
Bara masih berdiri sesaat di puncak anak tangga melongokkan kepalanya ke bawah untuk melihat Bu Yanti yang dilimpahinya menjaga Mima subuh itu.
Bu Yanti memang mengomel sebentar, tapi wanita itu kembali menunduk untuk menimang Mima yang sepertinya terganggu akan teriakan uti-nya tadi.
Bara membuka pintu kamar perlahan dan melihat Dijah yang sedang berbaring di tempatnya biasa. Bagian ranjang yang dekat ke dinding. Kedua tangannya menangkup dan menumpu di bawah pipinya. Dengkuran halus terdengar dari tidur Dijah yang benar-benar lelap.
Bara naik ke ranjang, menghempaskan tubuhnya di sebelah Dijah. Sambil memeluk sebuah guling, ia menatap wajah istrinya.
“Ngantuk banget ya Jah...” lirih Bara membelai pipi istrinya. Ia membelai kepala Dijah perlahan. Dan sampai di belakang tengkuk Dijah, Bara menyentuh ikat rambut yang masih menggantung di ujung rambut istrinya.
“Saking ngantuknya.... Biasa sebelum tidur pasti keramas,” ucap Bara meletakkan ikat rambut itu di atas meja nakas.
Matanya ikut mengantuk, dan perlahan Bara pun ikut tertidur sambil sebelah tangannya memegangi pergelangan tangan Dijah.
Bu Yanti duduk di sofa ruang keluarga masih sambil menggendong Mima dan menonton berita pagi. Kepalanya sesekali celingukan ke arah tangga menunggu Bara turun untuk mengambil bayinya. Matahari perlahan keluar menerangi langit pagi.
“Mana sih... lama banget,” gumam Bu Yanti mendongak melihat jam. “Mima, mana ayah ibunya? Uti mau ke kampus ini. Kamu juga nyenyaknya jam segini, makanya kalau malem tidur....” Mima yang masih bayi merah pun tak luput kena omelan pemanasan dari utinya. Mima semakin mengerucutkan mulut mungilnya dan tidur nyenyak.
“Lho, kok belum siap-siap? Ayah kira udah selesai,” ujar Pak Wirya yang sudah rapi keluar dari kamar.
“Dari jam empat pagi ibu duduk di sini mangku bayi yang nggak mau diletakkan semaleman. Bara pasti ketiduran.... Gantian gendong, ibu mandi dulu.” Bu Yanti menyerahkan Mima pada Pak Wirya.
“Apa nggak nangis kalau ayah yang gendong? Nanti kalau minta susu gimana?” tanya Pak Wirya kebingungan.
“Baru minum setengah botol ASI! Ayah duduk aja yang bener di sofa. Ibu nggak lama,” ucap Bu Yanti.
Dan seperti yang dijanjikannya, tak lama kemudian Bu Yanti sudah muncul terburu-buru dari dalam kamar dengan pakaian rapi dan sebuah tas sandang.
“Masih tidur?” tanya Bu Yanti pada suaminya.
“Masih nih,” ucap Pak Wirya duduk santai memeluk sebuntalan kain berisi bayi dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk memindahkan channel televisi.
“Ayo sarapan, Ami dan Bu Yus pasti udah selesai masak.” Bu Yanti menepuk pelan pundak suaminya.
“Ini gimana? Cucu akung yang cantik ini—” Pak Wirya berbicara pada Mima.
“Ini lagak ayah ibunya yang nggak mau pakai babysitter. ‘Mas mau menikmati hari-hari awal jadi ayah, bu...’” ucap Bu Yanti menirukan perkataan Bara.
“Udah—gendong Mima. Ayah mau sarapan dulu,” ujar Pak Wirya mengelus ubun-ubun Mima kemudian menyerahkannya pada Bu Yanti.
