
“Dijaaaahhh ... Aih makjang, rindu kali aku. Seminggu kawin langsung ilang kau dari peredaran.” Mak Robin yang baru keluar dari kamarnya dengan lilitan handuk di kepala langsung berteriak begitu melihat kedatangan Dijah.
“Halah ... gombalmu Mak,” sahut Dijah tertawa kecil mendekati pintu kamar Mak Robin.
“Apa cerita?” tanya Mak Robin.
“Mau ngambil sisa bajuku dikit lagi. Isi kamar lainnya nanti aku kasi Asti dan Boy aja,” ujar Dijah.
“Pemasak nasimu untuk aku ya ... Punyaku rusak kemarin. Aku sekarang masih pengangguran. Jadi layak dikasihani,” sahut Tini keluar dari kamarnya. “Naik apa kamu?” tanya Tini.
“Naik taksi,” jawab Dijah.
“Enaknya punya suami ...” ratap Tini mendengar jawaban Dijah.
“Suami yang ada kerjanya. Punya suami aja kalo gak kerja karena malas, mending dimatikan.” Mak Robin menarik kursi plastik dan duduk di bawah jendela kamarnya.
Tini melengos mendengar jawaban Mak Robin. “Jadi mau didandani nggak? Katanya Bapak Robin mau pulang, kamu mau cantik.” Tini menendang kaki kursi Mak Robin.
“Eh, Bapak Robin mau pulang toh?” tanya Dijah ikut menyeret sebuah kursi dan mendudukinya.
“Iya, katanya siang nanti nyampe. Makanya aku mau berdandan.” Mak Robin melepas handuknya dan mulai mengeringkan rambutnya.
“Langsung dikelon Mak, Robin kamu kasi obat tidur aja. Biar aliran Bapak Robin langsung lancar. Sudah kelamaan nggak nganu-nganu bisa aja udah tersumbat.”
“Gak ada kurasa otak kau Tini! Sekalian aja kau suruh aku buang anakku! Kau ajalah yang jaga sebentar. Nanti pura-pura kau ajak jajan ke mini market dekat jalan raya. Kukasi uangnya. Cemana?” tanya Mak Robin pada Tini. Dijah ikut menoleh pada Tini menunggu jawaban.
“Mini market deket jalan raya? Terlalu deket itu. Nanti aku bawa jajan ke mini market di luar kota. Biar kamu kelonan bisa lama,” sahut Tini. Dijah tertawa terbahak-bahak seraya mendorong tubuh Tini sampai wanita itu bergeser beberapa langkah.
“Wuih, senengnya ya ketawa kamu. Kayaknya aku nggak selucu itu. Pasti kamu lagi mikir, untung ada Mbok Jum yang jaga Dul. Jadi kamu kelonan terus nggak diganggu. Ngaku kamu!” sergah Tini pada Dijah. Dijah masih tertawa. “Kepala kalian itu transparan buatku. Keliatan isinya apa.” Tini kemudian ikut menghempaskan tubuhnya di kursi.
“Asti dan Boy mana? Asti kuliah?” tanya Dijah seraya melirik pintu kamar penghuni seberang yang tertutup.
“Asti lagi libur selesai semesteran. Boy giliran dapet day-off. Aku masukin lamaran ke kantor Boy, belum dapet panggilan. Padahal kalau kerja jadi SPG kosmetik di mall, derajatku bisa naik dikit,” ujar Tini.
“Kau tau diri aja Tini. Sebelum orang yang ngasi tau alasannya, mending kau tau diri. SPG kosmetik di mall itu, tinggi, langsing, kulit mukanya mulus. Apalagi produk perusahaan si Boy. Kosmetik luar negeri. Dia bisa kerja di sana juga karena mukanya mulus. Kalah muka kita. Jadi udahlah! Jangan kau bahas lagi itu. Pening kepalaku tiap hari itu-itu aja. Ngelamar tempat lain aja.” Mak Robin menyambit Tini dengan handuk yang berada di tangannya.
