
“Mbok ... Dijah mana?” tanya Bara pagi berikutnya. Ia tak mengabari pada Dijah akan mampir ke rumah pagi itu sekalian menjemput Heru untuk berangkat ke kantor bersama.
Bara masuk dengan mendorong pagar dan langsung menuju pintu belakang yang berada di dalam garasi. Garasi itu masih kosong, mobil dan motornya belum berpindah ke sana.
Dari depan pintu dapur, ia sudah melihat Mbok Jum yang mencuci piring langsung menghentikan pekerjaan untuk menyongsongnya.
“Dijah berangkat pagi-pagi bener ke rumah Kakang-nya. Dul juga masih tidur tadi. Katanya ada hal yang mau dia bicarain sama ibunya. Nak Bara nggak tau?” tanya Mbok Jum.
“Dijah gak bilang. Mungkin dia nggak mau ngerepotin aku. Karena kalo bilang, aku pasti ngotot mau nganter.” Bara juga tahu pasti kalau Dijah pasti tak ingin dia mendengar seluruh pembicaraannya di rumah Kang Supri.
“Dul mana?” tanya Bara kemudian berjalan ke ruang keluarga. Di sana ada dua buah kamar yang bersisian. Satunya adalah kamar Dul. Sedangkan satunya masih kosong. Kamar Mbok Jum terletak di dekat ruang makan.
“Nak Bara, maaf ... Aku nggak ngerti make ini gimana—” Mbok Jum menunjuk cooker hood penghisap asap yang sedang menderu-deru di atas kompor gas yang menempel di meja granit dapur.
“Sebentar—” Bara mendekati meja granite dan mematikan alat itu.
“Itu nggak rusak kan?” tanya Mbok Jum menatap cooker hood dengan raut cemas.
Bara tertawa kecil. “Gak kok Mbok...” jawabnya kemudian.
Mbok Jum yang pernah mengatakan sering tak tahu harus bagaimana jika berlama-lama berbicara kemudian sedikit menunduk dan kembali ke bak cuci piring melanjutkan pekerjaannya.
Dijah tadi membantunya menyalakan cooker hood itu tapi lupa mengajarkannya bagaimana cara mematikannya. Mbok Jum telah berada di dalam dapur dengan suasana tegang sejak tadi. Ia takut merusakkan barang-barang yang berada di rumah itu. Diberi tumpangan dengan dua piring nasi sehari saja, ia sudah sangat bahagia sekali. Ia merasa akan mengabdikan seluruh sisa umurnya untuk membantu keluarga Dijah dan Bara.
“Lagi apa?” tanya Bara pada Dul yang sedang duduk termangu-mangu di meja belajarnya.
“Om Bara!” pekik Dul memutar kursi belajarnya.
“Duduk aja, Om duduk di sini.” Bara menunjuk tepi tempat tidur yang letaknya bersebelahan dengan meja belajar Dul.
“Akhirnya ketemu lagi ...” ucap Dul.
“Iya, kita ketemu lagi. Gimana? Seneng tinggal di sini?” tanya Bara.
“Seneng. Rumahnya luas. Bersih. Airnya deres trus jernih. Gak perlu disaring pake ember pecah yang isinya ijuk sama pasir. Jadi gak mesti nunggu lama kalau mau mandi.” Dul duduk mengayun-ayunkan kakinya.
“Om juga seneng, kalo Dul seneng. Oya, Om mau nanya sesuatu. Sebenarnya udah lama, tapi Om baru sempet nanya sekarang.” Bara menarik nafasnya dan tersenyum.
“Apa?” tanya Dul. Bara memutar kursi Dul menghadapnya dan mendekatkan kursi beroda itu sampai tepat di depannya.
“Kamu sering nyari Om ke kantor polisi ya? Kamu mau bilang apa waktu itu? Kayaknya penting banget, Om penasaran.” Bara memegangi kedua pegangan kursi dan mencondongkan tubuhnya ke arah Dul.
