PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
153. Santai Sore


__ADS_3

“Ini orang kantor semua Mas?” tanya Tini pada Bara yang membawa Mima kembali pada Dijah. Bayi itu sudah mulai menggeliat mengangkat tangan dan membuka mulutnya hendak bersuara.


 


“Iya, itu Maradona divisi kriminal. Bayu pasti udah kenal. Direktur kami juga udah kenal dong pastinya... Kang Mas Heru Gatot Satyadarma. Itu yang satu lagi namanya Ismail, dari bagian berita ekonomi. Yang dua lagi itu anak magang.” Bara menoleh pada enam pria di sofa yang sedang mengobrol dengan suara rendah.


 


“Oh ada anak magang juga. Anak magang kemarin mana? Yang bikin gonjang-ganjing?” tanya Tini dengan polosnya.


 


Bara langsung mendelik menatap Tini, “Ada di kantor, tadi kata Dona lagi gak enak badan pas diajakin ke sini. Jadi pulang lebih awal.” Ia sempat melirik Dijah yang terlihat santai memangku dan membenarkan letak kain bedong Mima.


 


“Halah alesan nggak enak badan. Pasti nggak enak hati. Aku bisa ngerasain perasaannya,” sahut Tini terkikik mencolek tangan Dijah. Bara menyipitkan matanya memandang Tini. Bukannya berhenti, Tini malah melanjutkan.


 


“Bedanya aku emoh ngasi-ngasi makan suami orang. Gawe wareg bojone wong,tapi turune ra kelonan ro aku. (Ngenyang-ngenyangin suami orang. Tidurnya nggak kelonan sama aku)” Tini tertawa tertahan menutup mulutnya.


 


“Apa? Tini ngomong apa Sayang?” tanya Bara membelai pipi Dijah. Ia masih menyipitkan matanya memandang Tini.


 


“Yakin mau tau?” tanya Dijah ikut tersenyum melihat Tini yang masih tertawa kemayu menutup mulutnya.


 


“Iya, aku sebel sama dia.” Bara duduk di tepi ranjang melingkarkan tangannya ke bahu Dijah.


 


“Katanya buat apa dia ngasi makan suami orang, tidurnya juga nggak kelonan ama dia.” Dijah meringis menahan tawa.


 


“Dasar...” gumam Bara melemparkan tatapan sebal pada Tini.


 


“Aku heran liat anak gadis kayak gitu. Mau disukai orang mesti pontang-panting. Dulu ada cowok yang aku suka di kampung. Dia ngomong ‘kalau tinggimu nambah 5 senti aja, aku pasti suka sama kamu’ untung aku nggak jadi ninggiin badan.”


 


“Kenapa?” tanya Bara penasaran. Meski sebal dengan bacot Tini, ia tak bisa tidak penasaran terhadap omongan perempuan satu itu.


 


“Sebulan kemudian aku dapet kabar kalo dia ngebuntingin perempuan lain di kampung sebelah,” jawab Tini menghela napas panjang dengan wajah serius.


 


“Wah, happy ending ternyata...” sindir Bara. “Padahal kalo sempet ninggiin badan juga nggak ada ruginya. Meski kesel setidaknya kamu kesel dalam keadaan badan lebih tinggi 5 senti. Gak kayak sekarang. Masuk water park harga tiketnya sama dengan Robin dan Dul,” jawab Bara puas. Entah kenapa belakangan dia selalu puas jika bisa mengalahkan omongan Tini.


 


“Mas-mu ini dulu kayaknya takut sama aku ya Jah.... Sekarang keberaniannya menjadi-jadi. Sejak bisa bikin kamu hamil dia nambah percaya diri. Ditambah ada Mima, dia semakin berani menindas aku.”


 


“Bara juga lulusan universitas kandang ayam. Gara-gara muncung kau la makanya dia juga kayak gini sekarang,” tambah Mak Robin terkekeh melihat Tini dan Bara yang belakangan seperti anjing dan kucing.


 


Dijah melebarkan senyumnya. Sedangkan Bara memeluk kepala Dijah sambil menjulurkan lidahnya pada Tini. Bara senang cerita soal anak magang tadi hanya dianggap angin lalu oleh Dijah.


 


“Gimana kerja dengan Agus? Oke nggak? Baik ‘kan orangnya...” Heru tiba-tiba menoleh ke arah ranjang pasien.


 


“Mas Heru ngomong sama aku?” bisik Tini pada Dijah.


 


“Kayaknya iya. Gak mungkin ngomong sama minuman kaleng di depannya. Lagian yang kerja sama Agus ‘kan cuma kamu,” sahut Dijah.


