PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
70. Duel Dijah (2)


__ADS_3

Dijah sudah melangkah keluar kamarnya tanpa alas kaki. Tini yang ciut melihat kakak pacar Gatot, berdiri di belakang Dijah sambil sesekali melirik penantang mereka.


"Ngapain ke sini cari ribut?" tanya Dijah dengan nada suara biasa saja. Seolah hanya bertanya mereka sudah makan atau belum.


"Kamu yang mukul Erna?" tanya perempuan bertubuh tinggi berisi itu.


"Saling pukul toh! Memangnya adikmu segoblok apa sampe aku pukuli diem aja?" tanya Dijah mulai memasuki halaman.


"Adikku udah kalian usir dari sini! Kalian juga adilnya jangan tinggal di sini!" seru perempuan itu.


"Yang ngusir adikmu siapa? Kamu kira kos-kosan ini punya bapakku sampe aku bisa ngusir orang?" tanya Dijah lagi.


Dijah menaikkan bagian lengan kaos ke atas bahu serta meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Mbak Dijah! Kamu hamil, jangan gelut. Nanti keguguran," pungkas Boy tiba-tiba maju dan berbicara di telinga Dijah.


"Hamil? Mulutmu ini asal aja kalo ngomong!" Dijah meremas mulut Boy. Pria itu mundur seraya mendengus memegang mulutnya.


"Kamu gak ada sopannya kalau ngomong!" Wanita itu tiba-tiba maju melayangkan tangannya ke arah Dijah.


Dijah hanya mundur selangkah dan membalas mengarahkan ayunan tangannya sampai kedua tangan ia dan perempuan itu beradu seperti membentuk sebuah salam pembuka.


"Heh! Mau begadoh lagi kelen di sini? Gak bisa Kelen tunda sampe anakku bangon tidor?" Mak Robin keluar dari kamarnya.


"Aku nggak ada urusan sama kamu! Nggak usah ikut-ikutan!" sergah perempuan itu pada Mak Robin.


"Apa pulak gak ada urusan? Kalo bising-bising kau di sini, ikot juga aku melipat-lipat kau!" Mak Robin memakai sandalnya dan mendekati Dijah.


"Heh Erna! Gak ada kerjaan kau ya? Asik si Gatot aja yang kau ributkan! Macam dia aja yang punya batang kutengok!" Mak Robin telah berdiri di sebelah Dijah berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah pacar Gatot yang berdiri di belakang kakaknya.


PLAKK!!


"Banyak omong!" pekik kakak Erna melayangkan satu pukulan yang tak diduga Dijah. Dijah terjajar ke belakang menabrak Tini yang berdiri di belakangnya.


"Anjing!" maki Dijah. Tak ada yang menahan tubuh Dijah saat ia melesat menarik kepala perempuan itu sampai menunduk hingga nyaris mencium tanah.

__ADS_1


Dengan segenap tenaganya Dijah mencengkeram pakaian bagian belakang perempuan itu dan mendorongnya sampai tersungkur.


"Aku nggak ada ngapa-ngapain kamu! Kenal juga nggak! Kamu dateng cuma mau mukul aku aja?" pekik Dijah dengan suara menggelegar.


Tini hanya berdiri menutup mulutnya. Mak Robin berada di tengah bagai seorang wasit. Boy dan Asti saling berpegangan. Dan satu persatu penghuni kos mulai keluar karena mendengar keributan itu.


Beberapa kali Dijah terhempas karena perempuan itu berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dijah dari belakang tubuhnya. Tangan perempuan itu mencoba menggapai tangan Dijah beberapa kali.


"Kamu kira karena kamu ngerasa lebih kuat kamu bisa nyakitin orang suka-suka kamu? HAH?" teriak Dijah.


"Kamu gak tau kalau pukulan kamu bisa bikin mukaku cacat?" Dijah sudah duduk di punggung perempuan yang sudah hampir mencium tanah.


"Kamu jangan deketin aku!!" teriak Dijah pada Erna yang berusaha menolong kakaknya. Dijah mengambil sebuah batu dan mengarahkannya pada Erna.


"Pecah nanti kepala kakakmu! Jangan deket kamu!" Nafas Dijah sudah tersengal-sengal. Matanya memerah. Dadanya semakin terasa sesak.


"Kalian tau apa?! Hah? Kalian tau apa?!" teriak Dijah. "Dateng cuma mau nyakitin aku aja..." ucap Dijah dengan air mata yang mulai menggenang.


Mak Robin berjalan mendekati Dijah. Mengambil batu besar dari tangannya dan mengangkat bahu Dijah untuk berdiri.


"Ya udah sana! Gak usah dipanjangin lagi Mbak. Malu sama orang. Berantem karena laki-laki. Mbak Ernanya kok juga malah ngomporin kakaknya. Gatotnya santai-santai aja, kalian yang babak belur. Bego!" ucap Boy kemudian ikut menarik Dijah masuk ke kamarnya.


Dijah masuk ke kamar kemudian menghempaskan dirinya di lantai dan bersandar pada dinding. Ia melipat tangannya di atas lutut dan membenamkan wajah. Isak tangisnya semakin terdengar keras. Bahunya berguncang.


"Apa mukaku memang pantesnya untuk dipukuli aja..." raung Dijah.