“Karena waktu itu ibu bilang aku gak boleh ketemu Om Bara lagi. Om Bara sibuk. Aku cuma mau nanya aja. Kenapa sibuk? Apa aku ada bikin salah sampe Om Bara gak mau ketemu aku lagi.” Dul menatap Bara dengan wajah cerianya. “Ternyata sekarang malah diajak tinggal di sini, aku seneng.” Dul mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Kamu masih inget gak soal tawaran Om ke kamu?” tanya Bara.
“Tawaran yang mana? Banyak, Om banyak nawarin aku macem-macem.”
Mendengar hal itu Bara tertawa. Ternyata ia memang sudah banyak menjanjikan banyak hal pada ibu dan anak itu pikirnya.
“Soal tawaran jadi anak Om, masih inget?”
__ADS_1
“Oh itu—masih! Aku mau! Aku selalu bilang mau. Tapi ibu harus jadi—”
“Istri Om. Ibu kamu harus jadi istri Om. Boleh nggak?”
“Terus aku manggil ayah? Bukan Om lagi, 'kan?” tanya Dul polos.
“Harus. Harus manggil ayah. Gimana?”
“Ibu dan Ayah yang tidurnya sama-sama, 'kan?”
“Iya, itu juga harus. Gimana? Boleh?” tanya Bara.
“Hmmm—” Dul seperti sedang berpikir keras.
“Gimana?” Bara sedikit tak sabar karena cemas akan jawaban Dul.
“Aku bakal punya adik ya?” Dul balik bertanya. “Temenku hampir semua punya adik,” sambung Dul.
“Kenapa? Kamu gak suka?”
“Aku juga kepingin soalnya,” sahut Dul. “Kepinginnya perempuan. Boleh?” tanya Dul
Sekarang malah Dul yang balik bertanya. Pertanyaan yang sedikit membingungkan Bara mengingat cerita ayahnya soal trauma Dijah pada kehamilan pertamanya.
Kalau ditanya boleh atau tidak. Jawabannya tentu saja boleh. Malah sangat boleh. Tapi dalam hal ini ia sudah berjanji tak akan memaksa Dijah. Semuanya harus serba perlahan dan tak terburu-buru. Membuat Dijah meletakkan kepercayaan padanya lebih dulu merupakan prioritas Bara saat ini.
“Boleh—boleh banget. Kalau ibu kamu boleh jadi istri Om, nanti kamu punya adik.” Jawaban Bara sekarang malah mengusik rasa percaya dirinya sebagai laki-laki. Mampukah ia memberi anak pada Dijah? Sedangkan bajingan itu, sekali saja bisa membuat Dijah ham ... Bara memejamkan matanya. Pemikiran bodoh pikirnya. Jangan sampai siapapun tahu soal kekhawatirannya ini.
Bara menarik senyum dan mencubit pelan pipi Dul. “Pinter,” kata Bara.
*****
Dijah masih duduk di sofa yang beberapa bagiannya telah sobek dan membuat busanya mencuat keluar. Ia sedang menjentik-jentikkan kukunya beradu satu sama lain di atas pangkuan. Kepalanya sedikit menunduk dan wajahnya muram.
Kang Supri duduk di lantai bersandar ke dinding rumahnya.
“Kamu jangan cemberut gitu. Aku bukan nggak mau nerima orang ngelamar kamu di sini. Rumahku jelek kayak gini. Tamu duduk juga nggak cukup untuk sepuluh orang. Apalagi bapak baru meninggal. Masak aku nerima tamu mau ngawinin adikku. Sabarlah, nanti-nanti kan bisa.” Kang Supri yang bertubuh kurus dan tampak lebih tua dari usianya menghembuskan asap rokok.
“Jadi aku harus bilang apa ke Bara? Nggak usah dateng? Kakang 'kan keluargaku, jadi aku ngomong ke siapa lagi? Apalagi Ibu di sini. Kok lama-lama aku kayak nggak punya keluarga.”
