PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
49. Bukan Bapak Biasa


__ADS_3

"Lagi di mana?" tanya Bara di seberang telepon.


"Lagi di tempat Mbok Jum," jawab Dijah.


"Gak lagi panas-panasan kan?" tanya Bara lagi. Ia memperhalus pertanyaannya apakah Dijah memulung hari itu atau tidak.


"Enggak, tadi dateng udah beliin makanan. Kayaknya Mbok Jum sakit. Badannya aku pegang gak panas, tapi lemes, murung terus." Dijah berdiri di luar pondok Mbok Jum dan berbicara di telepon dengan suara pelan.


"Suaminya baru meninggal. Mbok Jum jadi gak bersemangat. Kamu beliin buah tadi?"


"Udah, udah aku beli."


"Selesai dari sana mau ke mana?"


"Mau jemput Dul, mau ajak ke pasar."


"Ngapain?" Nada suara Bara terdengar sedikit khawatir karena membayangkan Dijah akan pulang ke sana sendirian.


"Mau ngajak Dul beli baju untuk hari Sabtu. Baju bagusnya ga ada lagi." Suara Dijah perlahan menghilang saat mengatakan hal itu. Ia malu pada Bara.


"Aku temenin ya?" tawar Bara. Sok-sokan menawarkan antar-jemput padahal pekerjaan editing beritanya dari luar kota kemarin belum juga selesai.


"Nggak, nggak usah. Kalau siang, hantunya tidur. Malem 'kan gak bisa tidur karena sibuk ngisep sabu," pungkas Dijah santai.


"Ya udah kamu hati-hati ya..." Bara kemudian mengakhiri pembicaraannya.


Padahal baru subuh tadi Bara membuat panggilan video kepadanya, dan sekarang matahari belum naik ke atas kepala tapi pria itu kembali meneleponnya.


Sedikit merepotkan sebenarnya. Dijah yang biasa ke sana kemari tak perlu izin dan memberikan informasi kepada siapapun, kini harus berkali-kali melongok ponselnya untuk melihat panggilan atau pesan masuk.


"Mbok mau apel? Biar aku potong-potong," tawar Dijah saat kembali masuk ke pondok wanita tua itu.


"Aku bisa Jah, aku nggak sakit kok. Makasi kamu masih sempetin liat aku. Pacar kamu pasti nggak ngasi kamu mulung lagi. Syukuri Jah... Kayaknya dia bener-bener mau sama kamu. Gak mikir status kamu. Mau bawa Dul jalan-jalan. Padahal ganteng dan kerjanya lumayan. Pasti banyak yang mau sama dia." Mbok Jum bangkit duduk dari posisi berbaringnya tadi.


Mendengar perkataan Mbok Jum, membuat Dijah sedikit malu. Ia tak terbiasa mencurahkan isi hatinya pada orang lain. Meski hanya sekedar membenarkan ucapan orang yang sedang berbicara dengannya, Dijah tak pernah bisa. Diam biasanya selalu berarti setuju buat Dijah. Dan jika ia tak setuju, ia lebih mudah menyanggahnya.


"Aku pamit mau jemput Dul dulu ya Mbok, mau langsung ke sekolahannya. Baju Dul gak ada yang bagus untuk jalan-jalan hari Sabtu."


"Ya udah, pergi sana. Dahulukan anakmu. Kan jarang-jarang kamu bisa jemput dia di sekolahnya."


Tak lama kemudian Dijah telah berada di dalam angkot. Ia ingat sekali saat pertama kali berkenalan dengan Mbok Jum. Saat itu Dijah baru saja dipecat dari pekerjaannya di rumah makan karena kecemburuan istri pemilik rumah makan itu padanya.


Dijah yang sudah kehabisan akal dan terdesak kebutuhan perut pergi berjalan kaki dari kosnya dan berakhir di tempat pembuangan sampah itu.

__ADS_1


Mbok Jum mengajaknya ngobrol dan mentraktirnya sebungkus nasi. Wanita tua itu juga mengajarinya memilih sampah yang laku untuk dijual.


