PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
138. Sandiwara Suketi


__ADS_3

Tini menyeret langkahnya masuk ke halaman kos-kosan dengan lunglai. Tubuhnya terasa remuk dan kakinya pegal seperti habis diajak maraton. Ia melirik jam tangan kulit kecil mungil yang melingkari tangannya. Pukul 10 malam. Tak menyangka bahwa ia sekarang sudah menjadi bagian dari wanita-wanita karir yang dulu sering dikaguminya.


 


“Baru pulang kau?” tanya Mak Robin yang kebetulan keluar kamar membuang setengah gelas teh manis yang sudah diselami dua ekor lalat.


 


“Hmmm—dulu jam segini aku baru keluar. Kalau sekarang baru pulang.” Tini terpincang-pincang menarik kursi plastik dan menghempaskan diri. Ia melepaskan sepatunya dan mulai memijat-mijat telapak kaki. “Apa itu kok dibuang?” Ia menyadari Mak Robin yang menumpahkan sesuatu ke halaman.


 


“Teh manis. Ada pulak lalatnya dua ekor. Pantang lupa nutup sebentar. Langsung belalat.”


 


“Sayang Mak, kenapa gak diteguk aja sama lalatnya sekalian?” tanya Tini mengangkat kaki dan memukul-mukul pelan betisnya.


 


“Kau aja yang nelan.” Mak Robin ikut menghempaskan tubuhnya di sebelah Tini. “Kaki kau bau Tin! Pigi cuci dulu sana. Bau asam!” Mak Robin mengernyit menutup hidungnya.


 


“Ini kenyataan yang sebenarnya Mak. Kakiku seharian pakai sepatu jadi beraroma asem itu wajar. Yang nggak wajar kalau jadi aroma kari ayam.” Tini menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi plastik. “Capek Mak! Cari duit mau yang bener ama yang nggak bener itu sama capeknya.”


 


“Kalo sama capeknya, kan bagos yang betol-betol aja kau kerja. Jangan jantan aja yang kau pikirkan,” tukas Mak Robin meletakkan gelas yang sejak tadi dipegangnya ke tepi dinding.


 


“Pekerjaan itu untuk lahir Mak, laki-laki itu untuk batinku. Meski nggak punya pacar, yang penting ada bahan untuk diliat aja.”


 


“Di kantor?” tanya Mak Robin.


 


“Yang aku liatin si Agus. Agus itu nggak ganteng-ganteng banget kayak mas Heru, tapi kalau diliatin lama-lama bisa gelisah juga. Dan dia memang punya nomer telepon beda untuk urusan kantor dan pribadi. Aku pengen alesan nanya-nanya, tapi kalau malem telfonnya nggak aktif. Sok jual mahal si Agus itu. Masak seumuran sama mas Heru belum nikah juga. Curiga aku.”


 


“Mungkin ada alasannya,” gumam Mak Robin.


 


“Apa? Trauma? Hilih! Nggak percaya aku. Trauma itu akan hilang dengan orang yang tepat. Liat itu si Dijah! Dulu kalau digodain laki-laki, dia langsung ngambil batu buat ngelempar. Jijik katanya. Sekarang? Buka tutup botol aja harus mas-nya. Padahal dulu sanggup ngangkat galon air sendiri langsung dari pabrik sampe pintu kamar.”


 


“Makanya kau runtuhkan hati si Agus itu! Siapa tau kalo udah jadian sama dia, kau capek jalan kaki, tinggal minta sorong pake kursi roda.” Mak Robin menutup mulutnya dan tertawa tertahan.


 


“Aku kepingin dimanja, bukan kepingin lumpuh.” Tini menyodorkan sebelah kakinya pada Mak Robin.


 


Mak Robin masih tertawa sambil menangkis kaki Tini dengan kakinya.


 


“Hei! Kok belum tidur?” teriak Boy. Ia baru tiba dengan ojek di halaman kos-kosan dan langsung berjalan menuju pintu kamar Asti dan mengetuknya. “As! Udah tidur? Aku bawa roti! Keluar dulu kalo belum.”


 


Terdengar langkah diseret dari dalam kamar Asti dan suara anak kunci yang diputar. “Eh, Mas Boy! Bawa roti? Kebetulan aku laper....” Asti keluar dan menutup pintu kamarnya. Ia kemudian mengikuti langkah Boy menuju Tini dan Mak Robin.


 


Hampir pukul 11 malam mereka berempat masih duduk di depan teras kamar Tini yang gelap gulita. Boy membuka bungkusan rotinya dan mengedarkan pada ketiga orang di depannya yang menunggu dengan mulut setengah terbuka.


 


“Gak habis Mas?” tanya Asti setelah mengambil sepotong roti.


