PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
47. Makan Malam


__ADS_3

Bara melangkah mendekati Dijah, dan tangan wanita itu refleks menarik handuknya untuk menutupi dada. Bara memojokkannya sampai pintu lemari satunya menghantam dinding cukup keras.


Wajah Dijah kini berhadapan dengan dada Bara. Dan dadanya sendiri sudah turun naik menanti apa yang akan dilakukan Bara. Dijah bisa merasakan puncak dadanya menggesek permukaan kemeja pria itu.


Bara kembali mencium Dijah. Dan tak perlu waktu lama untuk menunggu tangan Bara untuk langsung menuju sepasang benda lembut yang belum diberi penutup


Dijah tak sanggup menolak. Langit sudah gelap dan Bara membuatnya menjatuhkan handuk ke lantai. Remasan lembut tangan Bara di dadanya membuat lutut Dijah melemas. Bara yang menyadari letak berdiri Dijah yang semakin condong ke arahnya, membuat Bara merengkuh pinggang Dijah untuk menempeli tubuhnya.


Dalam pikiran, Bara ingin mengajak Dijah bercinta, namun di lain sisi ia khawatir. Bara khawatir akan klimaks membabi-butanya minggu lalu yang membanjiri Dijah. Bagaimana kalau wanita itu hamil pikirnya.


Pikiran itu sudah menghantui Bara sejak kemarin. Jika hal itu sampai terjadi, ia akan malu sekali pada kedua orangtuanya. Dan Dijah akan semakin dipandang negatif oleh orang-orang sekitarnya.


Dengan berbagai pikiran yang menghantui tadi, Bara melepaskan ciumannya. Tatapan mata Bara sayu memandang wanita yang kini menjadi kekasihnya itu. Ia masih berdiri menatap Dijah seraya mencium pipi, kepala, telinga dan bibir wanita itu berpindah-pindah.


Dijah membuka lebar matanya menatap wajah tampan Bara. Ia tak ingin melewatkan momen itu. Dijah masih merasakan tangan kiri Bara yang memijat dan mengusap puncak dadanya.


Bara sedang memikirkan sesuatu yang kemungkinan besar Dijah sudah mengetahuinya. Dijah hanya diam mematung sampai kegiatan Bara mencumbuinya benar-benar selesai. Ia tak mungkin mengatakan kepada Bara bahwa apa yang dipikirkan pria itu tak perlu dikhawatirkannya.


"Ya udah, pake baju. Kita pergi makan malam di luar ya," ujar Bara akhirnya. Ia memutuskan untuk menunggu hasil kerjanya minggu lalu.


"Makan di mana?" tanya Dijah.


"Di cafe aja, gak masuk ke mall." Bara masih berdiri di dekat Dijah yang mengambil bra yang sesaat lalu tertunda pemakaiannya.


"Ya udah sana," usir Dijah.


"Ya udah pake," pinta Bara. Matanya masih memandang puncak dada Dijah yang sesaat tadi ingin dikulumnya.


Setelah menelan ludahnya sekali lagi, Bara berjalan menjauhi Dijah dan duduk di tepi ranjang.


"Dijah..." panggil Bara. "Kamu nggak khawatir?" tanya Bara.


"Khawatir apa?" tanya Dijah untuk memastikan bahwa pikirannya benar soal apa yang sedang dibicarakan Bara.


"Yang minggu lalu--" Perkataan Bara terhenti.


"Enggak." Dijah mulai berpakaian.


"Tapi harusnya kamu 'kan..."


"Aku nggak," potong Dijah.


Bara menghela nafas. Apa Dijah meragukan kemampuannya membuahi, batin Bara. Atau Dijah meyakini kalau minggu lalu bukan masa suburnya? Bara kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Rasanya sulit sekali membuat Bara mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Dijah.


"Jadi keluar?" tanya Dijah setelah ia menepuk-nepukkan sedikit bedak di wajahnya.


"Jadi. Ayo..." Bara bangkit membuka pintu kamar dan memakai sepatunya. Ketika telah selesai memakai sepatu, Bara bangkit menegakkan tubuhnya.


"Astagaaaa..." pekik Bara memegang dadanya. Tini tiba-tiba telah berdiri bersandar di bawah jendela kamarnya.


Rambut Tini yang panjang bergelombang kini hitam legam. Bulu mata palsunya sudah tak ada. Dan alisnya yang tak digambar malam itu kelihatan gundul. Bara mengusap dadanya. Penampakan Tini lebih menyeramkan tanpa rambut apinya.


