PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
144. Sirnanya Senyuman


__ADS_3

Bara benar-benar tak berani menyentuh Dijah sepanjang istrinya itu memunggungi dan mencoba tidur. Dan satu malaman, asli ia tak bisa tidur. Setelah Dijah nyenyak, ia mencoba meraih pundak wanita itu agar berbalik menghadap ke arahnya. Dijah bergerak dan meregangkan badan sejenak kemudian berbalik. Bara langsung menarik tangannya cepat-cepat seolah tak sengaja menyentuh panci panas.


 


Pelan-pelan ia merapikan rambut istrinya. Saat Dijah bergeser dan tangannya mencari-cari lipatan bed cover untuk diletakkan di samping perutnya sebagai ganjalan, Bara menyodorkannya ke tangan wanita itu. Ia tak ingin Dijah terbangun. Istrinya telah menahan kantuk demi menunggunya pulang.


 


Sekarang Bara merasa bersalah. Dijah sedang hamil dan lebih sensitif. Harusnya dia bisa memahami Dijah yang memang tak pernah meminta apapun padanya kalau tak ditanyakan. Dijah ingin perhatiannya. Dijah ingin ditanya. Bara kembali merapikan rambut Dijah perlahan-lahan. Memperhatikan wajah istrinya yang sedang memejam. Tangannya bergerak ingin meluruskan letak bantal Dijah tapi kemudian tangannya menyentuh sesuatu. Bara mengeluarkan botol minyak kayu putih dari balik bantal istrinya.


 


Bara bangkit dan menatap benda di tangannya. Matanya tertegun sejenak. “Ya ampun... sejak kapan pake ini Jah? Apanya yang pegel?” Bara menoleh wajah Dijah yang lelap di bawa temaram kuning kamar mereka.


 


Bara menunduk untuk mengendusi wajah, leher, tangan dan berhenti di betis istrinya. Aroma minyak kayu putih itu tercium dari bagian betis dan kaki Dijah. Ia kemudian membuka tutup botol minyak kayu putih kemudian mengoleskannya ke betis dan telapak kaki istrinya. Dijah menggeliat sedikit menarik kakinya. Ia kemudian membuka mata melihat Bara yang sedang duduk bersila memangku salah satu kakinya.


 


Dengan suara parau, Dijah berbicara. “Mas tidur... udah capek seharian,” ucap Dijah dengan suara yang kemudian tenggelam. Ia seperti setengah mengigau.


 


“Maafin Mas... Mas salah terlalu fokus sama kerjaan sampe Mas lupa kalo kamu selalu butuh Mas. Mas cinta kamu, maaf kalau Mas belum bisa jadi suami yang bener. Jangan ngambek lama-lama ya... Mas juga dalam tahap belajar. Belajar jadi kepala rumah tangga. Jadi suami dan ayah yang baik. Maafin Mas... Kamu kram lagi ya? Yang mana? Biar Mas urut...” ucap Bara.


 


“Nggak apa-apa. Mas tidur aja,” sahut Dijah kemudian kembali tertidur.


 


Namun, Bara tetap tak bisa tidur. Seperti malam-malam saat ia menunggu kepastian soal Dijah di Rumah Aman, ia tak pernah bisa tidur. Hari-harinya terasa jungkir balik. Dan sekarang, ia dengan cepat masuk ke zona nyaman pernikahannya. Dengan cepat Bara menganggap semua sudah baik-baik saja dan Dijah pasti memahaminya.


 


Sisa malam itu ia habiskan untuk memijat kaki istrinya. Kaki Dijah sudah bengkak, pikirnya. Ia yang ngotot ingin diberi anak secepatnya, tapi malah mengabaikan hal-hal kecil namun sangat berarti bagi istrinya.


 


“Maafin Mas...” lirih Bara lagi. “Mas cinta kamu Dijah....” Bara kemudian merengkuh istrinya dalam pelukan dan matanya sudah memanas.


 


Di benak Bara berkali-kali terlintas soal Dijah yang termangu-mangu menunggunya pulang ke rumah sampai larut malam. Kakinya kram dan istrinya itu memijat kakinya sendiri. Ingin mengingatkan soal sepatu dan box bayi yang dijanjikan, tapi mengharap suaminya peka untuk mengingat. Dijah pasti mau makan malam lagi seperti biasa. Istrinya akan makan malam untuk kedua kali tapi menunggunya pulang untuk makan bersama. Gelombang rasa bersalah terasa semakin menghimpit dadanya.


 


Hari itu Bara lelah sekali. Ia memang lelah. Seharian ke sana kemari kemudian baru kembali ke kantor menjelang sore. Bara ingin pulang lebih awal tapi pekerjaan yang dibawanya dari luar harus diselesaikannya di kantor. Besok pun pagi-pagi sekali dia sudah harus kembali menyelesaikan yang diminta pihak pengiklan.


