PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
72. Cerita Cafe


__ADS_3

Sesaat sebelum Bara keluar menuju pos satpam.


"Gimana Jah? Udah cukup?" tanya Tini.


"Sebentar lagi boleh Tin?" Dijah balik bertanya.


"Boleh Jah... Boleh. Yang penting jangan nginep di sini," ujar Tini.


"Ga apa-apa Mbak Dijah, santai aja." Asti mengaduk es jeruknya dengan sedotan.


"Iya, selo aja. Aku pun masih mau nambah pesanan." Mak Robin tampaknya belum sarapan dari rumah.


"Jah! Jah! Itu mas-mu! Dia keluar Jah!" Tini menyeret kaos di tengkuk Dijah agar temannya itu melongokkan kepala keluar dari tirai spanduk.


"Tanganmu!" tepis Dijah pada tangan Tini yang terasa mencekik lehernya.


"Eh maaf! Semangat aku Jah! Gak sia-sia dandanan peran wanita kantoranku pagi ini. Aku nyatok rambut dari subuh sampe leherku pegel," ujar Tini.


"Totalitas tiada batas," gumam Boy yang juga ikut mengintip.


"Mbak Tini! Hapemu bunyi!" ujar Asti.


"Aduh si Bayu ini kayak tau aja aku lagi di sini. Kayaknya perasaan lanang ini makin dalem aja ke aku," cibir Tini seraya menjentik layar ponselnya.


"Kok kayaknya mas Baranya udah pergi ya?" tanya Asti saat Tini tengah bertelepon.


Setelah Tini memaki-maki sebuah mobil yang membunyikan klakson persis di depan warung itu, Bara kembali muncul.


"Eh muncul lagi, itu Mbak..." ujar Asti.


"Iya..." gumam Dijah. Ia masih sedikit menunduk menatap Bara yang sedang berbicara dan berdiri di dekat satpam yang tengah mengoceh entah apa.


Bara memakai jeans biru terang, dengan kemeja berwarna biru langit yang dilipatnya sampai di bawah siku. Sebuah tanda pengenal terlihat menggantung di lehernya. Kakinya terbungkus rapi dengan sepasang sneaker berwarna biru gelap dengan corak tiga garis putih di tiap sisinya.


Di bawah terpaan cahaya matahari pagi yang mengarah ke depan kantor itu, Bara terlihat semakin tampan. Dijah sedikit bergidik seolah sedang melihat hantu. Dia seolah tak mempercayai bahwa pria tampan di seberang sana itu yang pernah mencumbunya dengan begitu lembut.


Tatapan mata Dijah meredup. Matanya perlahan kembali memanas. Semakin dilihat, rasanya memang semakin tak mungkin ia kembali berada di dekat Bara.


Saat masih asyik mengintip ke seberang jalan, Dijah merasakan ponselnya bergetar. Ia buru-buru merogoh isi tasnya dan meraih benda itu.


"Pak Heri Tin..." gumam Dijah menunjuk layar ponselnya. Sudah akhir bulan, sepertinya pak Heri sedang membawa kabar buruk lainnya bagi Dijah. Beberapa saat lamanya Dijah mengangguk dan mengatakan 'baik' dan 'nggak apa-apa' berulang kali, ia menutup teleponnya.


"Ngomong apa dia?" tanya Tini. Boy dan Asti yang tadi ikut memegangi tirai spanduk kini melepaskan tirai itu untuk menatap wajah Dijah yang semakin terlihat merana.


"Kontrakku nggak diperpanjang. Katanya perusahaan belum membutuhkan tenaga tambahan lagi karena belum capai target. Nanti kalau butuh tenaga lagi, aku bakal dihubungi." Dijah berusaha membuat nada suaranya baik-baik saja dan menarik senyum terpaksa di wajahnya.


Tak lama, Tini juga kembali memandangi ponselnya. Pak Heri juga meneleponnya.


"Kayaknya aku juga bakal dapat berita yang sama." Tini menggulir layar ponselnya. Setelah melakukan adegan yang nyaris sama seperti Dijah, akhirnya Tini meletakkan ponselnya di atas meja warung.


"Tuh kan! Sama! Pengurangan tenaga SPG. Kita kemarin memang tenaga tambahan aja. Yowes, nggak apa-apa Jah. Nanti aku cariin kerja lain. Aku bakal nanya ke temen-temenku juga. Gak mungkin kita mati kelaperan," tukas Tini.


"Iyalah, apalagi kau! Harus dilestarikan pemerintah!" seru Mak Robin yang telah selesai makan.


"Yuk pulang, aku mau istirahat. Kepalaku makin pusing," ujar Dijah kembali mengintip ke arah seberang sekilas. Bara masih berdiri di sana.


"Kamu kerja apa Jah? Anakmu harus dikasi belanja," ucap Tini.


"Aku datengin mami aja, jadi pelayan cafe lagi. Mau mulung aku belum semangat karena belum ketemu Mbok Jum," kata Dijah.


