PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
106. Gedung Gonggong


__ADS_3

“Kalo sepintas ngeliat Gedung Gonggong ini jadi keinget Keong Mas di TMII, 'kan?” tanya Heru dari kursi depan mobil.


 


“Hah? Keong mas?” tanya Tini yang duduk di belakang supir.


 


“Iya, teater Keong Mas Tini ... Bukan Keong mas di sawah yang biasa kau makan,” tukas Mak Robin.


 


“Ooh...” sambung Tini seraya menoleh ke arah Gedung Gonggong yang sekarang menjadi icon kota Tanjung Pinang. Sejak diresmikan tahun 2016, gedung itu semakin ramai dikunjungi baik oleh penduduk setempat atau pendatang seperti mereka.


 


Gedung itu terletak di bibir pantai, dekat dengan pelabuhan. Sebelum kapal merapat ke pelabuhan tadi, mereka sudah bisa melihat penampakan Gedung Gonggong dari kejauhan.


 



 


“Gonggong itu hewan laut khas Tanjung Pinang, sejenis siput. Letak serunya makan gonggong itu waktu narik dari cangkangnya. Aduh enak banget ...” ujar Bara. “Makan seafood deket dari sumbernya emang beda sih,” tambah Bara dari kursi belakang Tini.


 


“Tempat makan kita kemarin di mana Ra? Aku lupa,” ujar Heru.


 


“Kampung Bulang Laut. Makan dengan pemandangan sungai Carang,” jawab Bara.


 


“Oh iya, entar kalo sempet, sebelum pulang kita mampir ke sana lagi.”


 


Mobil mulai mendaki melewati kontur jalanan tanjung pinang yang naik turun berkelok-kelok. Jalanan di sana sangat bersih dengan parit-parit dalam yang bahkan tak terlihat airnya di daerah yang berstruktur tanah tinggi.


 


“Buat yang belum tau, Tanjung Pinang ini ibukota Provinsi Kepulauan Riau ya ... Provinsi ke 34 di Indonesia yang baru ditetapkan tahun 2002. Kenapa dinamakan kepulauan, karena memang terdiri dari gugusan beberapa pulau. Hari ini kita gak mampir di kota ini, karena besok Kang Mas Bara bakal menghadiri seminar. Jadi kita langsung menuju ke Lagoi ya ...” Heru masih menikmati perannya sebagai tour guide yang menunjuk dan menjelaskan nama tempat dan sejarah singkatnya.


 


Lagoi adalah salah satu kawasan wisata populer di kalangan turis Singapura dan Malaysia. Buat yang belum tahu, dulu Bintan menerima transaksi uang dollar karena kebanyakan yang datang adalah turis.


 


Selain di Bali, Lombok dan Sumba, pulau Bintan juga tempat di mana daftar resor terbaik berada.


 


Event Seminar Pers Nasional akan diadakan di Club Med Bintan Resorts. Perjalanan dari Tanjung Pinang memakan waktu hampir 50 menit ke resor itu. Dan setelah melewati jajaran pantai yang menghampar di sebelah kanan mereka, mobil memasuki kawasan yang rimbun akan pepohonan.


 


Beberapa saat mobil berkelok-kelok mengikuti jalanan yang terlihat berbeda dari daerah yang mereka lewati tadi, akhirnya mobil memasuki gerbang penanda telah tiba di tujuan.


 


Saat memasuki kawasan Lagoi yang berada di Utara pulau Bintan, pengunjung seolah diajak memasuki daerah yang berbeda. Langit telah gelap dan lampu-lampu kuning yang diletakkan di pepohonan sepanjang jalan telah menyala.



 


Mereka tiba di Club Med pukul tujuh malam. Bara dan Heru turun lebih dulu dan dua orang bellboy menghampiri mobil untuk menurunkan bawaan.


 


“Ayo Dul, kita udah nyampe. Ngantuk yah? Entar mandi, makan baru tidur ya ... Besok bisa main di pantai.” Bara menurunkan Dul yang sudah terkantuk-kantuk. Dijah ikut menggandeng anaknya dan mengikuti langkah Bara yang masuk ke lobby hotel.


 


“Ini beneran udah nyampe, 'kan? Gak ada harus naik apa-apa lagi? Aku jadi curigaan sekarang.” Tini turun dari mobil dengan menenteng sepatunya.


 


“Udah aman Mbak Tini ...” sahut Bayu yang tiba-tiba telah berada di sebelah Tini. “Mau saya bantu bawain?” Bayu memandang sepatu Tini.


 

__ADS_1


“Gak usah, pingsan nanti kamu.” Tini kemudian mencampakkan sepatunya di dekat teras lobby dan duduk di tangga memakai sepatunya.


 


Awal dulu Bayu mendekatinya, Tini hanya menganggap itu sebagai hiburan semata. Disukai seseorang, pertanda ia masih ‘dipandang’ sebagai seorang perempuan. Tapi ketika Bayu terlihat serius, hal itu malah membuatnya risih. Bayu bukan tipenya. Bagi Tini, Bayu seperti adik laki-lakinya di kampung yang suka meminta uang demi mengencani hampir semua gadis dengan modal sebuah motor bebek.


 


“Oke, semua udah di sini, 'kan?” Heru memandang semua orang dalam rombongan yang berdiri di lobby dengan wajah lusuh.


 


“Ra, ini kunci kamarmu.” Heru menyerahkan dua kunci kamar pada Bara. “Yang ini Mak Robin dan anaknya. Trus ini Tini, Asti dan Boy. Dan yang terakhir saya dan Bayu.” Heru mengangguk puas setelah memastikan semua orang menerima kunci kamar.


