
“Mau pergi sekarang?” tanya Heru saat melihat Bara dan Dijah muncul di depan pintu ruangannya.
“Iyalah, udah kelar nih! Cuma dua aja kan?” Bara meletakkan dua map yang diterimanya tadi pagi. Heru masih tenggelam di antara berkas-berkasnya.
“Sebenarnya masih banyak kerjaan, tapi karena hari ini bawa Pangdam Jaya kamu aku lepasin.” Heru terkekeh seraya mengambil map yang disodorkan Bara. “Sehat Dijah? Kapan lahiran?” tanya Heru menoleh Dijah.
“Kepingin secepatnya Mas. Udah sesek bawanya ke mana-mana,” jawab Dijah dengan nafas sedikit tersengal. Padahal ia baru beberapa menit saja berjalan dan berdiri di kantor itu, tapi napasnya sudah sesak.
“Denger kamu Ra? Pengen secepatnya. Ya udah sana berangkat. Jalan-jalan berdua persiapan begadang jaga bayi,” ujar Heru.
Dijah tersenyum mendengar perkataan Heru. Dan Bara segera menggamit pinggangnya untuk keluar dari ruangan Heru.
“Dah liat ‘kan gimana mas kerja seharian? Minum juga gak sempet kalo lagi fokus ngerjain sesuatu biar cepet selesai.” Bara terus memegang pinggang istrinya menuju lobby kantor.
“Iya, kalo lagi fokus minum juga nggak sempet. Kalau bisa makan artinya lagi nggak fokus.” Dijah kembali mengedarkan pandangannya. Kali itu, pandangannya kembali beradu dengan wanita berambut panjang berkulit putih. Dijah melemparkan tatapan malas dengan wajah datar ke arah wanita itu. Sedetik kemudian, wanita yang tadinya berdiri terlihat kembali duduk.
Tatapan malas itu bagi Dijah berarti tatapan menyepelekan lawan karena merasa pasti menang. Datar tapi mengintimidasi. Dan Bara yang tak tahu Dijah baru saja mengintimidasi wanita lain dengan pandangan, terus memegang pinggul istrinya berjalan meninggalkan kantor.
Hari ini Dijah duduk di sofa ruangan kerja Bara membaca berbagai majalah sambil mengamati suaminya yang sedang bekerja. Bukan mengendarai kuda supaya baik jalannya. Tapi membuat balasan proposal kerja sama.
Dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, Bara sedang mencuri perhatian istrinya dalam memperbaiki image di kantor. Besok-besok kalau ia mengatakan sibuk bekerja, Dijah sudah pasti bisa membayangkan ia sesibuk apa.
*****
Playlist : Bentuk Cinta – Eclat Story
“Yang mana?” tanya Bara menyilangkan tangan di depan dadanya melihat Dijah mengelus dua box bayi bergantian. Istrinya masih bingung di antara dua pilihan.
“Sebentar Mas, dua-duanya lucu. Aku suka yang ini, tapi juga liat ini gemes banget.” Dijah kembali membelai kelambu putih penutup box bayi yang disukainya.
“Mas tunggu,” sahut Bara sambil mendorong sebuah stroller berkeliling toko.
Setelah mengalami pergulatan batin yang panjang, Dijah memutuskan membeli box bayi berwarna putih dengan kelambu tile berwarna putih. Pegawai toko menawarkan bahwa barang belanjaan mereka bisa diantar sekaligus keesokan harinya.
Mengingat soal kepraktisan, Bara mengiyakan tawaran tersebut.
Senyum di wajah Dijah mengembang sejak tadi. Ternyata itulah yang diinginkan oleh istrinya. Membeli barang kebutuhan bayi mereka yang belum lengkap, hanya berdua. Dijah terlihat nyaman berlama-lama memegangi semua benda di dalam toko. Berkali-kali ia mengatakan, “Kaos kakinya bagus untuk anakku Mas.” Dan berkali-kali juga Bara mengoreksi ucapan istrinya dengan, “Anak kita....”
Dijah membeli dua pasang sepatu dan sepasang sandal. Lagi-lagi wanita itu bingung di antara dua pilihan hingga Bara memaksa Dijah untuk membeli keduanya.
