
“Gimana Mak? Bapak Robin nggak ngambek?” tanya Tini saat melihat Mak Robin baru saja kembali dari mengantar suaminya ke depan gang.
“Mau merajok cemana? Kubilang biar si Robin bisa main-main sama anak si Dijah. Kan ada kawannya. Kasian di rumah aja,” tukas Mak Robin. “Dikasi ijin. Aman itu!”
“Dikasi duit juga nggak? Kalau cuma dikasi izin aja untuk apa? Makanmu banyak, siapa yang nanggung? Bara? Bisa merusak rumah tangga Dijah kita.” Tini tertawa terbahak-bahak.
“Ada uangku Tini! Ngasi makan kau setaon pun bisa. Sibuk muncung kau itu!” Mak Robin menarik rambut Tini yang seketika terdiam meringis.
“Mbak Tini ... Ayo bantu pecahin celengan babi.” Asti datang memeluk celengannya.
“Aku juga punya. Tapi celengan plastik,” tukas Boy mengangkat celengan plastik berbentuk barel.
“Mari kita bedah,” ajak Tini melangkah masuk ke kamarnya.
Sejenak Tini, Asti dan Boy sibuk menghitung uang kertas dan logam yang tumpah di lantai. Setelah uang dikelompokkan berdasar bentuknya, Tini memasukkannya ke dalam plastik kresek dan diikat.
“Eh, apa mungkin kita ngasi ke mbak Dijah uang recehan begini. Pasti yang beli tiketnya mas Bara. Kok aku jadi nggak enak ya. Mbak Tin! Coba telfon Mbak Dijah, ini kan masih siang. Mas Bara juga pasti di kantor.” Asti mengambil ponsel Tini dan menyodorkannya pada Tini yang siang bolong itu berpakaian minim nyaris telanjang.
“Tin! Jangan lupa kau bilang sama si Dijah aku ikut. Nanti gak masuk itungan pulak tiket aku. Bilang kita bayar masing-masing. Segan pulak aku kalo semua-semua dibayarin si Bara.” Mak Robin muncul di depan pintu sibuk mewanti-wanti Tini sebelum bicara.
“Iya! Berisik! Diem dulu!” Tini kembali memusatkan perhatiannya pada nada panggil telepon.
Setelah menyampaikan maksudnya dengan nada suara serius. Dahi Tini terlihat mengernyit.
Akhirnya, “kamu ngapain sih Jah? Lagi sibuk ya?” Tini mulai merasa aneh dengan jawaban Dijah yang berat dan terputus-putus. Dijah biasanya akan langsung menjawab ‘ada apa Tin?’ tiap ditelepon.
“Iya Tini ... Lagi sibuk." Suara Bara terdengar menyahuti pertanyaannya. Tini langsung mengerti akan aktivitas yang sedang terjadi di seberang telepon.
“Oh maaf Mas! Udah ya ...” sahut Tini otomatis.
“Kampret si Dijah gak ngomong dari awal. Nanti aja kita telepon Dijah lagi. Dia sedang merem melek gak konsen.”
Asti merampas ponsel dari tangan Tini kemudian menekan tombol untuk mengakhiri pembicaraan.
“Pasti kedengeran omongan Mbak Tini barusan,” ucap Asti.
“Masa sih?” Tini melengos tak percaya.
“Itu yang jawab terakhir mas-nya Dijah. Kayaknya lagi enak-enak. Siang bolong panas terik enak-enak ...” sungut Tini.
“Kamar orang itu ber-AC Tini. Bukan kau yang bayar listriknya. Jadi suka ati orang itu. Nanti aja kelen telepon lagi. Yang penting Dijah udah tau aku mau ikut. Ongkos dikumpul sama siapa?” tanya Mak Robin.
“Tini aja yang ngumpulin. Entar kasi ke Dijah,” ujar Boy. “Sekarang kita liat-liat harga tiketnya dulu.” Boy mengambil ponselnya dan mulai membuka aplikasi pembelian tiket pesawat.
"Iya, kumpul ke aku aja. Aku udah pengalaman dalam pelajaran IPS," ujar Tini.
"Apa tuh?" tanya Boy.
"Ikatan Pemburu Saldo," jawab Tini terkikik.
“Kita bakal ke mana aja ya kira-kira?” gumam Asti. “Dua hari lagi... Aku gak sabar,” ucap Asti membayangkan bisa melihat Bayu dari dekat. Keinginannya hanya sesederhana itu. Dapat melihat Bayu dari dekat dan berteman dengan pria muda bertubuh kurus sepertinya.
“Aku udah packing sebagian. Karena katanya pulau, aku bawa baju-baju pantai.”
