PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
148. Penilaian Perempuan


__ADS_3

Bara masih memejamkan mata dan meremas pinggul Dijah ketika tiba-tiba pintu terbuka. Ia terlonjak dan langsung menoleh pada manusia tak tahu sopan santun yang masuk tanpa mengetuk.


Ternyata Maradona.


“Dasar gak sopan,” umpat Bara masih menoleh pintu yang kembali tertutup setelah rekannya itu meminta maaf berulang kali.


“Ada yang liat!” Dijah memukul pelan lengan Bara yang mengusap perutnya.


“Udah biarin, si Dona doang. Paling entar dia pengen.” Bara terkekeh.


“Ini kan kantor,” sungut Dijah.


“Iya, kantor eyang kita. Lagian tadi kamu nggak nolak. Karena enak diem aja ya?” tanya Bara kembali menciumi leher istrinya.


“Mungkin mas yang tadi ada perlu makanya langsung masuk,” ujar Dijah.


“Biarin aja, entar lagi mas keluar.” Bara kembali lanjut mengecupi leher istrinya. Dijah harus memiringkan kepalanya berulang kali karena bergidik dengan nafas hangat dan kecupan lembut bibir Bara berkali-kali di leher dan tulang rahangnya.


“Udah sana temui dulu, entar urusan penting.” Dijah memiringkan kepalanya kemudian mengecup pipi suaminya.


“Kangen mas juga kan? Entar malem dilanjut sampe selesai ya...” Bara setengah memeluk Dijah dan melingkari perut besar yang berisi putrinya.


“Males,” cibir Dijah.


“Gak mungkin kamu males kalo udah liat ini,” kata Bara menarik tangan Dijah dan meletakkannya ke atas kelelakiannya.


“Ih, ini kantor!” sergah Dijah langsung mengangkat tangannya.


“Kamu kalo ngambek trus nggak mau liat mas ganti baju pasti karena takut tergoda liat ini kan....” Bara kembali menarik tangan Dijah dan kembali membawanya ke bawah sana.


“Udah sana—” pinta Dijah lagi mengalihkan pembicaraan. Sebagian besar yang diucapkan Bara soalnya benar.


“Cium mas dulu, mas kangen banget...” bisik Bara menggigit pelan telinga Dijah. “Ayo cium... kan udah baikan. Entar lagi anak kita lahir. Mas baca-baca katanya baik kalo sering-sering sebelum lahiran...” Bara kembali mengecup garis rahang istrinya.


Kalau saja tak karena tugas yang diberikan Heru penting, Bara sepertinya akan memilih langsung pergi mengajak Dijah berbelanja dan pulangnya akan berkurung di kamar tidur.


Dan Dijah, memakai alasan agar Bara cepat-cepat menemui rekan kerjanya keluar untuk mengabulkan permintaan mencium suaminya itu. Padahal, aslinya dia juga sangat rindu. Beradu mata dengan wanita lain yang berpotensi sebagai pengganggu, membuat Dijah sedikit ‘panas’. Ia menarik tepi kemeja suaminya dan mengecupi garis tenggorokan sampai dagu suaminya.


Bara mendesah lembut pertanda menikmati. “Lagi...” bisik laki-laki itu terdengar di telinga Dijah. Ia bertubi-tubi menjatuhkan ciuman di tiap sudut wajah suaminya. Kecupan ringan dan lembut. Menyentuh hampir tiap bagian wajah suaminya terkecuali bibir.


Dijah membiarkan mulut Bara setengah ternganga ketika ia hanya mendaratkan ciuman di sudut bibir pria itu. Dan tak sampai beberapa detik kemudian, Bara yang merasa dipermainkan segera menangkup wajah Dijah dan kembali memberi ciuman bibir yang panas. Saling gigit, saling sesap dan mengulum bibir satu sama lain lebih lama.


Dijah melepaskan ciuman panjang itu. Mata Bara sudah sayu menatapnya. “Udah, sana. Biar cepet siap kerjaannya.” Dijah melirik ke arah pintu.


“Pfffft.... Harusnya langsung pulang aja. Ckk!” Bara berdecak dan bangkit dari duduknya.


“Benerin bajunya!” seru Dijah tertahan. Ia lupa membenarkan letak kemeja Bara yang sesaat lalu diremas dan diacak-acaknya.

__ADS_1


Di meja kerja divisi kriminal.


“Sekarang udah enak sih Mas Bara. Nikah, istrinya langsung hamil. Dulunya, hmmm... babak belur banget dapetin istrinya.” Bayu berdecak.


“Babak belur gimana Mas?” tanya seorang mahasiswa laki-laki yang sejak tadi juga diam menyimak percakapan mereka.