“Mereka orang kaya Jah,” ucap Kang Supri.
“Jadi aku harus gimana Kang? Kalau Kakang nggak bolehin di sini, ya udah. Nanti aku bilang ke Bara nggak usah ke sini.” Susah sekali pikir Dijah. Padahal mau memulai hidup lebih baik saja tapi kenapa susah sekali.
“Kamu nikahnya kapan bilang aja, aku langsung dateng bawa Ibu. Bilangin ke Kakangmu satu lagi, minta dateng juga. Aku lagi nggak omongan sama dia.”
“Nggak omongan kenapa? Sama-sama miskin harusnya akur-akur. Nggak apa-apa nggak punya harta berlimpah asal punya saudara yang bisa diharapkan. Heran!”
“Terserahmulah, pokoknya aku dah ngomong. Jangan ke sini. Aku malu. Aku heran kenapa kamu nggak malu,” tukas Kang Supri.
“Kenapa aku harus malu? Sisi hidupku mana lagi yang nggak bikin malu. Semuanya bikin aku malu. Mau ngasi tau jawaban Kakang ke Bara aja aku malu sebenarnya. Entahlah—” Dijah berdecak.
__ADS_1
“Telepon aja, kabari kapan nikah. Aku dateng. Itu memang tanggungjawabku sekarang. Tapi nggak usah dateng-dateng ke sini bawa orang rame-rame.”
Dan Dijah pulang dari rumah Kang Supri dengan wajah datar seperti biasa. Perempuan mana yang mau dinikahi tapi keluarganya tak mau didatangi. Mengatakannya pada Bara pun ia bingung. Nasibnya hampir sama seperti Mbok Jum sekarang. Semakin hari ia merasa semakin tak dianggap.
Sejak bapaknya meninggal, kesehatan ibunya semakin menurun. Dijah tak mengatakan apa-apa pada ibunya atau Kang Supri, tapi ia memiliki firasat kalau ibunya juga tak akan hidup lebih lama lagi. Hal itu membuat Dijah semakin ingin cepat menikah. Satu saja orangtuanya bisa melihat ia menikahi laki-laki yang dicintainya.
Dijah tiba di rumah hampir pukul lima sore. Setelah memandikan Dul dan memasak sedikit lauk makan malam, Dijah merebahkan dirinya di ranjang besar yang telah diberinya sprei biru polos. Sprei itu ia temukan di dalam lemari masih terbungkus plastik. Warna pilihan Bara. Semua yang dibeli pria itu rata-rata berwarna putih, biru dan hitam.
Dijah masih memikirkan bagaimana memberitahu Bara soal jawaban Kang Supri padanya. Malam itu ia melewatkan makan malam dan meminta Mbok Jum menemani Dul. Kepalanya terasa pusing dan Dijah tertidur sebentar.
Pukul sebelas malam ia terbangun karena lapar. Dijah mengecek ponselnya yang tergeletak di sebelah bantal. Tak ada pesan atau panggilan dari Bara untuknya. Apa karena sudah mampir ke rumah tadi pagi dan hanya bertemu dengan Dul, Bara merasa tak perlu menanyakan kabarnya?
Atau... Bara kesal karena ia pergi tak bilang-bilang?
Dijah keluar kamar dan menyeret langkahnya ke ruang makan. Begitu tiba di ruangan itu, ia melihat Bara sedang makan sambil menonton pertandingan sepak bola di ponsel yang tersandar pada botol air.
Perlahan Dijah mendatangi Bara yang belum sadar akan kehadirannya. Setelah tiba di belakang pria itu, Dijah mengalungkan tangannya di sekeliling leher Bara.
“Eh, ngagetin. Kok bangun? Kirain tidur sampe pagi. Aku nggak mau ganggu.” Bara mendongak ke belakang seraya mengusap-usap tangan Dijah.
