PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
150. Dalam Dekapan Dijah


__ADS_3

“Tas pakaian yang udah diisi mana?” tanya Bara yang sejak tadi bergerak linglung ke sana kemari.


“Itu di bawah,” jawab Dijah dengan sabar.


“Mana—” Bara membuka pintu lemari lainnya.


“Di bagian bawah lemari.” Dijah beringsut ke tepi ranjang demi memberi petunjuk pada suaminya.


Padahal mereka menyusun isi tas itu sama-sama dan menyepakati letak penyimpanannya pun juga bersama. Tapi lewat tengah malam itu Bara tak bisa menemukannya.


“Ini Mas—ini...” Dijah menghampiri pintu lemari yang sejak tadi terbuka.


“Gak keliatan,” sahut Bara polos kemudian mengangkat tas itu.


“Kalo itu anaconda, Mas udah ditelen dari tadi” sungut Dijah.


“Ya ampun Jah.... Anak mas udah mau lahir, masa bapaknya ditelen anaconda. Udah ayo berangkat. Eh masak kamu gitu aja,” ujar Bara melihat Dijah yang masih berdaster.


Dijah menarik sebuah kain sarung batik baru dari lemari. “Aku pake ini aja. Nggak apa-apa ‘kan?” tanya Dijah ketika memakai sarung dan mengikatkannya di atas perut.


Bara memandang Dijah sesaat kemudian menghampiri tiang gantungan baju.


“Pake ini juga, ditemani ayahnya biar hangat dan keluarnya gak lama-lama.” Bara memakaikan jaketnya untuk membungkus tubuh Dijah yang hanya mengenakan daster tanpa bra sebagai dalaman.


“Jalannya jangan cepet-cepet, nanti kalo anaknya jatuh dari bawah gimana?” sergah Bara sedikit panik melihat Dijah buru-buru mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar.


“Mumpung lagi nggak sakit, harus cepet-cepet. Aku mau ngomong ke Mbok Jum dulu.” Dijah berjalan diikuti dengan Bara yang sedang menenteng tas pakaian. Ketika Dijah berbelok ke kanan menuju kamar Mbok Jum, Bara berbelok ke kiri untuk ke garasi melalui pintu dapur.


Terdengar Dijah berpesan pada Mbok Jum soal ia yang akan pergi ke rumah sakit. Bara kemudian menghampiri.


“Mbok bilang ke Dul ayah-ibu ke rumah sakit. Adeknya mau lahir. Besok kalau udah lahir, nanti aku minta siapa yang bisa untuk jemput Dul. Hati-hati di rumah ya Mbok...” ucap Bara merangkul Dijah yang kembali terdiam menikmati nyeri yang menyerang.


“Semoga lancar dan semuanya sehat-sehat ya Jah...” pesan Mbok Jum sebelum Dijah naik ke mobil.


Pukul satu dini hari, Bara mengemudi menuju rumah sakit tempat di mana biasa Dijah memeriksakan kandungannya. Ia meraba-raba monitor LCD mobil untuk menukar mode telepon. Dengan satu tangan ia mencari nomor kontak ibunya.


Terdengar nada panggil cukup lama. Ibunya pasti sedang nyenyak-nyenyaknya pukul segitu, pikir Bara. Tapi tak berapa lama kemudian, terdengar suara Bu Yanti yang menjawab dengan nada siaga bercampur cemas.


“Ada apa Mas? Siapa sakit?” tebak Bu Yanti. Seorang anak yang menghubungi orang tuanya di jam-jam tak biasa pasti membuat jantung orang tua mana saja bergemuruh.


“Mas ke rumah sakit ya Bu... Dijah perutnya udah mules-mules.”


“Iya—iya ke rumah sakit. Ibu ke rumah sakit sekarang. Sebentar bangunin ayah dulu...” tukas Bu Yanti dengan sedikit gelagapan.


“Gak usah—gak usah sekarang. Ibu istirahat aja. Besok aja Bu... Besok ‘kan libur. Mas gak apa-apa. Kalo ayah-ibu nggak keberatan, besok jemput Dul dulu sebelum ke sana. Biar Dul liat adeknya juga,” pinta Bara.


“Oh ya udah, iya—iya... besok sebelum ke rumah sakit, ayah-ibu jemput Dul. Hati-hati nyetirnya Mas... jangan buru-buru. Sabar-sabar ya bilang ke Dijah, semoga dilancarkan. Besok pagi-pagi ibu ke sana.”


Dan pembicaraan itu berakhir setelah bara menekan tombol END pada layar. Bara menoleh pada Dijah yang menyandarkan kepalanya menoleh ke balik kaca jendela mobil menatap jalanan yang sepi namun terang benderang.

__ADS_1


25 menit kemudian Bara telah memarkirkan mobilnya di dekat lobby rumah sakit dan turun menenteng tas serta menggandeng istrinya.


Berbekal sebuah amplop pengantar dari dokter kandungan yang mereka peroleh dua minggu sebelumnya Bara membawa istrinya menuju ke sebuah kamar bertuliskan ‘delivery room’.


