PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
90. Pesan Perpisahan


__ADS_3

Heru masih menendang-nendang pelan kaki Bara dengan ujung sepatunya. Dan Bara masih tak peduli. Ia bertahan dengan pose menatap ponsel dengan dahi mengernyit.


“Jangan belagak budek, kamu mau tau gak arti omongan Mbak Tini ama Dijah tadi?” tanya Heru.


Bara langsung menoleh. “Apa?” tanya Bara langsung.


“Oh masih denger ternyata. Gak ada yang gimana-gimana sih. Cuma ucapan selamat dan doa-doa aja.”


“Tini bisa doa juga?” gelak Bara.


“Udah selesai?” tanya Bara menjengukkan kepalanya ke dalam kamar.


“Hampir,” sahut Dijah. “Tasnya nggak cukup. Besok-besok aku balik ke sini sendiri aja. Nggak apa-apa.” Dijah terlalu sungkan kalau terus menerus diantar Bara ke sana kemari.


“Memangnya barangmu masih ada yang layak dibawa lagi Jah? Udah butut semua, tinggalin aja.” Tini mengangkat sebuah kipas angin rusak dan kembali meletakkannya.


“Pakaianku sisa sedikit lagi. Kos-kosannya masih ada waktu sebulan. Jadi kuncinya masih bisa aku bawa,” ucap Dijah.


“Itu lemari nggak dibawa, 'kan?” tanya Tini.


Dijah menggeleng.


“Ya udah, bagus. Lemari itu bisa-bisa langsung mencar jadi kayu bakar kalau dibawa-bawa pindah lagi.” Tini ikut mengangkat sebuah tas kecil dari dekat lemari.


“Boy ... Aku mau titip pesen. Bantu-bantu Asti. Jangan tiap dimintai tolong beli gas 3 kilo kamu langsung pura-pura koma.” Dijah menepuk pundak Boy. Yang ditepuk pundaknya mencibir.


“Tin...” panggil Dijah.


“Tunggu Jah, sebelum kamu ngasi ceramah. Aku mau minta hape buntingmu itu. Mana? Untuk aku aja, aku ada perlu.” Tini menengadahkan tangannya.


“Ada di lemari. Untuk apa?” Dijah kembali membuka pintu lemari dan meraba-raba rak paling atas. “Nih!” Dijah menyodorkan ponsel kecil yang bagian tengahnya diikat karet.


“Untuk akting miskin kalau ketemu cowok baru,” jawab Tini.


“Kalok miskin, kurasa gak perlu akting kau! Dari muka kau aja udah nampak!” seru Mak Robin dari atas ranjang.


“Untuk akting apalagi? Memangnya kemarin nggak keterima jadi debt collector?” tanya Dijah prihatin. Dijah senang Tini akhirnya menjauhi dunia malam ketika serius pacaran dengan Gatot. Dan ketika hubungan Tini dan Gatot berantakan, ia juga khawatir Tini akan kembali ke dunia itu.


“Ah, nggak jadi Jah! Pekerjaan paling menakutkan itu nagih utang. Baru mangap, langsung dibentak. Arwahku bisa ikut keluar sedikit. Seminggu dibentak terus, bisa meninggal aku.” Tini mengusap-usap ponsel butut Dijah.


“Mbak Dijah tinggal di mana? Nanti ajak kita sekali-kali ke rumahnya. Pengen punya temen yang bisa dikunjungi di rumah normal.” Asti menggandeng lengan Dijah.


“Maksudmu ini rumah gak normal?” sinis Boy.


“Kamu tadi mau bilang apa?” tanya Tini pada Dijah.


“Oohh... Cuma mau bilang, rajin-rajin bersihin kamar mandi sudut tempat kita. Biar selalu bersih. Jangan sampe nunggu Darius dulu dateng bawa Harpic.” Dijah terkekeh mengingat banyolan yang sering mereka lontarkan tiap saling melempar tanggungjawab untuk membersihkan kamar mandi.


