperti sedang membangun tembok untuk membatasi perasaannya.


Tak sampai setengah jam, Dijah telah kembali ke kamarnya. Tini berteriak dari dalam kamar bahwa ia sedang berdandan. Di luar pintu, Asti dan Boy sedang duduk menunggunya.


"Kamu ikut?" tanya Dijah pada Boy.


"Ikut Mbak Dijah, aku mau liat laki-laki mana yang ketiban sial itu," jawab Boy.


"Boy!! Cangkem-mu!!" teriak Tini dari dalam kamar.


Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan Tini keluar dengan terusan lengan panjang berwarna putih, sandal tebal dengan tempelan bunga besar dan sebuah tas berwarna merah. Rambutnya digerai begitu saja.


"Gimana?" tanya Tini memutar tubuhnya di depan tiga orang yang sedang menatapnya dengan tatapan ngeri.


"Ini mau ke pasar tempat mas Yudi dagang, 'kan? Bukan nyekar ke kuburan istrinya?" tanya Asti.


"Kayak kuntilanak kamu!" tukas Dijah.


"Gak alami, terlalu dibuat-buat!" seru Boy dari kursinya.


"Nggak lengkap rasanya hinaan kalian semua tanpa hinaan Mak Robin. Jadi aku harus gimana??!! Kalau mau yang alami aja, belahan susuku harus keliatan. Nanti belum apa-apa si Yudi udah puyeng!" sergah Tini menghempaskan dirinya di kursi.


"Udah biarin aja begini. Tapi baju ini aku masukin ke dalem jeans aja. Nanti mau nyampe pasar baru aku keluarin lagi." Tini mengangkat terusannya dan menurunkan celana jeans-nya demi memasukkan terusan itu ke dalam celananya.


"Kenapa harus gitu?" tanya Dijah.


"Kamu kayak gak tau tukang ojek depan aja. Nanti ngeliat aku pake baju nutup semua gini, mereka pasti bilang aku lagi ngasi tanda-tanda sebelum mati."


"Naik taksi Jah! Jangan takut bau prengus kalau mas-mu dateng minta dikeloni. Ayo pergi!" Tini berjalan mendahului ketiga orang temannya.


"Jadi inget ya, nanti kita semua di sana ketemuannya kayak gak sengaja gitu. Aku pura-pura beli di tempat Mas Yudi. Denger-denger dia dagang baju-baju pria. boy nanti kaget ketemu aku terus muji aku makin cantik. Inget kamu Boy.. Jangan lupa! Uang yang aku kasi tadi untuk modal kamu beli satu baju," ujar Tini saat mereka menyusuri gang.


"Siap Bu Tini," jawab Boy.


"Kamu Jah, sampe sana pas ketemu aku pura-pura nanya, kamu dah nikah belom Tin? Gitu ya Jah... Kamu beli baju untuk mas-mu pake uang sendiri. Mas-mu kaya. Itung-itung kamu bantu modal temenmu buka usaha," jelas Tini pada Dijah.


Dijah yang mendengar hanya mencibir.


"Kamu As, pura-pura nanya aku udah punya pacar atau belum. Modal dariku tadi terserah kamu mau beli baju untuk siapa. Jangan lupa!"


"Siap Mbak Tini..."


"Nama tokonya apa?" tanya Dijah.


"Sumber Rejeki," jawab Tini.


"Kok kayak nama toko kelontong ya?" gumam Boy.


"Embuh, pokoknya di Blok A no. 4. Nanti kita ketemuan di sana. Aku di sana, kalian masuk satu persatu."


Mereka tiba di pasar induk beberapa saat kemudian. Setelah bersama-sama menyeberangi jalan, mereka berpencar di depan pasar dan Tini langsung berjalan menuju targetnya.

__ADS_1


Entah apa kalimat pembuka wanita itu pada Yudi, yang jelas Tini berubah menjadi wanita kemayu jika dilihat dari kejauhan. Berkali-kali ia tertawa dengan menutup mulutnya dan memukul manja lengan seorang pria berkumis tebal mirip Adam Suseno.


Dijah mendekati toko itu pertama kali dan terlihat syok. Ia terdiam beberapa saat di depan toko. Tini berusaha mengedipkan matanya berkali-kali untuk memberi kode pada Dijah agar segera memulai sandiwara.