“Sarapan duluan, ibu anter Mima sama ayah ibunya dulu. Dari tadi ibu telfon hapenya Bara nggak aktif. Nomornya Dijah nggak dijawab. Mungkin di-silent karena seharian sama bayi. Udah jam 8 lewat, bisa terlambat...” omel Bu Yanti naik ke lantai dua.
__ADS_1
Setelah mengetuk dan tak ada jawaban dari dalam, Bu Yanti mendorong pintu kamar yang sedikit renggang dan melongok ke dalam. Tampak olehnya sepasang suami istri yang kelelahan menjaga bayi berhari-hari dan menolak keras menggunakan jasa babysitter.
“Mas—Mas, tidur pegangan tangan kayak mau nyebrang jalan aja.” Bu Yanti meletakkan Mima di antara ayah ibunya. Bayi itu sedang nyenyak-nyenyaknya. Biarkan saja, pikir Bu Yanti. Kalau Mima menangis, suara bayi itu pasti langsung meresap ke gendang telinga kedua orangtuanya yang masih tertidur pulas.
*****
Dua minggu kemudian Bara kembali memboyong keluarganya pulang ke rumah. Selain karena Dul yang terlalu lelah karena perjalanan ke sekolah yang terlampau lama karena macet di pagi hari, Dijah juga mengingatkan soal laki-laki separuh yang akan datang ke rumah.
Beberapa waktu yang lalu, laki-laki paruh baya itu kembali menelepon Tini dan memastikan kedatangannya.
“Coba dipastiin ada yang ketinggalan lagi nggak? Botol susunya udah semua? Jariknya Mima? Tas sekolah Dul? Udah ‘kan?” Bu Yanti kembali melongokkan kepalanya dari pagar membacakan daftar yang mungkin saja Bara dan Dijah lewatkan.
Bu Yanti tetap teliti seperti biasa. Sambil melambaikan tangannya dari pagar, ia melepas anak cucunya yang kembali ke rumah mereka.
Sabtu pagi, Tini sedang nyenyak-nyenyaknya membalaskan dendam keharusan bangun pagi selama lima hari penuh. Mimpi sedang bagus-bagusnya dan cuaca pagi itu sedikit mendung membuat seng tipis dan plafon berlubang kamarnya tak terasa gerah seperti biasa.
“Tin! Bangun!” seru Boy dari luar kamar.
“Aku nggak ikut briefing pagi ini, mules.” Suara Tini terdengar menyahut dari dalam.
“Briefing apa? Sejak kapan kandang ayam ada briefing pagi? Bangun! Ada tamu!” panggil Boy lagi dari luar.
“Apa sih Boy?” teriak Tini yang telah mendapatkan separuh kesadarannya. Ia bangkit dan menyeret langkahnya ke pintu dan memutar anak kunci.
“Ada tamu, bapak-bapak yang nyari Dijah. Cuci mukamu itu, liur keringmu sampe ke jidat. Heran, dipake cuci muka atau gimana.” Boy menarik kursi plastik dan mempersilakan bapak setengah baya itu untuk duduk.
“Ya ampun, aku lupa. Hari ini ya? Aduh—aduh maaf.” Tini kalap kembali masuk ke kamar untuk menyambar pakaian dari dalam lemari dan melesat ke kamar mandi.
Mak Robin duduk di kursi plastik sambil menyuapi anaknya. Robin makan sambil menonton channel YouTube film kartun.
Sesaat setelah Tini muncul kembali dari dalam kamarnya dan telah berpakaian rapi, ia langsung mengajak Boy berangkat ke rumah Dijah
“Makanya jangan tidur lama-lama!” tegur Mak Robin saat melihat Tini menguap.
“Aku kecapekan malah jadi susah tidur. Ngadep ke kanan, ngadep ke kiri. Gelisah nggak tidur-tidur,” sahut Tini kembali menguap.
“Coba menghadap ke yang Maha Kuasa aja. Pasti langsung nyenyak,” tukas Mak Robin.
