
“Bandaranya luas juga ya Mas,” ucap Dijah yang tangan kirinya menggandeng Dul dan tangan kanannya belum lekang dari lengan Bara. Kepalanya sibuk menoleh ke sana kemari menikmati suasana terminal ketibaan yang akan membuat jantung siapapun berdegup antusias.
Terminal ketibaan bandara selalu dipenuhi wajah-wajah lega yang bersyukur akan perjalanan lancar mereka di udara.
“Bandaranya cukup luas. Dan memiliki runway, lintasan pacu terpanjang di Indonesia, bahkan bisa dibilang landasan pacu terpanjang di Asia Tenggara. Batam ini terkenal karena berbatasan paling dekat dengan Singapura dan Malaysia. Jalan-jalan ke Singapura udah jadi hal yang biasa buat masyarakat sini.” Bara terlihat senang karena Dijah sangat menikmati perjalanannya pertamanya dengan pesawat terbang. Istrinya itu mendengar semua penjelasan dengan tekun. Termasuk saat ia mengajari soal memakai dan membuka sabuk pengaman.
Tini telah kembali menyeret kopernya. Ia berjalan di sebelah Asti dan Boy. Mak Robin menggandeng anaknya yang sedang sama terperangahnya.
“Ra, aku kangen ...” ucap Heru yang tiba-tiba sudah menjajari langkah Bara.
“Kangen Mbak Fifi?” tanya Bara.
“Kangen kamu. Aku kehilangan temen ngobrol. Kamu udah beda sekarang,” sindir Heru memandang Dijah yang tak melepaskan suaminya barang sedetik pun. Dijah mencibir mendengar perkataan Heru.
“Udah ada istri masing-masing. Sorry. Salah sendiri,” kata Bara yang semakin menarik tangan Dijah untuk lebih mendekat.
Penghuni kos kandang ayam terlihat santai dan hening. Dijah yang berjalan tak jauh di belakang mereka sedikit heran. Tumben sekali jika mereka sedang bersama tak ada bahan percakapan. Biasanya, minimal mereka akan membicarakan soal makanan atau penghuni kos yang baru.
“Ahhh ... Akhirnyaa ...” seru Tini tiba-tiba setelah beberapa langkah keluar dari bandara.
“Iya! Akhirnya! Cemana perasaan kelen? Denyut kali jantungku waktu pesawat tadi mau turun. Apalagi pas bebelok pulak, miring kali kurasa. Amangoi ... Lemas lututku!” pekik Mak Robin.
“Aku minum obat mabuk hampir setengah botol. Pesawatnya guncang masih terasa. Langsung kebayang nikmat-nikmat dunia yang belum sempet aku reguk,” balas Tini.
“Inget dosa harusnya Mbak Tini ...” tambah Asti.
“Kalau itu udah kebanyakan. Bingung mau inget yang mana.” Tini mengelap keringat di dahinya.
“Waktu pesawatnya turun, kaki berasa tegang mau jejak ke lantai. Padahal udah jejak,” sambung Boy.
“Kayaknya kita harus sering-sering naik pesawat biar makin terbiasa.” Asti menggandeng lengan Boy.
“Gayamu sering-sering. Babimu udah dipotong karena naik pesawat.” Tini terkekeh memandang Asti.
“Harus ternak babi kalau gitu Mbak,” jawab Asti ikut terkekeh.
“Mak Robin pasti banyak berdoa. Aku liat nunduk aja,” ucap Boy.
“Berdoa teruslah aku. Semua kudoakan. Si Tini yang tak pernah masuk dalam doaku pun, ikut aku doakan.” Mak Robin bicara seraya menoleh Tini.
“Apa doamu Mak?” tanya Tini.
__ADS_1
“Kudoakan kau cepat tobat!” seru Mak Robin.
“Wah, neraka akan sepi tanpa celotehan Tini,” tukas Boy.
“Iya, kesian kamu kalau nggak ada yang nemenin di sana ya Boy. Mana kamu masuknya duluan,” sinis Tini sambil tertawa.
Boy melengos mendengar jawaban Tini.
“Aku kira mereka diem kenapa. Ternyata semua sama-sama nervous,” sela Heru dari sebelah Bara. “Dijah nggak nervous juga?” sindir Heru pada Dijah yang hanya ikut tertawa-tawa mendengar percakapan temannya.
“Dijah 'kan ada Mas-nya. Sentuhan Kang Mas Bara selalu bisa menenangkan,” sahut Bara kalem. Heru mencibir kemudian berjalan menghampiri penghuni kos yang bergerombol di depan pintu keluar bandara.
“Baiklah semuanya. Selamat datang di kota Batam. Kota industri dengan jumlah pelabuhan terbanyak di Indonesia. Sebenarnya saya bisa ajak kalian langsung ke Tanjung Pinang, tapi rugi kalau datang ke Kepulauan Riau malah gak mampir ke Batam. Ini salah satu kota tersibuk di Indonesia. Dari Batam, kita semua akan ke Tanjung Pinang lewat pelabuhan Telaga Punggur. Sampai di sini ada pertanyaan?” tanya Heru yang telah sepenuhnya mengambil alih menjadi pemandu rombongan itu.
Mak Robin mengangkat tangannya.
“Iya, Mak Robin mau nanya apa?” tanya Heru berbinar.
“Makan siangnya di mana Mas Heru?” tanya Mak Robin dengan lugunya. Semua penjelasan Heru tak akan masuk ke kepalanya sebelum lambungnya terisi lebih dulu.
