
Sabtu malam keluarga Wirya tak ke mana-mana. Sukma siangnya sudah datang untuk ikut makan siang bersama bersama suami dan anak-anaknya. Dan sorenya, adik perempuan Bara itu sudah pamit untuk mengunjungi mertuanya.
Kembali tersisa mereka saja, duduk bersama di ruang keluarga. Bara menemani ayahnya bermain catur santai. Dul sedang menghadapi sebuah maket kota mini yang terdiri dari susunan balok mini.
“Jangan yang itu. Mulainya dari bagian gudangnya duluan. Iya—itu bener.” Bu Yanti duduk di atas sofa dengan sebuah ponsel di tangannya dan menginstrusikan pada Dul tentang urutan yang benar merakit mainannya.
“Kayaknya harus beli lemari kaca untuk majang mainan yang udah selesai dirakit. Pasti bagus,” ujar Pak Wirya melirik sekilas pada maket yang sedang dikerjakan Dul.
“Iya, bagus juga. Jadi nggak berantakan ke mana-mana. Bagiannya kecil-kecil, kalau terinjak sakit.” Bu Yanti menggulir layar ponselnya seraya sesekali melemparkan tatapan ke arah Dul.
“Apalagi kalau hilang satu sudah sulit nyusunnya. Rumit sebenernya mainan itu. Kemarin waktu ayah beli, ditanya untuk umur berapa. Ayah baru ngeh kalau tiap kotak itu untu beda-beda usia,” sahut Pak Wirya.
Dijah duduk di sebelah ibu mertuanya. Ia bahkan tak mengerti bagaimana ayah dan ibu mertuanya itu benar-benar mencoba memahami mainan Dul yang terkesan sepele baginya. Dijah melihat wajah Dul yang sesekali mendongak memandang Bu Yanti seakan meminta persetujuan atau dukungan.
Dijah melihat bahwa Dul semakin betah berada di kediaman orang tua Bara karena perhatian mereka mencakup sampai hal-hal sepele.
Dijah memperhatikan bahwa Bu Yanti menjawab panjang lebar saat Dul bertanya soal kenapa ia harus makan sayur. Benar-benar dosen yang baik. Dan Dul sekarang adalah mahasiswa termudanya.
“Sudah? Iya… udah bener. Dilanjutin aja, nanti uti bantu. Uti lagi lihat-lihat tempat belanja pakaian bayi yang lengkap di mana. Jadi kita nggak mondar-mandir ke sana kemari.” Bu Yanti memandang Dul sebentar kemudian kembali menunduk di atas ponselnya dengan sebuah kacamata yang bertengger di atas hidung.
“Heru mana? Kok jarang mampir?” Pak Wirya tiba-tiba menanyakan soal Heru.
“Mas Heru? Ke Bali ama mbak Fifi. Ngulang honey moon. Kayaknya pengen nambah anak. Jauh-jauh sampe ke sana,” jawab Bara.
“Hmmmfff—” Bu Yanti sedikit melirik Bara saat putranya mengatakan hal itu.
“Heru ‘kan romantis,” jawab Pak Wirya.
“Romantis dengan jago gombal itu memang beda tipis,” kata Bara.
“Tapi gombalannya berhasil. Fifi gagal tunangan ama pacarnya karena Heru. Jiwanya kompetitif, mirip eyang.” Pak Wirya terkekeh. “Dia benar-benar hasil didikan eyang kamu.”
“Aku juga kompetitif. Suka bersaing,” tambah Bara.
“Suka bersaing, tapi kalo nggak keturutan maksa. Harus,” sahut Bu Yanti. Dijah menahan senyum saat melihat raut wajah Bara saat ibunya mengatakan hal itu.
“Itu artinya konsisten, setia. Ya kan Jah?” tanya Bara menoleh pada Dijah.
Dijah tak tahu harus mengatakan apa selain kata “Ha?” atas ucapan suaminya barusan.
Menjelang pukul 9 malam, Dijah pamit pada mertuanya untuk naik ke lantai dua. Pinggangnya sudah pegal karena terlalu lama duduk di sofa. Dul belum mau tidur. Bu Yanti mengatakan akan mengawasi Dul agar tak tidur terlalu larut meski di hari libur.
__ADS_1
Meski perutnya kini mulai membesar, tapi badan Dijah tak ikut membengkak. Menginjak bulan ketujuh kehamilannya, berat badan Dijah baru bertambah 5 kilo saja.
Dijah sudah merebahkan diri dengan bantalnya yang ditinggikan. Ia sedang mengamati sebuah album foto tahunan masa SMA Bara yang diambil dari rak buku di dekat meja kerja suaminya.
“Kirain udah tidur,” kata Bara saat masuk ke kamar. Bara menyusul Dijah sejam kemudian setelah menuntaskan permainan catur bersama ayahnya.
“Liat-liat foto ini,” sahut Dijah mengangkat album yang berada di tangannya. “Ada foto mantan pacar Mas nggak?” tanya Dijah saat meneliti foto Bara bersama teman-teman seangkatannya.
“Gak ada,” jawab Bara singkat. Ia tak berbohong, karena pacarnya dulu adalah adik kelas. Bukan seangkatannya. Jadi, tentu saja foto mantan pacarnya tak ada di buku tahunan itu.
Dijah sepertinya tampak puas dengan jawaban singkat itu. Ia mulai kembali membalik-balik halaman album. Kemudian, seperti teringat sesuatu, Dijah menengadah menatap Bara.
“Mas, itu tadi yang diomongi sama ayah bener?” tanya Dijah memandang suaminya.
“Yang mana? Soal mas Heru?” tanya Bara. Dijah mengangguk. “Bagian yang mana? Romantisnya?” sindir Bara pada istrinya. Ia sedikit cemburu karena Dijah menanyakan soal Heru padanya.
