
Setelah kunjungan pak Wirya untuk pertama kali bertemu dengan Dijah di Rumah Aman.
“Bara sudah pulang?” tanya Bu Yanti yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Sudah, baru naik ke kamarnya. Pasti capek karena seharian di luar terus,” ujar pak Wirya menarik bangku meja rias sampai ke depan isterinya.
Bu Yanti mengernyit. Pasti ada hal sangat penting yang akan dikatakan suaminya itu.
“Bu...” panggil Pak Wirya seraya menggenggam tangan Bu Yanti. Istrinya hanya menunduk menatap genggaman tangan mereka di atas pangkuannya. Mirip seperti Bara saat akan mengatakan sesuatu untuk menenangkannya.
“Bara serius dengan pacarnya. Ayah sudah izinkan. Sekarang Ayah mau minta izin ke Ibu, untuk beri restu sepenuhnya ke Bara. Biarkan dia mengambil keputusan sendiri. Sebagai seorang Ibu, Ayah ngerti... Mimpi dan harapan Ibu untuk Bara pasti tinggi sekali. Apalagi dia adalah putra sulung. Anak pertama yang hadir dalam keluarga kita. Dia tempat pertama kali Ibu mencurahkan kasih sayang seorang Ibu. Tapi pada akhirnya nanti, kita tetap akan meninggalkan mereka untuk hidup sendiri-sendiri. Kita bakal meninggalkan dunia ini. Dan harapan terbesar kita pasti cuma mau liat anak-anak kita bahagia bersama keluarganya. Begitu 'kan Bu?” Pak Wirya menunduk untuk menatap wajah istrinya yang masih memandang genggaman tangan mereka.
Tak lama kemudian, bu Yanti terisak. Bahu wanita yang melahirkan Bara itu berguncang dan pak Wirya menariknya ke dalam pelukan.
“Jangan pernah merasa gagal menjadi orang tua. Kamu sudah membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Kualitas manusia itu nggak bisa dinilai hanya dari jenjang pendidikannya. Itu hanya pendukung Bu... Sejauh ini kamu sudah berhasil mendidik Bara menjadi sosok laki-laki yang baik. Ayah tau apa yang ada di dalam pikiran ibu. Ayah tau... Mari kita liat bagaimana Bara bertanggung jawab atas pilihannya. Dia sudah dewasa. Dia tau kapan harus berhenti atau tetap lanjut. Tetap sayangi Bara.”
Bu Yanti mencari-cari siapa sosok yang paling bisa disalahkannya dalam hal ini. Bara atau wanita yang telah menjerat hati anaknya? Cerita dari pak Wirya sudah sangat jelas mendeskripsikan bahwa Baralah yang begitu ngotot dan mendesak. Bu Yanti menangis sesegukan.
Meski berusia 28 tahun, baginya Bara tetaplah sosok putranya yang masih kanak-kanak. Bara yang tak bisa tidur jika ada suara berisik dan suka masakan rumah. Dan Bara yang selalu terbuka tak pernah menyembunyikan sesuatu.
Bara telah memenuhi janjinya sebagai anak. Menyelesaikan pendidikan minimal magister yang sejak dulu diterapkan dalam keluarga mereka.
Sukma yang beruntung bisa mendapat beasiswa penuh gelar magisternya, berhasil tamat dalam usia yang relatif muda. Dan melepaskan Sukma menikah dengan seorang pria bergelar sama dengan pekerjaan menjanjikan cukuplah mudah bagi bu Yanti.
Angannya pada Bara sudah melambung tinggi. Bayangan pesta pernikahan dengan seorang wanita yang dinilai sepantaran dengan putranya menjadi harapan tersendiri di hatinya. Apalagi sosok Joana yang merupakan gadis berpendidikan dari latar belakang keluarga akademisi muncul berkali-kali ke rumahnya.
Dan sekarang, Bara membawa seorang janda beranak satu. Dengan latar belakang yang tak diceritakan sepenuhnya oleh suaminya dengan alasan akan melanggar kode etik pasien.