Tak lama kemudian, Asti tiba di toko itu dan juga terlihat syok. Ia seketika lupa dengan skrip dramanya tadi. Dan Boy yang tampaknya menikmati saat-saat menghapal dialog, kini ikut syok di depan toko.


Ternyata toko Yudi bukanlah toko pakaian pria. Pria itu berdagang segala macam pakaian dalam wanita dengan berbagai bentuk dan warna. Dijah mengurungkan niatnya untuk berbelanja karena merasa geli menanyakan ukuran bra pada seorang pria. Pegawai Yudi sedang tak berada di sana.


"Eh Tini... Udah lama nggak ketemu. Ini suami kamu, kok nggak ngomong-ngomong udah nikah. Ganteng banget lho, cocok sama kamu!" Dijah yang lupa dialognya segera berimprovisasi.


Tini kelihatannya senang dengan perkataan Dijah. Wanita itu lagi-lagi tertawa pelan seraya menutup mulutnya dan memukul pelan lengan Yudi.


"Ya ampun Mas, isin aku! (malu aku!)" Tini terkikik manja. Yudi ikut tertawa malu-malu.


"Ini bukan suamiku, cuma mantan pacar!" bisik Tini manja kemudian kembali tertawa. Yudi yang sepertinya senang dengan kehadiran mereka seakan lupa bahwa istrinya bahkan belum dua minggu dikuburkan.


Sepulangnya dari pasar, Tini tertawa terbahak-bahak di sepanjang gang menuju kos-kosan mereka. Wanita itu mengeluarkan beberapa bra dari dalam plastik hasil memuji dan mengelus-elus lengan Yudi selama setengah jam.


"Ini aku kasi buat kamu Jah! Kancingnya di depan! Jadi mas-mu gak susah kalau mau ngeremet-ngeremet susumu yang gede itu!" tukas Tini menyerahkan dua bra ke tangan Dijah.


Dijah menerima bra itu kemudian meletakkannya di dada sambil tertawa.


"Kamu gak kukasi ya Boy! Susumu gak ada. Jangan ngada-ngada pengen punya susu. Uang yang tadi ambil aja buat kamu beliin masker atau bedak Kelly. Biar mukamu kilat kayak porselen," tukas Tini tertawa.


"Asem !" rajuk Boy cemberut.


"Kamu juga gak aku kasi penutup susu ini ya As! Susu kamu kecil kayak ketumbar! Kamu cocoknya pake mini set aja!" Tini kembali tertawa.


Kesal mendengar ucapan Tini, ketiga orang temannya serentak menarik rambut wanita itu bersamaan.


TIIIIN.... TIIIIN.... TIIIIN....


"Motor kurang ajar! Gak ada sopannya!!" teriak Tini yang terkejut karena klakson motor di belakang mereka.


Namun saat Tini berbalik menoleh ke belakang dan melihat Bara sedang di atas motornya yang dikemudikan pelan, Tini berkata "Aku duluan ya Jah, gerah banget ternyata pakaian peran ibu sambung ini. Aku mau mandi!"


Tini berlari tunggang langgang meninggalkan Dijah. Disusul dengan Boy yang tiba-tiba teringat akan jemurannya dan Asti yang lupa mengerjakan tugas kampusnya.


Dijah berjalan sendiri dengan Bara yang mengendarai motornya pelan untuk menjajari langkah Dijah.


"Dari mana? Ikut misi aneh Tini lagi?" tanya Bara. Dijah tertawa memandang mata Bara yang menatapnya begitu tajam dari balik helm.


"Itu yang dikasi Tini tadi?" tanya Bara melirik dua bra yang berada di tangan Dijah.


Dijah mengangguk, "Iya..."


"Bisa langsung diliat gak gimana modelnya kalo dipake?" tanya Bara dengan kerutan dimatanya. Pria itu tertawa dari balik helm.


Dijah yang mendengar perkataan Bara hanya mencibir kemudian tersenyum geli.


To Be Continued.....


Hai pembaca juskelapa, pernah ninggalin rate bintang 5 gak di novelnya jus? Kalau belum, boleh dicoba ya... Jangan lupa tinggalkan komentar baik untuk mendukung karya juskelapa.


Makasi semua like dan komentarnya yang luar biasa kocak dan menghibur. Belum sempat dibalas dan dilike, tapi sudah dibaca dari kolom notifikasi. Mood booster sekali 😍😍

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan likenya ya...


Sayang kalian banyak-banyak...


__ADS_2