
“Mas makan di mana?” tanya Bara setelah keluar dari hall.
“Aku masih kenyang. Sarapan banyak, makan cemilan tadi juga banyak. Kamu mau ke mana?” Heru balik bertanya.
“Nyari anak istriku, mau ngajak makan. Kasian dari kemarin makan sendiri terus.” Bara bergegas menyusuri lorong yang menuju ke taman.
“Ayolah makan siang bareng semuanya. Di resto yang deket kolam aja Ra,” ajak Heru.
Bara mengernyit sedikit ragu. “Ya udah, Mas tunggu di resto aja. Entar kita semua nyusul. Biar aku yang panggil. Dijah dari tadi ditelfon tapi gak jawab.” Bara kembali membuka ponselnya.
“Aku ikut aja ah, males sendirian nunggu. Bayu udah makan duluan ama peserta seminar. Kenapa? Kok gitu liat aku?” tanya Heru heran melihat Bara yang melontarkan tatapan curiga.
“Gak apa-apa.” Bara melanjutkan langkahnya ke arah kamar. Heru berdiri tak jauh dari Bara yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar.
“Mungkin di pantai Ra,” ucap Heru. “Kalo di kamar, pas kamu nelfon Dijah pasti denger.” Heru melemparkan pandangannya ke arah pantai.
Seraya berjalan beriringan ke arah pantai, Bara memperhatikan tiap orang yang sedang berada di kolam renang saat itu. Tak ada tanda-tanda Dijah dan Dul, juga segenap penghuni kos kandang ayam.
“Eh itu kayaknya!” ujar Heru menunjuk setumpuk orang yang sedang berada di bibir pantai.
“Oh iya, itu Dijah.” Bara mendahului langkah Heru untuk menuju ke arah istrinya. Ia sedang mengkhawatirkan topik bahasan penghuni kos yang seringnya tak berfaedah. Diam-diam mendatangi mereka semua dari belakang, bukan merupakan ide yang baik. Bara menoleh resah ke arah Heru.
Dan apa yang dikhawatirkannya terbukti. Dijah sedang menjadi topik pembicara seminar tepi pantai.
“Aku ngomong jujur lho. Mas-ku enak banget. Kamu juga pasti udah bayang-bayangin mas yang satu lagi. Makanya langsung ilang feeling sama si Yudi.” Suara Dijah terdengar lantang terbawa angin ke telinga Bara dan Heru.
Meski dadanya penuh sesak dengan rasa bangga, Bara khawatir dengan hal yang akan dikatakan Dijah selanjutnya.
“Pantes telat ya,” ujar Heru. Bara pura-pura tak dengar.
“Ilang selera sama yang kumis tebal bak mas Adam Suseno. Sekarang seleranya yang cambang panjang kayak Bung Rhoma.”
Mau berdeham, tapi langkahnya belum tiba di dekat penghuni kos. Untung sebelum berangkat, Bara yang mengemas pakaian keluarganya ke dalam koper. Jadi ia tak perlu cemas akan kostum pantai istrinya.
“Cambangku mirip Bung Rhoma gak Ra?” Heru langsung menyela pembicaraan Dijah dan teman-temannya. Bara hanya mencibir mendengar perkataan Heru.
Semuanya mematung kecuali Mak Robin yang terlihat santai. Dijah perlahan memutar kepalanya menoleh pada Bara. Ia tersenyum merapatkan giginya.
“Udah siang. Makan dulu yuk,” ajak Bara menunduk di dekat istrinya. Dijah mengenakan sebuah topi yang melindungi wajahnya dari terik matahari siang.
“Iya, ayo makan bareng di restoran. Yang deket kolam renang. Dari kemarin kita belum ada makan sama-sama. Ayo—ayo ... Nanti ngobrolnya disambung lagi. Yang mau ganti pakaian ke kamar dulu, kita tunggu di resto ya ...” tutur Heru yang berdiri dengan kedua tangan berada di sakunya.
Mak Robin telah berdiri menggandeng anaknya. “Ayo Boy! Asti! Kelen seret si Tini itu! Jangan pura-pura mati dia,” tukas Mak Robin berjalan meninggalkan tiga orang yang masih berada di tepi pantai.
Heru masih berdiri menatap dua orang yang mematung menghadap pantai. Tini masih berbaring dengan kacamata hitamnya seolah tak menyadari keberadaan Bara dan Heru.
“Mas duluan aja. Kita nyusul. Pasti nyusulin,” ujar Asti pada Heru
“Iya Mas ... Duluan aja. Kita sadarkan mbak Tini dulu.” Asti meringis. Heru tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oke—oke, nyusul ya ...” Heru kemudian berjalan di belakang Bara.
