PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
117. Berita Bahagia


__ADS_3

Ketika Bara melamar Dijah dan ia memutuskan menerima lamaran itu, Dijah benar-benar ingin melepaskan masa lalunya. Dijah tak tahu yang telah disampaikan Bu Widya sejauh apa. Tapi Dijah memutuskan, tak akan membawa apapun dari masa lalunya selain Dul.


Hidupnya bersama Bara, benar-benar hidup yang baru. Dijah pergi melepaskan alat kontrasepsi yang telah lama berada di tubuhnya, sebelum ia benar-benar meninggalkan Rumah Aman.


Berulang kali Bara mengatakan soal tak akan memaksanya untuk langsung memiliki anak semakin membuat Dijah merasa bahwa ia harus segera memiliki anak dari pria itu. Suatu hal yang dikatakan berulang-kali bisa jadi adalah suatu keinginan terpendam dengan cara penyampaian yang berbeda.


Pak Wirya pernah mengatakan pada Dijah; ketika badai datang ke dalam hidup, sesungguhnya bukan badai itu yang harus ditenangkan lebih dulu, tapi dirinya. Kalau ia sudah tenang, maka badai sehebat apapun, dia pasti bisa melewatinya.


Dijah menganggap, urusannya dengan masa lalu telah selesai. Ia tak sabar memiliki seorang bayi kecil dari laki-laki yang dicintainya. Sampai ketika Bara memintanya dengan jelas. Padahal, suaminya tak perlu meminta untuk itu. Semua hanya soal waktu. Karena ia juga sedang menunggu.


Beberapa hari terakhir, tubuh Dijah terasa berbeda. Terlalu cepat lelah dan sering mengantuk. Setelah menyadari siklus menstruasinya terlambat, Dijah bermaksud mengajak suaminya ke dokter untuk memeriksakan diri. Tapi telepon dari Joana, merusak rencananya pagi itu. Suasana hatinya seketika memburuk. Apalagi melihat gelagat suaminya yang sok tenang dan malamnya pria itu pulang terlambat. Pesan pendek Joana di tengah malam membuat Dijah murka dan dilecehkan sebagai isteri.


Kemarahan dan kesedihannya tumpah ruah malam itu. Meski sudah memaafkan Bara, ia masih sakit hati. Kenapa Bara lebih mendengarkan orang lain ketimbang isterinya sendiri. Dan tubuhnya semakin tak bisa diajak berkompromi. Dijah tak pernah merasa selemah itu. Beberapa hari ke depan ia memutuskan akan tidur lebih dulu. Ia tak sanggup menunggui suaminya pulang di tengah malam. Apalagi terakhir kali alasannya karena membantu seorang wanita.


Sebenarnya Dijah tak tega melihat perubahan wajah Bara ketika menerima kunci rumah. Tapi biarlah, sesekali pria itu mengerti arti sakit hati seorang isteri. Dijah merasa perlu waktu sebentar sebelum memastikan semuanya lebih dulu. Pertanyaan Joana yang bertanya soal kehamilan sangat menyinggungnya. Dijah juga mengerti kekhawatiran Bara soal itu. Ia masih kesal akan sikap Bara.


Maka ia memutuskan pergi ke dokter kandungan sendirian. Dan siang itu di sebuah praktek dokter tempatnya melepaskan IUD, Dijah menarik nafas lega saat dokter mengatakan, “Selamat Bu, janinnya sudah empat minggu.”


Dokter menyatakan Dijah positif mengandung empat minggu. Dijah pulang ke rumah dan kembali berbaring di ranjang memandangi beberapa test pack yang sengaja dibeli untuk meyakinkan dirinya sebelum menyampaikan pada Bara. Meski dokter telah menyatakan kehamilan itu benar. Dijah juga ingin memiliki benda itu sebagai kenang-kenangan. Ternyata hamil dari seorang pria yang dicintai rasanya sebahagia itu.


Dari sore ke malam, Dijah tak beranjak dari ranjang. Mbok Jum menjenguknya ke kamar dan sempat menangis memeluknya karena berita bahagia itu. Hatinya bahagia, tapi tubuhnya sedang manja. Pagi hari Dijah hanya sanggup memakan sepotong roti. Siangnya sebelum ke dokter ia cuma bisa makan beberapa sendok nasi.