“Kamu duluan Mak, nanti kalau udah nyampe kabari aku di sana gimana.” Tini mengacak rambut Mak Robin saat mengatakan hal itu. Dan Mak Robin secepat kilat menampik tangan Tini.
“Sebelum jalan ke rumah Dijah, bapak nggak mau cerita singkatnya tujuan ke sana mau apa?” tanya Tini.
__ADS_1
“Saya malu Mbak, nanti aja kalau sudah ketemu Dijah.” Laki-laki itu kembali menghindar memberitahukan permasalahannya.
“Ya udah, berangkat aja yuk.” Tini menoleh pada Boy yang sudah rapi.
“Ayo Pak,” ajak Boy.
“Kita naik taksi dan bapak itu duduk di depan. Jadi dia gak bisa macem-macemin kita dari belakang. Aku khawatir kita dijerat lehernya atau sejenisnya. Kayak di TV-TV itu,” tambah Tini.
“Kalo ada apa-apa aku kan bisa nolong,” pungkas Boy dengan raut percaya diri.
“Kamu nolong diri sendiri aja nggak bisa, nggak usah sok-sok mau nolong orang lain.” Tini mencibir sambil membuka-buka ponselnya dan mencari aplikasi taksi.
“Kita nggak perlu ngabarin Dijah lagi Tin? Ini ‘kan hari libur.”
“Kan kemarin udah dikabari. Sepanjang minggu ke minggu kerjaan kita cuma nungguin bapak ini aja,” bisik Tini menjauhkan letak berdiri agar bisikannya tak terdengar dari bapak itu.
“Iya juga ya... Aman kalo gitu.” Boy mengangguk paham akan perkataan Tini.
Sabtu pagi, jalanan masih cukup lengang. Sebagian penduduk masih terlelap dalam mimpi, sebagian lagi berbondong-bondong pergi liburan dan sebagian banyak yang lain, masih sibuk mencari nafkah untuk keluarga.
40 menit kemudian mereka bertiga telah tiba di depan rumah Dijah.
“Ini Pak rumahnya Dijah.... Di dalem ada suaminya. Kalau ada hal yang kurang mengenakkan, Bapak sampein ke kita berdua aja dulu.” Tini menatap bapak setengah baya bertubuh kurus tinggi dan berpakaian sederhana itu.
“Saya cuma mau nanya sesuatu ke Dijah secara langsung. Saya ‘kan udah bilang kalau dapet info soal Dijah lewat orang lain. Jadi saya rasa, saya memang perlu mendengar dari dia langsung." Laki-laki itu menoleh rumah penuh harap.
“Oh, ya udah...” ucap Tini melirik Boy.
Kemudian, “Diiijaaah...” teriak Tini.
Di dalam rumah, Bara tersentak dan menegakkan tubuhnya. “Perempuan ini...” desis Bara menoleh ke arah tirai jendela yang masih tertutup. Dijah yang setengah memejam, ikut mendongak melihat ke arah tirai.
Hari Sabtu, pukul 9 pagi. Bara baru saja meletakkan Mima yang pagi itu baru tertidur seperti biasa. Bayi itu sedang merubah siklus tidurnya sesuka hati.
Bara sedang menunduk mencumbui Dijah yang setengah memejamkan matanya, ketika terdengar suara Tini melengking dari pagar. Sudah tiga minggu lebih Bara tak menerima layanan apapun dari bibir istrinya. Namun di saat atmosfer keintiman bersama Dijah sedang terbangun pagi itu, suara ratu kandang ayam menggelegar sampai ke sudut-sudut rumah.
“Itu Mas tamunya... yang dibawa Tini!” seru Dijah antusias karena penasaran.
“Jadi Mas gimana Jah?” Bara masih menangkupkan satu tangannya di sebelah dada istrinya.
“Mas sabar...” sahut Dijah.
__ADS_1
“Kalo gitu, biarin Tini nunggu sebentar lagi.” Bara kembali menunduk di atas dada istrinya.
To Be Continued.....