"Kaget ya? Gimana? Aku pesen stikernya aja ya... Kalo udah berhasil, aku langsung tempel di motor Mas Bara" Tini nyengir menggoda Bara.

__ADS_1


"Awas aja kalo berani," jawab Bara.


"Ya udah, perkiraanku gak pernah meleset toh?" tanya Tini. "Aku ini sebenarnya membantu lho... Mas Bara aja yang kurang menyadari." Tini mendengus.


Benar sekali, pikir Bara. Tini memang selama ini selalu membantunya. Meski terkadang cara Tini cukup ekstrim.


"Pacar kamu mana?" tanya Bara berbasa-basi.


"Halah... Gak usah basa-basi. Udah tau aku dikhianati sampe Dijah harus gelut, masih aja nanya pacarku mana." Tini kembali mendengus.


"Mau ke mana kamu?" tanya Dijah pada Tini saat mengunci pintu kamarnya.


"Coba liat alisku..." sahut Tini.


"Oh iya, pasti gak ke mana-mana..." Dijah mengangguk. "Aku pergi dulu ya, tolong liat-liatin kamarku."


"Ngapain liatin kamarmu? Apa ada yang bisa diambil dari dalam sana? Berasa kaya aja... Kalau kaya nggak ngekos di kandang ayam ini," tukas Tini.


"Ya ampun..." gumam Bara menyeret lengan Dijah menjauhi Tini yang masih berdiri di bawah jendela dengan sebuah ponsel dan sebatang rokok di tangannya.


Bara menyandang ranselnya di bahu kiri dan tangan kanannya menggenggam tangan Dijah. Perlahan mereka menyusuri gang dalam diam. Menikmati momen intim sederhana meski hanya sekedar bergandengan tangan di gang gelap.


Beberapa orang pengemudi ojek yang sedang mangkal di ujung gang tak ada yang menyapa Dijah dengan ucapan-ucapan menyakitkan telinga seperti biasa. Sepertinya aura seorang Bara bisa membuat pengemudi ojek itu mengatup mulutnya rapat-rapat.


"Orang tua kamu sehat?" tanya Bara saat memasangkan seatbelt pada Dijah.


"Sehat," jawab Dijah singkat. Ia ingin melontarkan pertanyaan yang sama. Tapi merasa tak percaya diri karena khawatir Bara menganggapnya terlalu 'gede rasa' padahal baru beberapa hari mengenalnya.


Mobil telah melaju meninggalkan jalan yang berada di sebelah mall besar. Di kepala Bara masih tersimpan banyak pertanyaan soal Dijah. Tapi pertanyaan paling utama yang berada di benaknya saat itu adalah maukah Dijah diajak mengulang kembali kegiatan Minggu lalu.


Dijah yang sejak tadi diam di sebelah Bara, juga sama canggungnya. Ia sedang memikirkan apa Bara memang ingin disentuh olehnya. Kenapa tadi Bara tiba-tiba berhenti mencumbuinya. Padahal bagian tubuhnya yang lain pasti tak akan menolak jika diajak bermesraan oleh pria itu.


Apa Bara menganggapnya terlalu dingin? Dijah menekuk wajahnya. Hatinya tak enak karena pikirannya sendiri.


"Sepi banget... Aku nyalain radio ya," ucap Bara memecah kesunyian. Dijah mengangguk dan jemarinya langsung menekan tombol mode FM Radio di setirnya. Volume speaker mobil dalam keadaan tinggi dan sebuah lagu langsung terdengar dari salah satu saluran.


Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak


Berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang


Di setiap ada kamu mengapa darahku mengalir


Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


Aku sedang ingin bercinta karena


Mungkin ada kamu di sini aku ingin


(Sedang Ingin Bercinta - Ahmad Dani)


Awalnya Bara hanya diam mendengar lagu yang sedang diputar, tapi saat lirik lagu tersebut masuk ke bagian reff, ia merasa tersindir.

__ADS_1


"Aku matiin aja ya, berisik ternyata." Bara kembali memencet tombol dari setirnya. Dijah mengangguk cepat karena mengerti apa yang pria itu pikirkan.


Mobil yang dikendarai Bara sudah hampir keluar tol. Ia mengambil jalur kiri untuk mengarah ke palang otomatis. Di depan mereka sebuah truk besar juga sedang mengambil lajur kiri. Di belakang truk itu ada gambar seorang wanita seksi dan tulisan besar 'KAMU BASAH, AKU LELAH'


Lagi-lagi Bara merasa tersindir. Tapi kali ini ia tak bisa menghindar. Mobil yang dikendarainya telah berada di satu jalur lurus. Kini ia dan Dijah menatap tulisan yang sama-sama menggambarkan isi kepala mereka.