 


Dalam usahanya menjadi kepala rumah tangga dan suami yang baik, Bara juga ingin membuktikan bahwa ia mampu mengolah perusahaan keluarganya. Perusahaan itu bukan perusahaan besar. Dia dan Heru bertekad melakukan perubahan-perubahan yang telah mereka sepakati. Bara menelan ludah dengan susah payah. Dagunya berada di puncak kepala istrinya.


 


Mungkin ini yang sering dikatakan ayahnya dulu. Wanita tidak membutuhkan pria yang sempurna, tapi pria yang mengerti dirinya. Dan ibunya sudah mengingatkannya berkali-kali soal kebijaksanaan yang diperlukannya dalam memilah prioritas. Pernikahan itu kemauannya. Apa kata ibunya nanti kalau tahu ia ribut-ribut begini dengan istrinya.


 


Bara terlalu lelah dan terlalu banyak berpikir malam itu. Ia tak tahu tertidur jam berapa tapi ketika terbangun ia tak melihat Dijah di sisinya. Bara cepat-cepat mandi serta berpakaian dan menuju ruang makan. Dijah telah menyiapkan sarapannya seperti biasa. Dul duduk di kursinya sudah lengkap dengan seragam SD dan memasukkan potongan roti terakhir ke mulut.


 


“Ayah terlambat,” ucap Bara pada Dul. Ia melirik Dijah yang sedang berdiri di sebelah Dul memasukkan kotak bekal ke dalam tas kecil.


 


“Siapa yang anter aku hari ini?” tanya Dul mendongak ibunya.


 


“Mbah aja, ibu capek.” Mbah yang sedang meracik sayuran menyahut dari meja dapur.


 


“Nggak apa-apa, aku aja Mbok. Banyak jalan, biar gampang lahiran.” Dijah mengucapkan itu biasa saja. Tapi Bara merasa tersentil. Mereka benar-benar sedang menghitung hari sekarang. Sebentar lagi Bara akan menamai putrinya dengan nama yang sudah jauh-jauh hari ia persiapkan.


 

__ADS_1


“Jah, nanti malam Mas—”


 


“Mas bawa kunci aja ya. Aku mau tidur lebih awal. Sekarang siang nggak bisa tidur. Jadi kepingin tidur cepet biar bangunnya badan lebih seger.” Dijah menyodorkan serenceng kunci yang biasa disimpannya dalam tas.


 


Bara terhenyak menatap kunci di atas meja makan yang baru disodorkan Dijah padanya. Perutnya tiba-tiba terasa kenyang. Ia baru saja akan berjanji pulang lebih awal hari itu. Hatinya mencelos kecewa. Susah payah ia menghabiskan roti panggang yang telah dipersiapkan istrinya dan meneguk secangkir teh hingga tuntas.


 


Setelah berpamitan pada Dul dan mencium bibir Dijah yang dingin di depan pintu garasi, Bara menyalakan motor merahnya. Mumpung hari masih pagi. Semua karyawan akan berada di luar kantor mengerubungi gerobak bubur ayam dan gerobak ketupak sayur. Dan motor merah itu sudah terlalu lama tidak dipergunakan.


 


“Weiitss... Hartaaa Tahtaaa Dijaaah...” seru Bayu yang berdiri di dekat gerobak bubur ayam. Beberapa pasang mata langsung menoleh ke asal pekikan Bayu.


 


Bara tiba di kantornya dengan motor merah dan lengkap beserta helmnya.


 


Beberapa karyawati berdiri menunggui gerobak ketupat sayur di sebelah kanan halaman kantor. Termasuk Nia. Gadis itu menemani temannya membeli sarapan.


 


Bara menghentikan motornya di sisi kiri gerobak itu untuk menyapa Bayu.


 


“Mas Bara dengan motor legendanya kembali mengisi lahan parkiran setelah sekian lama vakum,” seru Bayu yang ternyata juga baru tiba. Pria itu masih mengenakan ranselnya dan ikut mengantri bubur ayam. “Masih dipake terus yah stikernya.” Bayu menepuk-nepuk tangki motor besar tempat di mana stiker mencolok itu berada.


 


“Kenang-kenangan jaman pacaran,” ucap Bara dari balik helmnya.


 


“Wih Pak Bara, ternyata ikut tren begituan.” Teman Nia mengatakan hal itu sambil menyikut pelan Nia di sebelahnya.


 


 


Bara tertawa. “Gua parkir dulu ya,” ucap Bara pada Bayu.


 


“Oke—”


 


Bara baru melajukan motornya ketika tiba-tiba Nia berkata, “ Iya Pak, buruan parkir. Saya ada bawa banyak dessert. Saya tunggu di dalem ya....”


 


Bara menghentikan motornya dan menoleh pada Nia. Rautnya berubah serius. “Kebetulan, saya ada mau ngomong sesuatu ke kamu.”


