PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
108. Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Setelah beberapa menit berlari meninggalkan restoran.


 


“Tini! Udah! Mau lari ke mana lagi? Sableng! Aku udah mau mati kecapekan . Dari subuh gak berenti.” Boy menunduk dengan memegang kedua lututnya. Tubuhnya yang gempal dengan cepat membuat nafasnya tersengal-sengal.


 


“Hahaha ....” Tini tertawa terbahak-bahak sambil berjongkok.


 


“Mbak Tini, padahal tadi aku udah curiga. Itu bukan makan malam gratisan. Tapi untuk tamu acara seminar.” Asti yang juga masih terengah-engah bersandar di sebuah tiang lampu dan memegangi perutnya.


 


“Halah! Tapi ikut makan semua. Udah kenyang baru protes. Tadi waktu enak diem aja, tuman!” sergah Tini kemudian menghempaskan dirinya ke rerumputan.


 


“Yuk ah ke kamar. Mas Heru dan mas Bara udah serapi itu, kita masih kucel kayak gini.” Boy mengulurkan tangannya pada Tini untuk mengajak wanita itu bangkit.


 


Namun saat mereka berbalik menuju ke arah jajaran kamar, Bayu tiba-tiba muncul di jalan setapak sedang menuju ke arah mereka.


 


“Aku gak mau lari lagi,” tukas Boy langsung.


 


“Aku harus gimana?” bisik Tini.


 


“Aku temeni ngomong,” sahut Asti dengan nada suara pelan.


 


Bayu telah tiba di depan mereka bertiga.


 


“Mas Bayu, kita semua minta maaf ...” ucap Asti memandang Bayu dengan tatapan penuh penyesalan.


 


“Aku mau ngomong sama Mbak Tini dulu boleh?” tanya Bayu membalas tatapan Asti seperti meminta persetujuan.


 


Asti dan Boy mengangguk cepat.


 


“Lah? Aku? Sendirian?” Tini mengedarkan pandangan pada teman-temannya.


 


“Ya udah kita balik ke kamar aja Mas Boy,” ajak Asti menarik tangan Boy untuk menjauhi Tini dan Bayu yang sekarang berdiri berhadapan.


 


“Eh! Semprul! Aku gak tau kamarnya yang mana. Jangan jauh-jauh. Tunggu aku. Aku gak mau balik sendirian,” ucap Tini.


 


“Kamarnya lurus aja dari sini Tin. Jangan lebay,” tukas Boy kemudian mengajak Asti pergi dari sana secepatnya.


 


Asti belum benar-benar membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan langkah. Matanya sesaat terpaku pada wajah Bayu yang sama sepertinya. Naif. Asti merasa ia sedang bercermin ketika bertatapan dengan pria itu tadi.


 


Usia Bayu 24 tahun dan Asti 22 tahun. Mereka hidup dalam lingkungan yang nyaris sama. Anak sulung dari keluarga biasa-biasa saja. Yang menamatkan pendidikan dengan bekal secukupnya dari orang tua.


 


“Mbak Tini,” ucap Bayu. Ia melirik sekilas ke arah punggung Asti dan Boy yang menghilang di balik tanaman tinggi.


 


“Hmmm....”


 


“Mbak Tin—”


 


“Iya, ya ampun. Aku udah ham-hem-ham-hem kamu nggak ngomong-ngomong.” Tini melemparkan tatapan resah ke arah teman-temannya yang sudah pergi menuju kamar.


 


“Apa bener yang aku denger tadi?” tanya Bayu memandang Tini.


 


“Eh, aku duduk lagi boleh? Sejak nyampe di sini aku lari-larian terus kayak kontingen cabang atletik.” Tini kembali duduk menghempaskan bokongnya di rumput.


 


“Atau kita ke tepi pantai sana? Ngobrolnya mungkin lebih nyaman,” ucap Bayu.


 


“Halah gak usah di sini aja. Aku udah dari sana tadi. Eh, aku duluan yang ngomong boleh ya Bay?” Tini yang sudah lelah dengan dramanya seharian itu memasang wajah paling serius menatap Bayu.


 


“Aku minta maaf. Sekali lagi aku minta maaf. Kayak yang kamu denger tadi. Yang balesin pesan kamu itu, bukan aku. Tapi Asti. Awalnya aku kira kamu cuma cari temen ngobrol aja. Gak lebih dari itu. Tapi semuanya jadi makin runyam. Aku gak ada niatan lebih-lebih dari itu Bay ... Kamu itu seumuran adekku. Kayak Asti. Kamu tau usiaku berapa? 28 tahun Bay ... Aku seumuran sama mas-nya Dijah. Bara. Aku manggil Bara pake ‘mas’ karena aku tau, mas-nya Dijah suka dipanggil gitu.” Tini menoleh memandang wajah Bayu.