“Bukan. Bukan itu. Soal mbak Fifi yang gagal tunangan sama pacarnya karena mas Heru,” jawab Dijah.
“Ooohh… itu. Dulu itu memang sempat terjadi kerusuhan dan gonjang-ganjing. Mirip ama kasus—” Bara diam sebentar. Ia menjadi sedikit ragu untuk melanjutkan ceritanya.
“Kasusku maksudnya?” tanya Dijah. Wajahnya biasa saja. Hanya menatap lurus pada Bara dan tujuannya memang cerita soal Heru.
“Tapi ada satu hal yang mbak Fifi nggak tau sampe sekarang.” Bara memandang wajah istrinya. Ia telah berbaring dengan menumpukan satu tangan. Dengan tangan mengelus perut Dijah dari balik dasternya, Bara kembali melanjutkan dongeng soal Heru.
“Apa itu?” tanya Dijah penasaran.
“Waktu ngedeketin mbak Fifi, mas Heru ngaku nggak ada pacar. Padahal…”
“Padahal apa?” tanya Dijah.
“Padahal pacarnya dua orang. Beda kampus.Hahaha....” Bara kembali tertawa.
“Jadi gimana?” tanya Dijah penasaran. Tangannya kini ikut membelai dada suaminya.
“Gimana apanya? Ternyata mantan warga kandang ayam ini masih melestarikan budaya ngomongin orang,” ucap Bara.
“Penasaran,” gumam Dijah memukul pelan dada suaminya.
“Dari pada mukul gitu, mending megang ini.” Bara menarik tangan Dijah dan memasukkan tangan istrinya ke dalam boxer longgar yang dikenakannya. “Tetep di situ kalo mau denger lanjutan ceritanya,” tambah Bara saat menahan tangan Dijah agar tetap berada di sana.
Bara menarik nafas untuk kembali memulai ceritanya kemudian kembali terdiam.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Dijah.
“Enak,” sahut Bara. “Lagi, enak. Tangan kamu anget.”
“Dilanjut nggak ceritanya?” desak Dijah lagi. Keperkasaan Bara telah mengetat sempurna dalam genggamannya. Ia mendengar suaminya mulai mendesah lirih seperti orang kepedasan.
“Trus… setelah berantem tonjok-tonjokan dan masuk kantor polisi, akhirnya mas Heru nerima jawaban dari mbak Fifi. Diterima. Dan mas Heru harus memutuskan pacar-pacarnya itu tanpa sepengetahuan mbak Fifi. Andai aja waktu itu, mbak Fifi tau kalau mas Heru udah punya pacar, dia pasti ditolak mentah-mentah. Jadi…. Aduh Jah—” Bara menggigit bibir bawahnya dan mendekap Dijah untuk meremas bokong istrinya itu.
“Jadi apa?” tanya Dijah sambil mengedarkan ibu jarinya di dalam boxer hingga berkali-kali menyentuh puncak keperkasaan suaminya.
Bara meringis dan mulai memancarkan sorot sayu dari matanya.
“Hmmm… jadi bukan Mas aja yang ribut sampe ke kantor polisi cuma karena cewek. Masalah mas Heru, almarhum eyang yang bantu beresin. Sekarang kamu udah ngerti ‘kan kenapa mas Heru santai aja Mas bikin keributan kemarin? Dia cuma merasa bersalah, karena sedikit banyak, Mas meniru dia.” Bara kembali tertawa.
“Udah ah… Mas mau ini,” ucap Bara menyelipkan tangan pada lipatan paha Dijah dari belakang. Mengusap bagian dalam paha itu hingga terus naik ke atas dan berhenti di tujuannya.
“Kelebihan istri hamil itu banyak ya…” ucap Bara mulai mencium leher istrinya.
“Apa?” tanya Dijah dengan suara parau. Remasan tangan Bara di bawah sana mulai mengacaukan pikirannya.
“Bisa sering-sering. Ini juga makin wow…” bisik Bara sambil menaikkan daster yang dikenakan istrinya agar ia bisa melihat sepasang dada Dijah yang semakin mengembang.
Bara mencium Dijah, membuatnya mengeluarkan erangan tertahan lagi. Jemari Bara membelainya lebih kuat. Dengan lebih cepat. Dijah merasakan Bara semakin membukanya di bawah sana. Menyelipkan jarinya masuk. Ke dalam dirinya. Rasanya… sangat mengejutkan. Memabukkan. Membuatnya tidak bisa berpikir apalagi berbicara.
Dijah merasakan gairahnya yang panas semakin membuncah. Ia sudah lupa akan cerita soal Heru tadi. Persetan soal Heru yang… Ia menatap mata Bara yang tak lepas seolah melahap tiap ekspresi yang diciptakan dari kelihaian jemari itu. Ia harus mengangkat sedikit kakinya sebagai permintaan tak langsung agar suaminya melanjutkan aksi.
Dan untuk menghentikan siksaan kenikmatan itu, Bara bangkit dan berlutut di depannya. Ia membuka kakinya lebih lebar lagi. Ia ingin suaminya kembali tenggelam pada bagian tubuh paling intim yang telah disingkapnya untuk pria itu.
To Be Continued.....
Harus dicut dulu karena udah kepanjangan XD
Btw, sebagai informasi sebelum naskah njus masukkan, njus selalu membaca ulang untuk mengoreksi typo yang disebabkan autotext keyboard.
Setelah terbit, njuss akan baca lagi dan langsung diperbaiki. Tapi karena waktu review lama dari NT, perbaikan itu akan muncul paling lama sejam kemudian.
Jadi sebelum bener, harap maklum dulu ya...
Hihihihi
Jus sayang semuanya.
__ADS_1