
“Mbak Dijah... Apa kabar? Aku kangen,” ujar Asti yang telah bangkit menyongsong dan memeluk bahu Dijah. Dijah tertawa menepuk-nepuk lengan Asti.
“Udah gilak kurasa si Tini ini. Kan dah kawen si Heru itu, mau tebar pesona pulak dia!” Ucapan Mak Robin sudah dikategorikan ucapan terlembutnya. Tapi ternyata Tini mendengarnya dari dalam kamar.
“Aku cuma menikmati ciptaan Tuhan sambil menikmati hawa-hawanya dari deket! Bukan ngajak kawin! Sableng kui Mak!”
Dijah, Bara dan Heru tiba di dekat gerombolan penghuni kos di acara bincang sore mereka. Boy menarik kursi Tini dan menyodorkannya ke arah Heru.
“Duduk Mas ....” Boy memperbaiki kursi itu sampai menempel ke dekat pintu kamar Dijah. “Mas Bara cari kursi sendiri, kan bukan tamu lagi. Dah tau kebiasaan nginep di sini gimana,” tambah Boy.
Mendengar hal yang dikatakan Boy, Bara langsung ikut membantu Dijah mengorek isi tasnya mencari kunci. Sedangkan Heru melirik Bara bergumam, “Hmmm ... Dah biasa nginep.”
Tini yang berada di dalam kamar sedang sibuk menepuk-nepukkan sponge bedaknya ke wajah. Ponselnya sejak tadi berbunyi melantunkan lagu Raja – jujurlah padaku dalam versi remix pertanda ada telepon masuk. Ia melirik gusar saat melihat nama Gatot tertera di layar.
“Mau apa sih—” desis Tini pada ponselnya. Setelah merasa wajahnya sudah terlihat lebih segar, Tini menyambar ponselnya.
“Apa??!!” seru Tini menjawab teleponnya. Orang-orang yang berada di luar kamarnya seketika terdiam.
“Apa??!! Ngajak aku jalan? Sabtu malam? Oalah Gatot ... Gatot ... Kamu kok lama-lama ngerasa kayak satu-satunya laki-laki yang punya burung di dunia ini. Emoh aku!! Kasi makan burungmu sana biar besar! Edan!” Tini memencet ponselnya berkali-kali dengan wajah geram.
Bara yang mendengar perkataan itu dengan jelas, seketika berjengit melirik Heru. Cepat-cepat ia mendorong pintu kamar Dijah dan menyeret kekasihnya ke dalam.
“Padahal aku udah bilang jangan ikut, tapi masih ngotot. Rasain sekarang ....” Bara terkekeh.
“Memangnya kenapa?” tanya Dijah heran.
“Itu. Tini maki-maki Gatot mantannya. Nama Mas Heru kan Gatot juga,” ujar Bara kemudian tertawa terbahak-bahak. Bara terlihat benar-benar geli. Tangannya sampai menyapu wajah Dijah berkali-kali dan memegangi bahu kekasihnya sambil menunduk.
Dijah sebenarnya biasa saja mendengar perkataan Tini barusan. Tapi melihat Bara yang tergelak, ia ikut-ikutan tertawa.
Dan di dalam kamar, karena tersadar dengan hal yang baru saja ia katakan serta kehadiran beberapa orang di luar, Tini menutup mulutnya.
“Aseem ... Ada Mas Heru,” gumam Tini. Setelah berdeham beberapa kali, Tini membuka pintu kamarnya.
“Eh ada tamu ... Sudah lama nyampe? Dijahnya mana?” tanya Tini berbasa-basi.
“Mbak Dijah masuk ke kamar,” jawab Asti.
“Mbak Tini ... Namaku Gatot juga lho,” ujar Heru tiba-tiba. “Untungnya aku gak ngerasa tersindir dengan isi percakapannya.”
Bara yang mendengar perkataan Heru dari dalam kamar Dijah, semakin keras tertawanya.
Mak Robin hanya bergumam, “Mampoooss” ke arah Tini. Boy yang berada di depan Mas Heru hanya menutup mulutnya dan saling pandang dengan Asti.
“Nama boleh ada kesamaan, tapi pasti kualitasnya beda,” ucap Tini seperti menghibur Heru yang sedang duduk melipat kakinya.
“Dari mana Mas?” tanya Tini pada Heru. Ia masih berdiri bersandar di gawang pintu kamarnya.
__ADS_1
“Keliling-keliling setengah hari ama Bara. Trus jemput Dijah. Dijah mau nikah ama Bara entar lagi, udah pada tau, 'kan?” tanya Heru memandangi wajah penghuni kos-kosan satu persatu. Ia seperti guru TK yang sedang mendongeng pada muridnya.
Melihat ekspresi bingung di wajah para tetangga Dijah, Heru melanjutkan, “Belum ada yang tau ya? Waduh, aku jadi nggak enak.”
