PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
151. Anak Ayah


__ADS_3

Sudah 24 jam setelah Dijah melahirkan putrinya. Kedua istri kakangnya datang berkunjung pagi menjelang siang. Dijah sedikit terperangah melihat dua orang kakak iparnya itu kembali kompak sejak hampir setahun yang lalu Kang Supri mengatakan sedang tak akur dengan adik laki-lakinya.


Kedua wanita itu datang dengan dua jinjing rantang berisi masakan rumah. Pakaian mereka sopan dan rapi. Bahkan istri Kang Supri memakai sepasang sandal yang tali sintetisnya masih berkilap. Seolah sandal itu dibeli memang untuk pergi menjenguknya.


“Cantik ya Jah,” ucap istri Kang Supri yang membuka kelambu putih penutup Mima yang sedang tidur di dalam box-nya.


“Nggak mirip Dijah Yuk....”


“Ya mirip bapaknya,” sahut istri Kang Supri. Kemudian serentak kedua wanita itu menoleh pada Bara yang sedang menyuapi Dijah. Bara melemparkan senyum yang paling manis ke arah dua wanita yang sedang memandang putrinya.


Dijah tertawa kemudian segera meringis memegang perut. “Masak apa Yu?” tanya Dijah memandang dua rantang di atas meja.


“Masak sederhana tapi enak. Untuk Dul dan suami kamu. Kita nggak bisa bawa apa-apa Jah... Mbakyu-mu taunya cuma masak,” jawab istri Kang Supri.


“Aku udah seneng,” sahut Dijah memandang punggung kakak iparnya yang masih menunduk menatap Mima.


Setelah bercerita langsung soal kondisi ibu mereka yang sekarang stabil di rumah sakit, kedua wanita itu pulang.


“Ada masakan rumah,” bisik Bara memandang rantang. “Aku nanti makan itu aja, kebetulan.”


Tak sampai setengah jam kedua kakak ipar Dijah pulang, Bu Yanti dan Pak Wirya tiba bersama Dul yang langsung melompat-lompat dari ambang pintu.


“Mana adikku? Kemarin cuma liat sebentar.” Dul langsung menghampiri box bayi dan berjinjit membuka kelambu putih.


“Sini—sini ayah gendong,” tukas Bara mengangkat tubuh Dul untuk menontoni bayi mungil yang sedang tidur. “Dek Mima lagi bobok, nanti kalau dia bangun ayah gendong kasi pangku ke kamu.”


Sesaat lamanya Dul berada di dalam gendongan Bara. Memandangi wajah Mima yang menyemburat merah dengan bibir mungil yang sesekali berkedut seolah sedang mimpi menyusu.


“Ini rantang dari mana Mas?” tanya Bu Yanti.


“Dari kakak-kakaknya Dijah Bu. Untuk makan siang katanya,” jawab Bara.


“Kayaknya enak, ayah bisa ikut nebeng.” Pak Wirya duduk di sofa mengambil koran. “Ibu udah ada cucu perempuan. Udah ada yang bisa dipakein baju kembaran kalau ke resepsi.” Pak Wirya terkekeh mencolek lengan Bu Yanti yang langsung membalas dengan memukul pelan kakinya.


Terdengar ketukan ringan di pintu dan seorang perawat masuk kembali menanyakan soal ASI Dijah. Sejak kemarin ASI Dijah baru keluar sedikit. Itu pun setelah perawat melakukan pijatan.


“Dedenya disusuin dulu ya... Belajar lagi kayak kemarin, biar bisa cepet nyusu langsung.” Perawat menarik penutup di sekeliling ranjang Dijah.


Bu Yanti segera berdiri mengambil Mima yang masih tertidur dalam box di dekat mereka dan membawanya masuk ke balik penutup. Perawat telah membantu Dijah memiringkan tubuh untuk mulai menyusui.

__ADS_1


Kemarin demi sebotol kecil ASI berisi kolostrum, Dijah terpaksa menggunakan pompa untuk mengeluarkan ASI-nya.


Dan pagi menjelang siang itu, dadanya kembali terasa kencang dan kaku karena produksi ASI yang meningkat. Bara mengamati bagaimana putrinya berusaha menyesap sari makanan dari Dijah yang terlihat meringis beberapa kali.


Bara sedikit malu ketika berdiri di sana tanpa melakukan apapun selain menontoni anaknya menyusu. Apalagi ibunya juga berada di sana. Kemarin saat mereka hanya berdua, ia biasa saja. Tapi rasanya berbeda ketika wanita yang melahirkannya berdiri di sana saat perawat membantu memijat dada istrinya. Apalagi beberapa kali perawat menyebut namanya agar ia juga mengerti bagaimana posisi mulut bayi yang benar agar bisa mencakup puncak dada ibunya.


“Diliat itu gimana Mas.....” Bu Yanti menegur Bara yang baru bergerak hendak mengeluarkan ponselnya untuk mengalihkan pandangan. “Nanti Mas bisa bantu di rumah. Mima perlu ASI jadi ayahnya juga harus ngasi dukungan. Ibu menyusui nggak boleh stres.” Bu Yanti mengomeli anak laki-lakinya di depan seorang perawat.


Dijah tak sempat menoleh wajah suaminya. Ia sedang sibuk menahan nyeri sekaligus antusias melihat Mima yang sudah mulai lahap menyedot ASI langsung darinya. Dadanya yang tadi terasa kaku perlahan mengendur.


Tadinya Dijah sedikit canggung melihat Bu Yanti ikut masuk untuk melihat Mima menyusu. Tapi saat melihat mulut anaknya yang terbuka saat pipinya disentuh, Dijah semakin bersemangat.