“Wah parah pokoknya. Tiada hari tanpa gebuk-gebukan. Dulu bawaannya sensi. Mau maraaaah aja. Gua ama Dona jadi korban tiap hari. Salah dikit kena marah. Untung jadi kawin ama mbak Dijah. Kalo gak jadi, mungkin sampe sekarang gua ama Dona bakal pusing terus.”


“Iya—iya... kalo gak jadi kita pasti bakal jadi korban mas Bara terus,” lanjut Dona membenarkan ucapan Bayu.


“Apa lo dari tadi iya-iya terus,” sungut Bayu.


“Iya, bener kayak gitu. Dulu mas Bara cuek, tapi kalo ngomel bisa bikin kita mimisan. Meski pagi kita diomelin habis-habisan, sorenya ditraktir makan.” Dona tertawa mengingat masa lalu mereka ketika Bara masih melajang.


“Beda ya sama pak Heru. Pak Heru keliatan lebih diem dan santai,” sambung mahasiswa laki-laki itu.


“Iya, pak Heru lebih diem. Gak tukang ngomel dan banyak bercanda. Negurnya juga halus kalo kita salah. Tapi dua kali ditegur, kita nggak bener, bulan depan kita udah beres-beres dari ruangan ini. Cari kantor baru. Pilih yang mana lo?”


Mahasiswa laki-laki itu meringis mendengar opsi dari kedua atasan kantor itu.


Kemudian pintu ruangan Bara terbuka dan laki-laki itu melangkah keluar sambil membenarkan leher kemejanya. Sekilas tangannya menepis bagian depan kemejanya yang sedikit kusut.


“Mampus gua! Udah kelar!” Dona buru-buru kembali ke mejanya yang berada di seberang meja Bayu. Meletakkan ransel dan langsung meraih mouse komputer meski mesin itu belum dinyalakannya.


“Mas Bara benerin kemejanya yang berantakan—” Bayu terkikik tertahan. Nia melirik sebal ke arah Bayu tapi pandangannya tak bisa dicegah memandang Bara yang memang sedang merapikan pakaiannya.


“Biasa kalo pagi 'kan tertutup artinya Mas belum dateng. Kalo udah dateng pintunya pasti kebuka,” terang Dona membela diri.


“Ganggu orang aja!” sergah Bara. “Mau ngapain tadi?”


“Mau nganter ini. Dari mas Heru.” Dona menyerahkan dua map yang diletakkannya di atas meja.


“Hmmm....” Bara mengambil map itu dan membuka dan melihat isinya sekilas.


“Mas!” panggil Bayu. Bara seketika menoleh dan menaikkan alisnya. Nia ikut melirik wajah Bara dari sela-sela layar komputer Bayu yang menyala. “Itu! Ada lipstik!” goda Bayu menunjuk ke arah lehernya sendiri.


“Hah? Serius? Masa sih—” Bara mengusap bagian lehernya dan Bayu tertawa terbahak-bahak. “Sialan!” maki Bara ketika menyadari Bayu sedang menggodanya.


“Hahaha—bercanda! Aku bercanda!” Bayu melanjutkan tawanya. Ia berani menggoda Bara sudah tentu karena akhir-akhir ini memang sering bertemu dengan atasannya itu. Bayu merasa telah satu rumpun dengan Bara.


“Ada apa kok rame? Aku nggak diajakin ketawa pagi-pagi Bay?” Heru yang baru datang menghampiri meja divisi kriminal terlihat penasaran soal topik pembicaraan yang membuat pegawai-pegawai tersenyum tapi membuat Bara gusar.


“Dona menerobos masuk ruangan Mas Bara pagi ini. Eh taunya malah ketemu Mbak Dijah,” jawab Bayu masih dengan sisa tawanya.


“Beneran bawa istri rupanya,” ujar Heru menepuk pundak Bara ikut tersenyum-senyum. “Ganti suasana sekali-kali emang asik juga Ra...” sambung Heru langsung mengerti akan pemandangan Dona di dalam ruangan Bara sesaat yang lalu.


“Iya, tau aja deh yang udah pengalaman. Pagi ini pemanasan untuk hidangan utama malem nanti. Udah ah! Aku balik ke ruangan. Pangdam Jaya entar cemberut kalo aku lama.” Bara berbalik kembali menuju ke ruangannya. Beberapa langkah berjalan, ia kembali berbalik.

__ADS_1


“O iya Mas, entar siang aku langsung pulang ya! Mau bawa bumil jalan-jalan biar gampang lahiran,” ucap Bara lagi kemudian melambaikan map-nya dan pergi dari tempat itu. “Dan itu komputer lo nyalain Don! Jangan akting terus!” sindir Bara menunjuk Dona. Bawahannya itu seketika meringis dan memencet tombol power di komputernya.


“Udah—udah! Kerja!” seru Heru pada dua orang pegawai laki-laki single yang menatap kepergian Bara.