 


“Sisa dua aja. Aku sengaja gak stok banyak-banyak. Roti kalo udah semaleman besoknya keras.” Boy ikut mengambil sepotong kemudian memangku kotak yang masih berisi.


"Roti beda sama laki-laki ya... Laki-laki kalau udah semaleman, besoknya malah lembek." Tini menggigit rotinya.


"Hih! Mulut kau ini!" cerca Mak Robin.


"Kenapa? Jadi kebayang pasti...." Tini terkekeh mencibir pada Mak Robin.


 


“Jadi pindah Mak?” tanya Boy lagi pada Mak Robin.


 


“Jadi, kayaknya bulan depan. Bapak si Robin mau KPR pulak. Pening kepalaku,” tukas Mak Robin.


 


“Nggak apa-apa KPR. Biar bapak Robin kerja lebih giat. Hidup nggak ada artinya kalau nggak ada cicilan. Kalau bapak Robin modar tiba-tiba, rumahnya langsung lunas. Bukan kamu yang bayar. Kan sudah diasuransikan!” Tini kemudian memasukkan roti sekaligus ke mulutnya.

__ADS_1


 


“Makin pande kau sejak kerja di perusahaan asuransi. Tapi perumpamaan kau bikin naik darah orang,” ujar Mak Robin.


 


Asti terkekeh-kekeh dengan mata mengantuk meski mulutnya masih semangat mengunyah makanan. “Mas Boy kok malem banget pulangnya?” Asti menoleh pada Boy.


 


“Tadi ada bapak-bapak muda, duduk makan roti sambil ngobrol. Aku tungguin sampe selesai. Mau diusir kok mubazir.” Boy terkikik-kikik sambil menggigit rotinya.


 


“Nah ini.... Nggak selamanya persamaan itu membawa kebahagiaan. Aku udah berharap dia bisa lurus. Tapi seleranya masih sama dengan aku.” Tini menghela napas panjang. “Heh! Bangun! Makan sambil tidur! Kamu kapan wisuda?” Tini mengguncang tubuh Asti yang memang seperti sedang tidur sambil makan.


 


“Ya Mbak? Bulan depan. Bapakku mau dateng, aku bingung mau ngajak tidur di mana. Kamarku kecil.” Asti menatap Tini. “Apa aku sewa bekas kamar mbak Dijah selama seminggu? Mumpung kosong,” ucap Asti.


 


“Iya, ya udahlah. Di situ aja,” sahut Mak Robin.


 


“Jaga bapakmu ya As.... Bapakmu udah lama menduda. Jangan sampe malem-malem ngetuk pintu kamarku,” kata Tini.


 


“Halah Tini! Takutku kau pulak nanti yang ngelindur pindah ke sebelah bapaknya si Asti tengah malam.” Mak Robin tertawa terbahak-bahak tengah malam.


 


“WOII BERISIK!!” teriak seorang laki-laki dari kamar lantai dua.


 


“Syukurin—syukurin...” ejek Tini pada Mak Robin. Boy dan Asti terkikik-kikik menutup mulut mereka.


 


*****


 


Pagi itu Tini terlambat ke kantor. Bergosip sampai lewat tengah malam membuatnya bangun pukul 7 pagi dengan gelagapan. Dia yang biasa berhemat dengan menumpang angkot ke kantor, pagi itu menggunakan jasa ojek depan gang yang biasa selalu bertengkar dengannya.


 


“Udah nyampe Tin!” seru pengemudi ojek saat tiba di depan sebuah gedung perkantoran yang terdiri dari tiga bangunan ruko di tepi jalan raya.


 


 


“Makasi. Eh! Kenapa kakimu? Tadi pas naik baik-baik aja,” ujar pengemudi ojek.


 


“Pendalaman peran! Udah sana!” usir Tini mengibaskan tangannya. Ia bergegas menuju pintu kaca dengan langkah terpincang-pincang.


 


“Mbak Tini!” panggil Winda dari balik meja resepsionis. “Kok terlambat? Briefing-nya udah selesai,” ucap Winda.


 


“Waduuh.... Pak Agus mana?” tanya Tini cemas. Kemarin ia sudah diwanti-wanti untuk tak datang terlambat ke briefing pagi itu. Tapi bukannya malah terlambat, ia malah tak hadir sama sekali.


 


“Masih di ruang meeting,” jawab Winda.


 


“Aku ke sana dulu setor muka.” Tini kembali terpincang-pincang.


 


“Eh, Mbak Tini kenapa?” Winda melemparkan tatapan khawatir menilik kaki Tini.


 


“Aku bisulan di pangkal paha. Karena ini aku terlambat,” sahut Tini kemudian berjalan menuju ruang meeting.


 


“Ya ampun. Bisulan? Pangkal paha? Rajin banget masih masuk kerja,” gumam Winda meringis.