“Jangan pake celana sama beha aja kau. Pulau itu bukan cuma kau aja manusianya. Bawa baju yang sopan," tukas Mak Robin yang lagi-lagi muncul di depan pintu.
“Aku mau mandang-mandang mas Heru dari deket. Mandang aja juga nggak apa-apa. Tapi moga-moga bisa salaman sebentar. Pengen ngerasain ujung-ujung jarinya.” Tini merebahkan dirinya di ranjang dan memejamkan mata.
“Mas Yudi gimana Tin?” tanya Boy.
“Mas Yudi sehat, masih jaga beha-behanya. Emangnya kenapa? Biar aku keliatan mahal. Aku harus terlihat sibuk Boy. Lagian aku nggak pernah naik pesawat. Aku kepingin,” jawab Tini.
__ADS_1
*****
“Selesai makan langsung balik ke kantor?” tanya Dijah ketika baru saja keluar dari kamar mandi. Bara yang baru saja mengajaknya mandi bersama sedang terburu-buru berpakaian.
“Iya sayang ... Aku makan dulu, trus langsung balik ya. Itu Mak Robin katanya ikut. Kamu bilang ke mereka, kirim nama, tanggal lahir lewat chat. Besok aku beli tiketnya,” tukas Bara seraya menyisir-nyisir rambut basahnya.
“Aduh, mau pake hair dryer kayaknya gak sempet lagi. Basah begini bisa diledekin Mas Heru,” gumam Bara.
“Aku makan duluan ya,” kata Bara memeluk Dijah yang masih mengenakan handuk.
“Biar aku siapin,” sahut Dijah yang kemudian ikut tergesa-gesa membuka lemari.
“Gak apa-apa ....” Bara keluar dari kamar langsung menuju ruang makan yang sudah sepi. Jam makan siang sudah lama lewat karena ia terlena berlama-lama di kamar mandi bersama isterinya.
Masih memasukkan sendok pertama ke mulut, ponsel Bara bergetar.
“Ya Mas? Entar lagi ya ... Aku masih makan.” Bara menjawab dengan mulut penuh.
“Jam segini masih makan, dari tadi ngapain aja? Pantang ketemu kamar kamu ya,” omel Heru di seberang telepon.
“Udah, santai. Entar aku jemput.” Bara menoleh Dijah yang baru masuk ke ruang makan dengan handuk yang masih melilit di kepalanya. Bara tersenyum memandangi efek ulahnya siang itu. Ada untungnya juga Mbok Jum selalu berekspresi datar seperti Dijah.
Dijah mengambil gelas dan mengisi air putih untuk Bara. Dan meletakkan gelas itu di depan suaminya.
“Kamu makan,” pinta Bara mengusap-usap punggung Dijah di sebelahnya.
“Keburu kenyang,” jawab Dijah datar.
“Kelamaan makan itu ya?” Bara terbahak meremas bokong istrinya. Dijah mencibir kemudian menarik satu kursi dan membuka piring yang menelungkup di depannya.
“Perginya lusa 'kan? Berapa hari? Biar aku tau nyiapin pakaiannya.” Dijah bicara seraya melihat ponsel Bara yang berkedip dan memunculkan satu pesan baru. Ia melihat nama Joana muncul kemudian hilang di layar.
"Biar aku yang packing. Kamu nanti pilih baju-bajunya aja."
Dijah kembali melirik ponsel suaminya. Bara santai seolah tak terganggu. Kenapa pesannya tidak dibaca saat itu saja? Dijah mendongkol di dalam hati.
Setelah menaruh nasinya ke atas piring Dijah kembali bangkit.
“Mau ke mana? Gak jadi makan?” seru Bara.
“Mau naruh handuk. Lupa handuk masih di kepala!” jawab Dijah.
Bara menoleh pada ponselnya dan kembali melihat pesan Joana. Sudah beberapa hari ini Joana mengirimkannya pesan, tapi belum ada satupun yang dibacanya. Ia biarkan menumpuk dalam kolom chat.
Pertanyaan Joana masih sama, kenapa tidak ada mengabarkan soal pernikahannya. Wanita itu merasa kecewa, tidak dianggap sebagai teman, dan seterusnya dan seterusnya. Ujung-ujungnya wanita itu mengatakan ingin berkenalan dengan Dijah. Untuk apa pula pikir Bara. Itu sama saja dia cari penyakit. Di tengah kesibukannya sebagai pengantin baru dengan posisi baru di kantornya, maka mengabaikan pesan-pesan itu untuk sekarang adalah langkah yang tepat.
*****
Hari keberangkatan.
“Udah siap kau Tin?” teriak Mak Robin sambil menggedor kamar Tini. “Jangan kau pake yang aneh-aneh.” Mak Robin kembali mengingatkan temannya.