__ADS_1


 


“Aku minta maaf ya ...” ulang Tini lagi. “Aku jadi gak enak karena udah diajakin pergi jalan-jalan tapi malah bikin drama kayak gini. Aku sungkan ke mas Heru.”


 


Bayu diam mematung. Ia kini ikut duduk di atas rumput dengan kedua kakinya setengah ditekuk. Pandangannya mengarah pada lautan beberapa ratus meter di depan mereka.


 


Bayu menarik nafas dalam. Mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen sebelum akhirnya berkata, “Gak apa-apa Mbak Tini ... Aku gak bisa paksa. Selama ini aku kira itu emang Mbak Tini. Aku udah terlanjur senang dan nyaman ngobrol.”


 


“Yang bikin kamu nyaman ngobrol itu Asti Bay ... Bukan aku. Asti itu juga perempuan. Sebenarnya dia juga nyakitin dirinya sendiri dengan ngeladeni kamu ngobrol. Aku rasa perempuan gak akan mau ngobrol panjang sama laki-laki kalau nggak ada rasa. Kecuali dia telemarketing*,” tutur Tini yang kini lebih berani menghadapi Bayu.


(*telemarketing : sales via telepon)


 


“Jadi Mbak?” tanya Bayu.


 


“Jadi apa? Ya aku minta maaf. Jadi mau gimana lagi? Udah kejadian. Kamu mau aku kayak gimana? Bukan karena kamu gak ganteng. Bukan karena kamu gak keren jadi laki-laki. Tapi memang aku gak bisa. Aku nggak ngerasa—” Tini terdiam. Ia tak bisa menemukan perumpamaan kata yang halus untuk mengatakan bahwa Bayu tak bisa membuat debaran dan menjadikannya basah belingsatan. Khawatir mengatakan hal aneh, Tini mengatupkan mulutnya.


 


“Jadi semuanya Asti yang bales?” tanya Bayu.


 


“Iya ...” jawab Tini kembali menoleh jalan yang menuju kamar tempatnya.


 


“Termasuk soal hobi membaca, karya seni, dan—”


 


“Semuanya—semuanya Asti.”


 


“Makanan kesukaan?”


 


“Itu Asti juga,” sahut Tini cepat.


 


“Lari pagi di kampus kedokteran?”


 


“Asti juga ...” jawab Tini dengan nada lemah. Ia semakin lelah meladeni Bayu.


 


 


“Ast ... Ha? Ciuman pertama Asti juga di semak-semak?”


 


Bayu mengangguk. “Dia ngomong gitu,” jawab Bayu.


“Haha—” Tini tertawa terbahak-bahak tanpa perasaan. “Oalah Asti ... Dari sekian banyak yang diomongi akhirnya ada yang sama denganku. Hihihi ...” Tini masih terkikik-kikik geli.


 


Melihat Tini tertawa tak henti-henti, Bayu ikut tertawa.


 


“Asti kuliah di mana Mbak?” tanya Bayu.


 


“Gak tau aku, dia kuliah di mana. Kamu aja yang tanya sendiri. Nanti aku kasi nomer hapenya biar kalian bisa lanjut ngobrol. Gak usah maksain diri. Temenan aja dulu. Asti itu anak baik. Pembawaannya tenang. Kamarnya kebakaran aja dia bisa tenang. Aku nganggap Asti itu kayak adikku juga. Makanya aku suka ngomel kalau dia kenalan ama sembarang cowok. Karena aku tau dia perempuan baik-baik.” Tini menatap Bayu dan tersenyum.


"Jadi aku kayak adik Mbak Tini juga? Sama kayak Asti?" tanya Bayu lagi.


"Iya. Harusnya Asti aja kuanggap adik. Tapi kalau kamu juga mau, ya udah kamu aku anggap adikku juga." Tini menjawab asal agar percakapan itu lekas selesai.


"Aku anak perantauan Mbak," ujar Bayu.


"Ya sama. Kami sama-sama orang perantauan. Nemu seseorang yang cocok dalam berteman itu sulit. Dia ngertiin aku. Teman-teman kandang ayam selalu ngertiin aku. Buatku mereka itu keluarga. Bahkan mereka lebih ngertiin aku, ketimbang keluargaku di kampung. Andai aku beneran suka sama kamu, aku tetep gak mau. Untungnya aku memangnya gak suka." Tini kembali terkekeh tak peka.


"Jadi kalo aku mau nanya soal Asti, gak boleh juga?" tanya Bayu.


"Kamu tanya sendiri. Bukan tipeku bales-balesan pesan. Jangan hubungi aku dengan pake alasan mau nanya soal Asti. Nggak bener itu." Tini bangkit dari duduknya mengibaskan pakaian.