Sore hari, Mbok Jum memaksanya kembali makan karena mengetahui kehamilannya. Dijah meringkuk di ranjang karena lemas, pusing dan serasa meriang.


“Makan Jah... Kalau diturutin terus nanti malah nggak ada tenaga. Kamu mau apa, nanti tak masak. Besok biar aku aja yang masak untuk dibawa ke rumah orang tua Nak Bara.” Karena perkataan Mbok Jum itu, Dijah menjejalkan beberapa sendok nasi ke mulutnya. Ini adalah kali pertama ia merasakan kehamilan sesungguhnya. Sedangkan pada saat mengandung Dul? Ia tak ingat.


Syukurnya, ia telah menyerahkan kunci rumah pada Bara. Malam itu ia memutuskan tidur lebih dulu dan meletakkan sebuah test pack di dekat gelas yang biasa digunakan suaminya untuk minum. Dijah ingin tahu bagaimana reaksi suaminya. Bahagia, atau jangan-jangan Bara tak mengerti.


Dijah sudah terlelap tengah malam itu. Tidurnya sangat nyenyak. Ia sampai tak mendengar Bara telah tiba di kamar. Tiba-tiba saja ia merasakan suaminya itu memeluknya.

__ADS_1


“Dijah... Maafin Mas,” ucap Bara terbata. “Makasih...”


Bara menangis memeluknya dari belakang. Tangan kiri suaminya menggenggam test pack yang tadi diletakkannya di dalam nampan. Dalam cahaya lampu kuning kamar mereka, Dijah meneteskan air mata haru. Dijah menghapus air matanya kemudian membalikkan tubuh memandang Bara.


“Jah? Ini bener?” tanya Bara mengangkat test pack itu ke depan wajah isterinya. Dijah mengangguk. Kemudian tangannya menyusup ke bawah bantal untuk mencari sebuah amplop putih kecil yang diberikan dokter padanya tadi siang. Sebuah foto USG janin.


“Kamu kok nggak bilang? Kapan ini ke dokternya? Kamu kok berangkat sendiri? Harusnya sama aku,” ujar Bara mengusap sedikit air mata yang tersisa di sudut matanya.


“Aku masih kesel. Jadi aku mau mastiin sendiri.” Dijah melihat binar bahagia Bara yang berulang mengusap selembar foto USG.


“Maafin aku Jah—aku gak tau. Aku kira—ya ampun. Aku seneng banget. Dijah....” Bara menarik tubuh Dijah ke dalam pelukannya. “Makasi... Maafin aku.” Bara mencium kepala isterinya berkali-kali.


“Seneng?” tanya Dijah dari balik tubuh suaminya. Dijah merasakan Bara mengangguk-angguk. Kemudian laki-laki itu melepaskan tubuhnya. “Aku selalu merasa berhutang ke Mas... Keinginan kita punya anak, sama besarnya. Aku juga kepingin punya anak dari Mas. Tapi aku harus sabar.”


“Iya, maaf. Maaf karena aku kurang sabar. Aku gak akan kayak gitu lagi. Aku percaya kamu. Aku bahagia Jah... Aku ngerasa sempurna. Makasi,” ucap Bara kemudian mencium bibir isterinya dengan lembut. Bara merapikan rambut dan pakaian Dijah. Sorot matanya sangat teduh penuh cinta.


“Aku juga bahagia.” Dijah meletakkan telapak tangan di dada suaminya.


“Iya. Hampir bisa dipastikan karena awal kehamilan ini. Aku lemes. Meriang nggak enak badan. Nggak selera makan, mau apa-apa males. Sore tadi aku nggak mandi. Bawaannya kepingin tidur aja. Untung ada Mbok Jum yang nemenin Dul.” Dijah berkeluh kesah soal apa yang dirasakannya. Bara mendengarkan masih sambil mengusap pipi dan merapikan helai-helai rambut isterinya.