“Iya, ini ‘kan Mas ngeliat.” Bara membetulkan penutup kepala anaknya yang sedang membuka mata.


Ajaib sekali pikir Bara. Ia tak menyangka bahwa hasil percintaannya bersama Dijah bisa menghadirkan makhluk kecil cantik yang sedang berdecak-decak di puncak dada yang biasa hanya untuknya.


Seperti mengerti apa isi pikiran Bara, Bu Yanti kembali menepuk lengan anaknya. “Ngeliatnya yang bener!”


*****


Sore itu, Tini baru turun dari angkot dan menyeberangi jalan raya untuk masuk ke jalan. Beberapa meter di dekat mini market sebelum gang kos-kosan, mata Tini tertumbuk pada seorang pria paruh baya tampan. Terlihat berumur tapi tampilannya modis dan tak terlihat tua.


Pria itu berjalan dengan sebuah kresek putih hasil belanjanya di mini market. Tini berusaha melangkahkan kakinya lebar-lebar berusaha mengejar untuk menjajari.


Mata Tini berbinar saat laki-laki itu juga berbelok ke gang yang sama. Berharap bakal bertemu lagi, Tini mulai melangkah santai. Gang itu cukup panjang. Ia bisa berteriak pura-pura salah mengenali orang. Gampang saja pikirnya. Cuma berkenalan apa salahnya. Tini mencari pembenaran untuk tindakan yang akan dilakukannya nanti.


Namun ketika ia berbelok masuk ke gang, laki-laki itu lenyap dari pandangan. Tini lemas. Entah ke mana perginya bapak-bapak ganteng tadi.


Saat masuk ke halaman kos, Tini langsung menghempaskan tubuhnya di kursi plastik. Mak Robin sedang memakan cemilan sore berupa nasi komplit dengan lauk pauknya. Wanita itu selalu mengatakan yang dimakannya hanyalah berupa cemilan. Dan mereka semua semakin terbiasa melihat pemandangan akan Mak Robin yang makan 4 kali sehari.


“Tumben pulang cepet Mbak,” sapa Asti yang duduk di kursi menyandari dinding kamar Tini.


Tini yang duduk menghadap pintu kamarnya segera membuka sepatu dan meletakkan tasnya ke lantai teras.


“Nggak ada briefing sore hari ini. Kayaknya Mas Agus sedang ada keperluan,” jawab Tini menghempaskan kepalanya ke sandaran.


“Kapan kita jengukin Mbak Dijah? Lusa mungkin udah keluar dari rumah sakit,” ujar Asti.


“Nengok Dijah di mana? Di rumahnya atau di rumah sakit?” tanya Mak Robin.

__ADS_1


“Di rumah sakit aja. Dijah pasti lebih semangat,” sahut Tini. “Besok pasti udah sepi, keluarga dekat Bara nggak ada lagi yang berkunjung.”


“Kenapa? Takut kau jumpa si Heru sama istrinya?” tanya Mak Robin yang menebak tepat isi kepala Tini.


"Heru? Siapa Heru? Oiya... Heru Senin, Heru Rabu, Heru raya. Aduh!!" pekik Tini saat Mak Robin menepuk pahanya.


"Iya, besok aja jengukin mbak Dijah ya... Aku dua hari lagi wisuda." Asti menangkupkan kedua tangan di pipinya dengan bahagia.


Kemudian seperti teringat akan sesuatu, Tini menegakkan tubuhnya.


“Eh As, Mak! Tadi aku ketemu sama laki-laki ganteng. Nampak udah berumur, tapi ganteng. Keren. Masuk ke gang ini, tapi terus aku kehilangan jejak. Kalian pernah liat nggak? Kok kayaknya aku belum pernah liat bapak itu sebelumnya. Soalnya—”


KREEEKK


Pintu bekas kamar Dijah terbuka dan sesosok laki-laki setengah baya berparas ganteng muncul di pintu.


“Bapak mau mandi? Itu lurus aja ke belakang nanti belok ke kiri. Pake kamar mandi yang paling ujung aja, lebih bersih.” Asti setengah berdiri menoleh ke arah bapaknya yang baru tiba siang tadi dari kampung. Asti senang ternyata bapaknya yang sibuk itu ternyata bisa meluangkan waktu untuk menghadiri wisudanya.


Tini terperangah menatap bapak Asti yang tersenyum tipis padanya lalu pergi ke arah kamar mandi dengan handuk dikalungkan.


“Terus Mbak? Lanjutin ceritanya...” pinta Asti. “Jadi Mbak mau nyari laki-laki itu? Kira-kira baru pindah atau gimana ya?” Asti menelengkan kepalanya untuk berpikir.


Tini menggeleng lemah.


“Agak nggak enak perasaan aku,” ucap Mak Robin menatap Tini.


Tini membalas tatapan Mak Robin dengan anggukan lemah berkali-kali.


“Nah ‘kan!” seru Mak Robin berusaha menahan tawanya.


“Terus Mbak? Gak jadi cerita?” desak Asti yang sore itu haus akan bahan pembicaraan baru.


“Nggak jadi. Soalnya laki-laki itu rupanya bapakmu As...” ucap Tini.


“Ha?” Asti menoleh ke arah pojok kamar mandi tempat bapaknya baru menghilang.


Asti bergidik membayangkan akan memanggil Tini dengan sebutan ibu. Sedang Tini bergidik membayangkan Asti dan Bayu yang akan sungkeman berjongkok kepadanya saat menikah nanti.


"Aduuuhh..." ratap Asti.

__ADS_1


"Iya, enggak--enggak... aku juga merinding." Tini kembali memandang pojok kamar mandi.


To Be Continued.....


__ADS_2