 


Sementara itu di balik tanaman tinggi yang menjadi penghalang, sosok Asti dan Boy masih berdiri memandangi Tini dan Bayu yang sedang tertawa-tawa.


 


“Kayaknya mas Bayu udah mulai terima ya Mas ... Mukanya udah happy lagi. Aku jadi lega,” ucap Asti. Hatinya sedikit kecut melihat Bayu yang sudah terlihat kembali riang tertawa bersama Tini.


 


“Sedih ya?” tanya Boy. “Kamu beneran suka sama Bayu?” Boy memegang bahu Asti.


 


“Suka Mas, suka banget. Tapi kalau mas Bayu gak bisa suka aku, ya nggak apa-apa. Yang penting mas Bayu udah bisa maafin kita. Aku nggak bisa paksa,” ujar Asti kemudian. “Yuk balik ke kamar. Aku capek.” Mulut memang mudah menipu. Tapi hatinya berdenyut. Hilang sudah malam-malam penuh senyum dan euforia saling berbalasan pesan dengan Bayu.


 


“Yakin?” tanya Boy merangkulkan tangannya ke bahu Asti. Mereka mulai melanjutkan langkah menyusuri jalan setapak. Kamar mereka sudah tampak di depan mata.

__ADS_1


 


“Hei kampret! Aku udah tebak kalian pasti nggak akan ninggalin aku!” Tini berlari dan setengah melompat menyeruak ke tengah Asti dan Boy. Dengan mudahnya ia bergantungan dengan kedua bahu teman-temannya.


 


Asti menoleh sesaat ke belakang. Melihat Bayu yang masih berdiri di ujung jalan menatap mereka bertiga. Ia tak mau memandang pria itu lebih lama lagi. Sudah selesai pikirnya. Harapan yang sudah bersemi kemarin harus cepat-cepat dibasmi dengan racun rumput.


 


Asti merangkul Tini dan pergi menjauhi Bayu.


 


“Udah selesai?” tanya Boy pada Tini dengan suara pelan.


 


“Udah, gak selesai emangnya mau ngapain lagi? Emangnya dia masih berdiri di belakang?” tanya Tini.


 


“Aku gak mau liat,” ucap Asti.


 


“Aku juga nggak,” sahut Boy.


 


“Kita lari lagi?” tanya Tini. “Aku khawatir dia mau tanya-tanya lagi. Males aku,” sambung Tini lagi.


 


“Jangan lari, tapi langkahnya aja dicepetin.” Asti mempercepat langkahnya.


 


Kemudian....


 


“Asti!!” teriak Bayu.


 


Seperti disetrum, ketiga penghuni kos kandang ayam itu menghentikan langkah dan mematung. Perlahan ketiganya menoleh ke belakang. Mereka sedang berada di jalan setapak di depan deretan kamar hotel yang terletak paling depan.


 


Bayu melemparkan tatapan ke arah tiga pasang mata manusia di hadapannya. Dengan jarak tak lebih dari 25 meter, Bayu berteriak.


 


“Besok malam kita jalan berdua ya ... Aku pengen ngobrol!” seru Bayu.


 


“Aku?” tanya Asti menunjuk wajahnya sendiri.


 


“Iya! Kamu!” balas Bayu dengan seruan.


 


“Jawab As!” pekik Tini. Asti masih belum percaya dengan hal yang baru saja didengarnya. “Iya Bay! Oke katanya! Besok malem, 'kan? Aman! Mantap!” seru Tini menggantikan jawaban Asti yang dinilainya terlalu lambat.


 


“Aku tunggu! Di tepi pantai!” teriak Bayu kemudian mundur beberapa langkah.


 


“Iya! Ok—”


 


“Heh!! Suara kau itu ya Tini! Menjerit-jerit kau tengah malam gini! Yang kau kira ini rumah opung kau?” Mak Robin membuka pintu kamar hotel yang tepat di dekat Tini, Asti dan Boy berdiri.


 


“Kamar mamak si Robin ternyata,” ujar Tini kemudian kembali tertawa terbahak-bahak. "Ayo masuk, kamar kita di sebelahnya, 'kan?" tanya Tini pada Boy untuk memastikan.


Asti mengatupkan mulutnya menahan senyum. Kedua telapak tangannya berada di pipi. Merasa-rasa hawa hangat menyerang hingga membuatnya merona. Bayu mengajaknya jalan berdua. Apa yang dikatakan Tini pada pria itu?


To Be Continued.....


Selamat akhir Minggu mbak-mbakku semuanya.


Makasi karena udah mengusap tombol likenya.


Ditunggu update malamnya ya.... :*


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2