“Siang ini kita makan sop ikan paling enak di pulau ini. Favorit saya. Semua pasti suka. Sebentar lagi kita akan dijemput van yang akan bawa kita ke sana. Ditunggu ya,” jawab Heru seraya melirik Bara yang sekarang gantian tertawa di balik tubuh Dijah.
Tini mengangkat tangan.
“Ya Mbak Tini?” Heru memandang Tini menunggu pertanyaan.
“Toiletnya di mana ya Mas? Tadi aku nggak kebelet. Udah jejak bumi lagi, baru kerasa sekarang.” Tini meringis.
“Oh toilet di sisi kanan sebelah sana.” Heru yang berdiri menghadap pintu keluar bandara menunjuk sisi kanannya. Tini segera berbalik dan pergi tergopoh-gopoh menuju toilet yang ditunjuk Heru.
“Oke, baiklah. Itu vannya udah dateng, yang lain bisa naik sekarang sambil menunggu temannya dari toilet. Ayo—ayo ... Dipegang bawaannya masing-masing jangan ada yang ketinggalan.” Heru bertepuk tangan seperti guru PAUD yang memberi instruksi pada muridnya.
Sebuah van berkapasitas 16 orang telah tiba di depan mereka. Supir van turun membantu mereka memasukkan barang bawaan dan meletakkannya di bagian belakang van.
Asti yang tak sengaja sejak tadi memegang buku yang diberi Bayu pada Tini, duduk bersebelahan dengan pria itu di deretan kursi paling belakang.
“Eh bukunya,” ucap Bayu memandang buku itu di tangan Asti seolah tak rela.
“Iya Mas, pinjem boleh ya ...” sahut Asti.
“Eh iya boleh. Suka baca juga ya?” tanya Bayu.
__ADS_1
“Suka. Mas Bayu bacaannya bagus nih,” kata Asti sedikit mengangkat buku itu. Bayu tersenyum dan mengangguk. Ia telah kehabisan kata-kata. Setiap kali bertemu dengan wanita, ia tak pernah bisa dengan lancar memulai pembicaraan.
“Gitu aja ngobrolnya ...” sindir Bara yang duduk di kursi depan Bayu.
“Aku kayaknya perlu belajar banyak dari Mas Bara. Gimana caranya bikin cewe belingsatan padahal cuma diliatin aja,” sahut Bayu dari kursi belakang.
Bara langsung terdiam. Ia menyesal sekali mengatakan hal barusan pada Bayu. Dijah sedang mendongak dan memandangnya tajam sekarang.
“Memangnya gimana cara Mas ngeliatin cewe sampe bisa belingsatan? Aku kok penasaran?” tanya Dijah.
“Ya nggak ada. Biasa aja. Itu bisa-bisanya Bayu. Menurutku itu semua cuma karena inner beauty. Pesonaku memang memancar dari dalem. Aku gak perlu ngomong macem-macem udah keliatan mempesona.” Bara menaikkan alisnya memandang Dijah yang cemberut. Wanita itu sedang teringat akan pesan Joana yang bertubi-tubi pada suaminya.
"Kenapa cemberut?" tanya Bara.
"Jadi inget perempuan yang masih suka ngirim pesan sama suami orang," sinis Dijah.
"Aduuuh ... Udah mulai cemburu dianya. Makin gemes," ucap Bara mencubit pipi istrinya. Dijah semakin cemberut.
Tak lama Tini sudah masuk ke van terengah-engah dengan topi pantai dan kacamata hitamnya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya pada kursi terdekat dan langsung menggeser pintu mobil menutup.
“Udah, berangkat sekarang. Aku laper. Dari pagi sengaja gak makan biar gak muntah-muntah karena mabok perjalanan.” Tini menepuk jok belakang supir sebagai isyarat mereka semua telah berada di mobil.
“Oke, semua wanita cantik sudah masuk ke mobil. Mari kita menuju sop ikan Aliang di Batu Besar,” ucap Heru yang duduk di sebelah supir.
“Semua wanita cantik,” gumam Tini. “Seandainya semua laki-laki kayak Mas Heru pasti dunia gak aman...” ujar Tini.
“Kok gitu?” tanya Heru menoleh ke belakang kemudian tertawa.
“Semua-semuanya dianggap cantik nanti jadi mau semua-semuanya,” sahut Tini kalem. “Wanita cantik itu banyak jenisnya. Ada yang cantik dari lahir, ada yang cantik karena usaha, ada yang nggak pernah cantik dan ada yang mudah-mudahan bisa cantik. Kalau mau muji itu harus jelas,” tambah Tini dengan tenang. Ia tak mau lebih banyak bicara lagi karena mobil sudah mulai bergerak.
Ternyata susah membalas kebaikan Tini menggombalinya tadi, pikir Heru. Tini sudah kebal dengan berbagai gombalan dari para pria.
“Udah diem aja muncung kau. Nanti kau mabok lagi. Udah kau tutup lobang udel kau?” tanya Mak Robin menepuk pundak Tini.
“Udah Mak! Semua lobangku udah kututup. Cuma sisa kuping dengan pori-pori aja,” jawab Tini.
Mas Heru kembali terkikik-kikik geli membayangkan ucapan Tini.
Siang itu van melaju menuju ke daerah Batu Besar Batam untuk membawa penumpangnya bersantap siang di sebuah warung SOP ikan yang dinilai Heru memiliki citarasa paling lezat di pulau itu.
To Be Continued.....
__ADS_1