
“Dul Mas... Kasian Dul....” Dijah masih terus menangis. Agak menyesal Bara mengatakan hal itu pada istrinya tadi. Dijah sedang hamil. Mengatasi dirinya sendiri saja, istrinya masih sulit. Kalau saja ayahnya tahu kebodohan apa yang baru saja dilakukannya. Bara menghela napas masih memeluk Dijah dan menciumi kepala wanita itu.
“Jangan nangis... Harusnya aku memang nggak ngomong hal itu sekarang. Dan harusnya, aku nggak usah ngomongin itu lagi.” Bara mengeratkan pelukannya. “Mas minta maaf...”
Dijah memeluk pinggang suaminya. Mencengkeram erat kaos yang dikenakan pria itu hingga kusut di genggamannya. Ingatannya akan Dul bayi kembali mengawang.
“Dijah... Kamu harus cepat sehat. Bayi kecil ini nggak ada ibunya. Kamu mau bantu saya rawat bayi ini?” Tangan Bu Widya mengulurkan sebuntalan kecil bayi kurus yang tangisnya mencicit. Setiap mulutnya terbuka, bayi kecil itu bahkan tak sanggup mengeluarkan suara.
“Anak siapa ini? Kurus,” gumamnya waktu itu.
“Nggak minum susu ibunya. Dikasi susu formula aja.”
“Bayi ini dibuang orangtuanya ya?” tanya Dijah lagi.
“Nggak juga. Tapi kalau kamu mau merawatnya, saya kasi untuk kamu. Kamu mau?” tanya Bu Widya lagi. Dijah mengangguk.
Dan beberapa hari ke depan saat itu, ia seperti bermain boneka hidup. Mengganti popok bayi yang diberi yayasan. Dan membuat susu formula murah untuk diminumkan. Bayi kurus itu hanya diletakkan di atas kasur tipis di depan televisi. Ia berjongkok dan memandangi seperti melihat anak kucing yang baru lahir.
Sampai suatu malam ketika ia terbangun dari tidurnya setelah bermimpi panjang. Dijah duduk dan menangis. Merangkak mendatangi Dul yang menggeliat di dalam selimut tipisnya yang tersingkap. Ia menangis tak henti-henti. Bayi itu ternyata anak yang dilahirkannya. Dari pria yang paling dibencinya di dunia ini.
Sempat terpikir untuk mati bersama-sama bayi itu. Bayi yang dikasihani sekaligus dibencinya. Dijah kembali menangis. Duduk menekuk lututnya semalaman sambil memandangi Dul yang kehausan tapi tak sanggup bersuara. Hingga akhirnya ia bangkit menuju dapur dan membuat sebotol susu kecil untuk disodorkan pada mulut kecil Dul yang membuka tak berdaya.
Malam itu, Dijah yang berusia hampir 19 tahun menyadari. Ia memiliki seorang anak. Anak laki-laki yang hak pengasuhan penuhnya jatuh pada Dijah. Bapak biologisnya sedang dipenjara. Dul yang malang, ia yang malang.
“Dul itu ternyata anakku Mas,” ucap Dijah tiba-tiba. Tangisnya terhenti dan masih dengan sesegukan ia mengangkat wajah untuk memandang Bara.
Bara mengernyit aneh dengan hal yang baru saja diucapkan istrinya. Ia semakin mengutuk di dalam hati. Harusnya ia tak merusak malam ini dengan pertanyaan tadi. Dijah perlahan pulih dan bisa segera kembali ke rumah. Tapi sekarang omongan Dijah melantur. Apa yang sedang dipikirkan istrinya tadi, tanya Bara dalam hati. Isi kepala Dijah selalu menjadi misteri baginya.
“Iya, memang Dul anak kamu. Anak aku juga. Aku mau cerita soal aku sendiri. Mau denger?” tanya Bara. Dijah mengerjap dengan ekspresi wajah datar tapi Bara tahu kalau istrinya itu sedang menunggu perkataannya.
Bara ingin cepat-cepat mengalihkan topik pikiran berat itu dari kepala istrinya. “Mau denger gak?” ulang Bara lagi seraya menarik selimut sampai menutupi pinggang istrinya.
Dijah kembali mengerjap. Sorot matanya sudah hampir menyerupai Dijah yang biasa dikenalnya. “Apa itu?” tanya Dijah.
__ADS_1
“Aku mau cerita tentang mantan pacarku. Boleh?” tanya Bara. Dijah sedikit menarik tangannya yang tadi melingkari pinggang Bara.
“Kok langsung diambil tangannya. Gak boleh" -- Bara menahan tangan istrinya-- "cemburu ya?” goda Bara.
Dijah melengkungkan bibirnya demi menarik senyum yang dipaksakan. Ia kemudian menggeleng. “Nggak kok, ngapain cemburu.”
