
Seminggu ke depan keinginan Bara untuk menemui Dijah setiap hari sepertinya tak didukung oleh semesta. Pekerjaannya di kantor menggunung karena kesibukannya meruntuhkan pertahanan Dijah. Heru memberinya pekerjaan liputan di luar kota.
Meski misuh-misuh bak seorang anak PAUD berangkat ke sekolah, namun Bara tetap pergi demi menjaga posisinya di kantor. Heru tak mau tebang pilih untuk hal yang satu itu.
Di suatu sore akhir minggu, penghuni kos sedang berada di depan pintu kamar Tini. Dijah mendapat tugas mewarnai rambut Tini kembali ke warna hitam. Karena berniat mundur dari dunia malam, Tini banting setir mencoba peruntungan dengan mendekati Yudi mantan pacarnya yang sekarang berstatus duda.
Tini yakin dengan merubah warna rambutnya, ia bisa tampil kalem keibuan. Tak lupa juga Tini melepaskan bulu mata panjang kaku hasil ekstensi. Dijah sering mengejek Tini soal bulu matanya itu.
Saking panjangnya bulu mata Tini, Dijah sering mengatakan bahwa temannya itu bisa menyetop angkot hanya dengan berkedip saja.
Setiap sore keadaan kos ramai seperti biasa. Beberapa mahasiswa yang berada di lantai dua sudah mulai memainkan gitar menyanyikan lagu-lagu galau menyayat hati.
Tiga orang tetangga kamar Asti yang berprofesi sebagai lady escort di sebuah karaoke juga tampak sedang duduk di kursi-kursi plastik depan kamar mereka yang berseberangan dengan kamar Mak Robin.
"Kok dicat hitam lagi Mbak?" tanya Asti yang baru datang dan duduk bersila di kursinya.
"Aku lama-lama ngerasa kayak anak ayam Teletubbies. Itu liat tetangga sebelah kamarmu," jawab Tini menunjuk asal ke arah belakang tubuhnya.
Posisi duduk Tini sedang menghadap pintu kamarnya demi menggunakan cahaya matahari sore sebagai penerangan. Dijah pun duduk membelakangi halaman arena bergelutnya.
Asti yang merasa kurang nyaman berbicara tanpa melihat wajah lawan bicaranya, ikut memutar kursi membelakangi halaman.
"Pacarmu mana As?" tanya Tini.
"Sedang sibuk," jawab Asti.
"Sibuk apa?"
"Sibuk menghindar," jawab Asti kemudian.
"Pacaran itu memang begitu As. Waktu masih cinta-cintanya, dikasi tau jelek-jeleknya tetep masih cinta." Tini yang sudah memiliki target baru pengganti Gatot, kini terlihat bijak menasehati.
"Kayaknya udah punya pacar baru Mbak, lebih cantik." Asti cemberut.
"Kamu juga cantik, gak boleh minder gitu As... Lebih ke tau diri aja," tukas Tini. Dijah yang mendengar perkataan Tini langsung memukulkan sisir ke kepala temannya itu.
"Mak Robin dari tadi diem aja. Sejak pake hape android, jadi jarang ngobrol-ngobrol sama kita. Ngeliatin apa sih?" tanya Asti penasaran. Mak Robin memang baru memiliki ponsel android. Beberapa hari terakhir, wanita itu sibuk berkirim pesan ke seluruh sanak saudaranya untuk mengirimkan foto-foto Robin dalam berbagai situasi dan posisi.
"Dia sedang asik ngeliat akun sosial media untuk menghibur kemiskinannya," ujar Tini.
__ADS_1
"Aduh!!" pekik Tini. Mak Robin baru saja mencubit lengannya sebagai balasan.
"Mas-mu mana Jah? Kok tumben gak nempeli kamu kayak Debt Collector?" tanya Tini.
"Ke luar kota, liputan katanya." Dijah sedang mengolesi rambut Tini dengan pewarna rambut hitam yang biasa digunakan orang tua untuk menyemir uban.
"Pantes..." gumam Tini.
"Kayaknya aku bakal jomblo aja sampe tamat kuliah," tukas Asti tiba-tiba. "Enak kayak Mbak Tini, santai aja ke mana-mana sendiri."
"Sekarang kamu rajin-rajin kuliah aja," ujar Tini.
"Tapi sebenarnya aku kepingin punya pacar, biar tamat kuliah cari kerja dan langsung nikah. Di kampungku itu, perempuan 25 tahun belum menikah, bisa dikata perawan tua."
"Gini ya... Manusia sekarang itu aneh, gak nikah-nikah dikata perawan tua, gak laku. Padahal belum tentu masih perawan. Kayak aku, yang penting aku udah tau enak, kalo mati juga gak jadi hantu penasaran karna pengen nyicipin anu. Udah nikah, terus janda kayak Dijah, dikata mending nggak usah nikah ketimbang jadi janda. Ngikutin mulut orang memang gak ada habisnya. Jadi kamu gak usah mikirin ngomong orang As... Kuliah aja yang bener. Kesesatan yang kamu liat di sini, jangan dipikirkan. Apalagi ditiru." Dijah kembali memukul kepala Tini dengan sisir karena terlalu gaduh bergerak.