“Kartu debit yang mas kasi mana?” tanya Bara saat mereka berada di kasir.
“Di dalam tas, itu!” tunjuk Dijah pada tasnya yang masih berada dalam tentengan Bara.
__ADS_1
“Gak pernah dipake?” tanya Bara lagi.
“Mau dipakai buat apa?” tanya Dijah.
“Ya buat kamu kalo mau beli-beli. Itu memang mas kasi pegang untuk kamu. Emang untuk dipake. PINnya tanggal pernikahan kita.”
Dijah mengangguk tanda mengerti perkataan suaminya. Ia tahu fungsi kartu debit itu. Setelah belanja bulanan yang diberikan Bara dalam bentuk uang tunai, Dijah tak tahu lagi dia harus membeli apa kalau sedang sendirian. Baginya, berbelanja bersama Bara lebih mengasyikkan.
Selama menikah, Dijah belum pernah memakai uang di dalam kartu debit yang dikatakan Bara untuk keperluannya. Uang bulanan untuk ibunya, setiap bulan mereka antarkan ke rumah Kang Supri. Bara biasa memberikan sebuah amplop yang akan disampaikan Dijah pada ibunya. Dan Dijah mengerti kalau Bara tak ingin membuat ibunya sungkan kalau suaminya itu menyampaikan secara langsung. Itu pun meski Dijah yang memberi, ibunya sering kali menolak.
Bara menggandeng tangan istrinya keluar dari toko sepatu. Kedua tangannya sudah penuh dengan paperbag belanjaan.
Ketika melintasi jajaran stand yang menjual makanan. Dijah menggamit lengan suaminya menuju salah satu stand yang menjual frozen yoghurt (yogurt beku) dengan topping buah dan coklat berbentuk es krim.
“Aku mau yang ini Mas... tapi yang ini kayaknya enak juga. Beli dua ya Mas, nanti kalau aku nggak habis, Mas yang bantu abisin. Sayang kalau dibuang,” ucap Dijah setengah memerintah.
"Iya--iya, nanti mas makan sisa kamu."
Sedikit geli dengan ketamakan wanita yang sedang hamil besar itu, Bara memesan sesuai permintaan Dijah.
Dan beberapa saat kemudian, Bara telah memegang satu mangkok yogurt yang disendok Dijah ke dalam mulutnya bergantian dengan yang dipegangnya.
“Enak?” tanya Bara memandangi wajah istrinya yang sedang menjilati sendok.
“Mau tapi dikit banget ya ngasinya, pelit.” Bara tertawa melihat wajah kekanakan Dijah yang seolah terlihat sayang membagi makanan itu.
“Mas nggak boleh banyak-banyak....” Dijah kembali menekuni makanannya. Mereka sedang duduk di dua buah bangku kecil di sudut stand penjual yogurt.
Bara terkekeh geli mencubit gemas pipi istrinya. Pipi Dijah tembam dan napasnya terdengar terengah-engah meski mereka baru berjalan sebentar tadi. Lipstik merah jambu di bibir wanita itu sudah hilang karena kegiatan makan minum yang tak henti dilakukannya.
*****
“Seneng hari ini?” tanya Bara dari depan lemari. Ia baru selesai mandi setelah buru-buru pulang ke rumah mengejar jam makan malam bersama Dul.
“Seneng. Dul bilang makanannya enak. Apa sih itu? Aku mau minta tapi udah diabisin Dul. Mas belinya nggak banyak,” sungut Dijah.
Bara tertawa. “Tadi katanya di sana kenyang. Sampe rumah mau juga,” jawab Bara tertawa. “Nanti kita beli lagi ya...” bujuk Bara mendekati istrinya yang tengah memangku jajanan setengah isi mini market.
Membahagiakan istri itu ternyata tak sulit, pikir Bara. Yang sulit itu langsung berbaikan setelah bertengkar. Masa inkubasi emosi seorang istri pasti memakan waktu berhari-hari. Bara tersenyum seraya menyalakan lampu tidur.
Melihat Dijah yang tak henti-henti mengunyah demi mensejahterakan bayi mereka tanpa khawatir berat badannya bertambah membuat Bara bahagia.