 


Guratan senyum di wajah Nia memudar. Bara terlihat serius sekali dan entah kenapa itu membuatnya takut. Ia yakin sekali hal yang akan dikatakan salah satu atasan di kantor itu bukan soal pekerjaan.


 


Bara masuk ke ruangan dan meletakkan ranselnya di atas meja. Ia berjalan melongok keluar dan menoleh mencari Nia. Setelah menemukan sosok Nia yang sedang berbisik-bisik dengan temannya di salah satu meja kosong, Bara memanggilnya.


 


“Nia! Bisa sebentar ke ruangan saya?”


 


Nia langsung mendongak dan mengangguk pelan. Ia berjalan mendekati ruangan Bara yang terbuka dan masuk setelah mengetuk dua kali sebagai formalitas.


 


“Masuk,” ucap Bara. “Eh, kamu tadi bilang bawa banyak dessert untuk dibagiin ke saya. Mana?” tanya Bara.

__ADS_1


 


“Pak Bara mau? Sebentar saya ambil dulu.” Nia tak menoleh lagi pada Bara. Ia langsung menuju meja tempatnya biasa duduk dan mengeluarkan dua kotak makanan.


 


Tak sampai lima menit, Nia telah mengatur dua jenis dessert di atas meja kerja Bara. Gadis itu membuka kotak dan meletakkan sendok garpu plastik di dalam kotak cemilan itu. Pokoknya Bara tinggal makan. Dessert-nya benar-benar cantik. Bara melihat Nia seperti seorang gadis yang melakukan pendekatan pada teman sekelasnya. Bara menarik senyum remeh dan menggeleng pelan.


 


Bara mendongak memandang Nia yang berdiri melemparkan senyum yang sangat manis di depan meja kerjanya. Ia kemudian memutari meja dan mengangkat pesawat telepon ekstensi dan menekan dua nomor.


 


“Ke sini lu,” pinta Bara pada seseorang. Nia masih berdiri menunggu. “Sebentar ya...” ujar Bara.


 


Tak berapa lama kemudian Dona mengetuk pintu dan masuk terburu-buru. “Ya Mas? Manggil aku?”


 


“Iya. Oke... langsung aja. Begini—Nia... Ini Maradona. Bisa dipanggil dengan sebutan Mas. Mas ini salah satu orang di divisi kriminal...” Bara mengangkat alisnya untuk mengecek apakah Nia menyimak perkataannya. Setelah wanita itu mengangguk, Bara kembali melanjutkan.


 


“Mulai sekarang, urusan apapun silakan hubungi Mas Dona. Soal apapun itu. Termasuk makanan-makanan yang mau kamu bagi ke semua teman-teman di sini. Hubungi aja Mas Dona ini. Nah sedangkan untuk urusan kampus, silakan hubungi Retno. Oke? Jadi bukan ke saya langsung ya... Bukan ke saya, bukan ke Pak Heru. Cukup ke Mas Dona ini, atau Mbak Retno. Gimana Nia? Kamu ngerti?” Bara seperti sedang mendikte kepada bocah. Nia mengangguk. Rautnya kini berubah serius sekali. Tarikan senyum sumringahnya sirna.


 


“Itu aja Mas?” tanya Dona.


 


Bara mengangguk. “Eh iya, ini dibawa aja sekalian.” Bara mengangkat semua kotak dessert dari atas mejanya dan menyerahkan kepada Dona.


 


“Kalau sudah selesai, saya permisi dulu Pak...” ucap Nia.


 


“Oh iya—iya... Duh,” tukas Bara tanpa menoleh. Ia menarik dua lembar tisu untuk mengelap sedikit krim yang tertinggal di meja.


 


Lewat tengah hari, Bara telah menyelesaikan pekerjaannya yang paling penting. Seharian itu, ia mengecek ponsel puluhan kali. Melihat apakah Dijah mengirimkan pesan seperti biasa. Tapi hingga pukul dua siang, Dijah bergeming.


 


Bara mulai uring-uringan. Ia meraup semua berkas di atas mejanya dan pergi mendatangi ruangan Heru.


 


“Nih, udah aku kerjain yang paling penting. Sisanya besok-besok deh. Aku lagi nggak konsen. Mau pulang,” ucap Bara.


 


“Kenapa?” tanya Heru menoleh wajah adik sepupunya yang berantakan. “Hmmm... Aku tau, pulang gih! Sampein maafku ke Dijah karena udah bikin suaminya lembur terus.” Heru merasa pernah mengalami persis yang sedang dialami Bara.


 


“Sampein sendiri gih,” ujar Bara berbalik meninggalkan Heru.


 


“Kapan? Kita masih sibuk. Kamu besok juga tetep harus masuk Ra... Sore nanti aku keluar bakal balik bawa kerjaan baru.” Heru berseru dari balik punggung Bara.


 


“Iya—iya.... Besok aku pasti masuk kerja. Tapi aku bawa istri. Jangan heran,” ucap Bara.


To Be Continued.....


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2