"Kiri bang," ujar Dijah saat angkot yang ditumpangi telah tiba di depan jalan yang terletak dua kilometer dari gang rumahnya.


Dijah berjalan sedikit terburu-buru karena menyadari bahwa saat itu sekolah Dul pasti telah bubar. Ia yang selalu mewanti-wanti bapaknya agar tak berlama-lama jika menjemput anaknya itu, kini malah datang terlambat.


"Udah lama nunggu ibu?" tanya Dijah pada anaknya yang sedang duduk di depan pedagang berbagai mainan.


"Belum lama keluar kok," jawab Dul.


"Ibu Dul..." panggil seorang wanita yang sedang menggandeng anaknya.


"Ya Bu..." sahut Dijah menoleh pada wanita yang memanggilnya.


"Ibu Dul udah nikah lagi kok nggak ada ngundang kita-kita? Harusnya kita bisa dateng pake seragaman trus nyanyi sealbum dua album di resepsinya ibu Dul," tukas wanita itu.


"Oh..." Dijah hanya sanggup mengatakan hal itu. Ia belum mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.


"Ayah Dul ganteng ya Jeung... Pasti sekarang lagi hot-hotnya karena ibu Dul dapetnya jejaka single." Ibu dengan hiasan kepala seramai pasar malam itu terkikik geli karena ucapannya sendiri.


Dijah hanya meringis seraya membenarkan kalimat kedua yang barusan diucapkan wanita itu di dalam hatinya.


"Permisi dulu Bu," ucap Dijah sedikit mengangguk pada wanita tadi seraya menggandeng Dul.


"Mau ke mana?" tanya Dul mendongak menatap ibunya.


"Seneng. Beli celana panjang ya Bu. Warna biru kayak Om Bara. Bajunya juga kayak yang dipakai Om Bara," tukas Dul bersemangat.


"Yang gimana bajunya?" tanya Dijah sedikit mengingat model pakaian yang sering dikenakan Bara.


"Yang lengan panjang pakai kancing. Ada dalemannya. Keren Bu, aku mau gitu."


"Kita cari di pasar," sahut Dijah mulai memahami maksud anaknya. Dijah dan Dul bersimbah keringat di dalam padatnya angkot siang hari menuju pusat pasar yang banyak menjual barang dengan harga grosir.


Sebelum mengajak anaknya berkeliling mencari harga termurah, Dijah mengajak anaknya mampir ke sebuah warung nasi untuk makan siang. Meski duduk berjejalan dengan titik keringat di atas hidung dan mulutnya, Dul makan dengan sangat lahap.


Setelah menghabiskan masing-masing sepiring nasi dan segelas es teh, Dijah kembali menggandeng lengan anaknya melewati jajaran toko.


"Di antara dua ini, kamu pilih yang mana?" tanya Dijah menyodorkan dua kemeja lengan panjang kotak-kotak berbesa warna pada anaknya.


"Aku suka dua-duanya," jawab Dul nyengir. Sesaat berpikir, Dijah akhirnya mengangguk kepada penjual dan mengambil dua kemeja itu.


Pukul tiga sore Dijah telah kembali menyebrangi jalan di depan gang rumahnya dengan menenteng beberapa bungkusan.

__ADS_1


"Sejak ada om Bara, ibu banyak uang ya..." ujar Dul.


"Baju kamu belinya memang pakai uang dari om Bara, ibu sudah izin."


"Ibu mau 'kan diangkat jadi isteri sama om Bara?" Dul hanya ingin memastikan bahwa ia bisa terus menikmati kebahagiaan yang baru saja dirasakannya.


"Hari Sabtu nanti kalau pergi, jangan banyak minta yang aneh-aneh ya... Jangan ngomong yang aneh-aneh juga ke Om Bara," ujar Dijah pada anaknya saat mereka telah tiba di depan rumah.


