
“Pak Bara, ini flashdisk dari Mbak Retno.” Nia menyerahkan benda itu pada Bara yang sedang menunduk.
“Mmmm...” gumam Bara mengiyakan tanpa menoleh. Ia masih menunduk mengkroscek satu persatu judul berita dan tanggal tayang. Merasa bayangan seseorang masih berada di depannya, Bara mendongak. “Oh, oke.” Bara mengambil benda kecil dari tangan Nia. “Makasi,” ucap Bara.
“Sama-sama Pak,” sahut Nia. Gadis itu berlalu dari hadapan Bara dengan langkah seringan bulu. Bibirnya melengkungkan senyum yang terlalu lebar hanya karena mengembalikan sebuah flashdisk.
Sudah hampir sebulan kantor mereka kedatangan mahasiswa internship (magang).
Heru mengatakan program ini lebih ke edukasi. Fokus pelaksanaannya untuk memberi pengalaman kerja, bukan seperti program training kerja. Pemagang bisa merasakan secara langsung bagaimana menjalankan suatu pekerjaan di suatu perusahaan maupun divisi.
Dari pengalaman ini, Heru mengharapkan pemagang jadi bisa memiliki gambaran terhadap karirnya di masa mendatang. Apabila menjabat di suatu divisi, aktivitas kerja yang nanti akan dihadapi, kurang lebih akan sama dengan yang tergambar pada saat mereka menjalani internship.
Ini adalah salah satu usaha Heru untuk membantu beberapa divisi baru yang didirikan dan kekurangan tenaga.
Membantu memang, tapi Bara agak sedikit terganggu. Saat Heru bisa mengunci dirinya di dalam ruangan dan dengan mudah membatasi diri dengan rasa sungkan yang diperolehnya sebagai seorang direktur, berbeda dengan Bara. Dia lebih sering berada di luar ruangan. Menjawab semua pertanyaan dan berhubungan dengan mahasiswa baru yang masih meraba terhadap tugas-tugas di kantor itu.
Ditambah lagi antusiasme seorang mahasiswi manis berambut lurus sepinggang bernama Nia yang dinilai Bara sedikit berlebihan padanya. Nia manis. Kulitnya putih bersih dan tampilannya terlihat berbeda dari teman-temannya. Nia tampak berasal dari keluarga mampu. Dengan wajah semanis itu, tak heran Nia hampir selalu mendapat kemudahan dari karyawan kantor yang didominasi oleh pria.
Tapi bagi Bara, manis Nia hanya sampai di situ. Sama seperti wanita-wanita cantik yang ia lihat melintas dan diakuinya cantik dalam hati saja. Dia bukan laki-laki buta.
Bukan terlalu geer, tapi Bara dulunya juga seorang mahasiswa yang hampir selalu mendapat atensi perempuan di kampus. Hanya menoleh ke meja belakang dan bertemu pandang dengan teman sekelas wanitanya, ia langsung mendapat pertanyaan “Nyari apa Ra?”
Dan beberapa malam terakhir ini, Nia kembali datang ke kantor untuk mengantarkan berbagai makanan untuk karyawan dan beberapa temannya yang lembur. Bara kurang memperhatikan hal itu sampai akhirnya Heru keluar dari ruangan.
“Wih... siapa yang bawa bekal nih?” tanya Heru.
“Nia Pak,” jawab Retno sambil menusuk sepotong chicken katsu dan memasukkannya ke mulut. “Gabung Pak, sini...” ajak Retno.
__ADS_1
Heru mendekati dan mengambil sebuah garpu plastik baru untuk ikut mencicipi potongan ayam.
“Pak Bara nggak mau Pak...” ujar Nia bercanda.
“Gak mau Ra?” tanya Heru. “Enak lho,” sambung direktur The Term itu.
Bara mendongak dan memandang Heru dengan tatapan datar. Sedangkan Heru melontarkan tatapan yang berarti, “Hargai dooong”
Bara bangkit menuju meja tempat di mana sebagian orang mengerubungi. Tangannya langsung mengambil garpu baru dan menusuk sepotong ayam. “Enak nih,” ucap Bara kemudian memakannya. Dengan mulut yang masih sama-sama mengunyah, Bara memandang sebal pada Heru yang menahan senyumnya.
