PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
163. Bincang Bersama Boy


__ADS_3

“Kalian jadi mau nemenin aku?” tanya Boy pada Tini dan Asti yang sedang duduk di teras kamar Mak Robin.


“Ke mana sih? Yang jelas infonya.” Tini penasaran karena sejak kemarin Boy mengajak mereka jalan-jalan dalam arti kata sebenarnya. Jalan kaki.


“Temenin aja dulu. Kamu ‘kan bisa liat sendiri,” kesal Boy menepuk bahu Tini.


“Aku nggak mau terjerumus Boy...” kilah Tini malas-malasan.


“Alesanmu Suketi. Sebelum tiba di sini kamu udah terjerumus. Ayo cepet!” Boy menarik lengan Tini agar bangkit.


“Sebentar aku ganti sandal dulu. Siapa tau kita perlu jalan jauh, kaki nggak lecet. Mbak Tini juga,” ujar Asti.


“Aku dah pake daster mendelep gini. Males ganti baju. Kan udah malem, cuma jalan kaki. Aku pake sepatu olahraga aja,” kata Tini kemudian bangkit dan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian ia sudah muncul mengunci kamarnya.


Setelan Tini berupa selembar daster batik yang menenggelamkan tubuhnya dan sepasang sepatu olahraga murah yang dipakainya ke pulau Bintan. Sejak pulang dari sana, sepatu itu sudah dua kali direkatkan dengan lem hantu agar tapaknya tak lepas.


“Hati-hati kelen. Jangan kebanyakan ketawa sepanjang jalan. Dompet pegang yang betol. Dah malam ini.” Mak Robin mewanti-wanti tiga orang tetangganya yang sudah pukul 9 malam lewat baru mau keluar rumah.


“Aman—aman, kamu juga hati-hati Mak sama motormu. Masih baru. Kalau ada rantai kapal, kamu rantai pakai itu aja. Jangan sampe motormu ilang trus pindah ke showroom motor second.” Tini menunjuk sepeda motor yang terparkir tak jauh dari pintu kamar Mak Robin.


“Aku mau minta pendapat ,” ujar Boy akhirnya.


“Pendapat apa Mas?” Asti mengalungkan tangannya di lengan kanan Boy. Sedangkan Tini menggantungi lengan Boy satunya lagi.


“Aku mau nyewa ruko untuk roti bakar. Aku hitung-hitung sewa tempat di depan dua mini market kok rasanya sama dengan ngontrak ruko. Tapi aku pikir-pikir lagi, mini market itu memang ramai. Ruko yang mau aku kasi liat ini juga daerahnya ramai dan lebih ke kota. Jadi aku bakal punya tiga outlet.” Boy menjelaskan rencananya pergi berjalan-jalan malam itu.


“Mau nambah outlet lagi? Mas Boy keren ih,” ucap Asti mengeratkan pelukannya di lengan Boy.


“Menurut kamu gimana Tin?” tanya Boy. “Kamu kok diem aja?” Boy menoleh ke kiri.


“Aku ngantuk kena angin malem,” sahut Tini. “Nggak terlalu cepet kamu nambah outlet lagi? Sekarang kamu ada hutang nggak?” tanya Tini.


“Nggak ada, aku nggak ada hutang. Dua gerobak yang aku beli juga gerobak bekas. Sewa ruko ini gak mahal, karena aku cuma pakai lantai dasarnya aja. Dua lantai di atas itu kos-kosan karyawan.”


“Wah! Kamu bisa ngekos di situ juga. Kan lumayan nggak usah jauh-jauh. Kita bisa pindah ke sana juga.” Tiba-tiba Tini jadi berapi-api.


“Gak bisa. Itu kos mahal. Gak ada fasilitas kayak kandang ayam yang boleh—”


“Nunggak?” tanya Tini dan Asti serempak. Boy mengangguk. Kedua wanita itu langsung lesu.


“Yah, gak jadi kalau gitu. Itu yang membuat kandang ayam susah dilupakan. Meski Nyai sadis, dia nggak pernah ngomel-ngomel mempermalukan penghuni kos-kosan kalau nunggak.” Tini menerawang. Dia pernah menunggak hampir empat bulan karena belum mendapat pekerjaan. Sekalinya dapat, gaji yang diperolehnya hanya cukup untuk makan. Seorang wanita pemilik kandang ayam yang kerap dipanggil Nyai, hanya mendengus saat ia belum bisa membayar kos-kosan. Mungkin karena wajah memelas yang dipasang Tini terlihat sangat meyakinkan, Nyai malah membekalinya dengan beras 5 kilogram saat pulang.


Tak berapa lama berjalan, mereka tiba di jajaran ruko dekat mall. Dengan pakaian mereka yang sangat aneh malam itu, Boy menunjukkan sebuah ruko yang bertuliskan ‘disewakan’.


“Gimana?” tanya Boy. Asti dan Tini berdiri memandang ruko yang ditunjukkan Boy pada mereka.


“Gede ini Boy!” ujar Tini. “Kapan mau pembukaan?”