“Jadi mereka ke mana?” tanya Dijah.
“Ke warung nasi. Sebentar lagi mungkin balik ke sini. Hapeku juga masih dipegang Asti. Dia asik balesin pesan si Bayu.”
“Itu serius dilanjut?” tanya Dijah. Tini mengangguk. “Kasian Bayu,” gumam Dijah kemudian.
“Kamu nggak kasian temenmu sendiri? Nggak kasian aku Jah? Aku perlu pasangan yang sepadan. Bukan anak kemarin sore yang kecil itu.” Tini mengarahkan sebuah tendangan ke kaki Dijah, namun sasarannya ternyata lebih gesit karena berhasil menggeser kakinya.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kecil, yang penting cepat kayak jarum jahit mesin. Kamu kan pernah bilang,” ujar Dijah.
“Oh, punya Mas-mu kecil makanya kamu memaklumi?” sinis Tini pada Dijah.
“Oh jelas enggak kalo itu. Aku cuma menjaga perasaan kamu aja, makanya nggak mau cerita macem-macem. Aku nggak mau cerita soal Mas-ku yang kuat perkasa. Aku nggak mau cerita soal Mas-ku yang romantis. Aku juga nggak mau cerita soal Mas-ku yang nggak pelit. Demi menjaga perasaan kamu—”
“Diem kampret!” maki Tini. Dijah tertawa terbahak-bahak.
“Cepat kau ambil kotak makeup-mu Tin! Udah kering rambutku. Sekalian kau catok biar rambutku nggak ngajak begadoh gini bentuknya!” Mak Robin mengacak-acak rambut ikal bertekstur kasar yang dimilikinya.
Tini bangkit kemudian masuk ke kamarnya dan kembali dengan sebuah dompet kain berisi make-upnya.
“Sini!” panggil Tini setelah kembali duduk di kursi plastik. Mak Robin turun dari kursinya dan duduk bersila menghadap Tini.
“Udah cebok kau 'kan Tin? Jangan kau racuni aku menghirup aroma dari kangkanganmu itu!” tukas Mak Robin menjejalkan handuknya ke pangkuan Tini.
“Eh Mbak Dijah!” pekik Asti yang baru tiba bersama Boy. “Udah lama? Ngambil barang yang masih tinggal ya?” tanya Asti yang langsung menuju tempat mereka duduk.
“Iya, sekalian mau nitip kunci kamar dengan Mak Robin. Siapa tau Nyai dateng nanyain kunci.”
“Mbak Dijah makin cantik ya ... Keliatan bedanya sekarang. Lebih seger,” ucap Asti.
“Duduk sini Mas Boy!” ajak Asti pada Boy yang masih berdiri di dekat mereka. Boy kemudian menyeberangi halaman untuk mengambil sebuah kursi dari depan kamarnya.
“Gimana As? Masih balesin pesannya Bayu?” tanya Dijah.
“Masih, Mas Bayu itu lucu. Dan ternyata hobinya sama denganku. Nonton pagelaran seni.” Asti terkikik-kikik mengeluarkan ponsel Tini dan menunjukkannya pada Dijah.
“Jadi kamu bales aku juga hobi nonton pagelaran seni?” tanya Tini. Asti mengangguk. “Yang ada aku tidur ngorok sampe selesai. Masak dia percaya. Entah lugu atau bego,” sahut Tini.
“Ya udah, biar Bayu sama Asti aja. Kamu gimana?” tanya Dijah pada Tini.
“Kok nanya aku? Aku nggak masalah. Mas-mu yang maksa bilang suruh bales pesannya. Si Bayu itu ciri-cirinya kayak udah mau mati, nggak mau makan, nggak bisa tidur karena chatnya nggak dibales. Aku itung-itung bantu sesama aja,” jawab Tini.
“Mulia banget hati Tini,” ujar Boy santai. “Dijah gak bulan madu?” tanya Boy kemudian.