 


Tini mengetuk ruang meeting dan langsung masuk saat mendengar Agus berdeham.


 


“Tinggal ngomong ‘masuk’ aja susah banget. Ehem—ehem, kayak kelolot rambut aja tenggorokannya.” Tini bersungut-sungut dalam bisikan dengan mulutnya yang nyaris tak terbuka.


 

__ADS_1


Agus sedang duduk di balik meja meeting dengan laptop yang masih menyala. Charger laptop masih terhubung ke stopkontak di lantai yang kabelnya terentang di tengah ruangan.


 


“Kenapa baru dateng jam segini? Saya sudah ingatkan kemarin bahwa briefing ini penting. Kita udah nggak jamannya lagi nunggu nasabah yang dateng. Kita harus jemput bola—jemput bola. Berkali-kali saya kasi tau begitu. Makanya saya haruskan semua karyawan disiplin.” Agus berdiri memutari mejanya untuk menuju ke arah Tini.


 


Jemput bola, jemput bola. Tini sudah bosan tiap hari mendengar soal menjemput bola itu. Setiap berpikir soal itu bayangan dalam pikirannya malah menampilkan soal menjemput bola yang lain. Tini menundukkan kepalanya. Ia khawatir malah tertawa kalau menatap Agus langsung.


 


Hari itu Agus terlihat manis kelimis dengan kemeja rapi dan setrikaan celana lurus sebaris tanpa cabang. Rambut lurusnya tersisir rapi ke belakang. Sebuah tahi lalat mungil terletak di atas bibirnya sebelah kanan. Tini semakin membenamkan kepalanya. Ia memandang ujung sepatunya yang berdebu dan kulit sintetisnya yang mulai mengelupas.


 


“Saya sakit Pak.... Makanya terlambat.” Tini berbicara masih dengan menunduk.


 


“Kemarin baik-baik aja. Pagi ini seketika sakit karena nggak ikut briefing.” Agus menyandari mejanya menatap Tini sambil menyilangkan tangan di depan dada.


 


“Yah namanya sakit Pak, kemarin tetangga saja juga sehat-sehat tapi paginya—” Perkataan Tini terhenti. Ia tak boleh menjawab perkataan Agus kalau mau bekerja di sana lebih lama. Alasan demam terlalu biasa dan mudah dicek. Bisulan adalah alasan andalannya sejak lulus SD hingga kini beranjak gede.


 


“Sakit apa? Kamu keliatan baik-baik aja,” tukas Agus dengan wajah kesal seraya maju mendekati Tini. Tak sengaja kaki Agus membawa kabel yang masih tersambung dengan laptop mahalnya di atas meja.


 


“Bisulan Pak... di selangka—” Tini terdiam. “Bisulan di pangkal paha,” gumam Tini pelan.


 


“Ada-ada aja ya kamu,” sergah Agus. “Saya nggak percaya.” Agus maju dan menyeret laptopnya ke tepi meja.


 


“Jadi Bapak mau liat?” tanya Tini mendongak. Agus maju selangkah. “Eh—eh! Jatuh!” pekik Tini.


 


Spontan Tini melangkahkan kakinya untuk menangkap laptop Agus. Saat melangkah, kakinya ikut tersandung kabel tapi tangannya berhasil menangkap benda mahal itu sebelum menyentuh lantai.


 


Agus yang melihat Tini tergelincir sambil memeluk laptopnya, refleks menangkap tubuh Tini dari belakang. Di waktu bersamaan, Winda masuk ke dalam ruangan.


 


“Ya ampun, Mbak Tini dan Pak Agus kenapa?” tanya Winda bingung.


 


“Tini jatuh karena nyelamatin laptop saya. Saya nggak sengaja tersandung,” jawab Agus sedikit gelagapan kemudian menegakkan tubuh Tini.


 


“Hebat Mbak Tini, padahal tadi pincang-pincang jalannya. Mbak Tini bisulan Pak.... Lagi sakit,” kata Winda. “Saya mau ngambil ini ketinggalan. Saya permisi dulu,” sambung Winda mengangkat sebuah agenda dari meja sebelah kanan.


 


“Eh, makasi Tin.... Maaf, kalau kamu sakit harusnya nggak perlu masuk kerja. Kamu butuh apa sekarang? Bilang aja...” ucap Agus mengambil laptop dari pelukan Tini. Suara Agus terdengar lebih lembut.


 


“Butuh apa?” Tini balik bertanya.


 


Agus mengangguk, “Iya, butuh apa?”


 


“Saya butuh nomor hape Pak Agus yang bisa ditelfon malem-malem,” jawab Tini memandang lurus pada Agus.


To Be Continued.....


Buat yang nanyain hilal soal jodohnya Tini.


Jangan lupa dilike ya sayang-sayang... :*


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2