"Nanti nyampe di kamar, telfon mami cafe ya Jah! Tanyain juga gajinya berapa. Apa masih 50 ribu semalem. Dengernya aja aku capek." Tini mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Biasa megang-megang aja dapet 200 ribu, ya 50 ribu kesannya dikit." Boy menggeser duduknya menjauhi Tini. Ia takut tangan Tini akan melayang ke arahnya saat mendengar hal itu.


"Lambemu Boy!" seru Tini.

__ADS_1


"Ayo pulang," ajak Dijah.


"Ayoklah!" Mak Robin bangkit.


"Iihhh... Udah panas. Kita jangan jalan lagi ah. Naik taksi aja dari depan sini. Gak tahan! Mataharinya udah mulai terik!" pekik Boy menyipitkan matanya menyibak Tirai sablon.


"Manja! Anggap aja simulasi di neraka. Ayo!" Tini mencengkeram kuduk kaos Boy dan menyeret pria itu ke luar dari warung dan berjalan menjauhi kantor Bara.


Beriringan mereka berjalan di seberang menjauhi kantor berita itu. Bara yang melihat mereka keluar satu persatu dari arah berlawanan menoleh dan berjalan menyusuri pagar kantornya dari dalam.


Pandangannya melihat sosok Dijah. Wanita itu terlihat murung dan berjalan seraya mendekap tasnya. Bara berjalan sampai tiba di ujung pagar. Kakinya berjinjit demi bisa melihat Dijah yang semakin menghilang dari pandangan.


Dia rindu Dijah. Rindu sekali. Dijah tak perlu mencium atau memeluknya kalau mereka bertemu nanti. Dijah hanya duduk dan menerima kehadirannya saja, itu sudah lebih dari cukup bagi Bara.


Malam ini Bara harus pergi menemui Dijah. Itu adalah hari Jumat. Mungkin malam nanti, Dijah akan bekerja sebagai SPG. Ia akan meminta Bayu menelepon Tini untuk menanyakan keberadaan mereka.


Bara melalui meeting itu dengan gelisah. Ia tak menyimak kata-kata penutup di akhir meeting yang diucapkan Heru siang itu.


Kedatangan Dijah membuat rasa ketidaksabaran yang sudah payah diabaikannya kini kembali meletup-letup tak sabar.


Setelah menyelesaikan permintaan Heru soal editing berita yang berhasil didapatkan oleh kakak sepupunya itu langsung, Bara tergesa-gesa pergi kebaikan percetakan. Ia menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi file foto liburan Dul pada salah satu staff di sana. Ia meminta foto-foto itu segera dicetak. Bara ingin menjadikan foto itu sebuah alasan untuk menemui Dijah.


"Halo? Mbak Tini lagi di mana?" tanya Bayu di telepon.


Bara berada di sebelah Bayu mengangguk-angguk tak sabar menunggu jawaban.


"Di rumah, kenapa?" jawab Tini di seberang telepon.


"Loh? Nggak kerja?" tanya Bayu. "Biasa Jumat malam kan jadi SPG," tambah Bayu lagi. Bara sudah ikut melekatkan telinganya di ponsel Bayu.


"Enggak. Habis kontrak. Aku capek cari kerja! Mau cari suami aja," sahut Tini asal.


"Kebetulan, aku juga lagi cari istri..." ucap Bayu. Bara langsung menjauhkan telinganya dan menyentil tangan Bayu kemudian menunjuk jam di pergelangan tangannya.


"Buruaaaaan.." Bara mengatakan itu hanya dengan mimik mulutnya.


Bara mendengus kesal memandang Bayu.


"Oya Mbak Tini... Mbak Dijah juga di rumah?" tanya Bayu. Bara kembali mendekatkan telinganya ke ponsel. Hatinya sedikit bahagia Dijah tak lagi menjadi SPG. Tapi ia juga penasaran apa yang dilakukan wanita itu sekarang untuk mencari nafkah.


"Dijah pergi kerja ke cafe lagi. Itu cafe yang di seberang mall. Deretan ruko-ruko itu. Ada banner lampu warna merah, Cafe Gesek namanya. Aku juga mau kerja di sana. Nanti kalau kamu niat nyari aku, bisa ke sana aja," tambah Tini.


Bara menegakkan tubuhnya. Wajahnya terlihat serius dan kecewa. Dijah kembali kerja menjadi pelayan cafe. Demi selembar lima puluh ribu, wanita yang disayanginya itu akan kembali mengantarkan minuman pada bermacam-macam pria di sana.


Malam semakin larut, Bara menyambar sebuah amplop berisi foto yang sudah selesai dicetak dan berlari menuju mobilnya.


Tidak. Dijah tak boleh lagi masuk ke sana. Demi apapun di dunia ini, ia memang menyayangi Dijah setulus hati. Tak ada sedikitpun ia berniat memanfaatkan wanita itu. Meskipun memang... Ia sangat menikmati waktu-waktu bercinta mereka.


Dijah mengalihkan semua dunianya. Sebentar lagi ia akan wisuda kedua kali. Magisternya selesai. Ia telah berhasil menunaikan janji pada orang tuanya.