Dijah sudah digantikan pakaian dan naik ke ranjang. Di wajahnya tersirat usahanya menahan sakit yang sesekali datang. Dokter kandungan belum tiba tapi seorang bidan telah melakukan pemeriksaan awal.


“Sudah bukaan dua dengan interval yang cepat. Karena ibunya ada riwayat sectio, jadi kita menunggu kontraksi alami tanpa induksi. Kita tunggu sama-sama dedenya keluar ya...” ucap Bidan ketika selesai memasangkan alat pendeteksi denyut jantung bayi ke sekeliling perut Dijah.


“Kira-kira berapa lama Bu?” tanya Bara. “Sakitnya ini berapa lama sampai bisa melahirkan normal,” sambung Bara yang rautnya kini terlihat lebih merana dibanding Dijah.


“Bisa sebentar, bisa lama Pak.... Nanti kita akan cek lagi kemajuan bukaannya.”


Bidan kembali melanjutkan persiapan persalinan di ruangan bersalin itu. Mengeluarkan berbagai alat stainless dari dalam lemari yang terletak sejajar dengan wastafel.


Pukul tiga dini hari, kantuk Bara lenyap. Dijah muntah beberapa kali di sebuah waskom stainless yang diberikan perawat padanya. Wajahnya sudah pucat. Meski tak mengeluh bahkan mengaduh, dahinya sudah bersimbah peluh meski temperatur ruangan terbilang dingin.


Pukul tujuh pagi, bukaan lima. Bara baru saja menelepon Kang Supri mengabarkan soal Dijah. Dan kabar yang didapatnya malah soal ibu Dijah yang masuk ke rumah sakit karena kondisinya menurun. Entah apa yang harus ia sampaikan pada istrinya nanti. Bara keluar sebentar dari ruangan setelah baru saja membuang muntah Dijah dan menggantikan dengan sebuah waskom stainless dan meletakkannya ke pangkuan istrinya.


Bara berdiri di luar pintu ruang bersalin yang tertutup mengeluarkan ponselnya.


“Jadi ibu gimana Kang?” tanya Bara pada Kang Supri. Ia khawatir sekali kalau istrinya melahirkan dan malah terjadi sesuatu hal yang buruk pada ibu mertuanya.


“Jadinya dirawat. Kondisinya stabil. Titip salam sama Dijah ya. Nanti siang istri kakang ke rumah sakit. Jangan bilang apa-apa dulu ke Dijah,” pesan Kang Supri.


Pukul delapan pagi seorang petugas room service rumah sakit masuk mengantarkan senampan penuh sarapan pagi.


“Dijah... kita makan dulu yuk. Kamu butuh tenaga, udah muntah bolak-balik cuma minum air putih aja.” Bara mengusap punggung Dijah yang duduk dengan satu tangan berpegangan pada tepi ranjang fiber.


“Dijah.... Mas nggak tahan liat kamu kayak gini. Udah kelamaan. Mas kasian sama kamu, mas nggak apa-apa kalau kamu harus operasi. Sama aja Sayang...” gumam Bara menangkap satu tangan Dijah yang tiba-tiba mencengkeramnya.


Bara menarik Dijah ke dalam pelukan. Kedua tangan wanita itu melingkari pinggangnya yang berdiri di sisi ranjang. Kemejanya sudah kusut karena genggaman erat yang tak kunjung lepas.


Pukul 12 siang, dokter kandungan kembali masuk dan memeriksa.


“Bukaan enam, tapi persalinannya melambat. Penipisan serviksnya lambat,” ucap dokter kandungan dengan raut serius. “Kita tunggu sampai sore ya Pak... Terjadi penambahan bukaan atau tidak. Semoga sesuai dengan rencananya ibunya yang bertekad untuk normal.” Dokter kemudian membuka sarung tangan dan meninggalkan Bara yang menatap memohon ke arah Dijah.


Wajahnya kalut dan merana. Masih akan menunduk dan membisikkan bujukan pada istrinya, ia menoleh ke arah pintu yang terbuka sedikit. Raut Bu Yanti muncul di balik pintu. Sedikit mengangguk ia kemudian pamit untuk keluar sebentar. Meninggalkan Dijah yang berbaring miring mencengkeram sisi ranjang dengan kedua tangannya.


“Udah bukaan berapa?” tanya Bu Yanti dengan raut cemas.


“Enam Bu, udah 10 jam masih bukaan enam. Dul mana?” tanya Bara menyadari tak melihat Dul bersama ibunya.


“Beli cemilan sama ayah di mini market lobby. Ibu mau masuk, Dijah nggak apa-apa?” tanya Bu Yanti meminta persetujuan anaknya. Baginya menjenguk orang yang sedang sakit apapun perlu persetujuan. Tak semua orang yang sedang sakit, nyaman untuk dikunjungi.


“Persalinannya nggak maju. Dokter bilang tunggu sampai sore ada penambahan atau enggak. Dijah tetep kekeuh mau normal. Mas udah gak tahan liatnya. Mas gak tega....” Bara hampir menangis saat mengatakan hal itu pada ibunya. Hampir semalaman ia merasa dunia jungkir balik. Melihat Dijah yang sudah tak sanggup bicara.