"Pentas seni kemarin, aku panggil om Bara Ayah. Om Bara gak marah kok." Dul berjalan santai membuka pagar kayu yang nyaris roboh itu.


Entah apa fungsinya pagar kayu itu sekarang, Dijah pun tak tahu. Bapaknya terlalu malas dan tenaganya tak bisa diharapkan. Untung bapaknya itu masih mau makan.


Mendengar celetukan Dul membuat Dijah menyadari asal muasal cerita drama ayah-anak dan suami-istri yang terjadi di kalangan ibu-ibu penunggu kantin TK sekolah Dul.


"Ayo cepat masuk, langsung mandi." Dijah membuka tas sekolah Dul dan meletakkannya di atas container. Di depan televisi berbaring bapak Dijah yang sedang menonton dan mengemil potongan singkong goreng mirip seekor ular piton yang sedang menelan mangsanya.


"Hari Sabtu nanti, aku bawa Dul jalan-jalan ya Pak. Minta tolong dibangunkan cepat. Nanti aku dateng bawain bajunya. Ini tadi baru beli baju. Mau aku cuci dulu," ujar Dijah sambil membuka kontainer mencari pakaian ganti Dul.


"Mau pergi ke mana memangnya?" tanya Bapak Dijah.


"Ke taman bermain yang di puncak," sahut Dijah.


"Sama siapa? Sama laki-laki yang naik motor merah itu lagi?" tanya Bapak Dijah.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Di warung orang sibuk nanya ke aku. Siapa laki-laki yang sama Dijah? Hati-hati dapat laki-laki yang lebih berengsek dari si Fredy." Bapak Dijah yang sejak tadi berbaring kini duduk bersandar ke dinding. Laki-laki tua namun bertubuh sehat dan tegap itu tampaknya kembali akan memulai pertengkaran dengan anaknya.


"Memang ada laki-laki yang lebih berengsek dari si Fredy? Mana orangnya? Aku mau kenalan. Aku cuma ngomong mau bawa anakku jalan-jalan aja kok jadi ribut. Kalau nggak bisa ngomong nyenengin itu setidaknya jangan ngomong yang nyakitin Pak," sergah Dijah.


Dul keluar dari kamar mandi menuju ke arahnya. Dijah langsung bungkam. Dijah buru-buru mengeringkan tubuh anaknya dan memakaikan bocah laki-laki pakaian. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.


"Itu nanti dimakan ya. Jajanannya dihemat. Hari Sabtu pagi, ibu jemput ke sini. Jangan tidur larut malem," ujar Dijah pada anaknya.


"Iya. Hari Sabtu aku janji bangun cepat," jawab Dul.


"Ibu pulang dulu ya," ujar Dijah mencium kepala anaknya. "Kamu sana ke belakang aja sama mbah Wedok," sambung Dijah lagi. Dul langsung berlari ke dapur.


"Isin aku jah! Awakmu dadi omongane wong akih ning gang-gangan iki, padu terus gegoro lanangan. (Malu aku Jah! Kamu jadi bahan omongan orang di gang ini. Ribut terus karena laki-laki)" Ternyata kehadiran Dul tak membuat bapaknya berhenti mengoceh.


Setelah mengatakan hal itu, bapak Dijah menyeruput secangkir kopi hangat yang sejak tadi terletak di sebelah sepiring singkong seperti sajen pria tua itu.


"Sek diomongke warung, warung, warung terus. Nek gak gelem isin yo ora usah ning warung. Dolanan judi ning kono opo ora isin? Suwi-suwi warunge tak bakar sisan! (Yang diomongi warung, warung, warung terus. Kalo gak mau malu, gak usah ke warung. Main judi di sana apa gak malu? Lama-lama warung itu bisa kubakar sekalian)"

__ADS_1


Dijah keluar rumahnya kemudian membanting pintu rumah itu sekuat tenaga hingga bapaknya terlonjak. Setengah cangkir kopi yang berada di tangannya tumpah dan membasahi sarung yang sedang dikenakan pria pemalas itu.


To Be Continued.....


__ADS_2