“Bulan madu? Ke mana?” Dijah balik bertanya.
“Ya gak tau. Aku cuma nanya, biasa kan pengantin baru itu ada bulan madu,” tambah Boy.
“Mas-ku aja kayaknya masih sibuk. Kemarin cuma dua hari libur trus langsung masuk kerja. Pulangnya malem terus. Ngurusin apa gitu, aku kurang ngerti. Kadang dia pulang aku udah tidur,” tutur Dijah.
__ADS_1
“Gak mesti malem 'kan kalau mau nganu. Subuh juga kamu pasti diremet-remet. Mas-mu masih semangat-semangatnya,” sambung Tini.
“Iya sih, kemarin siang pulang ke rumah ngambil berkas ketinggalan katanya. Tapi manggil aku masuk ke kamar. Matahari lagi tinggi-tingginya tapi—” Dijah menghentikan omongannya karena teringat akan Asti yang mengerjapkan mata mendengar ucapannya barusan. “Ada anak kecil rupanya. Aku baru inget,” ucap Dijah.
“Yaaahh ... Aku juga mau denger.” Asti kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Padahal ia tadi sudah mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menyimak cerita Dijah.
“Denger kayak gitu semangat banget!” tukas Tini pada Asti. “Makanya kalau pacaran itu jangan cuma salim-salim tangan. Kayak peresmian gedung aja,” tambah Tini tertawa.
Mak Robin yang sedang memejamkan mata sambil menajamkan telinganya mendengar percakapan, harus bersabar hingga tawa ejekan Tini pada Asti selesai.
“Jadi gimana ngasi tau ke Mas Bayu nih? Entar kalo ketauan, kita harus minta maaf semua.” Boy memandang teman-temannya berkeliling.
“Itu gimana nanti aja. Nggak usah dipikirin seka—rang...” Perkataan Tini tak selesai. Ia yang duduk menghadap ke arah pagar tiba-tiba terdiam.
“Ternyata nggak cuma sinyal sama pesawat aja yang bisa delay. Ternyata dukun juga,” ucap Tini tiba-tiba.
“Kenapa??” tanya Asti, Boy dan Dijah nyaris serempak.
“Itu! Liat siapa yang baru nyampe di pagar. Yudi Prayetno. Aku dukunin dia sebulan yang lalu, tapi baru hari ini datengnya. Efek dukunnya juga delay,” tukas Tini memandang pintu pagar.
Serentak ketiga orang lainnya langsung menoleh melihat ke arah seorang pria yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh kos-kosan kemudian memaku matanya pada mereka semua.
Mak Robin yang ingin ikut menoleh, kepalanya tertahan oleh tangan Tini.
“Dia senyum ke aku Jah ...” bisik Tini.
“Iya ...” jawab Dijah juga dalam bisikan.
“Padahal aku nggak pake alis dan bulumata. Apakah ini pertanda jodohku udah deket Mak?” tanya Tini.
“Bisa jadi—bisa jadi,” sahut Mak Robin. “Kekmana kalo kau lepaskan kepalaku dulu Tin! Mau kutengok muka si Yudi itu,” tambah Mak Robin.
“Oh silakan ...” gumam Tini lembut. “Silakan diliat calon bapak anak-anakku,” bisik Tini. Ia melepaskan kepala Mak Robin agar bisa menoleh.
"Aku langsung bayangi kumisnya ke mana-mana," bisik Tini.
"Ke mana emangnya Mbak?" tanya Asti.
"Ke mana maunya aja," jawab Dijah meringis ikut membayangkan suaminya.
Yudi Prayetno yang berkumis tebal seperti Adam Suseno berjalan perlahan mendekati mereka. Di tangannya tergenggam sebuah plastik berisi buah tangan untuk wanita yang akan dikunjunginya. Plastik itu bertuliskan UD. Sumber Rejeki. Sepertinya Mas Yudi Prayetno kembali berniat berbagi pakaian dalam produk tokonya sendiri.
To Be Continued.....
__ADS_1