“Enak yah kawin,” gumam Dona.


“Iya, kayaknya...” sahut Bayu. “Istri hamil keliatan makin aduhai...” sambung Bayu lagi.


“Kawinnya aja yang dipikirin,” omel Heru kemudian meninggalkan pegawainya. "Pikirin gimana cara biar gaji bisa untuk hidup berdua," ujar Heru tertawa pelan.


"Kalo udah berdua nggak usah pusing Mas... Udah ada tambahan satu kepala yang bakal bantu mikir mau cari pinjeman di mana lagi," sahut Dona tertawa terbahak-bahak sendirian.


Nia hanya diam masih menumpukan dagunya menatap layar komputer Bayu. Semangatnya datang ke kantor itu sudah berkurang lebih dari setengah.


Awal masuk ke kantor itu, Nia memang mengira Bara belum menikah. Beberapa kali melihat Bara datang ke kantor mengendarai sepeda motor besar dengan helm full face, membuat jantung Nia berdebar. Tak mungkin laki-laki itu luput dari pandangan perempuan muda sepertinya. Bahkan teman-temannya pun dengan jujur mengatakan Bara ganteng dan cool. Ditambah dengan sikap tidak peduli dan Bara yang tak pernah memandangnya secara langsung kalau berbicara, membuat Nia semakin penasaran.


Mendengar Bara sudah menikah, malah menambah rasa penasarannya. Seperti apa wanita yang menjadi istrinya. Dan hari ini, ia melihatnya. Istri atasannya itu bahkan sempat menoleh ke arahnya tadi. Entah perempuan itu pernah melihat pesan-pesannya atau tidak, Nia tak bisa memastikannya.


Sepanjang pagi menuju siang itu, Nia menjadi tak bersemangat. Sebelum-sebelumnya dia bisa mencari alasan mengantarkan sesuatu atau menyampaikan pesan pada Bara untuk sekedar melihat laki-laki itu dari dekat. Meski tak memakan banyak makanan yang dibawanya, tapi ia ingin Bara menyadari kehadirannya dengan sering mengajak atasannya itu berbicara.


Melihat Bara bercanda dan tertawa-tawa di dekat meja kerjanya bisa membuat Nia berpuas-puas memandang. Memperhatikan Bara yang selalu datang dengan ransel, jeans dan sneakers membuat Nia sering berandai-andai kalau saja laki-laki itu belum menikah. Akankah Bara bisa jatuh hati padanya kalau ia mengejar pria itu semasa lajang?


Dan siang itu, Nia akhirnya mengambil kesimpulan penting setelah mendengar penuturan panjang lebar dua rekan paling dekat Bara di divisi kriminal.


Bara yang mati-matian mengejar istrinya. Dan Nia iri. Apa rasanya diperjuangkan begitu keras oleh seorang laki-laki seperti Bara? Apa kelebihan wanita itu?


Nia baru akan mengajak temannya keluar untuk makan siang ketika melihat Bara menggandeng istrinya dengan map di tangan dan menyeberang ke ruangan Heru.


Sejurus kemudian Bara telah kembali keluar ruangan masih dengan menggandeng atau memeluk pinggang istrinya. Ransel di bahu kiri dengan tangan yang masih memegang tas wanita. Bara terlihat santai berjalan lurus tanpa menoleh siapapun.


Dan sekilas tadi, jantung Nia terasa berhenti beberapa detik. Wajah datar dan tatapan istri Bara terasa menusuknya. Bukan pandangan sinis bak peran antagonis. Cuma pandangan biasa saja, tapi terasa dingin mengulitinya.


“Nanti. Sebentar lagi baru kita keluar. Tunggu,” ucap Nia menahan lengan temannya. Ia tak mau berpapasan atau melihat istri Bara dari jarak dekat. Tatapan dingin wanita itu sudah bisa menjelaskan semuanya.


Melihat istri Bara sekali lagi, mengingatkan Nia akan perkataan Bayu dan Dona tadi soal cantik natural dan aduhai.


Nia mulai membandingkan dirinya dengan istri atasannya. Kalau hanya cantik natural, ia juga cantik natural. Tapi tubuh istri atasannya itu lebih.... Nia menunduk memandang tubuh dan tak sadar ia meraba dadanya.


Dari kejauhan Nia melihat Bara memegang pinggul Dijah yang sedang menuruni undakan tangga rendah di lobby. Sekarang Nia sudah mengerti secara garis besar tentang tipe wanita yang disukai atasannya itu.


To Be Continued.....


Tipe wanita yang bagaimana yang disukai Bara hayooo...


Jangan lupa dilike ya...


Kalau ada vote gratisnya yang masih sisa di akhir Minggu, boleh dipake untuk Barjah.

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2