“Udah lama nyampe? Siapa yang bukain pintu? Mbok Jum ya?” tanya Dijah masih berdiri mengalungkan tangannya. Bara menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya kemudian meneguk setengah gelas air putih.
“Bukan, udah pada tidur. Aku masuk sendiri. Aku udah ambil kunci cadangan untuk semua pintu. Jadi kalo pulang kemaleman nanti, aku nggak ganggu kamu.” Bara telah menyusun rencana hidup bersama Dijah serapi-rapinya.
“Kalau udah nikah, nggak boleh bawa kunci sendiri. Nanti aku nggak tau Mas pulang jam berapa.”
Merasa senang dengan yang dikatakan Dijah, Bara menarik tangan wanita itu sampai menunduk. “Oke, kalo nggak boleh bawa kunci, nanti aku tinggalin. Tiap pulang, aku telfon kamu.” Bara menarik tengkuk Dijah sampai bibir mereka bertemu. Leher Dijah cukup pegal karena Bara yang menciumnya dengan bibir dingin dan sedikit aroma sambal ternyata cukup lama.
Setelah ciuman mereka terlepas, Dijah menarik kursi dan duduk di sebelah Bara.
“Aku tadi ke rumah Kang Supri. Aku heran, padahal aku cuma izin bawa Mas ke sana. Tapi dia nggak mau. Katanya malu. Jangan bawa siapa-siapa ke sana. Cukup pas nikah aja telfon dia, biar dia dateng. Jadi aku harus gimana? Aku malu kayak nggak punya sodara. Kamu kayak nikahi gembel Mas ...” isak Dijah kemudian menutup wajahnya dan menangis. Ia tak tahan menyimpannya sendirian, Bara harus mengetahuinya. Mau sampai kapan ia sanggup memendamnya. Hal paling berharga dalam hidupnya sekarang hanya Dul dan ... Bara.
Dijah menyayangi ibunya. Tapi ia merasa sudah lama hidup tanpa kehadiran sosok ibu.
Bara memutar kursinya dan duduk menghadap Dijah. Ia kemudian sedikit menunduk untuk memegang kedua sisi dudukan kursi Dijah dan memutarkan kursi itu sampai menghadapnya.
“Maunya Kang Supri apa? Cuma itu? Kalau dia diminta dateng dia pasti dateng kan?” tanya Bara pada Dijah yang menunduk. Mendengar pertanyaan Bara, Dijah mengangguk sambil mengusap air matanya.
“Ya udah, kita nikah di sini aja. Panggil mereka di hari pernikahan aja. Kalau memang itu mau saudara-saudara kamu. Gak apa-apa Jah... Nanti aku ngomong ke keluargaku. Kita udah sama-sama sekarang. Harusnya ini gak sulit lagi. Ngerti maksudku?” tanya Bara. Dijah mengangguk tapi belum menatap Bara.
“Sini—” Bara menarik Dijah dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.
“Aku sayang Ibunya Dul. Aku sayang kamu meski bukan ibunya siapa-siapa. Aku sayang kamu ada atau nggak ada keluarga. Karena aku bakal ngasi keluarga itu untuk kamu.”
“Jangan khawatir lagi ya sayang ...” ucap Bara. Ia mengambil kedua tangan Dijah dan kembali mengalungkan ke lehernya. “Peluk Mas-nya ....”
Dijah menunduk dan meletakkan kepalanya di atas bahu Bara. “Aku sayang Mas Bara ...”
“Harus itu—harus,” sahut Bara memeluk kekasihnya dan mengusap-usap punggung kuat Dijah yang sudah terlalu lama memikul beban.
Hari ini Bara sudah memutar dua kursi yang diduduki ibu dan anak itu untuk mengajak mereka berbicara. Untungnya ibu dan anak itu memiliki perasaan yang sama padanya.
__ADS_1
To Be Continued.....