Bu Yanti ingin marah dan mencerca. Tapi... Ia ingat. Menghina Dijah sama saja menghina kaumnya. Dijah dan dirinya adalah sama-sama perempuan yang menginginkan kebahagiaan.
Jika Dijah sudah berani untuk tak egois dengan mencoba meninggalkan putranya, mungkin ia bisa mempercayai pilihan Bara.
Dengan nafas tersengal dan wajah dipenuhi air mata, bu Yanti mengangkat kepala dari pelukan suaminya.
Bu Yanti mengatupkan mulutnya dan mengangguk pelan menatap pak Wirya.
“Makasih Bu... Bara pasti senang dan bangga sekali punya ibu seperti kamu.” Pak Wirya kembali memeluk istrinya.
*****
“Dijah mana? Saya mau bicara sebentar untuk persiapan bawa dia keluar rumah besok,” ucap pak Wirya meletakkan dua buah paper bag di atas meja.
“Di ruang makan, mau saya panggil?” tanya bu Widya.
“Jangan, biar saya aja yang ke sana. Nanti saya bilang saya juga lagi laper.”
“Ini apa Pak?” Bu Widya mengangkat dua paperbag.
“Itu pakaian dan sepatu untuk Dijah pergi besok. Saya harus meminta bantuan istri saya agar dia merasa dilibatkan.” Pak Wirya tertawa kemudian berjalan menuju ke belakang.
“Aduh, saya laper...” tukas pak Wirya saat melihat Dijah sedang membereskan meja makan.
“Belum sarapan Pak? Saya bikinin dulu. Adanya roti dan telur. Bapak mau makan nasi? Atau roti aja cukup?” tanya Dijah dengan wajah riang.
“Roti saja cukup,” sahut pak Wirya terus mengamati Dijah yang langsung menuju pemanggang roti.
__ADS_1
“Anak saya sudah lumayan ceria sekarang. Tapi tetep nggak sabaran pengen ketemu wanita yang disukainya itu.” Pak Wirya menatap punggung Dijah yang sedang mengoleskan mentega ke roti.
“Siapapun pasti nggak sabar kalau ketemu orang yang disukainya,” jawab Dijah.
“Kamu pernah ngerasain kayak gitu?”
Dijah menoleh dan mengangguk. “Pernah. Rasanya waktu 24 jam itu lebih lama jalannya.”
“Ngerasain ke Bara? Laki-laki yang di foto itu?” tanya pak Wirya. “Apa yang kamu sukai dari Bara?”
“Banyak. Terlalu banyak. Itu yang bikin saya susah ngelupainnya. Bara terlalu baik. Nyaris sempurna. Yang suka dia pasti banyak...” Dijah meletakkan sepiring roti di depan pak Wirya.
“Saya minta teh kalau boleh,” kata pak Wirya. Dijah langsung mengambil sebuah cangkir dan menyeduh satu kantong teh baru.
Dijah meletakkan secangkir teh yang masih mengepul di depan pria tua itu kemudian menarik satu kursi di sisi kanannya.
“Apa yang paling kamu ingat soal Bara?” tanya pak Wirya santai mengangkat cangkir tehnya.
“Cuma Bara laki-laki yang berani ngomong ke saya meski ucapan saya kasar. Bara seperti memaklumi semua sikap saya.”
“Pernah ada laki-laki lain yang mendekati kamu sebelum Bara?”
“Pernah, lumayan banyak. Tapi semuanya berhenti waktu tau keberadaan Dul. Bara malah nggak peduli. Tapi akhirnya... Bara malah nerima banyak teror karena saya. Bara terlalu baik...”
“Sekarang kamu nunggu apa?” tanya pak Wirya menoleh menatap Dijah yang menunduk mengaduk tehnya.