“Harus makan yang banyak. Jangan capek-capek. Kamu gak usah masak. Kita tambah yang bantu-bantu. Kamu lagi bawa anakku, kamu harus sehat terus.” Bara kembali mencium isterinya. Bibirnya menyesap bibir Dijah yang hangat. Matanya memejam dan suara nafasnya perlahan menjadi kasar. Seperti teringat akan sesuatu, ia melepaskan ciuman itu tiba-tiba.


Dijah yang mulai menikmati dengan ikut memejamkan mata, kini menatap suaminya bingung. Kemarin Bara ingin mengajaknya bermesraan, tapi kenapa sekarang malah berhenti. “Kenapa?” tanya Dijah sekarang meletakkan tangannya di pipi Bara. Ia merasa semakin mencintai pria itu. Semakin hari, Bara semakin terlihat tampan. Apalagi ketika pria itu akan berangkat kerja. Gayanya masih begitu santai dengan sepasang sneakers dan sebuah ransel.


“Aku pengen. Tapi aku takut. Gak apa-apa kan? Gak ganggu anakku di dalem?” tanya Bara dengan wajah bodoh yang tak dibuat-buat.


“Kayaknya enggak. Aku juga pengen,” sahut Dijah.


“Aku pelan-pelan,” ucap Bara seraya membuka kancing daster Dijah satu persatu. “Oke—ini pertama kali...”

__ADS_1


“Pertama kali apa?” tanya Dijah.


“Pertama kali ke dalem sana dan tau ada anakku,” jawab Bara terkekeh. “Aku seneng banget Jah... Kira-kira ini yang kapan? Apa efek masuk anginku? Usianya empat Minggu kan?” Bara menarik daster Dijah melewati kepala.


“Mungkin iya,” jawab Dijah dengan wajah geli.


“Perempuan atau laki-laki ya Jah? Aku nggak sabar...” ucap Bara melepaskan pengait Bra isterinya.


“Masih lama Mas...” sahut Dijah. “Apa aja yang penting sehat kan?” tanya Dijah lagi. Setelah memberi kabar kehamilan, ia tak mau khawatir lagi soal jenis kelamin bayinya nanti.


“Iya, apa aja. Apa aja yang penting sehat. Ini jauh melebihi ekspektasiku sendiri. Cepet banget. Aku jadi bangga.” Bara benar-benar tak perlu berbohong pada Joana. Ucapannya tempo hari terbukti benar.


“Belum mandi,” ucap Dijah pada Bara. Tangannya mulai membuka kancing kemeja kotak-kotak di depannya satu persatu.


“Kan sama belum mandi. Nanti bisa mandi bareng,” ujar Bara.


“Aku besok aja Mas... Gak sanggup mandi malem ini.” Dijah membuka kemeja suaminya. Bara bangkit dari posisinya. Ia membuka seluruh pakaian kemudian menarik penutup terakhir di tubuh Dijah.


“Langsung aja ya...” gumam Bara meringis menatap isterinya. Dijah mengangguk menanti kedatangan suaminya. Sejurus kemudian Bara menunduk di antara kedua kakinya. Memberikan kecupan singkat yang membuat Dijah berjengit.


Perlahan Bara menyatukan tubuh mereka. Dalam temaram lampu kuning kamar yang hangat, Dijah tak memejamkan matanya. Ia menikmati seluruh ekspresi suaminya yang sedang melepaskan kerinduan.


Sentuhan seusai pertengkaran dalam rumah tangga membuat kenikmatan terasa semakin berlipat. Bara semakin percaya diri akan keperkasaannya sebagai seorang pria yang utuh. Dijah sedang mengandung benihnya.


Percintaan mereka malam itu sangat panas. Meriang yang dirasakan Dijah sejak siang serasa terbang. Ia mendesah dengan begitu cepat. Nafasnya terengah dan kecupan-kecupan Bara semakin memabukkan. Ia merintih dibawah ayunan tubuh suaminya yang semakin teratur. Sebelum gerakan itu semakin cepat, ia lebih dulu digulung puncak kenikmatannya. Bara tersenyum melihat mata sayu Dijah.


“Sebentar lagi,” bisik Bara mempercepat gerakan sambil menggigit pelan puncak dada isterinya.


To Be Continued....

__ADS_1


Jangan lupa dilike ya sayang-sayang njusss...


__ADS_2