PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
135. SEEMPUK SETUMPUK


__ADS_3

“Jah... Mas mau makan,” ujar Bara saat baru keluar dari kamar. Ia baru selesai mandi setelah tiba di rumah pukul 7 malam tadi.


 


“Udah selesai disiapin, sini...” panggil Dijah dari ruang makan. Dul tekun menonton film kartun di ruang keluarga. Sedangkan Mbok Jum sedang bersimpuh di lantai dengan sekotak alat menjahit, sedang memasang sebuah kancing bajunya yang terlepas.


 


“Ibu baru nelfon. Besok hari Minggu mau ngajak Dul ke resepsi pernikahan anak temannya. Gimana?” tanya Bara menarik kursi makan utama.


 


“Tapi Mas ngajak mau jenguk ibuku...” Dijah mengingatkan.


 


“Iya, pagi kita jengukin ibu, lewat tengah hari kita anter Dul ke rumah ibu satu lagi. Gimana?” Bara sedang memperhatikan tangan Dijah yang menyendokkan sayur ke piringnya.


 


“Gitu juga boleh.” Dijah menarik kursi di sisi kanan Bara dan ikut duduk.


 


“Itu Dul gak makan?” tanya Bara menoleh ke ruang keluarga.


 


“Udah makan. Dari tadi sore nanyain ayah pulang jam berapa, Dul udah laper. Jadi aku suruh makan duluan bareng Mbok Jum.”


 


“Kamu makan juga. Masih mual banget?” tanya Bara. Dijah menggeleng.


 


“Gak terlalu. Udah lebih seger,” ucap Dijah.


 


“Kalo gitu aku udah bisa dua hari sekali?” tanya Bara lagi. Dijah menoleh suaminya dengan mata menyipit. Bara tergelak kemudian mencubit gemas pipi istrinya.


 


“Dua hari sekali atau sehari dua kali...” sindir Dijah.


 


“Itu juga bagus, menambah kebugaran setiap pagi. Kerja makin semangat. Aku juga gak bakal ngelirik cewek-cewek pake baju seksi di luar sana.” Bara kembali menggoda Dijah dengan mengelus perut istrinya itu.


 


“Halah, aku juga bisa pake baju seksi. Tapi dulu disuruh tutup pakai jaket. Sekarang mau pake yang seksi-seksi, di rumah tetap pake daster. Laki-laki memang kayak gitu. Liat yang di luar seksi, lupa kalo udah dibawa ke rumah pasti ujung-ujungnya tetep pake daster.” Dijah mengisi penuh gelas Bara dengan air putih.


 


Bara terdiam. Ia merasa tersindir dengan perkataan istrinya barusan. Andai saja istrinya tahu bahwa beberapa hari yang lalu ia habiskan setengah hari bersama Heru untuk mengagumi wanita-wanita seksi di sebuah cafe. Bara tak berani memikirkan akibatnya.


 


*****


 


“Salim Mbah dulu Dul...” pinta Dijah ketika mereka baru tiba di rumah Kang Supri. Dul merangkak ke dekat mbah-nya dan menunduk untuk menyalim.


 


“Dul makin ganteng. Mbah kangen,” ucap ibu Dijah. Dul direngkuh ke dalam pelukan. Ibu Dijah sedikit terisak. “Mbah seneng liat Dul sekarang. Bersih, terawat. Sekarang Mbah kurang sehat. Sudah nggak bisa ngerawat Dul lagi.” Dul tegak kemudian memandang mbah-nya.


 


“Kalau sakit, Mbah harus berobat.” Dul berkata sambil lalu. Ibu Dijah tertawa pelan.


 


“Sudah, Mbah sudah berobat. Ngeliat Dul dateng seganteng ini aja Mbah merasa lebih sehat. Mau ke mana memangnya?” tanya ibu Dijah mengusap-usap kemeja batik Dul.

__ADS_1


 


“Mau diajak ke resepsi sama uti.” Dul ikut memandangi tangan mbah-nya.


 


Ibu Dijah melayangkan pandangan ke arah anak perempuannya seolah meminta penjelasan.


 


“Diajak ke resepsi pernikahan sama ibunya Mas Bara” jelas Dijah pada ibunya.


 


“Dul cucu tertua buat ayah-ibu,” tambah Bara lagi seraya tersenyum pada ibu mertuanya.


 


Ibu Dijah mengangguk dengan mata berbinar. “Jaga kandunganmu. Sehat-sehat,” ucap ibu Dijah.


 


Kang Supri yang didatangi adiknya hari itu tak ada di rumah. Hanya istrinya yang keluar dengan senampan teh manis hangat untuk Dijah dan keluarganya.


 


Bara menyerahkan beberapa bungkusan berisi kue dan buah-buahan untuk ibu mertuanya pada istri Kang Supri yang tak pandai berbasa-basi. Wanita itu cuma duduk diam di dekat kepala mertuanya yang berbaring di sudut ruangan dengan tilam tipis.


 


Seperti yang lalu-lalu, Dijah mengajak ibunya menginap di rumah. Membujuk wanita itu dengan lembut sampai dengan sedikit omelan. Wanita tua itu bersikukuh mengatakan akan menginap nanti saja kalau Dijah melahirkan anaknya. Dia tak mau merepotkan putri bungsunya yang juga sedang dalam kondisi kurang sehat.


 


Sebelum pukul satu siang, mobil yang dikendarai Bara telah tiba di depan rumah keluarga Wirya. Bu Yanti sudah duduk di teras berpakaian rapi dengan sebuah tas kecil di atas pangkuannya.