“Ada lagi satu pesanku,” ucap Tini. Ia melirik ke arah pintu tempat di mana Bara berdiri dengan menyilangkan tangannya di depan dada menatap mereka.

__ADS_1


“Mas Bara jangan liatin ke sini, aku mau ngomong penting ke Dijah. Sana!” usir Tini. Bara cemberut kemudian kembali duduk ke kursinya. Pintu kamar masih terbuka lebar. Bara masih bisa mendengar ucapan mereka semua. Mungkin bagi Tini, Bara mendengar selama ini menggunakan mata.


“Apa?” tanya Dijah.


“Sini kelen ngomongnya, aku juga mau dengar.” Mak Robin yang masih duduk di atas ranjang menarik kaos Boy agar mendekat.


“Apa? Cepet! Aku nggak enak udah ditungguin,” ujar Dijah gak sabar.


Tini menunduk dan setengah berbisik, “Begini ... Kamu kan bakal berumahtangga. Pasti ada berantem-berantemnya. Ngambek-ngambeknya. Kalau Mas-mu ngambek, langsung aja tanya, ‘mau nyusu gak?’ pasti gak jadi ngambek.”


Semua penghuni kos-kosan yang tadi ikut menunduk di dekat Tini, langsung menegakkan tubuh setelah mendengar perkataan wanita itu.


“Tips kamu tuh seputaran sana terus ya Tin ... Keliatan banget sekarang gak ada yang ngetuk pintu kamar. Emot cium di aplikasi pesan juga gak pernah dipake lagi ya... Kasian,” ujar Boy menggelengkan kepalanya.


Bara dan Heru yang berada di luar saling pandang sejenak kemudian sama-sama menahan senyum. Sudah jelas apa yang dibayangkan kedua laki-laki normal itu saat mendengar ucapan Tini.


“Pantes...” gumam Heru.


“Pantes apa?” sinis Bara.


“Cuma bilang pantes aja,” ucap Heru kalem.


Dijah keluar kamar diikuti oleh teman-temannya. Bara mendekati Tini untuk mengambil tas Dijah yang berada di tangan wanita itu.


“Gak usah, biar aku aja yang bawa. Kita semua nganter Dijah sampai depan gang,” ucap Tini.


“Aku nggak ikut ya Jah, si Robin tidur. Sehat-sehat la kau.” Mak Robin melambai dari depan pintu kamarnya. Tini dan Boy berjalan di belakang Asti dan Dijah. Sedangkan Bara dan Heru mengikuti mereka berempat dengan jarak yang lumayan jauh.


Bara sengaja melambatkan langkah kakinya agar tak terlalu dekat dengan Dijah dan teman-temannya. Sudah cukup banyak yang didengar Heru hari itu. Meski Heru tak akan mengatakannya kepada siapapun, tetap saja lirikannya pada Bara seperti menusuk.


Saat menyusuri gang, Dijah dan Asti menemui sebuah genangan air sisa hujan di tengah jalan.


“Mbak ...” panggil Asti melirik Dijah. Kemudian serentak mereka mundur beberapa langkah, Dijah berlari melompati genangan air itu.


Asti bertepuk tangan kemudian ikut menyusul melompati genangan air itu.


“Yang kemarin aku nggak nyampe, aku coba lagi hari ini.” Boy yang berada di sebelah Tini kemudian ikut berlari melompati genangan air.


“Bisa Mas Boy!!” pekik Asti. “Hari ini Mas Boy gak terjerembab lagi!” Dijah dan Asti tertawa-tawa.


“Astaga ... Kemarin udah terjerembab hari ini dicoba lagi,” gumam Bara yang berjalan mendekati penghuni kos beradu kemampuan.


“Ah! Aku nggak bisa. Susuku berat! Aku cuci kaki aja,” ujar Tini melewati genangan air itu sambil membasahi sandalnya.


“Padahal bisa lewat dari kanan-kiri. Gak kena becek juga,” kata Heru seraya berdecak dengan mata penuh kekaguman.


“Itu keseruan tersendiri kayaknya buat mereka,” sahut Bara tersenyum melihat Dijah yang tertawa-tawa memandang Tini yang sedang mencuci sandalnya di genangan air.


