
“Ayo, masuk dulu...” bisik Bara di telinga Dijah.
Pintu pagar kayu tambalan yang biasa tersangkut hidup segan mati tak mau itu telah dilepaskan untuk memudahkan pelayat keluar masuk.
Bara melepaskan sepatunya dan memegangi kedua sisi bahu Dijah yang berjalan tenang seperti biasa. Ia belum melihat gurat kesedihan di wajah wanita itu. Tapi memang, semenjak mengenal Dijah, hanya sedikit sekali Bara melihat kekasihnya itu menunjukkan ekspresi kesedihan.
Dul yang sedang duduk di dekat Mbah Wedok-nya berdiri menyongsong Dijah dan langsung menggenggam tangan ibunya itu.
Dua orang pria yang terlihat mirip dengan ibu Dijah tampak sedang bicara berbisik-bisik. Bara menebak kalau itu adalah dua orang kakak laki-laki Dijah yang tinggal di perbatasan kota mereka.
Mungkin memang sedianya begitu. Keluarga yang terbentuk dalam sisi keras kehidupan dan tanpa sentuhan sentimentil sedikit sulit mengungkapkan perasaan. Seperti Dijah yang diperhatikan Bara teramat sulit mengatakan aku sayang, aku rindu, dan aku cinta. Dijah tak seekspresif dirinya.
Wajah anggota keluarga yang baru saja ditinggalkan pemimpinnya tampak biasa-biasa saja. Pelayat pun tak banyak. Dijah duduk melipat kedua kakinya ke samping dan menghadapi bagian kepala jenazah bapaknya. Bara tak tahu apa yang dipikirkan Dijah. Wajahnya datar saja.
Dengan perlahan Dijah membuka lembar selendang putih yang menutup wajah bapaknya. Ia ingin melihat wajah pria itu sekali lagi. Perasaan sedihnya saat ini lebih condong pada amarah ditinggalkan. Ibunya sedang sakit, kenapa seenaknya pergi begitu saja meninggalkan wanita yang seumur hidup membaktikan diri padanya. Tak adil rasanya melihat sang ayah pergi dengan mudah. Ia yang dulu setiap hari memohon mati bahkan tak mendapat keistimewaan itu.
Pak, aku marah tapi aku gak pernah membenci bapak dengan sungguh-sungguh. Selama ini aku sudah menerima semua yang terjadi padaku itu memang sebuah takdir. Nggak apa-apa kalau bapak memang lelah mengantar jemput Dul, aku nggak akan minta tolong lagi. Tapi kenapa ninggalin ibu? Berbaring dan nonton tv saja seharian. Temani ibu ngobrol. Dia terlalu mencintaimu sampai-sampai sering mengabaikanku.
Aku kemarin dilamar Bara. Dia sudah banyak habis untuk aku. Aku kepingin jadi istrinya. Aku mau. Aku mau kasi liat ke Bapak, kalau aku bahagia dengan laki-laki yang aku pilih. Laki-laki berharga yang selama ini nggak pernah Bapak anggap. Bapak belum kenal Bara, tapi Bapak sudah pergi. Aku kepingin Bapak liat, aku bisa hidup normal dan bahagia. Harusnya tunggu sebentar. Jangan secepat ini ....
Dijah menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat dan bulir air mata turun juga ke pipinya. Ia bisa melihat kalau sejak tadi Dul dan Bara tak lepas menatapnya.
Bara memijat bahu Dijah dengan lembut. Ia mengisyaratkan dirinya yang akan selalu ada untuk kekasihnya.
Dijah menunduk menatap Dul. Bagaimana anaknya nanti. Haruskah ia kembali tinggal di rumah yang membawa puluhan ingatan buruk yang sudah terjadi padanya?
Lewat maghrib, jenazah Bapak Dijah dikebumikan. Dijah kenyang dan tak merasa haus selama duduk bersandar di ruang tamu rumahnya yang telah kosong.
“Jah, makan dulu” pinta Bara yang baru masuk dengan dua orang pria yang membawa berkotak-kotak nasi.
“Taruh di sini aja Mas,” seru Bara menunjuk sisi tengah ruang tamu yang kosong.