 


“Oh iya, bener. Jadi kalau aku duduk ke sofa, nggak apa-apa ‘kan?” tanya Tini lagi dengan penuh pertimbangan.


 


“Ya nggak apa-apa kalo duduk di sofa, asal jangan duduk di pangkuan si Heru.” Mak Robin melemparkan tatapan jengkel pada Tini yang tiba-tiba berubah menjadi kemayu.


 

__ADS_1


“Untung kamu ingetin Mak,” jawab Tini terkikik. Ia kemudian bangkit berjalan menghampiri deretan sofa.


 


“Pasti udah dibayangkannya dari tadi duduk di pangkuan si Heru. Memang bodat...” gumam Mak Robin. Bara mendelik dan menelan ludah saat mendengar perkataan Mak Robin.


 


“Nanya apa tadi Mas?” tanya Tini berdiri di sisi kanan sofa. “Coba kamu minggir Boy, cari kursi lain atau duduk di lantai sebentar. Aku lagi diajak ngobrol sama Mas Heru.” Tini memukul pundak Boy dan mengibaskan tangannya mengusir kawannya itu.


 


“Dasar kurang ajar,” gumam Boy kemudian berpindah ke kursi makan yang tadi diletakkan Bara sebagai tambahan di sebelah sofa.


 


“Nah ini yang ditanyain baru dateng, gimana kerja bareng Agus? Asik tapi capek ya?” tanya Heru.


 


Heru dan Tini duduk berhadapan di sebuah sofa panjang. Di tengah mereka duduk Asti dan Bayu yang memisahkan. Tini langsung menatap wajah Asti di sebelahnya.


 


“Kalian berdua nggak ada rencana beli jajanan ke luar kota? Beli asinan ke Bogor atau beli gudeg di Jogja? Aku kok jadi ngerasa kayak lagi pertemuan keluarga untuk membahas hubungan kalian,” ucap Tini memandang wajah Asti dan Bayu bergantian.


 


Heru tak bisa untuk tak tertawa mendengar ucapan Tini. Ia malah spontan menepuk pundak Bayu yang langsung berdiri menarik lengan Asti agar ikut bangkit.


 


Tini langsung berdeham sebelum menjawab.


 


“Iya, kerja sama pak Agus aku ngerasa lebih sehat. Memang awalnya kayak masuk asrama atlit cabang atletik karena banyak jalan ke sana kemari. Meski capek, tapi ada kepuasan kalau capai target.” Tini menerangkan hal itu dengan luwes sekali.


 


Bara yang sedang menarik tirai penutup ranjang karena Dijah akan menyusui, berdiri sejenak untuk mengecek kewajaran jawaban Tini. Ia kemudian menarik napas lega karena mendengar Tini berbicara sedikit normal barusan.


 


Tini duduk tegak merapatkan dan menekuk kakinya miring ke arah Heru. Kedua tangannya berada di atas pangkuan menatap lurus Heru dari dekat. Dengan bermandikan cahaya matahari dari jendela yang sedikit menerpa wajah Heru, Tini seperti sedang menonton iklan minyak rambut pria. Mata Tini terpukau dengan mulut setengah menganga saat Heru menyisir rambut dengan jemari.


 


“Ya ampun...” gumam Tini tak sadar. “Kayak baru turun dari langit,” lanjut Tini.


 


 


“Kayaknya aku perlu medical check up,” sahut Tini. Ia kemudian menoleh pada tirai di sekeliling ranjang Dijah yang tertutup. Heru hanya membenarkan letak rambut tapi jantungnya terasa mau melompat sewaktu-waktu.


 


“Jadi betah ‘kan kerja di sana?” tanya Heru.


 


“Betah banget,” jawab Tini cepat.


 


“Cih!” lirih Boy yang duduk di kursi makan saat mendengar ucapan Tini. Masih hangat di ingatannya bagaimana Tini yang berulang kali melemparkan setumpuk berkas sambil bersumpah serapah dan mengatakan akan segera mengundurkan diri.


 


Tini hanya melengos sekilas pada Boy kemudian kembali menatap Heru.


 


“Bagus kalau betah. Pak Agus itu baik ‘kan?” tanya Heru lagi untuk meyakinkan dirinya.


 


“Baik banget—baik banget,” jawab Tini lagi.


 


“Halah,” sahut Boy sembari memutar matanya ke atas. Baru saja Tini mencampakkan ponselnya ke bawah bantal dan menginjak-injak bantal itu saat Agus menyarankan untuk capai target penjualan dua kali lipat di malam Tini mengatakan hatinya sedang tak tenang.


 


Kali ini Tini merapatkan mulutnya dan menoleh ke kanan untuk mendelik ke arah Boy.