Bara telah berjalan beriringan menuju kamar bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
“Mas tunggu di restoran aja, nanti aku nyusul. Mandiin Dul dulu, aku juga mau bersih-bersih sebentar. Gak lama kok, kasian mas Heru kalau sendirian di sana.” Dijah menunjuk Heru yang berjalan menuju restoran sendirian.
“Ya udah, jangan lama-lama ya... Entar kita mau masuk ke ruangan lagi.”
Dijah mengangguk.
“Eh,” panggil Bara yang kembali menghentikan langkahnya.
“Apa lagi?” tanya Dijah.
“Entar malem mau yang lebih enak lagi? Mas-mu siap,” ujar Bara mengedipkan matanya. Dijah mencibir kemudian melanjutkan langkah.
*****
Malam itu, Bara sedikit tiba lebih lama di kamar. Penutupan acara seminar memang membutuhkan basa-basi yang cukup lama.
Setelah memisahkan diri dari Heru dan Bayu, Bara bergegas ke kamar. Malam itu ia berniat mengajak Dijah keluar untuk makan malam dan berjalan-jalan ke bagian depan resor.
“Aku udah bilang ke Mak Robin, titip Dul. Katanya nggak masalah. Boy juga mau nemenin anak-anak. Dia juga lagi gak ada temen. Asti mau keluar dengan Bayu.” Dijah berbicara dari depan kaca.
“Iya, makan di resto aja bilang ke Mak Robin. Sebutin nomor kamar kita kayak biasa. Aku lagi pengen romantis-romantisan sama Ibunya Dul.” Bara baru selesai mandi dan sedang membuka tas pakaian.
Di sisi kamar yang lain, Bayu tengah mematut dirinya di depan kaca. Ia akan menemui Asti di pantai.
“Entar ngomongin apa ya Mas?” Bayu merapikan kerah kemejanya seraya melirik Heru yang duduk di ranjang memangku laptopnya.
“Ngomongin apa? Masa mesti dikasi tau? Semua pasti ngalir kalo udah ketemu,” tukas Heru.
“Memulainya itu lho Mas ...” Bayu berbalik memandang Heru.
“Hah? Emang iya?” Bayu balik bertanya.
“Jauh-jauh ngurusin sejarah negara lain, sejarah negara sendiri gak tau.” Heru mencibir. Bayu terkekeh.
“Aku keluar dulu ya ... Mas gak keluar?” tanya Bayu dari depan pintu.
“Masih ada kerjaan, entar kalo bosen aku juga keluar. Mau video call anakku dulu,” jawab Heru.
Tak lama Bayu keluar kamar dengan bersenandung untuk menyembunyikan kegugupannya.
Di kamar satunya lagi.
“Pakaianku udah pantes, 'kan?” tanya Asti pada Boy yang telah rapi dari tadi.
“Udah pantes. Alami. Gak berlebihan. Mau keluar sekarang? Yuk, aku mau ngambil si Dul. Kamu ikut aku, 'kan Tin?” tanya Boy pada Tini yang malam itu juga terlihat sudah rapi.
“Aku ikut makan aja. Gratis kan dari mas-nya Dijah? Abis itu aku mau jalan-jalan sendiri. Siapa tau nemu bule ganteng, kaya, muda dan menggoda.” Tini bangkit dari duduknya.
Mereka melepaskan Asti di depan kamar. Gadis itu melangkah sambil bersenandung juga. Perutnya sedikit bergemuruh karena rasa gugup. Saat berdandan tadi, ia sudah menyusun topik pembicaraan untuk menghindari suasana canggung saat bersama Bayu.
Bara telah pergi bersama Dijah mengelilingi resor itu dengan sebuah sepeda. Mak Robin, Tini dan Boy membawa dua orang bocah laki-laki menyusuri taman setelah usai makan malam. Di penghujung jalan, Tini memisahkan diri. Wanita itu mengabaikan pertanyaan Mak Robin yang penasaran akan tujuannya.
“Aku kebelet pipis Mak,” ujar Boy di ujung taman yang sedikit gelap. “Balik aja yuk,” ajak Boy pada Mak Robin.
“Masih jauh kamar kita. Ya udah! Di balik pohon itu aja kau buangkan!” Mak Robin menunjuk satu pohon yang paling terlindung. Boy menatap ragu.
__ADS_1
“Udah! Cepat! Gak kutengok! Selo kau! Tekencing di celana pulak kau nanti,” kata Mak Robin kemudian berbalik dengan kedua tangannya menggandeng Dul dan anaknya.