“Berisik! Ada mas Heru nanti. Aku nggak apa-apa nggak dapet dia. Tapi setidaknya biarkan aku bikin mas Heru menyesal telah menikah cepat-cepat!” teriak Tini dari dalam kamar.
“Mati kali bah! Untung cuma aku aja yang dengar!” sungut Mak Robin dari luar.
“Kita berdua udah selesai ya ....” Boy berbicara sambil menggandeng Asti menuju ke depan kamar Tini.
Dua orang itu mengenakan celana pendek, kaos oblong dan sepasang sneakers sederhana berwarna putih. Di leher mereka masing-masing terkalung bantal tidur traveling. Tangan mereka masing-masing menyeret sebuah koper berukuran kabin. Dengan kacamata hitam yang masih terselip di depan kerah, penampilan Boy dan Asti lebih mirip anak SMA yang akan berangkat karya wisata.
__ADS_1
“Aku juga sudah selesai ....” Tini menjeblak pintu kamarnya terbuka. Sebuah terusan lengan pendek bermotif dedaunan yang panjangnya semata kaki langsung terkibar-kibar tertiup angin menambah suasana dramatis kemunculan Tini di ambang pintu.
“Gimana?” tanya Tini menurunkan kacamata hitamnya untuk memandang Asti, Boy dan Mak Robin yang menatapnya jijik.
“Aku tanya gimana? Muka kalian kok kayak ngeliat ee ayam?” tanya Tini kesal.
“Tin! Kamu yakin pakai sandal itu? Ini mau naik turun pesawat. Mau naik kapal, masak pake sandal kayu tinggi kayak gitu?” Boy masih menatap sandal andalan Tini.
“Biarkan aja dia pake itu. Kalo jatuh ke laut, langsung terbenam dia karena bawa gelondongan kayu.” Mak Robin terbahak-bahak dari kursinya.
“Jadi aku pake apa?? Kalau pakai sandal ini, aku keliatan tinggi, kakiku jenjang. Aku ini cebol. Nanti orang cuma ngeliat susu jalan kalau sandalku nggak tinggi.”
“Ganti pake sepatu flat aja. Nanti Mbak Tini capek.” Asti ikut membujuk Tini. “Topi pantai dan tas anyamannya udah bagus. Cantik,” tambah Asti.
“Ya udah aku ganti! Kampret!” sergah Tini kembali masuk ke kamarnya.
Ketiga orang di luar yang sudah biasa mendengar makian Tini melanjutkan kesibukan masing-masing. Terlebih Robin yang sedang duduk memakan sebungkus jajanannya. Sehari-hari mendengar teriakan ibunya yang keras, membuat bocah itu memiliki kemampuan lebih hebat untuk menolerir suara-suara ganjil maupun genap.
“Ya Halo? Mbak Dijah? Udah di depan gang? Udah Mbak—udah ... Oke kita ke depan sekarang ya.” Asti segera mengakhiri pembicaraannya pada Dijah yang mengatakan bahwa ia telah tiba di depan gang.
“Tin! Cepat! Dijah udah nyampe!” seru Boy seraya menyeret kopernya.
“Aku juga udah selesai kok ... Aduh, jadi gugup gini aku. Ehem! Ehem!” Tini berdeham menyeret koper Polo KW-nya. Sekarang ia mengenakan sepasang sepatu yang biasa ia gunakan untuk lari.
“Gugup mau ketemu si Heru itu?” tanya Mak Robin yang berjalan beriringan di sebelahnya.
“Gugup mau naik pesawat,” sahut Tini polos. Siapa sangka Tini bisa sepolos itu.
Di depan gang, Heru dan Bara berdiri di depan sebuah mobil. Dari kejauhan sudah tampak Heru yang tak habisnya tertawa-tawa sambil memukuli lengan Bara yang terlihat sebal.
“Mak Robin ke mobil aku aja, ada Dul.” Bara menunjuk mobilnya yang terparkir di belakang mobil Hummer Heru yang pagi itu dikemudikan seorang supir.
“Kau juga ikut aku Tini! Jangan di sana! Biar si Asti aja,” omel Mak Robin menyeret lengan Tini.
“Ya ampun Mak, aku cuma mau mandang-mandang aja,” sahut Tini.
“Gak! Gak percaya aku! Nanti habis kau rogoh-rogoh laki orang.” Dengan kekuatan tenaganya, Mak Robin berhasil menyeret lengan Tini masuk ke mobil Bara.
“Astaga ...” gumam Bara pelan.
Heru yang mendengar perkataan Mak Robin malah tertawa senang.
“Dirogoh Ra ...” ucap Heru. Ia kemudian terbahak lagi.
To Be Continued.....
Likenya jangan lupa diraba ya.... :*
__ADS_1