PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
96. Kepala Keluarga


__ADS_3

“Sekarang kamu udah jadi isteriku Jah...” bisik Bara di telinga Dijah saat ia menjatuhkan dirinya ke sebelah wanita itu. Sorot matanya terlihat berat dan malas.


Di telinga Dijah suara Bara terdengar bagaikan sensualitas berapi-api, lekuk rahang tegas dan hidung suaminya yang begitu sempurna menarik perhatian matanya.


Tangan Dijah tertarik bagai sebuah magnet. Menyentuh bayangan gelap di atas bibir Bara tempat biasanya rambut halus tumbuh sebagai pemanis wajah pria itu.


“Mas ganteng,” bisik Dijah. Ungkapan jujur pertama yang terlontar dari bibirnya. Bara semakin menekan punggung Dijah sampai tubuh mereka menempel tanpa penghalang apapun. Ia bisa merasakan puncak dada isterinya menggesek rambut maskulin yang menyebar di dadanya.


Mata Dijah terbuka. Melihat bagaimana bibir Bara kembali menyesap bibirnya yang setengah terbuka. Bara menggigit bibir bawah Dijah, menelusuri dengan liukan erotis lidahnya yang panas. Dan sentuhan tegas lagi cermat tangan Bara pada tiap bagian penting tubuh Dijah, membuat sisa malam itu penuh peluh.


Dijah berkali-kali terkesiap akan sentuhan lembut jemari Bara yang berpindah dari puncak dada hingga terus merosot untuk membelai inti tubuhnya di bawah sana. “Milikku,” bisik Bara sebelum menyesap leher Dijah. Sementara jemarinya sedang berkelana.


Sensasi itu begitu memabukkan Dijah. Membuatnya merintihkan nama Bara berkali-kali. Tubuhnya masih sangat responsif. Pinggulnya kembali bergerak gaduh dan punggungnya melengkung membuat sepasang dada menantang untuk dikecup. Dijah merintih seakan memohon pemuasan.


Dan lewat tengah malam itu, Bara mengantarkannya menuju klimaks keempat. Tubuh dan sepasang kakinya sudah bergetar. Tak hanya Bara, kini dahi Dijah pun ikut mengeluarkan titik peluh.


“Mas...” panggil Dijah saat Bara berhenti menghujam dan ikut bergetar dari samping tubuhnya. Sebelah kakinya masih menyilang di atas tubuh Bara.


Bara menciumi leher dan tengkuk isterinya. Ia mengangkat tangan dari atas inti tubuh pasangan halalnya yang kembali basah dan hangat.


“Udah?” tanya Bara terengah-engah.


“Udah...” jawab Dijah dengan suara bergetar.


“Malam ini udah,” jawab Bara menurunkan kaki isterinya. “Besok pagi belum tau,” sambung Bara terkekeh.


“Mas... Aku mau ngomong sesuatu yang penting.” Dijah membalikkan tubuhnya memandang Bara.


“Kayaknya aku udah tau apa yang mau kamu omongin,” ucap Bara. “Aku nggak apa-apa Jah... Pelan-pelan aja kalo kamu belum siap. Aku memang pengen anak. Siapa sih laki-laki yang gak pengen punya anak dari wanita yang dinikahinya atas dasar cinta? Aku juga pengen,” kata Bara merapikan rambut dari atas pipi Dijah.


“Tapi aku bisa bersabar. Gak apa-apa. Gak usah terlalu dipikirin. Jangan dijadiin beban,” sambung Bara.


Dijah menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mengusap dada Bara yang berada di depan wajahnya. Dari mana Bara tahu soal itu? Apa Pak Wirya yang kini menjadi ayah mertuanya telah menceritakan hal itu pada Bara. Bagus juga sebenarnya, pikir Dijah. Ia tak perlu mengingat hal itu dengan kembali menceritakan sesuatu yang tak disukainya.


“Denger kan Jah? Gak usah dipikirin. Kamu santai aja. Urus keluarga kita, urus Dul, urus aku. Ngerti?” Bara memijat pelan tengkuk isterinya.