“Kalo gitu tempatnya oke?” tanya Boy lagi demi meyakinkan dirinya.


Ruko itu berada di dalam kawasan pertokoan. Halamannya luas dan terpisah dari jalan raya utama. Di sebelah kanannya ada sebuah cafe, tempat karaoke, mini market, dan sebuah outlet minuman boba kekinian.


“Oke.” Tini menyilangkan kedua tangannya di dada berdiri menghadap ke arah pintu rolling door ruko yang tertutup.


“As?” tanya Boy melirik Asti.


“Oke Mas, pas. Deket outlet minuman, Mas Boy dagang roti bakar.” Asti mengalungkan tangannya di pundak Tini, ikut tersenyum menatap bangunan di depannya.


“Oke, kalo gitu. Aku kabari pemiliknya besok. Awal bulan depan, kalian dateng semua ya...”


“Sekalian nabung Boy... siapa tau selanjutnya kamu bisa nyicil dan ikut punya ruko...” kata Tini menoleh wajah Boy yang memang terlihat mendamba akan tempat itu.

__ADS_1


“Iya—iya. Pasti kalo itu,” sahut Boy.


“Keren Mas Boy... udah tiga outlet. Seempuk Setumpuk akan menyebar ke seluruh kota ini.” Asti juga mengalungkan lengannya ke bahu Boy.


Boy menatap tempat itu merasa puas mendengar penuturan teman-temannya. Meski tanpa mereka ia bisa mengambil keputusan sendiri, tapi saat mendengar pendapat positif dari orang lain, semangatnya semakin berkobar. Awal bulan depan ia tak sabar meresmikan outlet ketiganya.


Selama merantau hampir 6 tahun ke kota, Boy merasa ini adalah pencapaiannya yang paling memuaskan.


Bertiga malam itu mereka saling mendukung mimpi. Dukungan yang bisa saling mereka tukarkan hanyalah semangat. Sederhana memang, tapi memiliki efek luar biasa.


*****


Beberapa hari kemudian.


“Kamu masih inget ‘kan dengan Agus?” tanya Heru saat baru turun dari mobil dan menyerahkan kunci pada petugas valet parking.


“Terakhir ketemu udah lama banget. Jadi nggak terlalu inget sih, napa emangnya? Ini mau ketemu dia?” tanya Bara pada Heru.


Berdua mereka melangkahkan kaki memasuki lobby mall sore hari selepas jam kantor.


“Iya, aku mau ngobrol soal asuransi tambahan untuk karyawan. Kita perusahaan swasta, lebih aman kalau ada asuransi yang cover selain jaminan dari pemerintah.” Heru membawa langkahnya menuju sebuah outlet kopi yang selalu ramai dikunjungi para eksekutif muda dan anak-anak gaul.


“Kenapa gak ke kantornya aja?” tanya Bara.


“Udah sore lho Kang Mas... nanti pegawai jadi lembur kalo bosnya di kantor terus. Apalagi Agus kalo dateng ke kantor itu langit masih gelap.” Heru terkekeh.


“Yang itu ya?” tanya Bara memandang seorang pria necis dengan dua orang wanita cantik duduk di sebelahnya. Bara melihat pria itu memandangi mereka sejak masuk ke outlet kopi.


“Iya, itu Agus. Yang dua cewek-cewek itu pasti sales marketing-nya. Pinter ya dia cari sales...” ucap Heru kembali tertawa.


“Pinter dan gak jadi masalah karena dia belum beristri,” gumam Bara dengan mulut nyaris tak terbuka. Langkah mereka semakin dekat dengan Agus yang sudah tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.


“Apa kabar Pak Agus?” sapa Heru langsung menyambut uluran tangan sahabat yang sudah lama tak ia temui.


“Iya, Bara.” Bara ikut tertawa karena melihat wajah Agus yang terheran-heran.


“Wah, udah lama gak ketemu. Dulu gagah, sekarang makin gagah.” Agus terkekeh-kekeh. Kedua sales marketing yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum-senyum mendengar percakapan para pria itu.


“Aku gimana Gus? Makin gagah gak?” canda Heru sembari melambaikan tangan pada seorang pelayan.


“Kalo Heru sejak dulu susah dilawan. Kumbang kampus,” gelak Agus. “Raja tebar pesona.” Agus tertawa kecil.


“Sampe sekarang kalo itu,” sahut Bara membuka-buka menu.


“Kenalin ini sales seniorku di kantor. Itu Veni—” Agus menunjuk wanita yang duduk di sebelah Heru. “Dan satunya lagi Indi,” kata Agus menunjuk wanita di sebelah Veni dan di sebelahnya. Sedangkan Bara duduk di antara Heru dan Agus.


Sore itu mereka duduk membentuk lingkaran kecil di outlet kopi.


“Tini gimana?” tanya Heru. “Bagus ‘kan kerjanya?”


“Ha? Tini? Hmmm.... kamu jangan marah ya ke aku.” Agus meringis memandang Heru.


“Kenapa emangnya?” Heru sedikit was-was dan bertukar pandang dengan Bara.


