
“Ada PR kau hari ini?” Mak Robin duduk di tepi trotoar depan sebuah SD sambil membuka-buka tas Robin yang baru keluar menemuinya.
“Ada. PR matematika.” Robin menoleh ke gerobak dagangan es berwarna-warni yang mangkal di depan pagar sekolahnya. “Mak! Beli es Mak! Aus kali aku,” ucap Robin.
“Es mana? Itu?” Mak Robin menunjuk gerobak es dengan dagunya.
Robin mengangguk, “Iya….”
“Ah! Jangan! Racun itu—racun,” sergah Mak Robin.
“Ada-ada aja mamak, masak pula racun dijual di depan sekolah. Gak percaya aku. Pasti itu enak, aku mau.” Robin mengerucutkan bibirnya merajuk.
“Merajok la kau sana. Tak usah kau minta makan samaku nanti,” ucap Mak Robin masih membuka-buka kotak pensil anaknya untuk mengecek alat tulis. “Eh! Mana ini setip (penghapus) kau Bin? Ilang lagi?” Mak Robin sibuk merogoh-rogoh dasar tas anaknya.
“Ada kok tadi kumasukkan,” ucap Robin seperti anak pada umumnya. Mudah dan ringan mengatakan semuanya ada pada tempatnya.
“Ah gak ada ini! Ilang!” sergah Mak Robin meletakkan tas anaknya. Dan Mak Robin juga seperti ibu pada umumnya. Suatu benda di atas muka bumi ini benar-benar dinyatakan sudah hilang, jika ibu-ibu yang mencari tak bisa menemukannya.
“Tadi ada kok Mak,” sahut Robin mulai khawatir dan mulai mengalihkan perhatiannya pada tas bergambar ranger merah.
“Gak ada robin—gak ada. Udah capek mamak nyarinya. Apa udah transparan warna setipmu sekarang sampe nggak nampak sama mataku?” Mak Robin menatap anaknya kesal. “Sekolah seminggu udah hilang 4 pensilmu. 6 tahun kau SD, habis hutan ditebang untuk kayu pensilmu aja. Pening kepalaku.”
“Ya udahlah, merepet (mengomel) aja mamak. Kan bisa beli lagi,” ucap Robin memasang wajah cemberut.
“Aih makjang. Enaklah memang kau cakap. Besok kubawakan karet ban truk biar gak ilang lagi. Ayo pulang,” ajak Mak Robin menjinjing tas dan mengulurkan tangan pada anaknya.
“Gak jadi beli es itu?” tanya Robin lagi.
“Kalo udah nggak dikasi sekali, jangan kau tanya-tanya lagi. Kecewa kau nanti.” Mak Robin menggandeng tangan anaknya berjalan menyusuri aspal berdebu menuju sebuah gang yang menembus lorong berkelok menuju kandang ayam.
“Panas Mak, capek aku.” Robin mengeluh untuk kesekian kalinya.
“Sama lah, mamak pun capek.” Mak Robin mengakui kebenaran perkataan anaknya. Setiap hari dia mengantar dan menunggui Robin di sekolah. Mau diantarkan saja, jam belajarnya masih pendek. Bisa-bisa sebegitu sampai di rumah, Mak Robin harus langsung kembali untuk menjemput anaknya.
Siang yang terik dan berdebu lebih cepat membuat tenggorokan terasa kering. Sebenarnya melihat Robin terseok-seok berjalan bersamanya, ia pun tak tega. Dahi bocah laki-laki itu dengan cepat dipenuhi keringat. Baju sekolahnya pun setiap hari harus diganti karena harum semerbak matahari bercampur bakteri.
Kandang ayam, siang itu terlihat sepi. Semua penghuninya sedang mencari rezeki. Pergi dari pagi berpakaian rapi. Termasuk Boy, Asti dan tini.
Mak Robin bermandi peluh menyeret langkah. Tiba di pemukiman yang tidak megah. Demi si buah hati bermasa depan cerah. Ia rela harus berlelah-lelah.
“Masak apa Mak?” tanya Robin duduk di kursi plastik melepaskan kaus kaki dan sepatunya.
“Masak bodo aja la Bin, capek kali mamak. Goreng telur aja kita siang ini ya… mau belanja pun udah nggak ada apa-apa di kedai. Abis makan, langsung tidur siang kita. Mamak pun capek kali, macam yang mau mati kali kurasa siang ini.” Mak Robin langsung mencampakkan tas anaknya sebegitu pintu kamarnya dibuka.
Setelah mengisi perut yang lapar, ibu dan anak itu tidur terkapar. Pintu kamar yang biasanya dibuka untuk menyambut sepoi angin, belakangan sering ditutup karena debu dari halaman ikut masuk.