“Ya udah, bagus kalo gak cemburu. Aku cuma mau cerita. Kalo aku pernah diputusin dua kali, dengan perempuan yang sama. Tapi anehnya, setelah aku diputusin, perempuan itu malah datengin kantorku. Gak masuk sih... Tapi cuma ngintip-ngintip dari warung seberang. Kayaknya dia kangen, tapi gengsi. Jadi aku bantu dia—” Ucapan Bara terhenti untuk menilik ekspresi Dijah yang kemudian mengerucutkan bibirnya. Dijah menyadari kalau Bara sedang membicarakannya sekarang.
“Itu aku ya?” tanya Dijah.
“Hah? Emang kamu ada mutusin aku dua kali? Datengin aku ke kantor? Emang ada?” Bara menahan senyumnya.
“Iya, itu pasti aku. Mas tau rupanya. Mas tau aku dateng ke sana? Mas tau makanya Mas ngobrol berlama-lama dengan satpam kantor itu. Iya kan?” tanya Dijah.
“Kenapa gak telfon aja? Aku pasti dateng,” ucap Bara mengusap pipi istrinya.
“Aku kangen. Sehari sebelumnya kakak perempuan yang pernah gelut denganku di halaman kos-kosan dateng untuk menghajar aku. Aku kena pukul. Meski aku menang pada akhirnya. Aku tetep ngerasa kalah hari itu. Dalam pertengkaran, sebenarnya nggak ada yang menang atau kalah. Di hati kedua pihak selalu tersisa perasaan nggak enak. Entah itu kemarahan atau kesedihan.”
“Nggak luka”—Dijah meletakkan telapak tangan kirinya yang dipasangi infus di pipi Bara—“untung Mas berdiri lama di pos satpam. Aku jadi nggak ngerasa sia-sia pergi ke sana. Meski awalnya aku ragu.”
“Aku mau datengin ke warung itu. Tapi aku takut kamu marah. Kalo kamu marah, kamu bisa bener-bener ninggalin aku.”
“Tapi aku memang udah bener-bener ninggalin Mas waktu itu. Aku nggak mau lagi. Takut aku,” lirih Dijah.
“Iya, gak apa-apa. Yang penting sekarang udah jadi istriku.” Bara kembali memeluk istrinya. Syukurlah tatapan Dijah sudah kembali seperti tadi. Raut merajuknya kembali kekanakan.
“Aku pengen disuapin Jah, boleh?” tanya Bara. “Kita duduk di sofa aja. Aku lagi pengen dimanja,” ujar Bara kemudian bangkit meraih tubuh Dijah untuk duduk.
“Ayo, aku suapin makan. Udah kemaleman sebenarnya. Tapi kalau masuk angin nanti, malah aku yang repot,” omel Dijah.
Bara tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dalam hati ia selalu mendoakan keadaan istrinya itu cepat pulih. Ia sudah lama tidak bercinta. Tidur hanya dengan meraba tiap bagian tubuh Dijah membuatnya tersiksa.
__ADS_1
“Besok aku ajukan permohonan pulang ya? Mau? Kita liat Dul...” Bara memandang lekat wajah istrinya.
“Iya Mas... Aku kangen Dul,” sahut Dijah mulai membuka plastik wrapping yang menutup isi nampan.
*****
“Kok nggak bisa sih? Aduuuh... Gimana caranya?” Bu Yanti bersungut-sungut sambil memegang penyemprot tanaman yang tersambung dengan kran.
Dul duduk di lantai teras dengan replika helikopter yang baru jadi setengah. Ia memperhatikan Bu Yanti yang masih mengetuk-ngetuk ujung penyemprot ke sebuah batu di tengah taman.
“Kenapa? Rusak?” tanya Pak Wirya yang pagi itu baru muncul dari dalam.
“Iya, nggak tau kenapa ngadat.”
“Coba ayah liat.” Pak Wirya mengambil penyemprot itu dan terlihat mengotak-atiknya sebentar. “Memang rusak ini. Gak bisa dipake,” ucap Pak Wirya menoleh ke arah Dul yang memandang mereka mengernyit.
“Rusak?” tanya Dul. Pak Wirya cemberut dan mengangguk. “Mau bantu liat?” tawar Pak Wirya kemudian pada Dul.
Dul meletakkan mainannya dan meraih penyemprot yang disodorkan padanya. Bocah itu mengarahkan penyemprot ke sebaris tanaman dan menekan pegangannya. Air yang deras menyembur seketika.
“Nah! Aku yang pegang ternyata nggak rusak Kung! Udah bisa!” pekik Dul kemudian menyirami sepetak taman di depan teras.
“Waaahhh... Keren. Berbakat ternyata. Jago benerin sesuatu persis kayak ayah Bara dulu.” Pak Wirya mengangkat alisnya memandang Bu Yanti.
“Jadi kayak gitu?” bisik Bu Yanti pada suaminya. Mereka sedang mengamati Dul yang asyik menyirami tanaman.
“Iya, kayak gitu. Dia harus merasa dibutuhkan dan terlibat di rumah.” Pak Wirya mengangguk puas.
“Tapi nggak kayak ayah Bara juga. Apa yang dulu dibenerin Bara? Yang ada motornya pernah habis dipreteli,” omel Bu Yanti.
Pak Wirya terkekeh-kekeh mendengar ucapan istrinya.
To Be Continued.....
__ADS_1