Urusan Fredy sudah berada di tahap akhir, beberapa hari ke depan, AKBP Heryadi sudah mengabarinya bahwa lusa akan melakukan penggerebekan ke gudang tempat di mana Fredy berada. Sudah hampir selesai. Dijah harus bisa menunggunya.


Dengan kecepatan tinggi Bara mengemudikan mobilnya menuju cafe yang dimaksud Tini.


Cafe itu terletak di antara jajaran ruko yang gelap. Kalau saja Tini tak memberitahu bahwa ada sebuah cafe di antara pintu-pintu ruko yang seolah selalu tertutup itu, Bara tak akan pernah mengetahui keberadaannya.


Setelah memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari pintu cafe, Bara menuju pintu tempat beberapa orang terlihat keluar masuk.


Bara melangkah masuk dan di dalam keremangan lampu yang berkedip-kedip memusingkan kepala, matanya sibuk mencari sosok Dijah. Cafe itu tak besar, dan harusnya Bara tak kesulitan menerima Dijah.


"Jah!" panggil Bara memegang lengan Dijah yang sedang melintas dari arah belakangnya. Wanita itu sedang membawa nampan berisi empat botol bir kecil dengan gelas-gelas berisi es batu.


"Ngapain di sini?" tanya Dijah terkejut.


"Jangan kerja di sini lagi Dijah, aku nggak rela kamu ke sini lagi. Tolong dengerin aku dulu," sergah Bara dengan sedikit berteriak mengimbangi suara musik remix.

__ADS_1


"Pergi sana! Aku lagi kerja!" seru Dijah mengedikkan lengannya. Bara melepaskan lengan itu agar Dijah pergi mengantarkan minuman itu dulu. Dari kejauhan ia mengamati bagaimana pria-pria di meja itu memandang Dijah. Bara begitu muak melihatnya.


"Jah, denger aku dulu. Aku mau ngomong. Ayo keluar sebentar. Aku gak suka Jah... Jangan kerja begini," tukas Bara.


Dijah mengikuti Bara yang menggandeng lengannya menuju pintu. Ia sedikit mengangguk pada mami pemilik cafe yang sedang duduk dan sejak tadi mengamatinya.


"Kamu ini tau apa sih? Memangnya sudah pernah beli beras yang hampir seperempatnya berisi batu dan padi? Pernah mulung gelas air mineral cuma untuk beli permen anak? Enggak, 'kan? Kalo nggak pernah, nggak usah ngasi ceramah soal kerjaan aku. Yang penting aku nggak pernah gedor pintu tetangga sambil bawa piring buat minta nasi."


Air matanya sudah tumpah. Dijah marah dan malu pada Bara. Kemarahan itu tumpah seketika. Kenapa Bara sulit sekali memahaminya. Kenapa Bara harus datang ke sana dan melihatnya dalam keadaan seperti itu. Ia sedang mengenakan celemek merah bertuliskan merek bir yang sudah pudar warnanya.


"Kamu nggak usah cari aku lagi. Aku udah bilang, aku nggak bisa Bara..." isak Dijah. "Bukan cuma soal Fredy. Hubungan kita nggak akan bisa lebih dari yang udah kita lakuin. Hidup ini bukan hanya soal cinta. Tapi soal membahagiakan orang-orang yang kamu sayangi. Ingat orang tuamu."


Bara terkejut melihat reaksi Dijah yang terlihat sangat marah sampai menangis dan menghentakkan kakinya.


Bara melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Dijah dan melepaskan wanita itu untuk kembali masuk ke sebuah cafe remang-remang yang sedang memutar musik remix memekakkan telinga dengan sound system murahan.


Bara menghela nafas keras. Mau marah pun ia tak bisa. Dijah bukan siapa-siapanya. Cuma seorang janda beranak satu yang ditemuinya di Kantor Polisi usai menerima kekerasan dari mantan suaminya.


Setidaknya, Dijah pasti ingin ia bisa berpikiran seperti itu sekarang.


Andai saja semudah itu Jah, batin Bara. Andai saja aku bisa semudah itu mengabaikan kamu. Mungkin hatiku tak akan sesakit ini.


Bara mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin sampai telapaknya terasa sakit karena kuku-kukunya.


Musik remix terus mengalun dari dalam cafe.


Mengapa kau pergi?


Mengapa kau pergi?


Di saat aku mulai mencintaimu


Berharap engkau jadi kekasih hatiku


Malah kau pergi jauh dari hidupku


Menyendiri lagi


Menyendiri lagi


Di saat kau tinggalkan diriku pergi


Tak pernah ada yang menghiasi hariku


Di saat aku terbangun dari tidurku


Aku inginkan dirimu


Datang dan temui aku


'Kan ku katakan padamu


Aku sangat mencintai dirimu


Aku inginkan dirimu


Datang dan temui aku


'Kan ku katakan padamu


Aku sangat mencinta


(Di saat aku mencintaimu - Dadali - Breakbeat Remix 2018)


To Be Continued.....

__ADS_1


Besok tanggal satu, yang punya simpanan vote vouchernya boleh vote enjus ya... Masuk hitungan hadiah bulan baru.


Makasi yang udah vote, Mauliate Godang.


__ADS_2