Dan menu-menu berikutnya pun datang di malam berikutnya. Meski tak ikut lembur, Nia datang membawa makanan. Mahasiswi manis itu meminta Bara menandatangani surat izin angketnya. Itu hal yang biasa sekali, ia sudah sering melakukan hal itu. Juga soal Nia yang minta gabung di divisinya, divisi kriminal bukan hanya ada Bara seorang. Banyak. Dan Nia membuat semua hal itu seolah spesial.
Nia berumur 21 tahun dan tahu bahwa ia sudah beristri. Beberapa kali karyawan kantor juga berseloroh soal Bara yang sebentar lagi akan ‘berpuasa’ karena hari kelahiran bayinya semakin dekat. Nia juga pasti mendengar soal hal itu.
Apa yang bisa dilakukan Bara selain menghapus pesan-pesan itu? Nia mengiriminya pesan di hari dan jam kerja. Isinya hanya seputar urusan kantor. Melarang mahasiswi itu secara terang-terangan dinilai Bara terlalu kekanakan. Bisa-bisa ia dianggap sok ganteng. Lagi pula ia merasa tak ada melakukan hal apapun. Apa ia harus memakai penutup wajah agar Nia tak berlama-lama memandanginya?
“Jah...” panggil Bara dari depan lemari pakaian. Ia sedang memakai kaosnya kemudian menyetel lampu tidur dan merangkak naik ke atas ranjang. Dijah masih memunggunginya.
“Itu anak magang, bukan siapa-siapa. Udah hampir sebulanan ini mereka di kantor. Namanya aja nggak Mas simpen di daftar kontak. Gak Mas bales juga ‘kan? Karena cuma urusan biasa aja. Dia juga ngirim pesannya di jam kerja kok,” tukas Bara membela diri. Ia menarik bantal yang menutupi wajah istrinya.
“Kenapa harus ngirim pesan di jam kerja? Memangnya nggak ketemu di kantor? Mas dari pagi sampe malam di kantor tapi mau ngomong aja mesti lewat pesan. Kenapa? Mau manja-manja sama suami orang? Minta suami orang nunggu masakannya buat makan malem. Kayak Mas nggak ada istri yang bisa masakin aja. Tiap sore aku nanya, lembur nggak, pulang jam berapa, mau dimasakin apa. Jawabnya nggak ada. Nggak apa-apa. Rupanya di kantor ada yang rajin bawa-bawa makanan.” Dijah mengomeli Bara panjang lebar masih memunggungi suaminya.
“Ya itu bukan cuma Mas aja yang makan. Mas Heru juga, rame-rame. Katanya dia suka masak, makanya sering bawa-bawa makanan ke kantor meski nggak lembur.” Bara memeluk istrinya dari belakang. Mengusap perut besar yang sedang mengandung anaknya.
“Sampe tau perempuan itu hobi masak. Kenapa nggak buka rumah makan aja sekalian? Lebih bermanfaat ketimbang ngasi makan orang sekantor untuk modus mulai percakapan sama suami orang,” cerca Dijah mendengar jawaban suaminya.
“Ya nggak tau. Apa harus dibilang kayak gitu? Kamu buka rumah makan aja.... Ya ampun, Mas memang nggak ada ngapa-ngapain.”
__ADS_1
“Memang nggak ada ngapa-ngapain. Nggak nolak juga nggak ngapa-ngapain. Ya udah, tangannya sana.” Dijah mengangkat tangan Bara dari atas tubuhnya dan menyingkirkan tangan itu.
“Aku mau tidur. Dari langit gelap sampe langit gelap lagi aku nunggu suamiku pulang, baca pesan kayak gitu bikin sakit jantungku. Mas udah lebih lama ada di luar rumah ketemu orang lain ketimbang ketemu aku. Sampe Mas tau perempuan lain hobinya masak. Memang Mas nggak ngapa-ngapain, tapi Mas nyimak. Pelan-pelan masuk ke pikiran Mas. Kalau aku tanya perempuan itu pakai baju warna apa hari ini, pasti Mas langsung bisa bayangin dalam kepala. Pasti!” sergah Dijah setelah menyingkirkan tangan Bara dari atas tubuhnya kemudian kembali bergulung.