 


Tini sudah kembali membuka ikatan dress-nya dan mulai berfoto-foto bersama Asti di setiap sudut hotel.


 


“Ayo ke kamar,” ajak Tini pada Asti dan Boy. “Jadi kapan kita ngomong dengan Bayu? Jangan lama-lama. Aku risih,” ucap Tini ketika mereka bertiga beriringan di jalan setapak menuju kamar mereka.


 


“Sabar Mbak ... Kita baru nyampe. Semua masih capek, besok kalo udah santai, kita ajak Mas Bayu ngomong.” Asti menoleh kanan-kiri khawatir omongannya ada yang mendengar.


 


Antara lobby hotel dan jajaran kamar terletak cukup jauh. Mereka harus melewati jalan setapak cantik yang sekelilingnya dipenuhi tanaman hijau dan lampu taman berwarna kuning temaram.


 


“Kalimat pembukanya gimana?” tanya Boy. “Kalian berdua aja yang ngomong. Atau kamu duluan Tin, nanti Asti nyusul minta maafnya.” Mereka bertiga melambatkan langkah.


 


“Aku duluan? Emoh ah! Gak mau! Sama-sama aja. Aku dan Asti. Kamu ikut sebagai bantuan Boy! Kamu bantu ngomong,” tukas Tini.


 


“Mulutmu itu kalo ngatain sama gombalin orang nomor satu. Giliran ngomong gitu, berantem sama orang, pasti minta bantuan.” Boy mendengus memandang Tini.


 


“Jadi aku harus gimana? Bales pesannya Bayu pake hapeku, tapi yang bales pesan Asti, kamu juga tau. Jadi kita harus sama-sama ngomongnya.” Tini memandang serius pada dua orang temannya. “Biar si Bayu gak terus-terusan ngajak aku ngomong aneh. Aku gak ngerti,” seru Tini tertahan.


 


 


“Mampus ...” gumam Tini belum berani menoleh ke belakang. Asti dan Boy juga belum berani menoleh.


 


“Mas Heru sekamar ama Bayu,” desis Boy.


 


“Di belakang mungkin Bayu udah denger apa yang kita omongi,” bisik Asti.


 


“Jadi kita harus gimana?” tanya Tini juga dalam bisikan.


 


“Setidaknya pastikan siapa aja yang di belakang,” ujar Boy.


 


Ketiganya serentak menoleh perlahan ke belakang. Mata mereka menangkap Bayu yang berdiri dengan wajah pias menatap mereka bergantian. Heru melontarkan senyum janggal yang tak biasa.


 


“Belum pada ke kamar?” tanya Heru berbasa-basi.


 


“Belum,” sahut Tini, Asti dan Boy hampir bersamaan.


 


“Trus?” bisik Asti.


 

__ADS_1


“Lari,” ujar Tini kemudian berbalik dan lari terbirit-birit menuju kamar mereka.


 


“Tini kurang ajar!” pekik Boy kemudian berbalik menyusul Tini.


 


“Maaf Mas—Maaf Mas ....” Asti sedikit menunduk ke arah Bayu kemudian berbalik dan ikut berlari menyusul teman-temannya.


 


Bayu berdiri mematung. Telinganya tak mungkin salah mendengar perkataan tiga orang di depannya barusan. Pekatnya malam malah membantu menguak sesuatu yang tak terlihat selama ini olehnya.


 


“Udah malem, semua udah capek. Kita istirahat dulu. Besok pasti mereka ngajak kamu bicara. Kamu tadi udah denger sendiri. Yuk ....” Heru merangkul bahu Bayu kemudian berbelok ke arah kiri tempat di mana kamar mereka berada.


 


Sementara itu di kejauhan.


 


“Tin! Udah! Tini!” panggil Boy pada Tini yang masih tunggang langgang.


 


“Mbak Tini!” seru Asti. Tini menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


 


“Udah aman?” tanya Tini dengan nafas terengah-engah.


 


“Udah! Kita udah kejauhan malah. Kamar kita di mana?” tanya Boy merogoh kantong celananya mencari kunci kamar.


 


“Emang ini di mana? Kayaknya gak ada kamar di sini. Yang keliatan cuma laut.” Tini memandang tepi pantai yang gelap. Suara deburan ombak terdengar memenuhi telinga mereka.


 


“Kita udah kejauhan dari kamar. Tapi karena udah nyampe di sini, kita duduk dulu. Pantainya bagus,” ajak Asti.


 


“Iya, udah telanjur. Udah kejadian, gak ada yang bisa kita bikin selain menghadapi.” Tini terdengar bijaksana. Ia kemudian melepaskan sepatunya dan mengubur kakinya dengan pasir halus.


 


“Menghadapi ...” gumam Boy. “Kamu yang duluan lari tadi,” tambah Boy.


 


“Aku cuma perlu pemanasan Boy,” kilah Tini.


Mereka bertiga meletakkan bawaan di tangan kemudian berlarian di bibir pantai. Melompati ombak yang datang menyapu tepian untuk menghapus jejak kaki mereka di pasir.


"Semoga kata maaf kita ke mas Bayu kayak ombak yang bisa ngilangin jejak di pasir ini ya Mbak ..." kata Asti seraya kembali membenamkan kakinya di pasir basah.



To Be Continued.....


Edisi weekend ya, selamat berlibur bagi yang sedang liburan. Buat yang belum baca Cinta Winarsih, dibaca dulu ya... Enjuss punya genre romkom untuk memenuhi janji untuk membagi kisah Genk Duda Akut nantinya. Bukan novel panjang tapi juskelapa menjanjikan kisah mereka pasti akan menghibur :*


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2