“Udah ah, kenyang.” Dijah bangkit dari ranjang menyingkirkan seplastik jajanan yang sejak tadi dipangkunya.
__ADS_1
“Minum dulu,” pinta Bara menyodorkan segelas penuh air putih yang langsung diteguk Dijah.
“Aduh, kenyang Mas...” kata Dijah mengusap-usap perutnya.
“Ya kenyang. Kalo nggak kenyang luar biasa.” Bara mendekati istrinya di tepi ranjang. “Berapa lama lagi ini kira-kira?” Bara masih berdiri, ia memeluk kepala istrinya sambil mengusap perut besar Dijah.
“Sebentar lagi kayaknya. Setiap hari udah bergerak terus.” Dijah menunduk mengusap perutnya.
Tangan Bara yang tadi mengusap perutnya dari atas daster sekarang sudah naik meremas dadanya. Dijah masih duduk di tepi ranjang setelah meletakkan sekantong jajanan tadi.
“Bayinya bergerak terus mungkin karena kangen ayahnya. Soalnya, ayahnya juga kangen....” Suara Bara parau bergetar.
Setelah jajanan dari mini market, Dijah disuguhi jajanan lain malam itu. Bara menyajikan sesuatu dari balik boxer longgarnya. Masih dengan bertelanjang dada seusai mandi, ia meminta Dijah melepaskan rindunya di sana.
Tangannya tak diam begitu saja. Sambil setengah memejam menikmati sapuan dan kecupan bibir Dijah, Bara menarik lepas daster bermotif tie dye berwarna pink dari tubuh istrinya.
“Jah, mas mau cepet.... Pengen banget,” lirih Bara merebahkan tubuh istrinya di tepi ranjang.
Dijah menarik nafas dalam-dalam. Merasakan sesuatu yang terburu-buru itu mulai menyesakinya. Masih dorongan pertama dan sebuah erangan langsung lolos dari mulutnya. Ia melihat Bara tersenyum menyeringai ke arahnya. Melontarkan raut sombong yang menyiratkan ‘kamu juga kangen’.
Bara mengayun dan menciptakan ritme untuknya sendiri. Sesekali berhenti menarik napas demi memperpanjang waktu percintaan. Ia sudah merasakan bahwa Dijah mengejangkan tubuh pada lima menit pertamanya. Wajah istrinya terlihat pasrah.
Tak lama erangan teredam keluar dari mulutnya. Gulungan puncak kenikmatan membuncah begitu banyak dari dalam dirinya. Membuat Bara beberapa saat berdiam di atas tubuh Dijah yang meringkuk. Bara kembali membenamkan kepalanya di dalam dekapan dada sang istri.
Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dijah sudah membersihkan diri dan duduk dengan bantal yang ditumpuk agar tinggi. Malam itu ia gelisah tak bisa tidur. Dengan mata mengantuk Bara membaluri dan memijat kaki istrinya dengan minyak kayu putih.
“Mas, perutku nggak enak...” bisik Dijah. “Tiba-tiba sakit... terus ilang. Gitu terus, aku nggak bisa tidur...” rengek Dijah.
“Mau lahiran?” Bara terperanjat menoleh istrinya. Ia melihat wajah Dijah yang tegang sesekali meringis.
Dijah terlihat memejamkan matanya. Setelah gulungan kenikmatan yang dirasakannya tadi, sekarang berganti dengan gulungan rasa sakit yang datang dan pergi sesukanya.
“Dijah... kamu jangan kayak gitu ah.... Nakutin mas,” kata Bara mengusap wajah istrinya. “Ayo—ayo kita ke rumah sakit.”
“Belum sering-sering sakitnya, masih kadang-kadang aja.” Dijah menahan tangan suaminya.
“Ah, mas nggak mau. Jangan nanti-nanti. Ayo sekarang aja. Mas siap-siap dulu.” Bara bangkit menyalakan lampu kamar dan pergi menuju lemari.
Titik-titik keringat terlihat muncul di dahi Dijah. Ia menunggu Bara berganti pakaian dengan tenang. Sesekali ia memejamkan mata untuk meredam gelombang rasa sakit yang datang menyerangnya.
To Be Continued.....
Jangan lupa likenya ya...
__ADS_1
Besok Dijah lahiran ya... :*