Dijah mendongak pada Bara yang sedang mengangguk dan menepuk-nepuk bahu laki-laki yang mengantarkan puluhan nasi kotak ke rumahnya.
“Ibu makan dulu,” ujar Bara membuka sebuah nasi kotak dan meletakkannya ke hadapan Ibu Dijah. Wanita tua itu mengangguk dengan pandangan yang tak lepas dari wajah Bara.
__ADS_1
“Nanti gimana Jah? Apa Dul tetap di sini? Kakang mau bawa Ibu tinggal di rumah Kakang aja. Rumah ini gimana? Kamu mau tinggal di sini dengan Dul?” tanya Kang Supri kakak laki-laki tertua Dijah.
“Ibu ikut Kakang?” tanya Dijah pada ibunya.
“Iya, kalau Dul mau ikut aku juga nggak apa-apa.” Ibu Dijah memandang Dul yang sedang membuka kotak nasinya. Bara memandang wajah Dijah yang sedikit bingung.
“Kenapa nggak di sini aja? Aku bisa pulang ke sini nemenin ibu. Dul juga masih sekolah dekat sini,” sahut Dijah.
“Aku nggak mau tinggal sama kamu Jah. Aku bakalan ngerepotin. Aku nggak mau lagi. Kalau udah ada yang mau sama kamu, bawa Dul. Hidup sama Dul, sama keluarga barumu. Nggak usah pikirin aku. Aku ini tanggungjawab Kakang-mu. Sampai mati aku tanggungjawab anak laki-lakiku.” Ibu Dijah meluruskan kaki dan membenarkan letak kain panjangnya.
“Dul masih TK, bawa dia. Kasian. Dia mau deket kamu. Nak Bara juga pasti tau gimana seringnya Dul nyariin kamu.” Nafas ibu Dijah sedikit tersengal saat mengatakan hal itu. Selama ini ia telah hidup bersama Dul sejak bocah laki-laki itu bayi. Ia sedikit berat berpisah dengan Dul, tapi menurutnya ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan Dijah untuk bahagia dengan hidupnya. Ia tak mau lagi membebani putri bungsunya.
“Kang Supri nggak apa-apa?” tanya Dijah dengan raut khawatir. Selama ini ia tak pernah begitu dekat dengan saudaranya yang manapun. Mereka semua terlalu sibuk berjibaku mencari nafkah dan mengurusi masalah hidup mereka masing-masing. Bahkan ketika masih tinggal serumah semasa kecil pun ia jarang mengobrol dengan kedua kakak laki-lakinya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.
“Aku nggak apa-apa. Kamu nggak usah pikirin. Kamu pikirin anakmu aja. Kalau ada waktu sekali-sekali dateng tempatku buat jenguk Ibu.” Kang Supri sebagai anak tertua harus menerima kodratnya. Dijah bukan tempat yang tepat untuk ibu mereka menggantungkan masa tuanya. Makan tidak makan, ibunya adalah tanggungjawabnya. Bukan Dijah. Dijah sudah terlalu banyak memeras peluh menafkahi ayah-ibu dan anaknya sendiri selama ini.
Mendengar hal itu, Dijah menoleh pada Bara seolah meminta bantuan jawaban. Ia memang benar-benar bingung. Dijah tak pernah bercita-cita kembali tinggal di rumah itu. Dan mengajak Dul tinggal di kos-kosan bersamanya bukanlah pilihan yang bijaksana.
“Kita ke mana?” tanya Dijah sedikit was-was saat mereka telah berada di dalam mobil hampir larut malam. Dul sudah tidur meringkuk di jok belakang.
“Ke rumah kamu,” jawab Bara. Memang benar yang dikatakannya. Ia memang akan membawa Dijah ke rumahnya sendiri. Tempat yang sudah lama dipersiapkannya. Bahkan Pak Wirya ayahnya pernah ikut ke rumah itu demi mengantarkan sesuatu seusai menjenguk Dijah di Rumah Aman beberapa saat yang lalu.
“Nggak ngerti ...” ucap Dijah.
“Sabar, nanti sampai di sana juga ngerti.”
