
“Aku baru ketemu tadi dengan sales-nya Agus,” ucap Heru seraya meletakkan tas istrinya di meja rias.
“Hmmm...” jawab Fifi sedikit mencibir dan menelengkan kepala karena bergidik dengan cambang Heru yang menyentuh pipinya.
“Kerja sama soal asuransi tambahan untuk pegawai,” tambah Heru lagi. Ia menunduk dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Fifi yang ramping. Sebuah rok span sepanjang lututnya membentuk tubuh Fifi dengan sempurna.
Fifi mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk. “Terus?”
“Terus aku keliling mall untuk nyari perempuan yang udah neror lewat pesan singkat,” ucap Heru. “Gimana mau lanjut ngobrol, aku udah nggak konsen. Jadi Bara yang lanjutin. Gelisah... pengen cepet pulang. Apalagi aku inget belakangan ini kita pulang malem terus.”
“Mmmm—” Fifi meraih kapas dan botol pembersih wajah. “Terus...” gumam Fifi lagi. Ia mulai merinding saat napas hangat Heru menghembus lehernya. Sekarang rambutnya lebih pendek dan hembusan napas dari pria yang sedang merayunya dengan cepat membuat kuduk meremang.
“Terus... kayaknya aku perlu membuktikan sesuatu,” ucap Heru menarik pita pengikat kemeja satin di depan dada Fifi. “Aku ngerasa harus....” Perkataan Heru terhenti. Ia mengecup lembut leher jenjang istrinya.
Jari Heru begitu mantap membuka deretan kancing yang tersusun di bawah pita satin yang sudah diurainya sejak tadi. Bibirnya mulai bergeser dan mulai mengecupi rahang Fifi.
Dengan satu tarikan mantap, kemeja Fifi sudah keluar dari celah roknya. Meninggalkan sebuah pakaian dalam bertali tipis yang digunakan istrinya di bawah kemeja satin. Leher yang jenjang, tulang selangka yang membentuk ceruk feminin membuat Heru berpikir, ia dulu hampir dipenjara karena memukuli kekasih Fifi. Penyebabnya sepele, ia tak rela melihat laki-laki itu mencium Fifi di depannya. Tinjunya melayang karena merasa dilecehkan dan tak dianggap. Saat itu ia tak berharap lagi Fifi mau menerimanya. Tapi ternyata, tindakan konyol itu malah membuat Fifi luluh dan menjenguknya ke kantor polisi.
Benar-benar konyol. Tapi karena hal itu, wanita cerdas seperti Fifi jatuh cinta padanya.
“Bujukannya cuma ini?” tanya Fifi melirik Heru dari kaca.
“Gak mungkin cuma ini,” ucap Heru kemudian mengalungkan tangannya dibawah kaki Fifi dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas ranjang.
“Jangan lupa—”
“Aku nggak akan lupa gimana seorang Fifi buat aku nggak enak makan, enggak enak tidur berhari-hari.”
Fifi tertawa. “Aku bukan mau bilang itu,” ucap Fifi lembut menatap mata Heru. Ia bisa merasakan kedua tangan suaminya masih berada di balik tubuhnya. Menopang tubuhnya seperti menangkup tubuh bayi.
Tubuh Heru terasa berat menindih. Tapi ia juga tak mau melewatkan saat-saat romantis yang akhir-akhir ini jarang mereka lakukan. Fifi menangkup satu tangan di pipi suaminya. Menurunkan jemarinya perlahan menyusuri cambang dan rambut sisa bercukur yang membentuk bayang gelap di dagu Heru.
Heru menarik garis senyum tipis yang tetap memunculkan lesung pipinya. Fifi kembali menyentuhkan ujung jari mengitari mulut Heru. Bibir yang handal sekali merayunya. Laki-laki yang sering membuyarkan konsentrasinya pacaran di kantin karena sibuk hilir mudik mencari perhatian sambil melemparkan senyum menggoda.
__ADS_1
“Jangan genit,” bisik Fifi parau. Setengah dirinya sudah dikuasai hasrat melihat Heru malam itu tampil sangat menawan. Rambutnya masih basah. Kemeja satin bercorak abstrak berwarna hijau lumut dan celana pendek chinos berwarna senada pasti akan membuat perempuan menoleh pada suaminya.
Fifi suka Heru tampil seperti itu. Membuatnya semakin merasa beruntung memiliki suami yang memesona. Tapi terkadang sifat naluriah Heru sesekali memang membuatnya kesal.