“Saya nggak nunggu apa-apa. Bara kayaknya udah ngerti kalau saya nggak mau nerusin hubungan kami. Artinya saya juga harus berhenti mikirin dia. Makasih foto-fotonya kemarin, saya pasti simpan untuk kenang-kenangan paling indah. Saya harus ngelanjutin hidup. Saya rencana pindah bawa anak saya. Saya mau menata hidup baru.” Dijah tersenyum tipis memandang pak Wirya. Ia tak mungkin memberitahu pria tua itu bahwa semalaman dia menangisi selembar foto. Kenangannya akan Bara menyeruak bagai oksigen di otaknya.
Dijah merasa, meski sangat menyakitkan tapi hubungannya dengan Bara memang seharusnya berakhir.
“Ha?” Dijah tersadar dari lamunannya.
“Sudah pernah balas kebaikan Bara?” tanya pak Wirya lagi.
Dijah menggeleng. “Belum. Saya juga nggak tau gimana balasnya. Saya nggak punya apa-apa.”
“Apa yang pernah diminta Bara dari kamu?”
Dijah mengingat-ingat. Tapi ia tak merasa Bara pernah meminta apapun padanya.
“Nggak kerja di cafe lagi... Nggak kerja jadi SPG lagi... Nggak panas-panasan lagi... Kayaknya cuma itu aja.” Dijah bergumam sendirian.
“Ada?” Pak Wirya memajukan letak tubuhnya memandang Dijah.
“Bara minta dipanggil mas...” ucap Dijah akhirnya. “Iya. Sejak awal ketemu Bara selalu minta dipanggil mas.”
“Panggilannya sejak kecil,” kata pak Wirya.
“Kenapa Pak?” tanya Dijah.
“Nggak apa-apa. Besok pagi siap-siap ya, saya langsung jemput ke sini.”
“Ke mana Pak?”
“Ikut aja. Kamu bantu saya ya....”
__ADS_1
Keesokan paginya, hari wisuda Bara. Dijah telah berpakaian sesuai dengan yang diberikan Bu Widya padanya. Wajahnya dipoleskan makeup tipis yang membuat wajah manisnya semakin menonjol.
Dijah keluar rumah menemui Pak Wirya yang telah berdiri di ambang pintu.
“Saya sudah selesai Pak,” ucap Dijah di depan pintu.
“Dijah, saya mau memperkenalkan diri lagi ke kamu. Nama saya Wirya Satyadarma. Saya ayah Bara. Semoga kamu nggak tersinggung. Selain dari kenyataan bahwa saya seorang psikolog, saya hanyalah seorang ayah yang ingin anaknya bahagia. Kalau kamu merasa rikuh untuk datang masuk ke keluarga kami, saya yang jemput kamu. Hari ini Bara wisuda, saya bawa kamu sebagai kado untuk dia. Kita akan berangkat menuju gedung acara itu, saya nggak paksa kamu untuk ikut. Tapi kalau kamu bersedia, tolong terima perasaan tulus Bara pada kamu. Percayai Bara sebagai laki-laki baik yang menginginkan kamu.”
Beberapa saat lamanya Dijah berdiri mematung di depan pintu.
“Saya nggak tau...”
“Saya nggak buru-buru, masih bisa nunggu.” Pak Wirya menuju sebuah kursi besi di teras dan duduk santai di sana.
“Saya makin malu,” ucap Dijah lagi. “Bapak ayahnya Bara,” sambung Dijah.
“Dan saya psikolog yang menangani masalah kamu. Kita itu udah temenan, jangan lupa.”
“Saya khawatir Pak... Ibunya Bara—maksud saya istri bapak—”
“Istri saya baik-baik aja. Sekarang sedang menunggu kita di gedung sana. Oya, baju yang kamu pakai juga beliau yang belikan,” tambah Pak Wirya.
Dijah menunduk menatap sepasang sepatu flat shoes hitam yang dikenakannya.
“Saya boleh ganti sepatu?” tanya Dijah. “Saya punya sepatu yang belum pernah saya pakai.”
“Silakan, saya tunggu.”