Mereka tiba di sebuah cafe bercahaya temaram. Dijah mengenakan sebuah kemeja lengan 3/4 dan celana jeans hitam. Tampilannya sangat sederhana tapi terkesan manis. Bara tak melepaskan genggaman tangannya pada Dijah sampai mereka telah tiba di sebuah meja kecil dengan dua kursi.


Bara yang tak suka jika harus berjauhan, menggeser kursi itu sampai nyaris menempel di kursi yang Dijah duduki.


"Nanti kamu pesen sesuatu untuk Dul dan orang tua kamu ya. Kita anter ke sana," tukas Bara.


"Gak usah, gak apa-apa kok. Dul mungkin udah makan," sahut Dijah. Ia masih sedikit khawatir jika malam itu mereka kembali berpapasan dengan Fredy.


"Gak apa-apa Dijah... Pesen aja," bisik Bara di telinga Dijah. Saat membisikkan hal itu, Bara yang berada di sisi kanan Dijah mencium telinga dan kepala wanita itu berkali-kali. Dijah sedikit risih tapi ia juga menikmati perlakuan manis Bara kepadanya.


Setelah mengatakan hal itu, Bara memandang Dijah dan mengusap pipi tembam kekasihnya. Wajah Dijah terlihat begitu muda saat wanita itu memandang Bara dengan sorot kagum dan sirat rasa sayang.


Menjelang pukul 10 malam, Bara telah menggandeng Dijah kembali ke mobil seraya menenteng bungkusan makanan dari cafe.


"Makasi ya udah ngasi Dul foto pentas seni kemarin, Dul seneng banget. Fotonya di simpen rapi di lemari." Dijah menoleh memandang Bara yang sedang menyetir.


"Eh iya, itu di ransel aku masih ada beberapa lembar lagi. Aku cetak untuk ibunya Dul. Nanti aku kasi, kamu ingetin ya... Padahal hampir tiap hari dibawa-bawa tapi lupa terus," tukas Bara.


Iya, lupa terus. Tiap dekat Dijah pikiran Bara hanya terpusat pada satu hal sekarang.


Mereka sedang melewati sebuah simpang dan hampir tiba di dekat rumah orang tua Dijah.


"Ayahku kadang praktek di sini Jah..." Bara menunjuk sebuah kantor Lembaga Konseling Wanita dan Anak-Anak yang terletak persis di simpang jalan itu.


"Oh... Kantor Bu Widya," gumam Dijah.


"Ha? Siapa?" tanya Bara.


"Gak ada, bukan siapa-siapa." Dijah kembali menatap jalanan di depan mereka.


"Aku aja yang turun, kamu di sini aja." Dijah meraih bungkusan dari jok belakang.


"Enggak, aku ikut." Bara melepaskan seatbelt yang dikenakannya dan meraih bungkusan dari tangan Dijah. Mereka beriringan masuk ke gang itu dan Bara tak sekalipun melepaskan genggaman tangannya pada Dijah. Ia sedang memberikan rasa aman pada wanita itu.


Beberapa saat lamanya Bara duduk di dekat gawang pintu rumah untuk menunggui Dijah yang menyiapkan piring dan sendok untuk Dul. Ia duduk bersila menunggui anaknya makan.


Bara mengambil ponselnya dan berpura-pura sibuk dengan benda itu. Padahal ia sejak tadi memasang telinga tajam-tajam. Ia ingin mendengar pendapat Dul langsung tentang dirinya.


"Om Bara udah makan?" tanya Dul sebelum menyendokkan makanannya ke mulut.


Bara menoleh pada bocah itu, "Udah, kamu makan yang banyak biar cepat besar."


"Om Bara ganteng ya Bu," ujar Dul kemudian. Bara yang mendengar hal itu langsung mengubah posisi duduknya agar terlihat lebih gagah.


"Iya..." jawab Dijah. Mendengar jawaban Dijah, cuping hidung Bara semakin mengembang.


"Hari Sabtu kamu sekolah gak?" tanya Bara pada Dul.


"Enggak, kenapa Om?" Dul terlihat penasaran. Raut wajahnya seketika tertarik menunggu jawaban Bara.

__ADS_1


"Om mau ngajak jalan-jalan. Ke arena bermain yang ada di puncak. Mau?" Bara menyimpan ponselnya dan kini menatap Dul yang sepertinya tak sanggup menjawab ya saking senangnya.


To Be Continued.....


__ADS_2