
“Makan lagi,” pinta Bara menyodorkan coklat yang baru saja dibuka kemasannya pada Dijah. Meski dahinya sedikit mengernyit Dijah mengambil coklat itu dari tangan Bara.
“Ya ampun, usir Boy!” pekik Tini tiba-tiba.
“Apa?!” seru Boy.
“Itu kucing berantem. Hussh... hussh....” Tini akhirnya berdiri tak sabar menendang dua ekor kucing yang bergelut. “Serem ya... itu kucing betina padahal. Anaknya diganggu sih, makanya langsung ngajak gelut.” Tini masih melemparkan pandangannya pada dua ekor kucing yang sudah saling menjauh.
“Padahal kucing itu diem-diem aja duduk di sana dari tadi. Tapi yang seekor itu dateng ngerusuhi. Ya kapok. Kalau dia kalah, mau aku bantu” tambah Tini lagi sambil berdecak. Boy jadi ikut melongok memandang seekor kucing yang sedang menjilati bulu anaknya.
Tini kemudian menoleh pada Bara yang sedang menatapnya tajam. “Kucing itu Mas... induk kucing itu. Aku ngomongi induk kucing itu,” jelas Tini. Bara hanya diam menyipitkan matanya. “Ya ampun Jah, Mas-mu udah ngajak aku ribut lagi. Berarti udah mulai normal dia,” tambah Tini. Dijah hanya tersenyum tipis sedang menjaga rautnya agar tak ikut tertawa.
“Eh iya Jah! Kemarin ada yang nyari kamu ke kos-kosan. Bapak-bapak umurnya 40-an gitu. Tapi bisa juga lebih. Nanya kamu tinggal di mana,” tukas Tini tiba-tiba teringat sesuatu.
“Namanya?” tanya Dijah penasaran. Bara ikut menoleh ke arah Tini.
“Lupa nanya. Mukanya kayak kasian gitu,” tambah Tini. “Kayaknya bukan orang kota sini. Jauh kayaknya.”
“Pinter banget,” gumam Bara. Tini menyipitkan matanya menatap Bara.
“Tapi katanya mau dateng lagi. Aku buru-buru mau pergi kerja. Bapak itu nanya rumah kamu, aku bilang mau tanya dulu boleh ngasi tau apa enggak. Trus bilang mau dateng lagi hari Minggu depan,” jelas Tini.
Dijah menoleh memandang Bara menunggu pendapat.
“Hari Minggu depan—hmm... kalo kamu dan Boy ada waktu, ajak ke rumah aja. Bareng-bareng. Mungkin ada sesuatu yang perlu disampein. Aku tunggu di rumah,” ucap Bara. Ia menebak ini mungkin ada hubungannya dengan keluarga Dijah. Entah itu berhubungan dengan kakangnya, atau saudaranya yang lain.
Dijah diam berpikir-pikir. Siapa laki-laki tua yang mencarinya. Ia mencoba mengingat semua urusannya yang belum selesai di masa lalu. Beberapa saat mencoba mengingat, Dijah merasa tak memiliki urusan apapun pada orang lain. Sekarang dia malah ikut penasaran siapa laki-laki itu.
Kemudian seorang pembeli datang ke gerobak Boy dan memesan roti bakar. Tini yang masih berpakaian rapi karena hari itu pulang awal demi Dijah, berdiri melayani pembeli yang mana seorang laki-laki muda.
“Bawa kantongan Mas?” tanya Tini lembut.
“Enggak,” jawab laki-laki itu.
“Ini saya masukkan ke kantong plastik yang tahan lama dan bisa dipakai berulang-ulang. Awet sampe 100 tahun,” ucap Tini. Pembeli itu kemudian berlalu meninggalkan Tini yang masih tersenyum.
“Wangi parfumnya sama dengan mantan pacarku,” ucap Tini.
“Trus jadi inget sama kenangan indahnya?” tanya Dijah yang tangan kirinya sejak tadi dipaksa Bara untuk bertumbu di atas pahanya.
“Inget sama kelakuan bangsatnya,” jawab Tini. Dijah terkekeh pelan.
“Mas Agus itu gimana? Aku denger udah mau bales pesan kamu,” tanya Dijah.
__ADS_1
“Mau bales sih meski banyak ham-hem-ham-hem isinya. Aku lagi merhatiin dia sukanya apa. Orangnya nggak pelit. Nggak kayak si—ah nggak usah disebut lagi. Pokoknya nggak pelit, doyan beramal.”
“Jelas kok keliatan dia suka beramal. Bales pesan kamu aja dia termasuk sedang beramal,” ujar Dijah tertawa.
“Hmmm... suami istri kayaknya udah mau kembali normal. Denger kamu Boy?” panggil Tini mencolek lengan Boy di sebelahnya. “Kalau Dijah udah mulai menghina, artinya dia udah normal.” Tini mendengus menatap Dijah.