Dijah mendongak dan melihat ujung dagu suaminya. “Ngerti,” sahut Dijah mengulas sebuah senyum.


Malam itu Bara benar-benar mewujudkan angan eksplisit yang diimpikannya. Tidur bertelanjang ria di dalam satu selimut dengan isterinya. Ia menarik selimut yang sejak awal tadi masih terentang rapi di bawah tubuh mereka.

__ADS_1


Kamar itu masih menguarkan aroma melati dari seikat besar bunga yang melekat di kepala ranjang. Bara membelai punggung isterinya dengan mata memejam. Ia menjemput kantuknya dengan mengusap seluruh bagian tubuh Dijah yang bisa dijangkaunya di bawah selimut.


Dijah mendongak menatap wajah suaminya yang langsung tertidur pulas. Bara terlalu lelah dengan segala aktivitas padat menjelang resepsi pernikahan mereka. Dan malam itu, Dijah tahu bahwa Bara sedang membuktikan keperkasaannya sampai mengabaikan masuk anginnya.


“Manja,” ucap Dijah mengusap dagu Bara. Ia menyadari sebagai seorang anak sulung, Bara sebenarnya manja. Berbeda dengan ia yang meskipun seorang anak bungsu tapi tak diperkenankan mencicipi manja bersama kedua orangtuanya.


“Aku juga harus bisa manjain kamu Mas,” bisik Dijah. Sesaat kemudian ia ikut terlelap. Kepalanya tersandar pada dada Bara dan sebelah tangannya melingkari pinggang laki-laki itu.


Tentu saja pagi itu mereka kesiangan. Matahari telah muncul dari celah vitrase putih jendela. Dijah yang biasanya selalu bangun lebih dulu daripada seekor ayam jago, masih tertidur nyenyak. Ternyata kenyamanan memiliki seorang suami seketika membuat terlena pada hari pertamanya.


Dijah mengerjapkan mata dan sedikit terkejut ketika merasakan tangan seseorang meremas dadanya lembut dan sesapan halus di puncak dada satunya. Hampir saja ia mendorong tubuh pria ganteng yang sudah menjadi suaminya itu. Seakan tak mau rugi, Bara kembali menuntaskan hasratnya sekali lagi pagi itu.


Beberapa menit kemudian Bara telah memiringkan letak tubuh isterinya untuk merasakan sensasi seorang pria beristeri di pagi hari. Dan Dijah harus menahan sedikit suaranya agar tak memekik terlalu keras. Ia sudah mendengar beberapa langkah kaki di luar pintu kamarnya. Pekerja dari wedding organizer sepertinya sedang membereskan sisa perlengkapan mereka yang masih tertinggal.


“Ayo mandi bareng,” ajak Bara menarik lengan isterinya agar bangkit dari ranjang.


“Kita keluarnya gimana?” tanya Dijah.


“Aku udah keluar kok,” sahut Bara dengan isi pikirannya.


“Keluar kamar maksudnya,” ucap Dijah mengoreksi jawaban dari isi kepala suaminya. Ia tertawa karena melihat raut bodoh Bara.


“Ooohh... Ya ampun,” sahut Bara ikut terkekeh.


“Udah suami isteri kok malu. Malem pengantin. Udah biasa. Ayo—ayo.” Bara menegakkan tubuh isterinya. “Atau aku gendong,” kata Bara.


“Eh Jangan—” pekik Dijah. Tapi ternyata tak sempat. Bara telah meraup tubuh telanjangnya dari atas ranjang dan membawanya ke kamar mandi. Dijah hanya menggigit bibir bawahnya. Ia langsung menerka bahwa suaminya itu akan menyelesaikan sesi lainnya di dalam kamar mandi.


*****


“Semua udah diambil ‘kan Mbok? Gak ada yang ketinggalan?” Bara sedang berdiri di garasi mengamati pekerja yang mengangkuti sisa perlengkapan pesta ke atas sebuah pick up.


