PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
42. Akumulasi Amarah


__ADS_3

Bara tak pernah membayangkan akan bersama dengan seorang wanita yang bagaimana sebelumnya. Selama ini ia selalu menjalani hidupnya dengan santai tanpa kekhawatiran.


Meski bukan seorang pengusaha tenar dengan harta berlimpah, tapi Bara hidup tanpa kekurangan sejak kecil.


Mendapatkan perhatian seorang wanita bukan hal yang sulit bagi Bara. Tapi kepada Dijah adalah hal berbeda. Meski dalam hati kecilnya Bara yakin kalau wanita itu juga menaruh hati padanya, tapi tindakan Dijah selalu tak bisa ditebaknya.


Bara membawa tubuhnya ke atas ranjang dan tak melepaskan ciumannya. Dijah kini berada di atas tubuhnya, masih sama rakus melahap bibirnya. Menyesap dan menggigit bibir satu sama lain dengan hasrat yang tak biasa. Bara semakin percaya diri, bahwa Dijah juga merindukannya.


Tangan Bara yang tadi berada di pinggang Dijah telah turun ke bokong wanita itu. Bara mulai meremas dan menekan bokong itu sampai ia bisa merasakan bagian tubuhnya di bawah sana ikut menggeliat gelisah.


Bara sadar beberapa kali meminta izin pada Dijah wanita itu menolak dan bahkan menasehatinya. Tapi dia dan Dijah hanyalah manusia biasa. Bara tak sempat memikirkan bagaimana nanti, yang ia tahu hanyalah, ia sudah siap dengan segala konsekwensinya.


Perlahan tangan Bara bergerak memeluk Dijah dan membaringkan wanita itu ke sisi kanannya. Ciuman mereka terlepas dan Dijah kini memandangnya dengan nafas terengah. Mata wanita itu penuh pertanyaan. Bara mengerti arti tatapan Dijah.


Jemari Bara mulai beralih ke kemeja seragam SPG yang Dijah kenakan. Pandangan mereka bertemu lama satu sama lain, Bara meminta izin melalui pandangannya. Dan ia memastikan bahwa Dijah hanya mengira itu hanya adegan cumbuan yang pernah dilakukannya.


Dan Bara telah sepenuhnya melupakan soal keributan mereka tadi. Ia hanya ingin menyatukan kerinduannya bersama Dijah. Harus sekarang pikirnya. Ia tak bisa menahan diri terlalu lama.


Pertahanan mereka sama-sama hanya tinggal selembar benda penutup bagian bawah tubuh.


Dijah yang tadi memejam kini membuka matanya. Tangannya meraih tangan kanan Bara dan sesaat matanya melihat buku-buku punggung tangan pria itu yang memerah. Dijah meraih punggung tangan Bara dan mengecupnya. Bara sedikit terperanjat dan menatap lekat mata wanita itu.


Dijah hanya bisa memejamkan mata, mencoba kembali menikmati tiap detik sentuhan yang dilakukan Bara.


Mata mereka kemudian bersitatap dan tangan kiri Bara menyentuh puncak kepalanya saat ia merasakan tubuh mereka mulai menyatu.


Pandangan mereka masih mengunci satu sama lain. Bara menggigit bibir bawahnya dan Dijah meringis. Ini berbeda pikir Dijah, ini bukan pemerkosaan yang dilakukan seorang suami pada isterinya yang masih di bawah umur.


Dijah tak mau memejamkan mata. Ia mau melihat wajah laki-laki yang menidurinya dengan dasar suka sama suka. Perbuatan ini salah, tapi sungguh ia tak bisa menghalau Bara lebih lama lagi. Entah apa jadinya hubungan mereka nanti, Dijah hanya ingin menikmatinya.

__ADS_1


Antara rasa sensasi yang membawanya ke langit tadi, Dijah seolah dipaksa sadar oleh Bara yang kelimpungan di menit pertamanya. Hanya selang dua menit dan Bara kembali menyatukan tubuh mereka. Derit ranjang kayu yang memecah malam. Dengan kegaduhan canggung yang mereka ciptakan.


Dijah tak pernah merasakan apa arti kenikmatan suatu hubungan badan. Ia tak mau memejamkan matanya. Ia terus menatap Bara yang sedang mengumpulkan hasratnya yang berserakan.


