
“Udah?” tanya Dijah pada suaminya. Laki-laki itu hanya menggeliat. Tidur menelungkup dengan satu tangan masih berada di atas dadanya.
“Belom... entar lagi, jangan pake baju. Tidur sebentar. Mas kurang tidur dari kemarin.” Bara menarik selimut di kakinya untuk menutup tubuh mereka yang terbuka.
Dijah memiringkan tubuh untuk menatap wajah suaminya yang memejamkan mata. Matanya ikut mengantuk. Tapi ternyata tidur itu hanya sekedar wacana. Bara kembali menggerayanginya. Menelusuri tiap sudut tubuhnya dengan telapak tangan. Berdiam berlama-lama dengan jemari yang menelisik nakal. Dijah hanya berbaring, menikmati dengan desahan yang kadang lolos dari bibirnya. Ia pun sebenarnya sama. Hasratnya juga membuncah sama besar. Tapi mabuk kehamilan membuatnya mesti bersabar. Dijah juga baru kali itu merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Dipuja dengan layak sebagai seorang wanita.
Melihat Bara akan berangkat kerja dengan pakaian rapi dan wajah ganteng sudah cukup membuatnya merana. Ia bahkan diam-diam cemburu jika ditinggalkan suaminya bekerja saat masih dengan mengenakan selembar daster dan rambut yang dijepit asal di belakang kepala. Rasanya Dijah ingin menarik suaminya kembali ke atas ranjang.
Sisa sore itu, Bara kembali merangkak di atas tubuhnya. Memiringkan tubuhnya dengan berhati-hati dan kembali menyatukan tubuh mereka. Dijah kembali mengerang. Membenamkan kukunya pada lengan keras berotot yang bertumpu di sisi tubuhnya. Hingga mereka berdua mencapai klimaks yang begitu sempurna.
Untuk keseluruhan, Bara selalu di atas ekspektasinya. Terlalu baik, terlalu lembut meski tak begitu romantis, terlalu ganteng, dan... terlalu panas di ranjang.
“Aku keluar nanti aja,” ucap Dijah duduk dengan rambut yang masih dililit handuk di depan meja rias.
“Udah dipanggil makan,” jawab Bara buru-buru mengenakan kaosnya. “Sini Mas bantu—” Bara meraih handuk dari kepala Dijah dan bantu mengeringkan rambut wanita itu.
“Tetep aja masih basah rambutnya. Keliatan,” ujar Dijah cemberut.
“Iya, Mas gak punya hair dryer. ‘Kan aneh banget kalo Mas punya hair dryer.” Bara terus mengeringkan ujung-ujung rambut Dijah kemudian mulai menyisir.
“Mas turun duluan aja...” rengek Dijah menatap suaminya dari pantulan kaca. Ia malu kalau harus turun dari kamar beriringan dengan Bara dengan kondisi rambut basah. Hampir empat jam di kamar meladeni suami yang tak mengizinkan berpakaian sudah membuat pikirannya menduga-duga tatapan semua anggota keluarga terhadap mereka.
“Udah, gak apa-apa. Nanti kamu lama turunnya. Harus makan malem sekarang. Dua minggu lagi kita ke dokter, Mas pengen denger kalau berat badan bayi kita nambah....” Bara meletakkan handuk ke dalam jemuran kecil di kamar mandi kemudian menuju istrinya.
“Malu Mas...” rengek Dijah lagi.
“Iya, tapi enak. Jadi mau gimana? Ayah-ibu juga pasti ngerti. Apalagi tadi ibu udah bilang ‘setidaknya biarkan istrinya makan Mas’ itu sindiran tajam khas ibu. Ayo—ayo.” Bara memegang kedua bahu Dijah dan mengajak wanita itu berdiri.
Bu Yanti dan Pak Wirya sudah berada di meja makan bersama Dul. Kali ini Dul memegang segenggam kartu UNO dan disusunnya beberapa lembar di atas meja makan.
“Mainan anak sekarang ada-ada aja. Ibu nggak ngerti-ngerti main itu.” Bu Yanti menyendokkan nasi ke piring Pak Wirya dan Dul. “Nanti diulang lagi,” tukas Bu Yanti.