Geliat kos kandang ayam biasa kembali dimulai pukul 4 sore. Gerobak para pedagang mulai berdatangan dan memacakkan rodanya di halaman. Kalau sore seperti itu, yang biasanya datang lebih dulu adalah pedagang bakso dan ketoprak. Beberapa orang anak kos yang menempati lantai dua sayap kanan sudah tiba di kandang ayam. Mereka bekerja sebagai SPG di mall yang berjarak beberapa ratus meter dari kandang ayam.
Mak Robin biasanya langsung memandikan si Robin sebelum pukul 5 sore. Karena setelah jam itu, para penghuni yang sudah pulang, memadati kamar mandi dengan berbagai aktifitas. Menjelang malam, setelah kembali makan dengan menu yang sama, Mak robin bertugas menjadi guru
“Mana PR kau Bin? Keluarkan!” tukas Mak Robin pada anaknya. “Jangan main hape aja kerjamu. Sini!” Mak Robin meminta ponselnya yang sejak tadi dipakai Robin menonton film kartun Boboboy.
“Baru sebentar aja, pelit kali.” Robin bersungut-sungut seraya mengembalikan ponsel ke tangan ibunya.
__ADS_1
“Ini nah… kerjakan PR-mu.” Mak Robin menyodorkan sebuah buku cetak matematika yang halamannya sudah terlipat dan sebuah buku tulis ke hadapan anaknya.
Robin memindahkan baris demi baris soal ke lembaran buku tulis dengan perlahan. Ia menulis perlahan-lahan dan tulisan Robin ternyata cukup… berantakan. Selama Robin mengerjakan hal itu, Mak Robin sibuk menyimak percakapan di grup pesan ibu-ibu genk pecinta novel sambil terkikik-kikik.
Beberapa saat kemudian, “Udah Mak!” ucap Robin.
“Makjang! Cepat kali! Gak nyangka mamak pande kali kau sekarang. Inilah yang namanya dasar keturunan pintar-pintar…” Mak robin menoleh pada Tini yang malam itu muncul di depan pintunya dengan rambut basah. “Dengar kau ‘kan? Baru sebentar aja, dah siap dia mengerjakan PR-nya,” ucap Mak Robin pada Tini.
Mendengar hal itu, Tini hanya mendengus sambil menarik kursi plastik dan duduk. Tangannya sejak tadi juga tak henti-henti mengetik pesan dengan wajah serius.
Tak lama kemudian, “Bah! Mana yang kau bilang udah siap tadi?” tanya Mak Robin pada anaknya.
“Itu!” tukas Robin menyodorkan bukunya.
“Kau bilang dah siap Biiiiin…” ratap Mak Robin memandang buku anaknya.
“Ini soalnya udah siap kutulis, itu maksudku. Mamak juga megang hape aja.” Wajah Robin memandang ibunya dengan lurus tanpa merasa bersalah.
“Ih, naik darahku kau buat… mana tulisan kau hurufnya macam begadoh (bertengkar) gini semuanya” geram Mak robin. “Cepat kerjakan jawabannya!” pinta Mak Robin pada anaknya.
“Gak nyangka mamak pande kali kau sekarang. Inilah yang namanya dasar keturunan pintar-pintar….” Tini mengulangi ucapan Mak Robin demi menyindir tetangganya itu.
“Udah, diam aja kau duduk di situ.” Mak Robin meremukkan selembar kertas buram dan melempar Tini.
“Yang ini gak tau aku jawabannya Mak…” ucap Robin menyodorkan bukunya. “Pening kali kepalaku dibuat angka-angka ini.”
“9 dikurang 5 aja pening kepala kau?” sergah Mak Robin emosi. “Kalo minta uang cepat kali kau berhitung. 9 kurang 5 aja pening kau bilang.” Mak Robin sudah menyentak kotak pensil di atas buku cetak anaknya.
“Ih, naik tensiku kau buat!” seru Mak Robin lagi. “Bikin dulu jarimu 9. Cepaaaat.”
Mendengar hal yang baru saja terjadi di dekatnya. Tini bangkit dari kursi dan memutar kursi plastiknya menghadap ke pintu kamar Mak Robin.
“Apa kau nengok-nengok? Jangan bilang apa-apa. Jangan tambah-tambah emosiku,” tegas Mak Robin pada Tini.
“Enggak—enggak. Aku diem aja. Aku cuma mengawasi. Aku cuma takut si Robin tiba-tiba hilang ditelan mamaknya.” Tini mengatakan hal itu dengan santai sambil menggeser-geser layar ponselnya.
Mak Robin melemparkan tatapan kesal pada Tini yang masih menatapnya dengan wajah santai tapi menyebalkan. Malam itu kepala dan paha Robin selamat dari jemari ibunya.
*****
Langit pagi sudah terang benderang. Tapi pintu kamar semua orang masih tertutup. Mak Robin melongokkan kepalanya keluar pintu sambil menggandeng tangan anaknya. Robin sudah siap untuk berangkat sekolah.