“Mbak Dijah memang udah lama nggak pulang. Jadi memang belum sempat cerita. Artinya Mbak Dijah bakal pindah ya Mas?” tanya Asti.
“Iya, itu lagi beresin baju mungkin.” Heru menoleh ke arah pintu kamar Dijah yang terbuka.
Mendengar hal itu wajah Tini berubah. Ia berjalan memutari kumpulan kursi plastik dan menuju pintu kamar Dijah.
“Mas! Aku mau ngobrol sama Dijah, sana keluar!” tukas Tini pada Bara yang sedang duduk di ranjang sambil memegang ponselnya.
“Aku 'kan nggak ganggu Tin ... Cuma duduk di sini aja.”
“Sana keluar, merusak suasana nanti. Temeni Mas yang di luar. Tolong sampein aku kesengsem sama cambangnya. Cambangnya panjang gitu, bikin penasaran aja.”
Bara mendengus kemudian mengambil bantal Dijah dan menutup wajah Tini dengan bantal itu sebelum pergi keluar kamar.
“Kamu sudah dilamar ya Jah ...” ucap Tini berjalan mendekati Dijah.
“Hmm?” Dijah mendongak. “Iya Tin,” sahut Dijah menarik senyum menatap Tini. Raut Tini seketika berubah menjadi lembut.
“Aku ora ngerti kudu omong piye, tapi aku melu seneng jah ... Aku melu bungah nggo awakmu, kowe memang pantes enthuk Bara,wis lego yo jah....pethuk wong lanang sek iso gawe tentrem lan iso gawe ampingan awakmu, Bara kethoke yo tresno banget ro kowe, kadang aku yo meri lho, dungakke aku yo iso enthuk wong lanang sek ko ngunu kuwi yo.. (Aku nggak tau ngomongnya gimana. Tapi aku ikut seneng Jah ... Aku bahagia untuk kamu. Kamu layak dapat Bara. Udah lega ya Jah ... Ketemu laki-laki yang bisa jadi tempat berlindung kamu. Bara kayaknya sayang banget ke kamu. Kadang aku iri. Doain aku juga bisa ketemu laki-laki yang kayak gitu juga.)” Tini berjongkok di sebelah Dijah yang sedang menurunkan setumpuk pakaiannya ke lantai. Dijah berhenti untuk menoleh pada temannya.
“Aku yo rasane ki koyo ngimpi,tak kiro Bara ki mung dolanan tok, jebul yo ngasi tenanan ngene iki. (Aku juga rasanya kayak mimpi. Aku kira Bara cuma main-main aja. Ternyata dia sampai sejauh ini.)” Dijah menatap Tini. Manusia pertama yang menerima kedatangannya di kos-kosan itu tanpa tatapan dan pertanyaan aneh. Bagi Tini, semua hal di dunia itu wajar dan masuk akal. Itu sebabnya Tini tak pernah melontarkan tatapan heran pada orang lain.
“Awakmu yo apik koq tin,mung akeh wong lanang sek urung ngerti sisihe awakmu sek bechik. (Kamu juga baik Tin, cuma laki-laki yang kamu kenal belum tau soal sisi baik kamu.)” Dijah menyenggol bahu Tini dengan bahunya sendiri sampai sahabatnya yang sedang berjongkok itu terduduk di lantai. Tenaga Dijah memang selalu kuat di luar perkiraannya sendiri.
“Maksude piye jah? Dadi akehe wong lanang kuwi kenal aku sek endine? Kowe ojo gawe kahanan iki dadi ambyar. (Maksudmu apa Jah? Jadi laki-laki yang deket aku kenal sisiku yang mana? Kamu jangan bikin suasana haru ini jadi ambyar.)” Meski menyayangi Dijah yang jarang bicara itu, tak jarang Tini juga sering kesal dengan ucapan temannya yang ambigu. Dijah pandai sekali memuji sekaligus menjatuhkan orang di waktu yang bersamaan. Sepertinya ia tak bermaksud begitu, cuma kata-katanya saja yang sering bermakna ganda.
“Jangan bedua-bedua aja kelen cakap, kami juga mau dengar!” seru Mak Robin dari depan pintu kemudian ikut masuk ke kamar Dijah.
“Bahasa Indonesia yang baik dan benar Tin, biar kita bisa ngerti.” Boy ikut berjongkok di belakang Dijah. Boy adalah penghuni yang paling baru di antara mereka. Awalnya Boy hanya dekat dengan Asti tetangga sebelah kamarnya. Namun karena Asti sering bertandang ke depan kamar Tini, Boy pun jadi sering ikut bergabung.
Boy merasa semakin dekat dengan mereka, ketika suatu hari kehabisan uang dan belum mendapat pekerjaan. Dijah menanggung makannya selama hampir seminggu. Meski dengan lauk telur dadar setiap hari, Boy tak kehilangan muka karena tak harus meminta bantuan ke kampung halamannya.