“Nggak mesti sama dia Tin... Kenalan dulu orangnya gimana,” kata Dijah sambil mengulurkan tangannya meraih kantong plastik berisi minuman yang sejak tadi dipegang Bara.
“Minum?” tanya Bara. Dijah hanya mengangguk. Bara segera membuka botol air mineral yang sudah diminum istrinya setengah dan menyodorkannya.
“Ya emang, ini aku deketinnya pelan-pelan aja. Tau orangnya gimana. Aku juga nggak mau membuka diri terlalu cepat.”
“Kenali dulu kebiasaannya. Jangan sampe pas udah nikah kamu suka tidur lampunya padam, dianya suka terang benderang. Repot kalau itu. Bisa tidur terpisah tiap malem,” tambah Dijah sedikit terkekeh.
“Itulah pentingnya tidur bareng sebelum menikah. Salah satunya untuk memahami kebiasaan-kebiasaan itu,” beber Tini dengan bangganya.
“Ya nggak gitu juga Suketi.... Nggak mau membuka diri dulu, tapi ngajak tidur bareng. Kalo udah tidur bareng kamu pasti membuka diri dengan sebenar-benarnya,” ceplos Boy pada temannya yang bebal itu.
“Kamu diem aja Boy.... Urusin centong lodehmu aja.” Tini gantian mendorong lengan Boy sampai laki-laki itu terjungkal dari kursinya.
*****
“Mau makan apa?” tanya Bara dalam perjalanan mereka kembali ke rumah.
“Makan apa ya...” gumam Dijah berpikir. Ia tak ada selera makanan tertentu. Setelah kehamilannya semakin besar, ia hanya perlu makanan yang mengenyangkan. Tak ada keinginan spesifik untuk itu.
“Nggak usahlah, tadi masak banyak. Sayang kalau nggak ada yang makan. Kita makan di rumah aja,” ucap Dijah.
Keputusan seperti itu sudah bulat, Bara melajukan mobil langsung ke rumah. Malam itu mereka makan bersama. Seperti merayakan Bara yang makan malam di rumah, Mbok Jum tak henti-henti menyodorkan piring berisi lauk yang baru dimasak sore tadi sesuai permintaan Dijah.
Malam itu Bara gugup tak seperti biasa. Ia sedang menunggu nasibnya. Ia tiba di kamar tidur dan berbaring dengan tumpuan satu tangan. Tangan kanannya membuka sebuah buku dan sudut matanya mengamati Dijah yang membawa daster dan pakaian dalamnya ke kamar mandi.
Sudahlah, tamat riwayatnya malam ini. Jangankan meremas bokong istrinya. Mengusap-usap punggung Dijah pun sepertinya mustahil. Dijah mengganti pakaiannya di kamar mandi. Kalau sudah ribut sampai menyerahkan kunci dan ganti pakaian di kamar mandi, Bara tak berharap akan kesejahteraannya di ranjang.
Setelah menepuk-nepukkan pelembab ke wajahnya dan membuka jepitan rambut, Dijah melangkah naik ke ranjang.
“Sini,” pinta Bara menepuk tempat di sebelahnya. Dijah menurut, tapi rautnya datar. Bara menarik bed cover dan melipat tepinya agar menjadi lebih tebal sebagai alas perut Dijah yang akan berbaring miring.
Dijah berbaring menghadap Bara dan langsung memejamkan matanya. Dengan dua bantal yang ditinggikan Bara berbaring dengan posisi lebih tinggi dari istrinya. Wajah Dijah menghadap dadanya, dan ia bernapas lega saat Dijah tak menampik usapan tangannya di punggung wanita itu.
“Jah... anak-anak magang itu hampir sebulan ini di kantor. Program mas Heru untuk bantu-bantu mahasiswa. Untuk bantu-bantu kerjaan juga. Aku bener nggak merhatiin awalnya. Buatku biasa aja. Tapi... akhir-akhir ini aku memang sedikit terganggu dengan pesan-pesan itu. Isinya ya kayak gitu. Aku langsung hapus karena aku nggak mau kamu kepikiran macem-macem kalo baca itu. Bukan berarti aku merhatiin anak magang itu. Enggak... Aku minta maaf kalo aku nggak peka. Padahal anak kita udah mau lahir. Kamu pasti kesepian selama aku pulang malem terus. Aku minta maaf....” Bara masih terus mengusap pelan punggung istrinya. Dijah sudah tertidur. Ia tak tahu sampai di mana ucapan itu didengar oleh istrinya.
*****
__ADS_1
“Mau ke mana memangnya?” tanya Dijah duduk di tepi ranjang masih dengan lilitan handuk seusai mandi pagi.