“Kamu ‘kan bilang untuk ngelakuin hal yang biasa aku lakuin ke pegawai. Biar Tini lebih bagus kerjanya, mengeksplorasi semua kemampuannya.”


“Iya—iya, bener. Trus?” potong Heru tak sabar.


“Aku tadi siang baru marah-marah ke dia. Nasabah besar yang ada janji mau kerja sama dengan perusahaan kita, masih belum jelas. Padahal dia udah bolak-balik follow up. Belum ada kabar terus. Aku bilang dia kerja nggak bener dan kurang tekun. Kurang berusaha dan—yah... sejenis itulah.” Agus kembali meringis.


Bara kembali bertukar pandang dengan Heru.

__ADS_1


“Iya—iya gak apa-apa. Kalo emang biasa gitu ya gak masalah. Perlakuan ke semua pegawai sama. Gak beda-bedain,” tandas Heru.


“Tininya setelah itu gimana Mas?” Bara membenarkan pernyataan Heru soal tak membedakan karyawan, tapi di sisi lain ia juga mengkhawatirkan Tini.


“Tini diem aja. Kayaknya dia jadi sedih dan lesu keluar dari kantorku. Aku sedikit ngerasa bersalah,” ucap Agus.


Bara dan Heru kembali saling pandang. Tini jadi sedih dan lesu. Mereka berdua secara tak sengaja membayangkan sosok Tini yang menjadi sedih dan lesu setelah didamprat di kantor. Mungkin perempuan itu hanya diam di depan Agus. Tapi Bara dan Heru tak percaya kalau Tini tak mengumpat Agus di belakang. Kedua pria itu kembali memandang Agus dan ikut meringis.


Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka semua dan Agus sudah meminta Veni salah satu sales marketing-nya mengeluarkan berkas penawaran untuk ditunjukkan pada Heru.


“Udah lama kerja di perusahaan Pak Agus?” tanya Heru pada Veni.


“Baru tiga tahun Pak,” jawab Veni tersenyum.


“Baru tiga tahun tapi udah jadi senior marketing. Artinya pinter dagang,” ucap Heru terkekeh.


Bara yang sedang menatap ponselnya membalas pesan dari Dijah, sejenak melirik Heru yang sedang membuat seorang wanita tersipu.


“Jadi saya jelasin sekarang Pak?” tanya Veni sedikit menyerongkan letak duduknya untuk memandang Heru.


Heru mengatupkan mulutnya dan mengangguk-angguk kecil. Karena katupan mulut itu, lesung pipinya terlihat semakin jelas menghiasi wajah.


Veni sedikit bangkit dan menarik kursinya untuk lebih mendekat pada Heru. Karena melihat Veni kesulitan menjaga map di pangkuannya dan menggeser kursi, Heru menawarkan bantuan.


“Sebentar, kamu berdiri dulu. Biar saya aja.” Heru menarik kursi besi berat sedikit mendekat ke arahnya.


Veni melirik dan tersenyum pada Heru, “Makasih Pak....”


Bara yang sedang mengobrol bersama Agus soal The Term, kembali melihat tindakan gentle kakak sepupunya itu sambil mencibir. Hobi tebar pesona Heru belum hilang rupanya, pikir Bara.


“Jadi ini nilai dasar perhitungannya Pak...” ucap Veni mengangsurkan selembar kertas.


“Ngomongnya yang kenceng dikit, saya gak denger.” Heru kembali tersenyum.


“Ehem!” Bara berdeham. Heru menolehnya tapi malah terkekeh geli.


DRRRRRT


DRRRRRT


Ponsel Heru yang diletakan ya di atas meja bergeter pendek dua kali. Pemiliknya sedikit bangkit itu meraih ponsel.


“Sebentar ya Veni...” kata Heru dengan lembutnya. Veni mengangguk


Sedetik kemudian, mata Heru terbelalak dan ia langsung menoleh ke belakang. Matanya seperti mencari-cari sesuatu.


“Kenapa?” tanya Bara memandang wajah Heru yang pias dan belum hilang dari rasa terkejutnya.


“Aduh,” ucap Heru.


Bara sedikit bangkit dan melongok ke arah ponsel yang masih menyala berada di genggaman Heru.


‘Duduknya deket banget. Entar pipinya bisa nempel lho.’


Pesan itu berlabel ‘Sayang’, panggilan Heru buat Fifi.


Bara tertawa terbahak-bahak. “Rasain. Rasain...” ucap Bara kemudian melanjutkan tawanya.


“Ven, Gus, aku pamit sebentar ya.... Mau cari seseorang kayaknya masih di sekitar sini.” Heru langsung bangkit menggeser kursinya dan setengah berlari keluar outlet kopi.


Bara terkekeh-kekeh. Ia kemudian mengambil gelas kopinya dan berbicara pada Veni. “Jelasin ke aku aja. Kayaknya pak Heru bakal lama.”

__ADS_1


To Be Continued.....


Yang penasaran part Heru, ditunggu kelanjutannya ya...


__ADS_2