“Aku ikut seneng ya Jah...” Boy menyandarkan kepalanya di punggung Dijah.
“Berat kepalamu,” ucap Dijah.
“Mbak Dijah pindah ke mana?” tanya Asti. “Nikahnya kapan? Kita semua diundang kan?”
Dijah memandang Asti yang ikut berjongkok dan langsung bergelayut di bahu Tini. Mahasiswi kurus yang awal tiba di kos-kosan itu dengan raut bingung dan rikuh. Asti jarang berbicara dan lebih sering berada di dalam kamar. Asti menjadi dekat dengan mereka karena ia pernah demam dan berada di kamar terus-menerus. Dijah yang menyadari hal itu mengetuk kamarnya dan memasakkan makanan untuk Asti.
Setiap mengingat hal itu, Asti sering malu pada diri sendiri. Awalnya ia hanya melihat Dijah duduk dan memandanginya dengan wajah datar. Ia mengira Dijah sosok yang dingin dan menyeramkan. Tapi ternyata, Dijah sosok yang sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya.
“Baek-baeklah kau Jah. Senang aku dengar kau bisa mulai hidup baru. Kau doakan juga kawan-kawan kau ini cepat laku! Biar bisa dapat orang ini laki-laki kayak si Bara. Yang bisa nerima perempuan tanpa bulu mata dan alis palsu.”
__ADS_1
“Mulutmu Mak!”
PLAKK
Tini melayangkan pukulan ke paha Mak Robin.
“Makasi Mak ... Aku doain juga biar Bapak Robin dapet proyek deket-deket aja. Biar Robin bisa ketemu bapaknya tiap hari,” ujar Dijah.
“Iya, biar gak cuma mengenang rasa aja Mak.” Boy terkekeh-kekeh.
“Kuremas mulut kau nanti Boy!” sergah Mak Robin.
“Sekarang aja remas, nanti kamu lupa!” tambah Tini tertawa.
Mak Robin kemudian ikut tertawa disusul Dijah, Asti dan Boy. Ia memandang binar di mata Dijah. Tatapan mata tetangganya itu sudah melembut sekarang. Selaku penghuni paling lama di sana, Mak Robinlah yang menerima Dijah pertama kali dan mengantarkannya masuk ke kamar.
Dijah yang datang dengan bekas luka lebam dan tatapan mata dingin penuh pesimistis. Dijah yang tak peduli siang-malam dalam mencari nafkah. Dijah yang selalu bisa tertawa dalam keadaan sekacau apapun. Mak Robin merasa akan merindukan temannya itu. Di antara mereka semua, Mak Robin menilai, Dijah paling setia kawan.
“Mbak Dijah ... Selamat ya ... Jangan lupain kami,” ucap Asti kemudian maju ke depan melingkarkan tangannya di sekeliling bahu Dijah. Boy ikut menjatuhkan pelukannya melingkari tubuh mungil Asti.
“Benci aku! Aku benci kalau harus nangis karena kayak gini! Aku sedih!” Tini terisak kemudian ikut memeluk Boy.
Mak Robin menyeka air mata dengan lengan kaosnya.
“Bahagia ya Jah ... Serpis Mas-mu dengan maksimal. Kalau perlu masukan hubungi aku. Tapi Mas-mu juga pasti udah tes-tes duluan makanya sekarang langsung bungkus. Artinya puas,” ucap Tini di sela-sela isaknya.
“Otak kau itu ya Tin ...” kata Mak Robin sambil terisak.
Bara dan Heru sedang duduk berdampingan menyandari dinding dekat pintu kamar Dijah. Pintu kamar itu terbuka lebar. Sejak tadi Heru mendengar percakapan Dijah dan sahabatnya yang dilontarkan dalam dua bahasa.
Mendengar ucapan terakhir Tini, Bara tiba-tiba sibuk dengan ponselnya. Heru menggeser letak kakinya dan menendang sepatu Bara dengan ujung kaki.
“Udah tes-tes duluan ...” gumam Heru.
“Apa sih ... ckk!” decak Bara masih menatap ponselnya.
“Puas makanya langsung bungkus ...” Heru kembali menendang kaki Bara.
To Be Continued.....
Punya foto pake baju biru apa aja? Yang mau ikut keseruan video ucapan nikahan Barjah, bisa PC fotonya ke Miss Anget ya...
njuss bakal rangkum foto-fotonya menjadi bentuk video sebagai kenang-kenangan selama menulis novel ini. Nantinya video akan diupload di Instagram @juskelapa_ (jangan lupa ya, juskelapa pake garis bawah)
Makasih yang udah kirim foto lewat Miss Anget.
Jangan lupa likenya
__ADS_1