Teman-temannya yang tak pernah melihat Dijah menangis sekalipun saling melempar pandangan bingung. Tini ikut duduk di sisi kiri Dijah.


"Awakmu sebenere kening opo? Ono opo-opo kuwi cerito Jah... (Kamu sebenarnya kenapa? Ada apa-apa cerita Jah...)" Tini menggoyang bahu Dijah yang berguncang. Wanita itu menangis dengan membenamkan wajahnya di lipatan tangan.


"Atiku loro Tin, aku ora ngenthuki Bara teko menyang rene meneh,wingi kae ndekne loro kecelakaan mergo Fredy, aku kudu piye Tin? Aku wedhi ndekne iso mati, tapi aku kangen....aku kangen Tin.... (Hatiku sakit Tin, aku gak kasi Bara dateng lagi ke sini. Kemarin dia sakit kecelakaan karena Fredy. Aku harus kayak mana Tin? Aku takut dia mati. Tapi aku rindu... Aku rindu Tin...)"


Dijah berbicara dari balik lipatan tangannya dengan suara yang teredam.


"Ngomong apa sih Mbak Dijah? Kita nggak ngerti ya As..." Boy ikut berjongkok di sebelah Dijah dan mengusap-usap punggung wanita itu.

__ADS_1


"Awakmu ws nembung opo karo mas mu? Mesakke Jah....Mas mu kuwi apikan, Mesakke tenan lho mas mu... (Kamu udah bilang apa ke mas-mu? Kasian Jah... Mas-mu itu baik. Kasian juga mas-mu)" Tini kembali mengguncang tubuh Dijah.


"Berenti nangis dulu Mbak Dijah, liat kita. Ngomong pelan-pelan." Asti membelai kepala Dijah.


"Aku omong ojo teko rene meneh, mesakke menowo ndekne digebukki meneh. aku rumongso awakku iki mung dadi beban nggo ndekne,Tapi aku kangen Tin....duh gusti, dodoku rasane ambeg tenan, aku pengin weruh ndekne, seko kadhoan yo ora popo... (Aku bilang jangan dateng. Kasian kalau dia digebukin lagi. Aku ngerasa jadi kayak beban buat dia. Tapi aku rindu Tin... Ya ampun Tin, dadaku rasanya sesak. Aku kepingin liat dia. Dari jauh juga nggak apa-apa)"


"Sesuk awakke dewe ndelok mas mu seko kadhoan, tak kancani. (Besok kita liat mas-mu dari jauh. Aku temenin)" Tini memandang Boy dan Asti.


"Denger kalian berdua?" tanya Tini pada Boy dan Asti.


"Denger tapi nggak ngerti!!" seru Asti dan Boy hampir bersamaan.


"Besok kita kawani Dijah biar bisa ngeliat si Bara. Aku aja ngerti cakap si Tini. Dah lama pun kelen tinggal di sini, masak gak ngerti-ngerti. Paok kali!" sergah Mak Robin dari ambang pintu.


"Mbak Dijah kangen sama mas-nya..." ucap Asti yang mulai ikut berkaca-kaca. "Jangan nangis Mbak Dijah, aku ikut sedih..." tambah Asti lagi. Ia yang hubungannya kandas karena tertipu selama ini dijadikan selingkuhan mulai ikut menangis.


"Aku rindu... Tapi aku nggak ada alasan bisa sama dia. Aku kasian sama Bara juga As... Kalau dia sama aku pasti apes terus hidupnya. Tapi aku rindu. Pengen liat sebentar aja." Dijah mengangkat kepala memandang Asti. Wajahnya terlihat sangat kacau.


"Kantornya mas Bara di mana? Wartawan harian apa? Mbak Dijah tau?" tanya Asti menyeka air matanya kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Apa Jah? Masak kamu nggak pernah baca pengenalnya?" tanya Tini.


"Term. Aku tau kantornya," ucap Dijah dengan sisa-sisa air matanya.


"Oh, Term!" seru Asti mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Ketemu. Gak jauh kok, besok aku juga mau nemenin Mbak Dijah ngeliat mas-nya dari jauh. Ini ada profil perusahaannya juga. Ada foto jajaran direksi dan wartawannya. Aku cari foto mas Bara ya..." Asti terus menggulir layar ponselnya.


"Nih ada foto mas-nya Mbak Dijah. Kayaknya mas Bara bukan cuma wartawan biasa Mbak. Aku simpen terus aku kirimin ke Mbak Dijah. Kalau kangen bisa liat itu. Nih liat dulu..." Asti mengulurkan ponselnya pada Dijah.


"Mas Bara kayaknya masuk dalam struktur jajaran direksi harian itu. Liat ini..." Asti mengetuk tulisan komisaris dan tulisan redaktur pelaksana.


"Kayaknya perusahaan keluarga ya Mbak. Nama komisaris utamanya mirip-mirip nama mas Bara," tambah Asti lagi.


Dijah sedang menatap pasfoto berwarna Bara yang terpajang dalam salah satu jajaran direksi harian berita The Term. Foto berlatar putih yang sangat kontras dengan Bara yang tersenyum dengan mengenakan kemeja biru cerah. Sangat kontras seperti perbedaan hidup yang mereka jalani.


Satu lagi kenyataan yang harus membuat Dijah memantapkan diri hanya bisa melihat Bara dari jauh saja.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2