Dan setibanya di gedung, Bara yang syok dan terkesima duduk di barisan kursi mahasiswa dengan gelisah. Berkali-kali menoleh ke belakang seakan ingin memastikan Dijah tak menghilang menembus dinding.
Bu Yanti tersenyum samar saat menanti Dijah yang duduk di sebelahnya. Pertanyaan pertama wanita itu pada Dijah adalah soal ukuran pakaian dan sepatu yang dibelinya. Tak ingin mengecewakan wanita itu dengan sepasang sepatu yang tak jadi dikenakannya, Dijah mengatakan kalau ia sedang memakai sepatu pemberian Bara.
Apa yang dialami Dijah seluruhnya hanya diketahui oleh Bara dan ayahnya. Bagi bu Yanti, Dijah hanyalah seorang janda beranak satu yang trauma dengan kekerasan dari mantan suaminya.
Acara wisuda itu telah selesai. Bara bangkit terburu-buru sampai menabrak dua kursi besi sampai terjungkal. Dijah yang sedang menoleh ke arahnya berpura-pura tak melihat namun tertawa geli. Sepertinya Bara selalu apes dengan kursi tiap kali ia gugup.
“Ayah dan ibu pulang duluan ya,” ujar Pak Wirya. “Kamu bisa anter Dijah ke tempatnya lagi nanti.”
“Oh iya—iya. Oke. Nanti aku anter Dijah lagi. Titip ini Bu...” Bara membuka toganya buru-buru dan menjejalkannya ke dalam pelukan bu Yanti.
“Ayo Jah,” ucap Bara menunjuk jalan di depan mereka.
“Topinya Ra...” panggil bu Yanti mengingatkan Bara yang masih mengenakan topi wisudanya.
“Oh iya—Maaf...” ucap Bara membuka topinya dan memberikannya pada bu Yanti.
“Nggak mesti minta maaf juga,” ujar bu Yanti.
“Iya, maaf. Aku pergi Bu...” ujar Bara. “Yah!” panggil Bara pada ayahnya. “Thank you,” ucap Bara tanpa suara. Pak Wirya hanya mengibaskan tangannya mengusir Bara yang sudah blingsatan seperti cacing disiram karbol.
“Udah makan?” tanya Bara sedikit menunduk memandang Dijah. Dijah menggeleng.
“Kita makan ya... Kamu maunya di mana?” tanya Bara.
“Terserah,” jawab Dijah. Bara mengatupkan mulutnya mendengar jawaban itu. Sudah lama sekali rasanya ia tak mendengar kata terserah dari seorang wanita.
Tak ingin berlama-lama di halaman gedung itu, Bara ingin membawa Dijah makan siang di tempat yang letaknya lumayan jauh. Semakin jauh dan semakin macet, semakin baik pikirnya. Ia bisa berlama-lama di mobil bersama wanita itu.
Bara berjalan mendahului Dijah dan membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Mulutnya berkali-kali harus dikatupkannya demi menghindari senyum yang berlebihan.
“Pasang sabuknya...” pinta Bara.
“Oh iya...” Dijah meraba-raba bagian seatbelt di sebelah kiri.
“Biar aku aja.” Bara mencondongkan tubuhnya untuk mencari pengait seatbelt di sisi kiri Dijah. Bulu kuduknya seketika merinding saat merasakan nafas hangat wanita itu menerpa lehernya. Bara menoleh ke kiri memandang Dijah yang sedang melemparkan pandangannya ke sisi lain.
“Jah...” panggil Bara.
“Hmmm...” Dijah menoleh. Wajah mereka hanya berjarak tak lebih dari lima senti.
“Coba sebut namaku,” pinta Bara.
“Mas Bara Wirya...” ucap Dijah memandang lurus mata coklat Bara.
To Be Continued.....
Kalau kita tak pernah bertemu dengan orang seperti Pak Wirya, maka kita bisa jadi salah satunya. Bukan terbatas hanya pada kasus Dijah saja tentunya.
Jangan lupa likenya ya sayang2nya enjuuss
__ADS_1