“Aku nggak ada pakaian. Apa nggak sebaiknya ke Rumah Aman itu dulu?” tanya Dijah saat memandang pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Gak usah, kamu nggak usah khawatir. Tenang aja. Percaya Mas ya ...” kata Bara lembut. Hal ini memang telah lama dipersiapkan Bara, sesaat setelah Dijah menerima cincinnya untuk pertama kali. Tapi Bara belum memberitahukannya pada Bu Yanti.
Bara mengira akan bisa memberitahu ibunya dengan perlahan, tapi ternyata kejadian ini di luar rencana. Hati Bara sedikit tenang melakukan hal ini, karena Bu Yanti sudah menyetujui hubungannya dengan Dijah.
Setengah jam mengemudi dan melewati daerah kos-kosannya, mobil yang dikendarai Bara memasuki jalanan yang di kanan kirinya di penuhi pohon besar. Kalau siang hari, udara di sana sangat sejuk. Daerah itu bukan perumahan mewah seperti di daerah nomor satu kota mereka. Tapi lingkungannya sangat asri. Dengan bentuk rumah yang nyaris serupa dan isi parit yang airnya mengalir tanpa terlihat sampah, lingkungan itu terlihat sehat dan nyaman.
__ADS_1
Setelah melewati sebuah lapangan sepak bola kecil yang di satu sisinya terletak beberapa mainan anak seperti halaman PAUD, Bara menghentikan mobilnya.
Dijah melemparkan pandangannya ke luar dengan rasa penasaran. Ke rumah siapa Bara membawa mereka. Rumah itu berpagar kayu coklat mengkilap setinggi kepala orang dewasa. Garasinya terletak memanjang dengan muatan dua mobil dengan sebuah pintu terletak di ujungnya. Pintu masuk rumah itu terletak di sisi kanan.
“Ayo turun, kita udah nyampe. Mulai sekarang kamu dan Dul tinggal di sini.” Bara membuka pintu mobil dan memegangi lengan Dijah yang masih terbengong-bengong menatap keseluruhan rumah itu. Dua buah pohon bonsai melebihi tinggi tubuhnya menyembul dari balik pagar. Suara gemericik kecil air terdengar dari sudut halaman.
“Jah, pegang ini ....” Bara mengangsurkan sebuah tas berisi beberapa pakaian Dul yang dirasa Dijah masih layak digunakan.
“Oh iya, maaf ....” Dijah buru-buru mengambil tas itu dari tangan Bara. Dengan cekatan pria itu membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh Dul ke dalam gendongannya. Bara kemudian berjalan ke sisi kiri pagar kemudian memasukkan tangannya untuk meraba sebuah bel.
Suara alunan musik lembut seketika terdengar dari dalam rumah. Bara berdiri di sisi kiri Dijah sambil memijat-mijat lembut bahu wanita itu.
“Rumah siapa?” bisik Dijah lagi.
“Rumah kamu sayang ...” sahut Bara. Dijah mengerucutkan mulutnya karena merasa Bara selalu bercanda dan tak menjawabnya dengan benar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara anak kunci yang diputar dan suara slot pintu yang sedang dibuka.
Dengan rambut putihnya yang tergulung rapi di belakang tengkuk dan sebuah daster batik lengan panjang yang terjulur sampai mata kakinya, Mbok Jum muncul menyongsong mereka.
Belum apa-apa tangis wanita itu sudah pecah ketika melihat Dijah.
“Dijah ... Aku kangen. Akhirnya kamu bisa ke sini juga,” isak Mbok Jum ketika berhasil menggeser pagar dan menubrukkan dirinya pada Dijah. Mbok Jum meraung-raung dalam pelukannya.
“Mas ...” panggil Dijah menoleh pada Bara.
“Aku izin bawa Mbok Jum ke rumah kamu ya Jah,” ucap Bara mengacak-acak rambut Dijah sebelum masuk ke dalam rumah dengan Dul yang berada di gendongannya.
To Be Continued.....
Yang masih ada vote voucher Seninnya, bantu vote Bara Dijah ya...
Makasi sebelumnya sayang-sayang enjuuss...
__ADS_1