"Tapi aku khawatir orang tuaku jadi bahan omongan. Di kampungku, aku udah bisa dibilang cukup tua."
"Kita semua itu pasti pernah jadi bahan gunjingan orang lain, kita juga sering ngomongin orang. Jadi ngapain pusing. Kamu 'kan kuliah, harusnya pikiranmu lebih terbuka dan bebas dari kekhawatiran. Orang Amerika sudah bikin mobil listrik, kita masih sibuk ngurusin omongan orang." Setelah mengatakan hal itu dengan berapi-api, Dijah kembali memukulkan sisir ke kepala Tini. Wanita itu langsung bungkam.
"Pening pun aku dengar cakap muncung kau itu Tin! Masoklah aku dulu," ujar Mak Robin bangkit dari duduknya.
"Coba kau jejalkan aja cat rambut itu semua ke mulutnya Jah!" pinta Mak Robin kesal sebelum masuk ke kamarnya. Dijah hanya terkekeh-kekeh melihat Mak Robin yang benar-benar gusar dengan ucapan Tini.
"Jadi Jah?" tanya Tini.
"Apa?" Dijah balik bertanya.
"Mas-mu udah kamu apain aja?" tanya Tini.
"Emangnya mau aku apain?" tanya Dijah santai seraya menyisir rambut Tini yang telah selesai dioleskan seluruh krim cat rambut.
Mendengar pertanyaan Tini pada Dijah, Asti menarik kursinya mendekat.
"Kamu anak kecil mau denger aja!" sergah Tini menoleh pada Asti.
"Ini kuliah tambahan dari Mbak Tini gak boleh dilewatkan. Mbak Tini udah melebihi magister soal yang begini," ujar Asti terkikik.
"Kamu kalau diapa-apain mas-mu jangan cuma telentang aja. Aku tau meski anakmu udah gede tapi pengalamanmu hampir gak ada kalau soal enak-enak." Nada suara Tini terdengar bersemangat.
__ADS_1
"Mulutmu itu Tin..." tegur Dijah. "Ada Asti..." sambung Dijah lagi.
"Aku nggak apa-apa Mbak Dijah. Aku cuma denger aja," sahut Asti bersemangat semakin memajukan kursinya.
"Dipegang Jah... Gak apa-apa. Gak bakal matuk kayak uler!" Tini tertawa terbahak-bahak. Asti terkikik geli seraya menutup mulutnya. Sedangkan Dijah kembali memukul kepala Tini dengan sisir. Tapi meski begitu, pikirannya terbang kepada sosok Bara.
"Kamu nuthuk (memukul) kepalaku terus. Mau denger aku cerita gak?" tanya Tini sedikit kesal.
"Aku mau Mbak... Aku mau," jawab Asti cepat.
"Udah ah! Rambutmu udah selesai ini. Aku mau mandi dulu, udah sore." Dijah hendak bangkit tapi tangan Tini menahannya.
"Aku serius ni Jah... Kalau ngeliat dari wajah kamu, kayaknya kamu belum megang. Coba Jah! Jangan cuma diliat aja. Kalo kamu pegang, dijamin Mas-mu besok pasti pasang stiker HARTA, TAHTA, DIJAH di motornya." Tini dan Asti tertawa terbahak-bahak.
"Gemblung!" seru Dijah bangkit dari duduknya.
"EHEM!!" Suara pria berdehem keras di belakang tiga wanita itu.
Tini dan Asti langsung bungkam.
Dijah menoleh ke belakang karena mendengar suara yang dikenalinya. Ia langsung meringis saat melihat Bara berdiri dengan tampan menyandang ranselnya di bahu.
"Astagaaaa..." pekik Tini terkejut saat memutar kepalanya dan melihat Bara berdiri di belakang mereka dengan wajah datar. Akhirnya Tini merasakan syok seperti yang dirasa Bara selama ini.
"Aku mandi dulu, udah sore banget ternyata. Permisi Mas..." Asti kabur melarikan diri dari suasana canggung itu. Bara hanya mengangguk kecil ke arah Asti.
Dari ekspresi Bara tak diragukan lagi bahwa pria itu telah mendengar percakapan mereka barusan.
"Kayaknya cat rambutku udah meresap ini, aku keramas aja ya Jah. Permisi Mas..." Tini mengatupkan mulut kemudian masuk ke kamarnya.
"Kamu...?" tanya Bara pada Dijah.
"Kapan nyampe?" tanya Dijah.
"Dari luar kota? Kemarin malem. Sore ini aku baru dari kantor," jawab Bara mengikuti langkah Dijah menuju kamarnya.
"Aku mandi dulu," ucap Dijah.
"Kalo cium dulu boleh Jah?" tanya Bara.
__ADS_1
To Be Continued.....