Boy berjalan mendekati pohon yang dimaksud Mak Robin dan menoleh ke kanan kiri sebelum menuntaskan hasratnya.
Dengan gumaman pelan namun jelas Boy berkata, “Mbah ... Permisi ya ....” Setengah terpejam ia menuntaskan hasratnya.
“Iya ... Jangan lupa cebok ya ....” Terdengar suara perempuan menyahuti Boy.
“Anjing!” maki Boy.
“Hahaha—” Tini yang berada di dekat pohon gelap itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Tini anjing!” maki Boy lagi. Tini lari tunggang langgang meninggalkan Boy sambil terus tertawa.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Tini menghentikan langkah saat menginjak pasir. Ia menatap laut lepas di hadapannya. Ternyata malam tak terlalu gelap seperti dugaannya selama ini. Terbukti dari langit yang masih tergambar jelas saat berdampingan dengan laut di bawahnya.
Tini melepaskan sepatu dan menjadikannya sebagai alas duduk. Ia menjauhi sapuan ombak karena sedang tak ingin basah-basahan.
“Ahh ....” Tini menarik nafas dan menghembuskannya dengan bersuara. Sendiri itu terkadang menyenangkan, batinnya.
Tini duduk menekuk kakinya. Rok plisket berwarna kuning telur yang dikenakannya terjulur sampai betis.
Kepalanya menengadah langit. Khayalannya terbang pada cerita cinta masa lalu yang siang tadi dibahasnya.
“Aku ora pernah ngerti tresno kuwi opo, kejobo sak bare pethuk karo sampeyan." (Aku tidak pernah tau cinta itu apa, kecuali setelah bertemu denganmu)” ucap Tini pada langit.
"Kowe kuwi koyo lintang, sing endah disawang tapi angel dicekel, (Kamu itu seperti bintang, yang indah dilihat, tapi susah untuk digapai)” lanjut Tini lagi.
"Duh gusti menowo ndekne kuwi jodohku,tulung cedhakke, nek menowo ora tulung dijodohke, (Tuhan jika dia adalah jodohku tolong didekatkan, dan jika bukan tolong dijodohkan)” ratap Tini kemudian. Ratapannya begitu jelas dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Akeh coro gawe urip bungah, salah sijine kudu ngeculke wong sek wis nyio-nyiokke awakmu. (Banyak cara untuk bahagia, salah satunya melepaskan orang yang menyia-nyiakan kamu)” Suara Heru tiba-tiba kembali muncul di belakang Tini. Wanita itu terkejut dan seketika menoleh.
“Asem ... Ngagetin aja,” ucap Tini. Ia kemudian menutup mulutnya karena merasa salah ucapan.
“Akeh menungso sing iso ngrasakke tresno, tapi lali lan ora kenal opo kuwi hakekate tresno. (Banyak orang merasakan cinta, tapi lupa dan tidak kenal apa itu hakikat cinta)” Heru kemudian berjalan mendekati Tini dan ikut duduk di sebelahnya. Heru ikut menekuk kaki dan melingkarkan tangannya ke lutut.
Tini menoleh memandang Heru yang duduk berjarak setengah meter darinya. Jantungnya langsung berdetak tak beraturan. Tak pernah ia merasakan segugup itu ketika berada di sebelah seorang pria. Dan kacaunya, pria itu sudah beristri pula.
Heru masih menatap langit yang tadi dipandangi Tini. Sedangkan Tini sedang memuaskan matanya memandang Heru dari jarak sedekat itu. Pandangannya turun ke betis Heru yang malam itu tak tertutup. Pria itu datang dengan sebuah kemeja bercorak cerah dan celana pendek.
Mata Tini memandang rambut-rambut keriting yang berjajar heboh di barisan tulang kering Heru. Tini bergidik. Ia merinding dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Lagi mikirin apa Mbak Tini? Soal jodoh lagi? Atau pekerjaan?” tanya Heru menoleh ke arah Tini.
Tini segera memalingkan wajahnya. “Ya mikirin jodoh, mikirin kerjaan, mikiran keluarga. Aku udah 28 tahun. Udah termasuk tua kalau perempuan.”
“Sekretarisku di kantor 32 tahun. Belum menikah dan karirnya bagus. Aku liat dia happy-happy aja,” ujar Heru.
“Tetanggaku di kampung, 29 tahun. Belum menikah dan baru meninggal Minggu lalu,” jawab Tini.
Heru menoleh Tini dan tertawa terbahak-bahak.
Tini meringis memandang Heru yang sepertinya menganggap ucapannya barusan adalah sebuah guyonan.
To Be Continued....
__ADS_1
Scene percakapan Tini-Heru disambung di part berikutnya ya... :*