 


“Udah baik, ganteng lagi.” Heru tertawa renyah saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


 


Tini terpana. “Iya, udah baik... ganteng,” ucap Tini menerawang ke arah Heru.


 


“Hmmmm....” Boy yang bertambah kesal lagi-lagi tak menyetujui jawaban Tini. Sepanjang jalan tadi perempuan itu sudah mengata-ngatai tahi lalat di atas bibir Agus sebagai fosil upil.


 


“Awas stroke kamu Boy,” gumam Tini saat menoleh seraya mendelik pada Boy di sisi kanannya.


 


“Jadi Mas Heru dulunya dekat dengan pak Agus?” tanya Tini sok akrab.


 


“Deket banget, sering sekelas jaman kuliah.” Heru menjawab sambil menoleh ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja. “Maaf, aku angkat telfon sebentar ya...” ucap Heru meraih ponselnya.


 


Tak lama berselang setelah sapaan ‘halo’ dari Heru, pria itu mengatakan “Jadi kamu mau langsung ke sini? Ya udah, aku tunggu. Naik taksi aja, mobilnya tinggalin di kantor. Besok aku anter berangkat kerja. Hati-hati di jalan Sayang,” ucap Heru mengakhiri pembicaraannya.


 


Seperti disetrum dengan belut listrik, Tini menegakkan tubuh celingukan mencari kawan-kawannya.


 


“Kenapa? Mau ngajak beli asinan ke Bogor?” tanya Boy mencibir saat tatapannya bertemu dengan Tini.


 


“Ini tandanya kamu bener-bener sahabat sejati. Ayo kita cari asinan ke Bogor.” Tini segera bangkit menarik lengan Boy untuk berdiri.


 


“Jah... Jah... Kita semua pulang dulu. Nanti kalau bapak-bapak yang nyariin kamu dateng lagi, akhir minggu aku anterin ke rumahmu.” Tini berseru melongokkan kepalanya masuk ke dalam tirai penutup ranjang Dijah.


 


“Kok jadi buru-buru gitu?” tanya Dijah.


 


“Aku adalah anak magang kantor mas-mu saat ketemu kamu,” ucap Tini meringis.


 


“Ooohhh,” sahut Dijah langsung mengerti. “Iya—iya, makasi. Hati-hati di jalan, jangan sampai papasan” seru Dijah dengan suara pelan. Ia sedang menyusui Mima perlahan-lahan masih sambil meringis.


 


Kepala Dijah mendongak menatap Bara untuk melihat reaksi yang muncul di wajah suaminya.


 


“Liat Mima aja... jangan ayahnya. Ayahnya udah gak tau lagi mau ngomong apa,” ucap Bara. Dijah tertawa mendengar hal itu.


 


“Ayo Mak! Biarin Asti pulang sama mas-nya. Jangan pikirin dia,” ucap Tini yang baru menyadari Asti tak ada di ruangan itu. Sejenak dia berpikir bahwa Asti dan Bayu mengikuti sarannya tadi.


 


“Baru aja aku duduk ngupasin jeruk untuk anak-anak ini. Gak boleh aku lanjut sebentar lagi?” sergah Mak Robin yang duduk di kursi makan sambil mengupas jeruk untuk Dul dan Robin.


 


“Gak boleh! Besok-besok mau ngupas durian juga nggak ada yang ngelarang. Sekarang kita harus pulang. Cepet!” Tini menarik lengan Mak Robin untuk segera bangkit.


 


Heru tak bisa mencegah penghuni kos-kosan yang langsung berhamburan pulang setelah ia menerima telepon dari Fifi yang bakal menyusul ke rumah sakit itu untuk ikut menjenguk Dijah.


 


Karena mengerti akan situasi itu, Heru tak ingin membahas hal itu lebih lanjut. Ia tak bisa mengatur apa yang ada di pikiran orang lain. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencegah dan berlaku seperti biasa. Meski terlihat sembrono, Heru tahu kalau Tini sedang berusaha keras untuk hidupnya.


 


Cepat mendapat pengganti seseorang untuk mengisi hati bukan berarti sudah selesai lukanya. Bisa jadi hanya ingin bertaruh dengan hidup yang baru. Mencoba menantang diri yang terluka untuk belajar menerima orang asing. Mungkin akan menang dan senang, mungkin juga sakitnya bisa berulang. Tapi hidup ini berjalan.


 


Mungkin itu yang sedang dirasakan Tini, pikir Heru.


To Be Continued.....


Setelah baca part, jangan lupa baca komentar-komentarnya. Gak kalah seru dengan isi partnya. Makasi ya pembaca semua.... :*

__ADS_1


Makasi udah mampir di novel juskelapa


 


__ADS_2