“Sudah Nak Bara. Tadi pagi-pagi bener juga sudah tak liatin. Itu yang terakhir diangkut. Sudah beres. Rumah juga sudah bersih. Ikut lega aku,” ucap Mbok Jum.


“Keren Mbok Jum. Bisa jadi asistenku.” Bara nyengir. “Mbok capek?” tanya Bara kemudiam memandang Mbok Jum yang dilihatnya dari kemarin memainkan peran penuh sebagai koordinator tim sukses acara resepsi.


“Ya bohong kalau aku ngomong nggak capek. Apalagi aku sudah tua. Tapi aku seneng. Bahagia untuk Dijah dan Nak Bara. Jadi capeknya cepat hilang.”


“Makasi ya Mbok... Udah banyak bantuin Dijah di rumah.” Bara mengulas senyum paling cemerlang. Siang itu ia mengusung konsep berpakaian santai juga menawan. Hatinya sedang dipenuhi bunga-bunga. Ia merasa semakin gagah menyerupai ayahnya.

__ADS_1


“Aku yang makasi... Nak Bara juga sudah ngasi sebuah keluarga untuk aku,” sahut Mbok Jum menunduk. Ia tak pernah bisa berlama-lama menatap Bara. Ia terlalu rikuh dan takut salah ngomong.


“Yah! Kata ibu makan!” panggil Dul yang muncul di ambang pintu dapur dekat garasi.


“Ibu masak apa?” tanya Bara.


“Nggak tau. Tapi pasti enak,” sahut Dul. Bocah itu lalu kembali berlari ke dalam.


“Udah ngomong?” Terdengar Dijah bertanya pada Dul dengan suara dipelankan.


“Sudah...” jawab Dul. Kemudian terdengar suara kursi digeser. Makan siang pertama mereka sebagai sebuah keluarga tampaknya akan segera dimulai.


“Makan Mbok...” ajak Bara memijat bahu Mbok Jum yang kecil mungil. Puncak kepala Mbok Jum berada jauh di bawah bahu Bara. Tingginya mungkin berbeda sedikit saja dari Dul.


Bara melangkah masuk menuju ruang makan. Dan seperti yang sering dilakukan Pak Wirya, ia langsung menarik kursi tunggal yang biasa diduduki oleh kepala keluarga.


“Makan Jah...” pinta Bara memandang Dijah yang baru selesai menyendokkan lauk pauk ke piring Dul.


“Iya, ini aku ambilin.” Seperti biasa, tangan Dijah selalu cekatan dalam urusan pekerjaan rumah. Ia terampil dan biasa kerja seefisien mungkin.


Bara yang masih terpana serasa tak percaya telah memiliki seorang isteri, duduk dengan kedua tangannya menopang dagu. Ia menatap Dijah yang berdiri di sisi kirinya menyendokkan nasi dan segala lauk. Bara tak mengatakan apapun. Tak meminta tambahkan ini-itu begitu pula sebaliknya. Ia akan memakan apapun yang disajikan Dijah ke dalam piringnya.


Setelah menyodorkan piring berisi penuh santapan dan mengisi gelas tinggi dengan air putih, Dijah menoleh kepada Bara yang ia sadari sejak tadi tak lepas memandangnya.


“Makan—ngeliatin apa?” Dijah merona melawan tatapan suaminya.


Bara tersenyum kemudian melingkarkan tangannya pada pinggul Dijah, “makasi...” ucapnya seraya mengecup lengan isterinya.


Dijah melirik Dul yang sedang tersenyum lebar menatap mereka.


To Be Continued.....


Maafkan late update ya...


Hari ini enjus jadi pagar berduri di acara pernikahan sepupu.


Dan hari ini cuma update satu part aja. Enjuss mau tidur ama Mas Bara :P


Besok hari Senin, sediain satu votenya untuk dukung Dijah dan Bara ya...

__ADS_1


Sayang Mbak-mbak semuanya.


mmuaaahhhh


__ADS_2