“Ikut mas aja pokoknya. Pake baju yang ini, mas suka....” Bara menyampirkan sebuah hanger yang berisi dress semata kaki berwarna hitam dengan motif bunga kecil-kecil. Sebelum meletakkan dress itu, Bara tak lupa menghirup aroma pakaian itu beberapa detik. Memang sudah menjadi kebiasaannya. Bara melepaskan hanger dan membuka beberapa kancing bagian atas dress. “Ayo dipake. Pake daleman dulu jangan lupa,” canda Bara menatap Dijah yang masih memasang raut penasaran.
Dijah bangkit dari tepi ranjang dan mengambil pakaian dalamnya yang juga dipilihkan Bara. Sedikit melirik pada suaminya, ia mulai menurunkan handuk sampai ke batas perut.
“Kenapa? Takut mas ngintip?” seloroh Bara lagi karena melihat wajah ragu-ragu Dijah. “Mas cuma liat aja,” ucap Bara kemudian duduk di tepi ranjang memegang dress hitam istrinya.
“Takut ngintip apa...” gumam Dijah sedikit rikuh. Merasa dicuekin Bara membuat hatinya sedih, tapi diperhatikan dari jarak begitu dekat apalagi sedang setengah telanjang memakai pakaian dalam membuatnya salah tingkah.
Sedang mengusir Bara tak mungkin. Laki-laki itu suaminya. Bara sudah segar dan memesona seperti biasa. Muda, modis, ganteng dan selalu wangi. Dijah sebenarnya tak heran kalau ada wanita muda yang menyukai suaminya. Terlebih sikap Bara yang cuek dan tak peka pasti membuat perempuan penasaran.
Dijah mengambil branya. Bara seketika berdiri dan membantunya memasang pengait.
“Udah...” lirih Bara dari belakang tengkuk Dijah saat bra-nya sudah terpasang. “Nanti kita beli lagi.... Baju kamu memang udah mulai sedikit.”
Dijah diam saja dan mengambil pakaian dalam bawahan. Sekali lagi ia melirik Bara yang masih mengamatinya. “Udah ah, jangan diliatin terus.”
Mendengar Dijah mengatakan hal itu, Bara malah tergelak. Mereka keluar pukul 7 pagi itu. Bara langsung menuju kantornya tanpa menjawab pertanyaan Dijah soal tujuan mereka.
Bara melirik istrinya yang menatap jalanan dengan raut penasaran. Saat menyadari tujuan mereka, Dijah menoleh menatap Bara. “Ke kantor?” tanya Dijah.
Bara mengangguk. “Temeni aku kerja sebentar. Ada kerjaan yang diminta mas Heru harus selesai hari ini. Siangnya kita makan di luar trus belanja. Oke?”
Dijah seketika mengamati tampilannya.
“Kamu udah cantik. Cantik banget. Orang kantor pasti penasaran gimana Mbak yang namanya nempel di motor merah.”
Dijah tak tersenyum. Wajahnya malah terlihat nervous. Ia akan melihat perempuan yang mengirimi suaminya pesan. Perempuan muda, anak kuliahan pula. Kalau sudah seberani itu, artinya perempuan itu percaya diri. Dan percaya diri artinya cantik atau kaya. Pikiran Dijah menarik kesimpulan sendiri.
Mobil telah masuk ke halaman kantor dan parkir persis di depan lobby. Bara turun kemudian langsung memutari mobil untuk membantu Dijah. Dengan sebelah tangan menggandeng istrinya dan sebelah tangan lagi memegang tas tangan wanita berwarna coklat, Bara percaya diri melangkah masuk ke kantor.
“Mbak Dijaaaah...” sapa Bayu dari salah satu meja di sebelah kanan. “Sebentar lagi ponakan bakal lahir nih kayaknya,” sambung Bayu melambaikan tangannya.
“Siapin duit beli kado ya,” sahut Bara.
Ketika percakapan itu terjadi, hampir semua mata orang di lantai satu tertuju pada Bara. Termasuk Nia.
Bara yang ganteng seperti biasa. Dengan ransel dan sepasang sneakers layaknya pria muda belum beristri, hari ini tampak beda. Sebelah tangannya menggandeng wanita yang sedang hamil besar. Wanita yang namanya ditempel sebagai stiker di motor Bara. Itu istrinya, pikir Nia. Sedikit tak menyangka Nia melirik ke arah tangan Bara yang memegang tas tangan wanita. Norak sekali batin Nia. Ternyata Bara termasuk ke perkumpulan suami takut istri.
Nia cepat-cepat mengalihkan pandangannya dengan beberapa lembar kertas yang sedang ditulisinya sejak tadi. Sudut mata Nia melihat Bara menggandeng istrinya dengan santai masuk ke ruangannya. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu ditutup. Padahal, hampir sebulan berada di kantor itu Bara tak pernah menutup pintu ruangannya.
To Be Continued.....
__ADS_1
Jangan kelewat like-nya ya...
Makasih karena sudah menunggu :*