Kemeja berwarna biru langit yang pas di tubuh dan tergulung sampai ke siku. Celana bahan berwarna hitam dengan sepasang sneakers berwarna putih. Itu pakaian yang dikenakan Nia hari ini. Dan Dijah benar, ia bisa membayangkannya. Sekarang ia malah tak tahu warna corak daster istrinya yang selalu tampak sama.
“Maaf, Mas nggak ada maksud apa-apa. Semua orang di kantor tau Mas lagi nunggu kelahiran bayi Mas. Mas memang terlalu sibuk,” ucap Bara.
“Aku memang nggak kerja. Kerjaanku cuma di rumah aja, masak dan nungguin suami pulang. Aku tau Mas nggak suka makanan beli. Makanya aku selalu masak. Biasa pulang ke rumah selarut apapun selalu makan. Hari ini nggak makan karena ada yang bawain makanan ke kantor.” Dijah mulai tercekat dengan kata-katanya sendiri. Ia menarik ujung kerah dasternya untuk menutupi mulut.
“Iya, Mas salah. Maaf...” Bara kembali mencoba memeluk tubuh istrinya. “Makannya rame-rame kok, nggak berdua.”
Dijah kembali mengangkat tangan Bara dan menepisnya. “Kalau udah malem dan laper, pulang. Makan di rumah memang nggak seasik dengan temen kantor yang bisa sambil cekikikan. Yang diliat juga pemandangannya orang pakai baju-baju rapi, bukan daster kayak yang di rumah.”
“Enggak—enggak. Bukan soal itu. Kamu nggak boleh kayak gitu. Mas mau peluk istri Mas kok nggak boleh,” ucap Bara mengusap kepala Dijah. Dijah langsung mengelak dan berdecak sambil menepis tangannya.
“Mas janji beliin sepatuku sampe sekarang lupa terus. Box bayiku untuk di kamar ini juga belum jadi dibeli. Semua udah ditaruh tempat ibu. Padahal Mas yang janji, aku nggak minta. Tapi Mas yang janji. Aku nunggu terus, Mas sibuk terus, lupa terus.” Dijah menangis tersedu-sedu. Ia menarik dasternya menutupi wajah dan membenamkan kepalanya ke bantal.
“Ya ampun, jangan gitu. Dijah.... Maafin Mas... Mas sibuk untuk kita semua. Biar anak-istri Mas cukup. Kantor sedang mau berkembang. Mas dan Mas Heru banyak ngambil keputusan penuh resiko biar bisa bersaing dengan media-media baru. Maafin kalo Mas lalai.... Akhir minggu Mas nggak ambil kerjaan. Kita pergi beli sepatu sama box bayinya. Ya... jangan nangis. Anak Mas udah gede di perut kamu. Dia pasti denger ibunya nangis.” Bara memeluk istrinya. Menumpukan kepalanya di atas kepala Dijah. Tangannya mengusap perut istrinya. Bara merasa kalau bayi mereka baru saja bergerak seakan turut mendengar kegaduhan ayah-ibunya.
Sejenak kemudian ia mendengar tangisan Dijah mereda. Istrinya itu kembali mengedikkan bahu untuk menyingkirkan kepala dan dekapannya.
“Nggak usah. Nggak usah beli sepatu atau box-nya. Aku nggak mau lagi. Nggak apa-apa,” kata Dijah kemudian bangkit dan meraih selimut di kakinya. “Maaf kalau aku terlalu rewel dan merepotkan selama ini. Aku ngantuk, mau tidur dulu. Aku udah dari tadi nungguin Mas pulang. Aku kira kita bisa makan sama-sama,” kata Dijah kemudian menutup tubuhnya dan memejamkan mata. Ia mencoba tidur. Hatinya sedang mendramatisir kesedihan. Dijah mengasihani ia dan bayinya yang seakan ditepikan.
Bara terdiam. Habislah dia pikirnya. Ternyata jadi seserius ini. Dia lalai. Dia lupa soal Dijah yang pasti memperhatikan kebiasaannya. Dia terlalu sibuk hingga belakangan ia memang sering lupa bertanya, “Kamu udah makan?” Sementara Dijah yang selalu menunggunya, tak pernah absen bertanya soal menu makan siang atau rencana lemburnya. Dia hanya bisa menatap punggung istri yang tak mau disentuh olehnya. Hatinya kecut.
To Be Continued.....
__ADS_1
Terimakasih yang sudah memberi like :*