Dengan sedikit heran, Mak Robin mengunci pintu kamarnya. Rupanya tak lama dia keluar, Tini juga keluar dengan santai.
“Gak terlambat kau? Biasa jam segini udah pigi?” tanya Mak Robin heran.
“Hari ini aku ada janji ketemu calon nasabah. Gak absen ke kantor, jadi lebih santai. Kalau ke kantor, harus dateng lebih pagi dari pak Agus. Satpam yang pegang kunci aja sampe merasa tersaingi sama dia,” tukas Tini. “Eh itu Asti juga baru mau berangkat.” Tini menoleh pada Asti yang juga sedang mengunci kamarnya.
“Gak dijemput Bayu?” tanya Tini pada Asti.
“Mas Bayu langsung pergi liputan. Aku naik angkot aja.” Asti berjalan mendekati Tini dan Mak Robin.
“Si Boy mana?” tanya Mak Robin.
__ADS_1
“Boy kayaknya udah berangkat. Aku liat cuciannya udah bertengger di jemuran. Entah kapan nyucinya tiba-tiba udah di jemuran aja. Mungkin saking sibuknya, tidur juga sambil nyuci.” Tini terkikik geli.
Mereka semua serentak menoleh ke arah pagar. Seseorang yang tak asing lagi, datang mengendarai sepeda motor dan tersenyum-senyum ke arah Mak Robin.
“Amangoi… kereta (motor) dari mana kau pak Robin?” Mak Robin langsung menghampiri suaminya dan terheran-heran menatap sepeda motor baru yang sedang dinaiki suaminya.
“Ini kado aku untuk mamaknya si Robin biar jangan capek kali jalan pulang-balek nganter anaknya. Cantik ‘kan Mak?” Bapak Robin turun dari motor dan langsung menggendong anaknya untuk dinaikkan ke atas motor.
“Keren kali Pak! Suka kali aku.” Robin mengelus-elus batok kepala sepeda motor dengan tangan mungilnya.
“Cemana? Pande kau sekolah Mang ?” Bapak Robin kemudian mencium pipi anaknya.
(Amang berarti bapak dalam bahasa Batak. Bisa juga dipakai sebagai sapaan umum untuk menghormati kaum laki-laki.)
“Pande la Pak…” jawab Robin.
“Inangmu (ibumu) yang mengajari ‘kan?” tanya Bapak Robin.
Robin langsung memandang ibunya yang sedang melemparkan tatapan tajam.
“Iyalah Pak… Mamak yang ngajarin. Baek kali mamak. Karena mamak la aku pintar,” sahut Robin bijak. Ternyata anak laki-laki itu memikirkan efek jangka panjang jika kembali ditinggal bapaknya bekerja.
“Jadi, naek kereta la kita hari ini ya?” tanya Mak Robin senang seraya memutari sepeda motor baru itu. “Kapan kau beli ini Pak?”
“Seminggu yang lalu baru diantar ke mess kami di sana. Karena baru dapat libur, hari ini lah baru bisa kubawa.”
“Kontan (tunai) atau nyicil ini?” tanya Mak Robin sedikit cemas.
“Kontan ini Mak Robin… jangan takut bakal kupotong belanjamu.” Bapak Robin terkekeh.
“Keren Mak! Nggak jalan kaki lagi sekarang. Abis nganter Robin, bisa langsung belanja. Udah aman,” ucap Asti.
“Iya, dah senanglah aku. Belum jadi KPR rumah, setidaknya gak bergetar lututku tiap hari jalan kaki jauh kali.” Mak Robin membelai jok motor yang masih mengkilap.
“Mantep. Aku juga seneng! Bisa pinjam ‘kan Mak? Siapa tau malem minggu aku boring nggak ada temen. Aku pinjem untuk jalan-jalan.” Tini ikut mengitari motor dan menggaruk-garuk dagunya mengamati.
“Bisa Tini—bisa kali. Bapak si Robin beli kereta ini memang untuk kau,” kesal Mak Robin pada Tini.
Tini yang merasa berhasil meledek tetangganya, tertawa terbahak-bahak tanpa perasaan. Ia kemudian merangkul Asti untuk pergi dari halaman itu.
“Ya udah sana, anter Robin sekolah. Terus muter-muter berdua sama bapak Robin naik motor. Biar kayak Galih dan Ratna.” Tini masih terkikik-kikik.
“Diam muncung kau,” sahut Mak Robin kesal tapi tersipu.
“Peluk yang erat pinggangnya. Katanya kangen…” teriak Tini lagi demi menyulut api kompor pada pasangan suami istri yang jarang bertemu itu.
“Diaaammm…” balas Mak Robin dengan wajah yang semakin merona.
To Be Continued.....
Sisakan vote voucher Senin untuk BarJah yang akan pamit ya...
Terima kasih atas dukungannya selama ini.
__ADS_1