"Aku nggak genit," bisik Heru kembali mengecup leher istrinya dengan lembut.
Heru menjatuhkan tubuhnya ke samping dan meraba resleting rok di balik tubuh istrinya.
“Yuk,” bisik Heru mendaratkan ciuman di leher Fifi. Rok sempit yang membungkus bagian bawah tubuh istrinya telah mengendur terbuka dan bisa ditarik dengan satu tangan. Sedangkan tangan kanannya sibuk meraba meja nakas untuk mencari dinding tempat panel lampu kamar berada.
Dengan satu kali klik, lampu padam. Dan klik berikutnya, cahaya kamar berubah remang. Belum makan malam, tapi kamar mereka memancarkan cahaya tengah malam.
“Aku belum mandi,” ucap Fifi.
“Gak ada bedanya buat aku.” Heru mencium istrinya. Sedetik, dua detik, ciuman mereka menjadi begitu lama.
Dada Fifi yang menyembul dari balik pakaian dalam yang bertali tipis dengan cepat membuatnya penasaran. Ya, Fifi memang selalu membuatnya penasaran. Melihat Fifi setiap pagi membacakan berita di televisi dengan begitu anggun dan percaya diri, membuat Heru terkadang tak percaya bisa memiliki wanita itu.
Fifi yang ceria namun impulsif. Yang bisa membatalkan pertunangan demi mengadu nasib memulai hubungan baru bersama Heru sang casanova kampus saat itu.
Tadinya Heru merencanakan akan mencumbui istrinya dengan romantis dan perlahan-lahan. Tapi ternyata tak bisa. Ia tak pernah bisa untuk perlahan-lahan. Fifi menggeliat hanya karena ciuman. Ia bahkan belum mulai menyentuh istrinya di bagian penting.
“Rasanya udah lama banget,” bisik Heru ditelinga istrinya.
Fifi hanya mengerang sambil bergumam tak jelas. Ia merasakan bagian tubuh Heru sudah menekan pahanya sejak tadi. Cumbuan klasik ini pernah mereka lakukan semasa berpacaran. Menahan hasrat yang teramat sulit kala itu. Adrenalin dengan cepat meningkat meninggalkan rasa penasaran. Jemari Heru menarik turun tali tipis pakaian dalamnya sampai melewati lengan. Melepaskan pengait bra yang berada di antara sepasang dadanya yang penuh. Heru hafal akan model bra favoritnya. Masih penasaran dengan apa yang dilakukan Heru selanjutnya, sedetik kemudian Fifi merasakan kecupan keras di puncak dadanya. Ia hanya bisa mengerang dan memejamkan mata.
Heru selalu tenang dalam soal ucapan. Tapi tidak saat di ranjang. Pria itu bisa berubah menjadi sangat brutal dan liar. Kecupan kerasnya dengan cepat berpindah-pindah. Menyapukan lidahnya dengan kasar di sekitar puncak dada yang membuat Fifi harus menggigit bibir bawahnya.
Tak tahu kapan Heru bergerak meloloskan pakaiannya sendiri. Saat Fifi merasakan kecupan Heru turun ke perutnya, ia melihat Heru telah mencampakkan lembaran terakhir penutup tubuhnya sendiri. Heru selalu sangat lihai, batinnya.
Ciuman membabi buta itu terlepas. Heru meraup tubuh istrinya dan menggeser sedikit ke tengah ranjang. Nafasnya sudah terengah dan tangan Fifi yang mengacak rambut basahnya sejak tadi seolah memintanya menuju ke suatu tempak di bawah sana. Kecupannya berlanjut. Bukan sekedar kecupan karena diselingi dengan sesapan-sesapan kasar yang pasti menimbulkan bercak merah.
Fifi menggeliat saat Heru mengecup pinggulnya. Sejurus kemudian ia merasakan kaus dalamnya melewati lengan dan melorot ke bawah. Meninggalkan tumpukan rok dan kaus dalam di perutnya.
__ADS_1
Heru mengecupnya keras di bawah sana. Mengangkat pinggulnya dengan menumpukan tangan di ranjang. Fifi nyaris berteriak karena hal itu. Heru menikmatinya bagai semangkuk hidangan. Mencium, menyesap dan menghujaninya dengan pagutan-pagutan yang membuatnya basah dalam sekejab. Gelenyar mirip getaran listrik mengalir hingga ke ujung-ujung jemarinya. Fifi melentingkan tubuhnya. Membenamkan kukunya di lengan tegap Heru yang memenjaranya hingga tak bisa bergerak. Heru pasti terluka karena hal itu. Tapi seperti semakin menikmati siksaannya itu, Heru membelainya dengan jemari.