“Ini sebenarnya untuk 7 tahun ke atas. Seumuran Dul belum bisa. Karena ada hitungannya. Tapi untuk membiasakan dengan angka, kartu UNO ini boleh juga.” Pak Wirya masih melihat tangan mungil Dul menyusun kartu di tepi meja.
__ADS_1
“Nanti lanjut lagi ya Kung,” ucap Dul. "Uti juga harus bisa," tambah Dul masih menatap kartunya.
“Jangan kelamaan ya, kamu nggak ada tidur siang. Jam 9 malem paling lama anak-anak harus sudah tidur. Biar cepat tinggi. Biar cepat besar kayak ayah—” Perkataan Bu Yanti terhenti melihat kedatangan Bara. Rambut anak laki-lakinya basah. Istrinya juga. Wanita hamil diajak mandi malam-malam. Nanti kalau dikasih tahu hal yang benar, pasti ia dikata cerewet. Bu Yanti hanya menghela napas panjang.
“Eh ayo, makan. Nanti abis makan kita ngobrol di teras belakang ya Ra...” ajak Pak Wirya.
“Iya—iya boleh...” sahut Bara menarik kursi.
Perbincangan di meja makan malam itu seputar perkiraan kelahiran bayi dan jenis kelamin. Bu Yanti beberapa kali menyinggung soal susahnya mendapat anak perempuan dalam keluarga Satyadarma. Heru anak semata wayang dan keluarga Wirya hanya memiliki Sukma. Dari pihak keluarga Bu Yanti, sepupu Bara berjumlah 4 orang laki-laki yang menyebar di penjuru negeri. Seorangnya perempuan malah dibawa pindah ke luar negeri oleh suaminya.
Di telinga Dijah, semua perkataan Bu Yanti terdengar seperti harapan besar memiliki cucu perempuan darinya.
“Kalau inget gimana ibu hamil Sukma dulu, ibu berharap bayi kalian perempuan.” Bu Yanti menutup percakapan malam itu dengan sesuatu yang langsung membuat Dijah gelisah. Kali ini ia khawatir kalau tak bisa memenuhi harapan ibu mertuanya.
“Ibu memang gitu kalo ngomong. Cerewet, tapi sebenernya baik. Kurang pinter basa-basi juga sih sebenernya. Langsung to the point. Tapi nggak pernah ngomongin orang di belakang,” tukas Bara meringis merangkul bahu Dijah menaiki tangga. Dul diajak naik untuk berbaring menemani ibunya di kamar sembari menunggu mengantuk malah menolak.
“Kalau ibu ngomel dan cerewet, itu artinya rumah ini dalam keadaan sangat baik. Tapi kalo ibu diem aja, artinya di antara penghuni rumah ada yang salah” jelas Bara.
Bara mengangguk. “Gak lama. Tapi memang aku dan ayah udah lama nggak ngobrol. Kenapa? Kamu masih mau?” tanya Bara mencubit pipi Dijah.
“Cuma nanya. Ya udah sana... Dul juga nggak mau nemenin aku di sini.” Dijah mengambil remote televisi dan menyalakannya.
“Dul lagi asik ngajarin ibu main kartu UNO. Biarin aja. Baru kali ini ibu tekun diajari anak kecil.” Bara terkekeh.
Pak Wirya sudah duduk dengan secangkir teh di teras yang menghadap sebuah kolam ikan kecil di halaman belakang. Di sebelah cangkir tehnya terletak setoples kacang pistachio kesukaannya.
“Yah,” sapa Bara menggeser letak kursi teras sedikit lebih maju mendekati meja. Perlahan ia mengangkat secangkir teh yang beberapa saat lalu diantarkan Mbak Ami.
“Ayah sudah banyak ngobrol dengan Dul. Menceritakan macam-macam. Soal ibunya, mbah-nya, dan soal kamu. Oya, Mbok Jum juga.” Pak Wirya menoleh pada Bara.
“Terus Yah...” Bara menyesap tehnya kemudian kembali meletakkan ke atas nampan.