 


“Oh ini sudah sampai. Yah... ayo berangkat. Dul sudah datang.” Bu Yanti bangkit dari duduknya. “Ami.... Kunci pagar. Saya dan bapak mau keluar,” seru Bu Yanti ke arah pintu samping yang berbatasan langsung dengan garasi dan dapur. Asisten rumah tangga itu langsung keluar.


 


 


“Kok mesti bawa Dul?” tanya Bara.


 


“Semua temen ibu cucunya sudah besar. Kalau bawa cucu, bisa menolak ajakan pergi dari teman yang lain. Ibu jadi punya alasan yang lebih halus. Nanti pasti banyak ketemu temen, ibu lagi males ke mana-mana sebenernya.” Bu Yanti merapikan kerah kemeja Dul dan menggamit tangan bocah itu.


 


“Eh ini bajunya Dul mana? Pulangnya gerah kalau nggak ganti baju.” Bu Yanti menatap Bara tak sabar. Bara mengangkat sebuah tas ransel yang berada di tangannya. Bu Yanti setengah merampas tas itu dengan buru-buru kemudian membuka pintu mobil yang baru dikeluarkan Pak Wirya dari garasi.


 


Bara dan Dijah hanya termangu-mangu menatap kerepotan Bu Yanti dengan rok wiron dan kebaya model meraknya.


 


“Sudah?” tanya Bu Yanti pada Dul yang sudah duduk di jok tengah. Dul mengangguk dan Bu Yanti langsung menutup pintu mobil kemudian berjalan ke depan.


 


“Ayah-ibu pergi dulu!” seru Bu Yanti kemudian menghilang ke dalam mobil.


 


Dijah menatap suaminya. “Semuanya pergi, kita ke mana?” tanya Dijah.


 


“Belanja pakaian bayi?” Bara mengangkat alisnya. Dijah mengerucutkan mulutnya.


 


“Aku belum terlalu semangat. Kalau bulan depan setelah dari dokter gimana? Aku kepingin tau jenis kelaminnya dulu Mas...” tutur Dijah masih menatap Bara dengan satu tangan mengelus perutnya.

__ADS_1


 


“Ya udah, bulan depan aja kalo udah tau jenis kelaminnya. Sekarang kita ke mana?” tanya Bara menggandeng Dijah kembali ke mobil.


 


“Ketemu temen-temen aku yuk. Aku kangen mereka. Boleh?” tanya Dijah memeluk lengan kiri Bara dengan erat saat mereka di dalam mobil.


 


“Boleh. Sampai malem di sana juga boleh. Tapi—” Bara menangkup kedua tangannya di pipi Dijah dan mencium bibir istrinya dengan lama.


 


“Tapi apa?” tanya Dijah saat ciuman mereka terlepas.


 


“Aku mau yang enak ini,” sahut Bara meremas dada istrinya.


 


“Hemmm...” dengus Dijah. “Aku telfon Tini dulu kalo gitu.” Dijah mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Tini dalam daftar kontaknya. Bara masih menumpukan sikunya di sandaran jok penumpang dan menunduk untuk menciumi leher istrinya yang sedang sibuk. Tangan satunya mengelus perut Dijah yang sudah terlihat menonjol di bulan kelima. Sesekali tangan Bara naik untuk meremas dada istrinya. Dijah berkali-kali berdecak dan mengedikkan bahu karena ulah suaminya.


 


“Halo? Tin! Lagi di mana? Hari ini nggak kerja ‘kan? Aku mau ke kandang ayam.” Dijah kembali mengedikkan bahu ketika Bara mencium dan menggigit kecil lehernya.


 


“Aku lagi nggak di kandang ayam Jah, tapi lagi bantuin Boy jaga dagangan di depan mini market. Boy lagi urus pembukaan cabang baru. Sebentar lagi temen kita ada yang bakal jadi CEO. CEO roti bakar SEEMPUK SETUMPUK.” Tini tertawa terbahak-bahak.


 


“Jangan aneh-aneh namanya Tin! Dagangan temen kamu itu,” tegur Dijah karena merasa Tini mengada-ada.


 


“Lah bener! Merek roti bakar Boy memang SEEMPUK SETUMPUK. Kamu ke sini aja, nanti aku buatin gratis,” ujar Tini yang semena-mena terhadap dagangan temannya.


 


“Tumben kamu nggak keluar hari Minggu,” ucap Dijah.


 


“Mumet belom gajian. Punya duit sedikit pusing, punya duit banyak belum pernah ngerasain. Ya udah kamu ke sini aja. Tadi Boy bawa speakernya, nyuruh aku promosi pake mic. Kalau roti bakarnya nggak habis dalam sekejab, jangan panggil aku TINI SUKETI.”


 


“Ya udah, aku ke sana. Mini market dekat kandang ayam kan?” tanya Dijah. “Mas... aku merinding,” tegur Dijah pada Bara yang masih terus menggodanya.


 


“Eh! Woi! Aku bukan operator otomatis yang gak punya birahi. Mas-mu itu ya... membara terus.” Tini mengomel di seberang telepon.


 


“Suketi nggak boleh iri ya...” sahut Bara yang mendengar omelan Tini barusan saat ia tengah menciumi leher Dijah yang sedang menelepon.


To Be Continued.....


Baca judul part pikirannya jangan ke mana-mana.


Hihihi :*


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2