“Ibu ke dalem,” ucap Bu Yanti. Bara mengekori ibunya yang masuk setelah mengetuk pintu dua kali.


Bu Yanti melihat Dijah berbaring miring di atas ranjang menghadap ke arah pintu. Sebuah waskom stainless terletak tak jauh dari kakinya dan sebotol minyak kayu putih berada dalam dekapannya.

__ADS_1


“Dijah...” panggil Bu Yanti pada menantunya. Bara mengangsurkan sebuah bangku agar ibunya bisa duduk persis dekat kepala istrinya.


“Hmmm... B-Bu...” sapa Dijah sedikit mendongak.


“Ini ibu...” ucap Bu Yanti. Perlahan tangannya membenarkan rambut Dijah yang menutupi wajah. Baru pertama kali itu Bu Yanti menyentuh bagian tubuh menantu perempuannya selain saat ketika Dijah yang menyalim tangan.


“Nggak apa-apa kalau udah nggak tahan. Semua perempuan itu sama hebatnya. Yang melahirkan normal, yang melahirkan lewat jalan operasi, sama hebatnya. Sama-sama bakal menjadi ibu. Semuanya sama-sama perempuan beruntung karena sudah dikasi kepercayaan untuk melahirkan anak ke dunia. Itu yang terpenting.” Bu Yanti kembali merapikan rambut Dijah dan mengambil dua lembar tisu dari atas meja untuk menyeka keringat menantunya.


“Iya...” kata Dijah kemudian menarik napas dan memejam. Sepertinya ia kembali diterpa gelombang rasa sakit.


Bu Yanti melihat bibir Dijah yang kering dan sedikit mengelupas.


“Dikasi minum terus 'kan Mas?” tanya Bu Yanti mendongak pada Bara yang berdiri memegang kepala istrinya.


“Dikasi Bu,” sahut Bara dengan dahi mengernyit dan raut khawatir yang belum lekang.


“Dijah.... Bara sayang sama kamu. Sayang sama bayi kalian. Bara nggak tahan liat kamu kayak gini. Sore itu masih lama, persalinannya melambat. Sampai detik ini kamu hebat bisa nahan sakit... tapi pikirkan juga soal diri kamu. Nggak apa-apa Dijah.” Bu Yanti membuka botol minyak kayu putih dan mengoleskannya ke sekeliling dahi Dijah. Dijah hanya mengerjap beberapa kali kemudian kembali memejamkan matanya dan meringis.


“Boleh ibu minta Bara untuk menandatangani formulir izin operasi Nak?” tanya Bu Yanti mengusap pipi menantunya.


Anak bungsu pikirnya. Menantunya itu anak bungsu. Kalau Dijah anak bungsunya pasti sejak kemarin ia tak pergi-pergi dari sisi wanita itu. Kalau Dijah tak punya sosok ibu atau keluarga yang bisa mendampinginya selain Bara, sebenarnya itu memang sudah tugas dia.


Bara menoleh Bu Yanti beberapa kali. Ia tak percaya baru saja ibunya mengatakan ‘Nak’ untuk memanggil Dijah.


“Gimana Nak? Boleh?” tanya Bu Yanti lagi.


Perlahan Bu Yanti melihat Dijah mengangguk. Air mata menantunya terlihat menetes membasahi sudut bantal tempatnya membenamkan wajah sejak tadi. Rasa sakit yang luar biasa tak membuat air mata Dijah luruh sejak tadi. Bu Yanti merasa semakin iba.


Bara kemudian menunduk memeluk kepala istrinya. “Mas tandatangani ya Sayang... Sampai di sini, kamu udah berusaha. Kamu hebat, kayak kata ibu. Makasi ya Jah.... Mas ketemu dokternya dulu. Kamu di sini sama ibu.”


Bara mengecup kepala Dijah berkali-kali dan pergi dari ruangan. Di sela-sela langkahnya menuju ruangan dokter, Bara menghapus air matanya.


Pukul 13.45 putri mereka lahir dalam keadaan sehat. Dengan panjang 50 cm dengan berat 3350 gram.


Bara tak henti mengusap air matanya saat memeluk sebuntalan selimut berisi bayi perempuan yang mengerjapkan mata dan membuka mulutnya.


“Mas nangis...” bisik Dijah saat Bara menyodorkan bayi ke pipinya. Air mata Dijah kembali turun saat memandang bayi paling cantik yang pernah dilihatnya.


Bara tertawa kecil melihat Dijah terheran-heran melihat kecengengannya. “Mas terharu,” ucap Bara tersenyum dengan air mata kembali mengambang.


“Makasi ya Jah...” ucap Bara kemudian mengecup dahi istrinya. Mereka masih berada di ruangan operasi dan dokter sedang melakukan penjahitan.


“Namanya siapa?” tanya Dijah. “Kalau ditanya selama ini selalu rahasia,” tambah Dijah dengan suara lemah.


“Panggil dia Mima...” Bara lalu meletakkan Mima ke dalam dekapan Dijah.


To Be Continued.....


Jakarta Timur, 11 Juli 2021

__ADS_1


16.42


__ADS_2