Fifi kembali menggigit bibirnya. Belum terlalu malam. Perut mereka masih kosong tapi Heru sudah nyaris mengantarkannya pada gelombang kenikmatan kedua. Dan berikutnya Fifi tak bisa menahan sebuah erangan panjang yang langsung membuatnya menutup mulutnya sendiri. Ia mendengar Heru terkekeh sebelum mulai memanjat menaiki tubuhnya.
Pandangan mereka saling mengunci beberapa saat. Heru membenamkan kepala di sisi leher istrinya. Menghirup aroma wangi salon yang menguar dari rambut Fifi yang sehat terawat. Ia tak bisa memberi gigitan di leher istrinya. Fifi kini berambut lebih pendek dan wanita itu harus tampil di depan kamera setiap harinya.
Dengan kedua tangan yang ia sisipkan di bawah tubuh istrinya, Heru mulai menyatukan tubuh mereka. Fifi langsung mendesah panjang seakan lega tubuhnya dimasuki setelah merasakan siksaan lama di bawah sana.
“I love you...” bisik Heru memejamkan matanya. Heru tak sempat mendengar sahutan istrinya. Fifi mendesah berkali-kali. Menikmati ritme cepat yang langsung membuat istrinya kewalahan. Wanita itu kembali membenamkan kuku di punggungnya. Heru menikmati kesakitan itu. Hasratnya semakin mengepul. Ia bisa merasakan puncak dada Fifi menggelitik dadanya. Menyapu lembut dan membuatnya harus kembali menunduk untuk menyesap.
Heru kemudian bangkit. Meraup tubuh Fifi dan mulai memangku wanita itu. Menanggung seluruh berat badan wanita mungil yang kini harus membantunya melakukan pelepasan sempurna. Kedua telapak tangannya menangkup sepasang bokong indah Fifi.
Tangan Fifi yang melingkari lehernya membuat Heru merasakan lengan Fifi yang mulai licin beradu dengan peluhnya. Kamar itu terasa panas karena durasi percintaan yang cukup panjang.
Erangan Fifi di telinganya kemudian membuat tujuannya terasa semakin dekat. Kini Heru ikut mengerang. Ritme yang semakin cepat menuntunnya melakukan sentakan berkali-kali.
Fifi sudah terlalu lelah. Istrinya langsung terkulai mengendurkan pelukan. Nafasnya masih terengah-engah menghembus dadanya. Heru menunduk memandang wajah istrinya.
“Aku tadi bilang ‘I love you’” ucap Heru mengingatkan.
“Of course I love you too...” bisik Fifi.
(*Tentu saja aku juga mencintaimu)
Heru tersenyum lalu kembali mencium bibir mungil Fifi yang selalu dikatakan orang berkesan cerewet.
Heru tahu kalau Fifi mencintai dan mempercayainya. Hubungan mereka bukan hasil percintaan satu malam. Dulu dia tak sembarangan mengejar Fifi. Rasa percaya dirinya tumbuh saat beberapa kali melihat Fifi tertangkap sedang memandanginya. Dan ketika menatap Fifi sedang berjalan dalam gandengan kekasihnya, membuat Heru tak lepas memandang tubuh molek Fifi yang ia rasa harus ia miliki.
Fifi tahu Heru laki-laki pujaan kampus kala itu. Namanya santer di bibir para mahasiswi. Bukan karena kekayaan atau ketampanan luar biasa. Tapi karena pesonanya yang susah dijelaskan. Melihat Heru pertama kali berada di kantin jurusannya, membuat ia langsung penasaran. Seperti apa laki-laki yang menjadi favorit para mahasiswi itu. Dan kenyataannya, dua hari kemudian Fifi tak bisa menampar Heru saat laki-laki itu menariknya ke sebuah kelas kosong dan menciumnya dengan paksa di sana. Sedikit kasar, terburu-buru, tapi juga penuh pesona.
To Be Continued.....
Sisakan vote voucher seninnya untuk BarJah ya...
__ADS_1
Minggu terakhir BarJah di Noveltoon :*