Setibanya di depan gang, Bara mengambil bungkusan pakaian dari tangan Tini dan Dijah untuk diletakkan di belakang bagasi mobil.

__ADS_1


“Tini, Asti, Boy ... Makasih ya, selama ini udah banyak bantu Dijah. Udah mau jadi teman Dijah berbagi segala hal. Aku bawa Dijah pulang ke rumahnya hari ini. Beberapa hari ke depan, Dijah pasti ngasi kabar terbaru. Tunggu ya.” Bara merangkul Dijah dengan sebelah tangan sembari mengusap-usap lengan kekasihnya.


“Kita juga makasih ke Mbak Dijah Mas ... Mbak Dijah juga sudah banyak bantu kita semua. Lancar acaranya ya Mas ...” ucap Asti tersenyum dan mengangguk.


“Lancar Mas ...” sambung Boy. Tini mengangguk-angguk saja masih sambil menatapi Mas Heru yang sedang bertelepon di belakang mobil.


“Ra! Bayu ni—” Heru mengulurkan ponselnya pada Bara.


“Ada apa? Kok gak nelf ke hapeku?” Bara mengambil ponsel dari tangan Heru. “Ya Bay?” sahut Bara.


“Lagi di kos-kosan Mbak Tini ya Mas?” tanya Bayu di seberang.


“Iya, kenapa?” jawab Bara.


“Ada Mbak Tini gak? Bilang ke dia dong, bales pesan-pesanku. Jangan sombong amat,” tukas Bayu dengan nada serius.


“Lo serius?” Bara terkejut dan sedikit sebal. Kenapa ia sebal juga tak tahu.


“Serius ...” sahut Bayu lagi.


“Entar gua sampein. Keren lo ya, ngomongin soal cewe di hape direktur. Ya udah gua tutup.” Bara kemudian menyerahkan ponsel pada Heru.


“Tin! Itu pesan-pesan Bayu minta dibales, jangan didiemin aja. Dia ngerasa digantung. Hampa dan merana katanya. Gelisah gak bisa tidur. Keinget kamu terus. Gak selera makan berhari-hari.”


“Ah masa sih karena keinget aku sampe kayak gitu. Nanti memang ajalnya aja yang udah deket,” jawab Tini. Bara menahan tawa dengan wajah sebal.


“Pokoknya bales,” jawab Bara. Ia kemudian merangkul Dijah dan membukakan pintu penumpang.


“Bales Tin ... Biar emot cium di hapemu kepake lagi.” Boy melirik Tini yang sekarang terlihat bimbang. Padahal kemarin-kemarin dia sudah tak memikirkan soal Bayu lagi.


“Iya Mbak ... Dicoba kenal dulu. Kayaknya gigih mirip Mas Bara ...” ucap Asti.


“Gigih ama kebelet itu kadang cuma beda tipis aja. Hati-hati kamu As,” sergah Tini.


Mereka bertiga melambaikan tangan ketika Bara mengklakson. Dan mobil yang ditumpangi teman mereka perlahan menjauh.


“Kenalan deket dulu Mbak dengan Mas Bayu. Siapa tau jodoh.”


“Sepertinya Bayu kecil. Kalau serius, pasti untuk selamanya. Jadi aku harus mastiin dulu ...” gumam Tini masih menerawang menatap mobil Bara yang menghilang di kejauhan.


“Gendheng ...” bisik Boy.


“Aku nggak mau beli kucing dalam karung. Sekali beli gak bisa ditukar lagi soalnya.”


To Be Continued.....


Yang mau ikutan kirim foto untuk kondangan virtual di acara nikahan Bara-Dijah bisa kirim lewat DM Instagram : @juskelapa_ atau PC ke akun Noveltoon Prameswari penulis novel HIDAYAH. Beliau disebut juga Miss Anget, adminnya GC juskelapa.


Pengiriman paling lambat Kamis, 10 Juni 2021 pukul 23.00

__ADS_1


__ADS_2