“Bapaknya nggak ada dalam pembicaraan itu Ra... Dul nggak mau mengingatnya. Dul bukan lupa, tapi Dul nggak mau mengeluarkan ingatan itu. Persis trauma Dijah. Bedanya, trauma Dijah lebih mendalam. Saran ayah, batalkan rencana kamu bawa Dul menemui bapaknya. Meski sebagai laki-laki yang akan punya anak kamu merasakan empati, membawa Dul sepertinya bukan ide yang baik. Dul akan mengingat hal itu pada waktunya nanti. Mungkin... mungkin kalau Dul sudah dewasa dan mengerti nanti, dia bisa mengatakan hal itu dengan sendirinya. Dia tetap ingat kamu bukan bapak kandungnya. Tapi Dul akan selalu ingat siapa yang membawa kebahagiaan untuk dia. Menurut ayah, kamu yang perlu berdamai dengan masa lalu Dijah. Surutkan amarah kamu. Itu sudah masa lalu. Nggak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubah itu. Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah jadi laki-laki terbaik untuk istri kamu. Apalagi kamu bilang, ancaman hukumannya—”
__ADS_1
“Iya, aku tau. Kayaknya memang aku yang terlampau dendam dengan laki-laki itu. Aku merasa kayak ngerampas hal yang menjadi milik orang lain. Dul. Aku sayang Dul. Terlepas dia anak dari laki-laki itu.”
“Sadari Bara.... Mungkin kamu sebenarnya bukan mau mempertemukan Dul dengan ayahnya. Kamu cuma ingin memberitahu laki-laki itu bahwa kamu telah membahagiakan anak dan mantan istrinya. Kamu cuma ingin memuaskan diri kamu dengan memastikan bahwa laki-laki itu menyesal.”
“Bisa jadi,” lirih Bara menatap kosong ke arah kolam ikan.
DRRRTTT
DRRRTTT
Bara merogoh kantong celana pendeknya dan mengeluarkan ponsel. Sebuah pesan pendek dari Heru.
‘Minggu depan sidang dakwaan kejahatan baru Fredy. Mau ikut dateng? Aku temenin.’
“Minggu depan sidang dakwaan kasus baru laki-laki itu. Mas Heru barusan ngasi tau. Aku boleh dateng?” Bara memandang lekat fitur ayahnya dari samping.
“Mau kamu?” Pak Wirya balik bertanya.
“Mauku, aku dateng dan ngomong dengan laki-laki itu. Selama ini aku nggak pernah bisa ngomong selain baku hantam. Selama ini datengin sidangnya juga selalu sembunyi-sembunyi. Aku ngerasa kayak jadi seorang pengecut. Memangnya dia siapa sampe harus begitu ditakuti” ucap Bara. Ia mendengus.
“Kalau itu bisa buat kamu lebih tenang, silakan. Tapi jangan buat keributan. Semoga setelah bertemu dia, kamu bisa lebih tenang ke depannya. Tapi saran ayah tetap sama. Jangan bawa-bawa Dul. Dul sangat patuh juga ada alasannya. Selama ini dia harus selalu bersabar demi sedikit kebahagiaan yang ingin dirasakannya. Ke taman bermain itu contohnya. Yang foto-fotonya pernah kamu kasi ke ayah. Pasti dia harus bersabar dan berlaku baik berminggu-minggu hanya demi diajak ke taman bermain.”
Bara terdiam. Ayahnya benar. Masih jelas di ingatannya suara Dul yang bertanya pada Dijah “Ibu kenapa nangis? Kita nggak jadi pergi ya? Om Bara ninggalin kita?”
“Minggu depan aku bakal dateng ke sidang laki-laki itu.” Bara kemudian mengangkat cangkir teh dan menghabiskan tehnya sampai tak bersisa.
Pak Wirya mengangguk-angguk kecil kemudian ikut mengambil cangkir tehnya dari atas nampan.
To Be Continued.....
Lanjutannya segitu aja demi menghemat air dan sampo di rumah. Hahaha...
Likenya jangan lupa ya Bebs. Gratis :D
__ADS_1