Mungkin ini yang sering dikatakan oleh orang-orang pikirnya. Gulungan rasa nikmat yang belum pernah dirasakannya. Dijah mendesah keras. Tangannya refleks mencengkeram lengan Bara yang bertumpu di kedua sisinya. Bara mengantarkannya pada rasa itu.


Bara yang pernah mengatakan bahwa ia belum pernah melakukannya pada siapapun, kembali menghembuskan napas hangat di telinganya. Seiring dengan berakhirnya kegilaan yang baru saja mereka lakukan, kewarasan muncul disertai rasa canggung.


Dijah terkesiap. Gelagapan tak tahu harus menoleh ke arah mana. "Ya udah, aku mau pake baju." Dijah bangkit dan berpura-pura tak melihat ke arah Bara yang telah duduk di tepi ranjang masih belum berpakaian.


Bara mungkin belum selesai, pikir Dijah. Tapi tak mungkin rasanya ia menanyakan hal tabu itu pada Bara. Sehingga, saat Bara tak melarangnya berpakaian, itu artinya Bara telah selesai saat itu.


Dijah biasanya mandi sepulang kerja, tapi malam itu rasanya ia malu sekali keluar kamarnya menuju kamar mandi. Seakan semua penghuni kos-kosan tahu apa yang baru saja terjadi di balik pintu kamarnya.


"Pake baju tidur aja, aku mau tidur meluk kamu boleh 'kan?" tanya Bara canggung sambil memegang pakaian dalamnya. Dijah mengangguk tanpa menoleh pada Bara.


"Aku 'kan udah liat, tapi ya udah. Aku ngeliat ke sana aja." Bara menunjuk pintu juga dengan dagunya.


Saat Dijah berjalan ke lemari, Bara secepat kilat bangkit mengenakan pakaian dalamnya. Di lain sisi, Dijah buru-buru mengambil sehelai daster dan langsung mengalungkannya ke leher.


Setelah selesai dengan pakaian masing-masing, mereka saling menoleh dan meringis canggung.


"Pulang lebih awal, tapi nggak ngasi kabar." Dijah memunguti pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam keranjang di sudut kamar.


"Niatnya pengen kasi kejutan," ujar Bara.


"Tapi nyatanya malah kamu yang terkejut." Dijah kembali menghampiri lemarinya. Membuka lemari dan mengecek isi dompet tempat ia biasa menabung. Padahal tak ada yang perlu dicek di sana. Ia kembali menjejalkan dompet itu di antara lipatan baju.


"Aku nggak mau liat kamu disentuh laki-laki manapun. Apalagi dengan orang itu." Bara menatap raut Dijah terlihat mengeras.

__ADS_1


"Jah..." panggil Bara.


"Hmmm..." sahut Dijah.


"Sini...." Bara menepuk sisi ranjang sebelahnya agar Dijah ikut duduk. Dijah menutup lemari dan berjalan ke arah Bara.


Dijah duduk di tepi ranjang menghadap dinding yang diplaster namun belum dicat. Gelap. Kegelapan itu yang mungkin membuat kamar itu terasa suram.


"Aku sayang kamu. Kamu--" Bara meraih tangan Dijah dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Kamu yang pertama untuk aku Jah... Dan meski aku bukan yang pertama bagi kamu, aku mau jadi yang terakhir."


Dijah hanya diam membisu. Apa mungkin, pikirnya. Dijah menoleh untuk menilik wajah pria tampan di sebelahnya saat itu.


"Gak dijawab..." keluh Bara membalas pandangannya.


"Aku nggak tau mau jawab apa. Aku nggak bisa jawab karena rasanya memang nggak ada yang bisa aku jawab." Dijah tersenyum kecut.


Ya, benar. Dijah tak tahu harus menjawab apa. Siapa yang tak mau menjadi seseorang yang terakhir bagi laki-laki tampan dan baik hati ini, batin Dijah.


"Setidaknya--"


"Setidaknya kita sekarang sama-sama," sahut Dijah. Hanya itu yang bisa dikatakannya pada Bara. Setidaknya untuk saat itu, mereka bisa sama-sama. Apalagi hal yang paling penting?


"Jah..."


"Hmmm...?"


"Aku laper Jah..." ujar Bara menatap Dijah dengan pandangan memelas.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2